
Stella meraih tangan Alana untuk di genggam kedua tangannya. “Apa yang sebenarnya terjadi, semua warga negara pasti memiliki indentitas.”
Alana menatap mata Stella yang tampak serius menatapnya.
“Jangan ragu, katakan padaku!” Stella berusaha meyakinkan diri wanita di hadapannya.
Alana terdiam cukup lama, memikirkan ucapan yang tepat.
“Kita belum berkenalan, namaku Alana.”
Stella tersenyum, “Ah iya aku lupa, kita belum berkenalan. Aku Stella, adik Arvan.”
“Kalian adik kakak? Tapi kenapa kakakmu tidak bisa berbicara bahasa Indonesia?”
“Aku sudah lama menetap di Indonesia, kakakku tinggal di Italia, hanya beberapa hari ini dia ada pekerjaan di sini.”
Alana mengangguk mengerti, dia kembali diam mencari topik pembicaraan lain.
Ponsel Arvan berdering tanda panggilan masuk, dia menatap Stella untuk meminta ijin pada adiknya.
Setelah mendapat persetujuan adiknya, Arvan berjalan keluar ruangan mencari tempat yang tidak terlalu ramai untuk sekedar berbicara dengan Lucas.
Sementara di ruang kerjanya Jordan menatap Nik dengan tajam. Amarahnya bergejolak setelah mengetahui Alana tidak kembali kerumahnya.
“Cepat Nik cari keberadaan Alana!” bentak Jordan.
Nik sudah biasa di perlakukan seperti ini oleh Jordan, jika tuannya mengalami masalah seperti sekarang.
__ADS_1
Nik mendapatkan informasi tentang keberadaan Alana.
“Nona Alana ada di rumah sakit Medivron.”
“Kenapa dia bisa ada di sana?” tanya Jordan dengan tidak sabar, rasa khawatir muncul di hatinya mendengar Alana berada di rumah sakit.
“Menurut informasi yang saya dapat, ada pria yang menolong nona Alana yang pingsan di bahu jalan.” Nik menjelaskan informasi yang di dapatnya.
Jordan memakai tuksedo miliknya, lalu berjalan mendahului Nik.
Nik dengan sigap mengikuti tuannya. Nik tahu sebenarnya Jordan khawatir dengan kondisi Alana, dan takut kehilangan istrinya.
Apalagi seharian ini Nik melihat kekacauan yang terjadi pada hati tuannya.
Setelah memastikan Jordan sudah duduk dengan tenang. Nik mulai melajukan mobilnya, membelah jalanan yang tidak terlalu ramai.
Setelah sampai di rumah sakit Medivron, Jordan dan Nik berjalan menuju ruangan VVIP. Semua informasi itu dia dapat dari informan.
Mata Alana menatap wajah Jordan yang sedang menatapnya tajam. Bahkan Alana tidak menemukan rasa penyesalan dari mata Jordan.
Stella sedikit menjauh, karena pria asing yang tiba-tiba masuk itu mendekat ke tempat tidur Alana.
Emosi Jordan memuncak melihat sikap tenang Alana. Bahkan Jordan kalang kabut akibat kepergian Alana.
Plak, suara tamparan itu menggema di tengah ruangan keheningan.
Air mata Alana menetes seketika, dia mengepalkan tangannya. Hari ini dia mendapatkan dua tamparan dari pria yang dia cintai.
__ADS_1
Jordan benar-benar murka. “Dasar jal*ng tidak tahu diri. Pria mana lagi yang kau rayu hah!”
Stella benar-benar terkejut, mendapati pria kasar yang tidak dia kenali namanya.
Sebagai wanita Stella tidak terima melihat wanita yang di rendahkan oleh pria sok berkuasa di depannya.
“Kau yang tidak tahu diri!” bentak Stella.
Jordan mengalihkan perhatiannya pada wanita asing yang berani membentaknya.
“Kau tidak usah ikut campur, atau aku akan menghancurkan hidupmu!”
Ancaman Jordan sepertinya tidak mempan.
Stella tersenyum meremehkan, “Sombong sekali dirimu!”
Jordan tidak ingin meladeni wanita yang tidak penting menurutnya.
Dia menarik infus di tangan Alana dengan kasar.
Alana meringis kesakitan mendapat perlakuan kasar dari Jordan.
Stella tidak habis pikir melihat pria kejam di depannya, yang seenak hati menarik infus yang menancap di tangan Alana.
Alana memperhatikan tangannya yang sakit akibat Jordan menarik paksa selang infus di tangannya.
***
__ADS_1
Pesan author,
Cemburu dan khawatir boleh, tapi jangan sampai kehilangan akal, apalagi sampai menyakiti wanita yang di cintai.