Merried With Mr. Millionaire

Merried With Mr. Millionaire
Mimpi Yang Nyata


__ADS_3

Jordan membuka kedua matanya, dia mengatur nafasnya yang tersengal.


Mimpi barusan terasa begitu nyata.


Dia melirik Nik yang sedang menatapnya.


“Tuan baik-baik saja?” tanya Nik dengan nada khawatir.


Jordan diam, dia tidak menjawab pertanyaan Nik.


Jordan menatap lurus ke langit-langit ruang rawatnya, mencoba mencerna setiap ucapan adiknya di dalam mimpi itu.


‘Bukan begitu cara memperlakukan wanita’


“Nik apa aku terlalu kasar, dalam bersikap kepada Alana?” tanya Jordan tanpa menoleh kepada Nik, yang berada tepat di samping tempat tidur.


Nik mengernyitkan dahinya, dia terkejut mendengar ucapan tuannya.


Jordan menghela nafas setelah beberapa menit Nik tidak menjawab pertanyaannya, itu artinya jawaban Nik iya. Tapi dia tidak ingin melukai Jordan sebagai tuannya.


‘Dia sudah kehilangan kedua orang tuanya, seharusnya Kaka menebus kesalahan kakak di masa lalu, bukan malah membuatnya menderita’


Jordan masih ingat berapa kali dia menyebut Alana dengan panggilan wanita murahan.


Tangan Jordan semakin mengepal, Jordan merasa pantas mendapatkan hukuman ini.


 Tangan kanannya sekarang patah tulang karena berani menampar dua wanita, karena keegoisannya.


Dan ini adalah hukuman yang setimpal untuknya.

__ADS_1


‘Dia tidak akan pernah pergi, jika Kakak mencintainya dengan baik’


Jordan mencerna kalimat selanjutnya, yang terus terngiang-ngiang di kepalanya.


Kepalan tangan Jordan semakin kuat, tanpa perlu bertanya pada Nik Jordan sudah tahu jawabannya.


Selama ini Jordan merasa selalu menganggap remeh pada Alana. Merasa berkuasa, dengan beranggapan bahwa Alana mencintainya, dan wanita itu tidak akan pernah pergi dari genggamannya.


Sebenarnya Jordan takut, takut mengakui isi hatinya. Dia takut Alana pergi darinya saat dia jatuh cinta.


Tapi sekarang semuanya terlambat, tidak ada lagi harapan untuknya.


Alana sudah membencinya, gadis kecilnya itu tidak akan pernah mau kembali pada pria kasar sepertinya.


Air mata Jordan menetes begitu saja, tidak ada rasa malu  meskipun Jordan tahu Nik sedang memperhatikannya.


“Nik kita pulang sekarang.” Jordan tahu Nik ingin membantah keinginannya.


“Baik tuan, saya akan mengurus semua administrasinya terlebih dahulu.”


Jordan diam, dia tidak menjawab ucapan Nik. Helaan nafas kembali keluar dari mulutnya.


Jordan masih ingat tatapan kebencian yang di berikan Alana kepadanya.


“Maafkan aku, sayang,” lirih Jordan.


Jordan menutupi kedua kelopak matanya menggunakan tangan kirinya yang di perban.


Dari cela sudut kelopak matanya, butiran bening meluncur membasahi rahang tegas milik Jordan.

__ADS_1


Pria itu benar-benar rapuh, dia telah kehilangan kedua wanita yang dia cintai sebagai adik, dan satu wanita yang dia cintai sebagai istri karena kebodohannya.


Selama di perjalanan menuju kediaman tuan muda, Nik beberapa kali melirik kaca spion, untuk melihat keadaan tuannya.


Nik tidak tega melihat wajah tuannya yang pucat, dengan pandangan kosongnya.


Sesampainya di kediaman tuan muda, Nik mengeluarkan kursi roda. Membantu Jordan untuk naik ke kursinya.


Nik tahu tuan mudanya tidak memiliki tenaga, untuk sekedar berjalan.


Setelah dua hari tidak makan, setidaknya Nik bisa tenang melihat Jordan mau makan di suapi Alana.


Namun sayang, suapan itu bagaikan salam perpisahan untuk dua insan tersebut.


Nik mendorong kursi roda Jordan, memasuki kamarnya.


Baru saja Nik memosisikan dirinya memindahkan tubuh tuannya ke atas tempat tidur, tapi tuannya memberikan instruksi lain.


“Keluar Nik!”


“Baik tuan, saya ada di depan jika tuan membutuhkan sesuatu,” ucap Nik sebelum melangkah pergi meninggalkan kamar tuan mudanya.


Jordan duduk dengan tenang di atas kursi rodanya, menatap keluar jendela.


Dia memejamkan matanya mencoba mengingat kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tua Alana beserta nyawa adiknya Riri.


***


Jangan lupa dukung author terus yah lewat vote, like, komentar dan hadiah.

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2