
Mobil yang di kendarai Simon telah sampai di kediaman Jordan. Simon membuka pintu untuk Eduard, dan berjalan mengitari mobil untuk membukakan pintu untuk Averyl.
Eduard berdiri tepat di samping Averyl. “Kita tidak akan masuk?” pertanyaan Averyl di jawab dengan lirikan mata oleh Eduard pada lengannya.
Averyl mengikuti arah pandang Eduard. “Lengan. Kenapa dengan lenganmu?”
Simon yang berdiri di belakang mereka menggelengkan kepalanya. Ia sudah lama bekerja dengan Eduard, jelas tahu apa maksud tuannya meskipun tidak mengeluarkan suara. “Seharusnya pasangan wanita dan pria jika berjalan beriringan terlihat lebih serasi jika bergandengan tangan,” ujar Simon ikut memberi kode agar Averyl mengerti.
Averyl menengok ke belakang menatap Simon. Ia berjalan mendekat pada Simon dan menggandeng tangannya. “Bilang dong kalau kau ingin aku gandeng.” Bukannya tidak mengerti kode Eduard. Ia malah sengaja mengerjai Eduard.
“Ayok!” ajak Averyl. Dengan menggandeng tangan Simon Averyl mulai melangkah dan tidak memedulikan keberadaan Eduard.
Namun rambut panjangnya di tarik oleh Eduard. “Calon suamimu itu aku!” Averyl menoleh ke belakang dan menyingkirkan tangan Eduard yang lancang menarik rambutnya.
Averyl membetulkan tatanan rambutnya seraya menatap sebal ke arah Eduard. “Aku menghabiskan waktu tiga puluh menit untuk merapikan rambutku. Dan kau seenaknya saja merusak tatanan rambutku.”
“Siapa suruh kau lancang menggandeng Simon!” jawab Eduard.
__ADS_1
Simon menatap lelah pada pasangan yang membuat hidupnya runyam. Bisa tidak kalian sehari saja tidak berantem!
Simon tidak bisa membiarkan peperangan ini terus berlanjut. Semua ini harus di akhiri sekarang juga, sebelum semuanya menjadi kacau dan runyam. “Tuan muda, Nona. Tuan Jordan sudah menunggu kedatangan kita.”
“Cepat gandeng tanganku, Papi sedang memperhatikan kita.” Dengan sangat terpaksa Averyl menggandeng tangan Eduard dan berjalan beriringan.
Jordan yang melihat kejadian barusan tersenyum kecil. Baru kali ini ia melihat pandangan cemburu yang muncul di wajah Eduard hanya karena wanitanya berani menggandeng pria lain. “Ayok masuk, Mami sudah menunggu di dalam.”
Averyl menjawab ucapan Jordan dengan senyuman. Mereka berdua melangkah masuk, sementara Simon kembali ke mobil. Ia harus memastikan acara pernikahan Eduard yang di laksanakan besok pagi berjalan dengan lancar.
Averyl baru saja masuk ia di sambut oleh wanita yang tampak cantik. “Mami perkenalkan ini Averyl, calon istriku,” ucap Eduard. Averyl dan Alana bersalaman. “Averyl,” ucap Averyl dan tersenyum ramah.
Averyl mengangguk. Meskipun ia sudah lama bekerja di perusahaan milik Jordan. Tapi ini kali pertama ia bertemu dengan Alana, ibunya Arsya.
Mereka berjalan bersamaan menuju ruang makan. Di sana sudah ada Arsya yang tengah duduk di meja makan seorang diri. Melihat kedatangan Eduard dan Averyl. Arsya masih sibuk dengan ponselnya yang di genggamnya.
Averyl cukup terkejut melihat Arsya ada di rumah ini. Jangan bilang Arsya dan Eduard bersaudara?
__ADS_1
“Arsya bersikap sopan, sambut kedatangan Kakakmu,” titah Jordan.
“Ya, selamat datang Kakak,” ujar Arsya dengan nada malas.
Jadi benar mereka kakak beradik, pantas saja Tuan Arsya tidak ingin membantuku. kali ini Averyl melihat Arsya yang tampak berbeda dari biasanya. Bahkan pada Eduard yang notabenenya adalah Kakaknya. Averyl tidak ingin ambil pusing masalah ini, mungkin Arsya masih marah karena Eduard memutuskan kontrak kerja hingga perusahaan MA grup yang di pegangnya mendapat kerugian yang cukup besar.
Acara makan siang itu berjalan dengan lancar. Eduard dan Arsya lebih banyak diam. Averyl pun membuka suara hanya untuk menjawab pertanyaan yang di lontarkan Alana dan Jordan. Selebihnya ia hanya mengulas senyum.
Eduard di minta berbicara oleh Jordan bersama Alana di ruang kerja. Hingga Averyl hanya duduk di ruang makan berdua bersama Arsya.
“Jadi kau akan menikah dengan Eduard?”
Averyl mengangkat bahunya acuh. “Bagaimana lagi, aku tidak bisa membayar uang yang di berikan Eduard pada Papa.”
“Aku akan membantumu membayar uang yang di keluarkan oleh Eduard. Tapi dengan satu syarat.”
Melihat wajah serius Arsya, Averyl cukup gembira dengan kabar baik ini. “Apa syaratnya?” Tanya Averyl dengan tidak sabar.
__ADS_1
“Kau harus menikah denganku!”