
Jordan berjalan menuju sofa setelah memperhatikan Alana selama tiga puluh menit dan wanita itu tampak tidak bergerak, “Mungkin dia sudah tidur,” pikir Jordan.
Setelah sampai di sofa, Jordan membuka blazer yang menutupi kepala Alana. Senyum Jordan mengembang melihat wajah tenang Alana, dia membungkukkan badannya utnuk merapikan anak rambut Alana yang menutupi wajahnya.
Alana yang masih dalam keadaan sadar mencoba menahan debaran di dadanya, dia mencoba menampilkan wajah se-rileks mungkin meski tangan Jordan yang sedang merapikan membuat tubuhnya panas dingin. “Astaga kenapa kau malah pura-pura tidur, bodoh!” gerutu Alana di dalam hatinya.
Jordan meraba pipi Alana yang tampak kurus persis seperti empat tahun yang lalu, “Kau harus gemukkan jika hidup bersamaku,” lirih Jordan. Satu keinginannya jika mereka kembali bersama Jordan ingin melihat tubuh Alana yang berisi, tidak kurus seperti ini.
Jordan menekan hidung Alana, “Ternyata setelah empat tahun berlalu, hidungmu tidak tumbuh. Masih tetap kecil,” gumam Jordan dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
Rasanya Alana ingin memberikan pukulan di wajah Jordan karena berani menghinanya, “Ternyata Jordan masih senang menghina,” batin Alana.
Jordan melihat Alana mengepalkan tangannya, itu artinya pancingannya sukses. Sesuai rencana telepon Jordan berdering, dari posisi membungkuknya Jordan berdiri tegap, dia langsung menerima panggilan itu, “Iya sayang,” ucap Jordan lembut, dengan sengaja ia menekan kata sayang.
__ADS_1
Alana yang tidak terima mendengar Jordan berani menyebut sayang pada wanita lain, padahal baru beberapa jam yang lalu Alana mendengar jelas Jordan mengungkapkan cinta padanya. Emosinya benar-benar muncul, Alana bangkit dan memberikan pukulan telak di wajah Jordan.
‘Bugh’
Karena pukulan Alana yang secara tiba-tiba membuat Jordan terhuyung ke belakang karena tidak siap, bahkan ponsel yang sedang di tempelkan ke telinganya jatuh ke lantai.
“Dasar pria tidak tahu diri!” bentak Alana. Wajah Alana semakin memerah menahan amarah karena Jordan berdiri di hadapannya tanpa ada rasa bersalah sama sekali.
“Kenapa kau memukulku?”
“Siapa yang bilang kau bodoh?” tanya Jordan dengan senyum mengejek.
Alana benar-benar kesal dengan Jordan, bahkan pria itu malah memberikan pertanyaan. Alana memberikan tatapan permusuhan pada Jordan, karena menurutnya Jordan berengsek.
__ADS_1
“Kau benar-benar pria tidak tahu diri. Berani-beraninya kau memanggil wanita lain dengan sebutan sayang, sementara a-.” Alana menghentikan ucapannya, dan melanjutkannya dalam hati, “Aku ini masih istri sahmu!”
“Apa kau sedang cemburu?”
“Astaga, siapa yang tidak cemburu, jika suaminya sendiri memanggil wanita lain dengan sebutan sayang,” ucap Alana di dalam hatinya.
“Tidak untuk apa aku cemburu, percaya diri sekali kau!” tandas Alana.
Jarak mereka memang tidak jauh, hanya dua langkah. Jordan mendekat dan menarik pinggang Alana agar merapat ke tubuhnya, bola mata Jordan menatap wajah Alana yang tampak terkejut karena gerakan cepatnya.
“Apa kau ingin aku memanggilmu dengan sebutan ‘sayang’?” tanya Jordan lembut, dia menunggu reaksi yang akan di tunjukan Alana.
Kaki Alana gemetar, jantungnya berdetak tidak karuan karena posisinya sekarang. Bola hitam Jordan seakan mengunci tubuhnya, Alana hanya memperhatikan mata Jordan yang menatapnya.
__ADS_1
Dengan jarak sedekat ini Alana baru menyadari ada kantung hitam di bawah matanya, “Apa kau tidak bisa tertidur dengan pulas?” pertanyaan itu muncul di benak Alana.
Jemari Jordan meraba bibir Alana. “Sayang,” panggil Jordan dengan nada sensualnya.