
Eduard merasa ada yang berbeda dengan sikap Averyl. Setelah sarapannya habis Eduard memandang Averyl dengan serius. “Averyl.”
Averyl mendengar panggilan Eduard, tapi ia masih marah pada Eduard karena membalas pelukan Asyila.
“Averyl Samantha,” panggil Eduard untuk yang kedua kalinya.
“Apa?” ucap Averyl tanpa menatap Eduard, ia tetap fokus pada sarapannya.
“Apa seperti itu caramu bersikap pada suamimu?”
Averyl membanting sendok yang sedang di pegangnya. “Apa seperti itu cara menyayangi adikmu, dengan membalas pelukannya. Padahal aku ini istri yang katanya kamu cintai, tapi kamu tidak bisa sedikit saja menjaga perasaanku.” Averyl beranjak dari tempat duduknya, dan pergi lebih dulu ke tempat kerja menggunakan taksi.
***
Eduard dan Simon sedang dalam perjalanan menuju kediaman Jordan. “Kau tidak lupa membawakan pesananku?”
“Tidak Tuan,” jawab Simon. “Apa Tuan serius ingin menemui Ibu malam nanti?”
Eduard mengalihkan perhatiannya dari ponsel yang sedang ia pegang. “Memangnya kenapa?”
“Nona Averyl?”
“Kau bisa menemaninya kan?” tanya Eduard memastikan.
“Tapi Tuan saya baru dapat kabar, kalau malam ini anniversary pernikahan saya.”
Eduard berpikir sejenak, ia tidak bisa meninggalkan Averyl sendirian di rumah. Tapi ia sangat merindukan ibunya. “Ya sudah tidak perlu kau temani. Tambah penjagaan di rumah, dan pastikan keselamatan Averyl.”
“Baik Tuan, terima kasih.”
__ADS_1
Eduard turun dari mobil. Sementara Simon harus kembali ke kantor menyelesaikan pekerjaan.
Kedatangan Eduard di sambut Syila dengan gembira dan memeluk Eduard. “Aaa terima kasih.”
“Jangan terlalu sering memelukku, Averyl marah padaku karena semalam.”
Asyila melepaskan pelukannya. “Benarkah Averyl cemburu?”
Eduard mengangguk. Sementara Asyila tersenyum penuh arti, “ Ya berarti bagus dong kalau Averyl cemburu. Itu tandanya sudah tumbuh benih-benih cinta pada Averyl.”
“Kalau Mami memberi ijin, urusan Averyl yang cemburu biar aku yang selesaikan,” ujar Asyila dengan nada percaya diri.
“Tapi sepertinya Mami tidak akan memberi ijin.”
Bibir Asyila mengerucut dengan wajah sedihnya. “Kakak jangan kayak gitu, Syila enggak suka.”
“Sakit tahu!”
Eduard tidak mempedulikan ucapan Asyila ia pergi menuju ruang baca tempat Alana menikmati harinya. Eduard mengetuk pintu, “Mam Eduard boleh masuk?”
“Masuk saja,” jawab Alana dari dalam.
Eduard membuka pintu dan masuk. Seperti biasa ruang baca Alana selalu rapi, bersih, dan wangi. Eduard menghampiri Alana yang tengah duduk di sofa.
“Ada apa Ed?”
Eduard mengangkat makanan yang di pegangnya. Lalu duduk di samping Alana. Eduard mengeluarkan sup yang di bawanya, lalu menyuapi Alana.
“Kamu merindukan ibumu?” Tanya Alana sebelum menerima suapan dari Eduard.
__ADS_1
Eduard mengaduk sup tersebut, ada rasa nyeri yang menjalar di hatinya. “Iya Mam. Kalau saja bisa Eduard ingin memperkenalkan Averyl.”
Alana menutup buku yang sedang ia baca. Lalu menepuk menepuk-nepuk pundak Eduard dengan perlahan. “Kamu tidak ingin mencobanya lagi?”
“Eduard takut Ibu malah semakin menjadi.” Eduard kembali menyuapi Alana.
“Jangan pernah membenci dirimu sendiri Ed. Wajahmu mirip dengan Ayahmu itu bukan salahmu.”
“Ma ijinkan Eduard membalaskan dendam ini?”
Alana menggelengkan kepalanya, ia tahu betapa sakit hati Eduard kepada keluarga Namira. “Tidak Ed, sekarang kamu sudah memiliki Averyl. Mami tidak ingin terjadi sesuatu pada kalian.”
Alana melihat amarah dalam diri Eduard. “Pikirkan baik-baik Eduard. Mami akan sangat menyesal jika terjadi sesuatu padamu dan Averyl.”
Rasa cemas Alana muncul saat melihat Eduard yang diam saja. “Eduard.”
Eduard mencerna setiap kata-kata Alana. Alana dan Jordan sudah sangat baik padanya, Eduard tidak ingin mengecewakan mereka. Selama ini Eduard selalu merasakan kasih sayang yang tulus dari Alana, tetapi ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ia juga ingin merasakan kasih sayang dari ibu kandungnya. Eduard tersenyum pada Alana. “Iya Mam, Eduard tidak akan melakukannya.”
“Terima kasih Ed. Bagaimana hubunganmu dengan Averyl apa sudah membaik?”
“Baik Mam hanya saja kami sedang bertengkar karena Asyila kema-,” Eduard tidak melanjutkan ucapannya.
Sementara Alana menatap Eduard dengan penuh selidik. “Ah Asyila selalu saja meminta perlindunganmu. Kapan dia akan dewasa jika terus menerus hidup di belakang tubuhmu.”
“Jika menurut Eduard, lebih baik Asyila tidak tinggal di sini Mam,” ucap Eduard mulai mengeluarkan pendapatnya.
“Mami sudah tidak percaya padanya lagi Ed. Dia bilang akan sembuh jika tidak tinggal di kota ini. Tapi buktinya trauma Syila masih belum sembuh juga, bisa jadi Syila tidak rutin melakukan psikoterapi.”
“Pria itu masih berani menampakkan diri. Eduard takut saat kita lengah dia membawa Syila kembali Mam.”
__ADS_1