Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
10 : PUM : Kembali Kerumah


__ADS_3

[ Gawat! Tidak sesuai skenario! ] Pikir orang yang sengaja mendorong tuan muda dengan perasaan cemas.


Niatnya dorongan tadi akan berakhir dengan ciuman kedua orang yang baru menikah itu, namun hasilnya malah mempelai perempuan mundur kebelakang untuk berusaha menghindari tuan muda, tapi disebabkan hanya mundur satu langkah dengan postur tuan muda yang tinggi, ianya tetap membuat keduanya saling bertubrukan, namun ada yang salah dan memalukan.


[ Kenapa jadi begini! ] Pikirnya.


‘Pergi-pergi’ perintahnya dengan bahasa isyarat pada semua orang yang menjadi saksi mata barusan.


Semua orang keluar ruangan termasuk pendeta barusan.


'Apa yang aku hantuk tadi?, kenapa keras?' Tanya Franz pada dirinya sendiri karena keningnya baru saja menghantam sesuatu yang sedikit keras namun nyatanya di bawahnya adalah sebuah gaun panjang mempelai perempuannya.


"Aw..." Masih rintih kesakitan.


Franz bergegas berdiri dan rupanya yang ia hantam tadi adalah bagian ‘itu’ milik perempuan.


'Aww.....pasti sakit banget, bisa-bisanya anakku sampai kepalanya kejedot di bagian tulang kewanitaannya istrinya sendiri!' Menggeleng-geleng kepala, namun tidak bisa berbuat apapun karena nyatanya masih belum bisa turun dari kasur. "Salahmu, kamu tidak melihat dia kesakitan? Bantu dia!" Perintah sang ibu pada Franz.


"Uh.....ma..maaf!" Gumam Franz pada istri diadakannya. 'Sial banget hari ini, kenapa malah aku jatuh dan menyedotnya?'


Setelah pernikahan yang dipaksakan oleh kedua orang tuanya, seminggu kemudian Ayah Franz meninggal dunia karena gagal jantung. 


Hal itu menjadi pukulan terberat bagi Franz sendiri yang sudah di didik sang ayah agar lebih tegas dan mengharapkan perilakunya menjadi baik. 


Namun sekarang Franz sendiri malah marah dan melampiaskan kekesalannya dengan sering pulang malam dan mengabaikan satu orang yang menjadi tanggung jawabnya sekarang yaitu Oktavin, yang tidak lain adalah istrinya.


Franz merasa kesal setiap melihat sosoknya, karena merasa Ovin lah yang sudah mengganggu dengan masuk kedalam kehidupan privasinya serta keluarganya.


"Mau makan?" Ovin menyajikan makanan yang baru saja ia masak untuk suaminya, yaitu Franz.


Tanpa menoleh sedikitpun dan bahkan menjawab, Franz langsung bergegas pergi ke kamarnya dan mengabaikan orang yang bertanya tadi.


'Benar-benar tidak sesuai dengan tipe idealku!' Kutuk Franz pada perempuan yang sudah menjadi pasangan hidupnya. 'Jangan bermimpi mendapatkan belas kasih dariku!'


Franz merebahkan tubuhnya ke atas ranjangnya, lalu melempar jaket yang dikenakannya tadi ke sembarang tempat.


Keesokan harinya juga Franz tidak mempedulikan Ovin terus hingga suatu hari dia langsung dikejutkan oleh istrinya yang pagi itu, tiba-tiba sudah memakai seragam sekolahnya.


" Kenapa kau memakai seragam dari sekolahku? " Tanya Franz yang agak terkejut karena di pagi itu ia tidak menyangka kalau Ovin akan masuk ke sekolah yang sama dengannya.


"Ibumu memerintahkanku untuk sekolah di tempat yang sama denganmu." Jawab Ovin.


"Tidak mungkin, ini juga sudah di akhir semester!" Walaupun berkata tidak mungkin, tapi Ovin sudah terlihat bersungguh-sungguh untuk berangkat sekolah.


"Tidak apa, aku bisa langsung menyesuaikan pelajaranku." Jawab Ovin lagi dengan polosnya. 


Dia mengikat rambutnya menjadi satu, lalu memakai kacamatanya tanpa menggunakan riasan wajah sedikitpun, padahal pada umumnya di sekolah yang Franz tempati itu banyak perempuan yang bersolek untuk menjaga penampilannya.


Franz yang tidak mau membuang waktunya dengan melihat perempuan yang tiap harinya membuat dirinya jengkel itu, ia berjalan keluar rumah tanpa menunggu Ovin.


Franz berangkat sendiri menggunakan mobil sport nya.


Hanya dia seorang yang naik dan mengendarai mobilnya dan benar-benar meninggalkan Ovin sendirian.

__ADS_1


Hingga sampai di sekolah, ia pun akhirnya tidak melihat batang hidung nya Ovin si menyebalkan itu.


"Syukurlah, aku tidak mau dia benar-benar mengungkapkan identitas sebenarnya jika dia bersekolah di sini." Gerutu Franz.


Namun siapa yang akan menyangka kalau Ovin benar-benar datang ke sekolah dan apatah lagi dengan jalan kaki.


"Hei, apa yang kamu lamunkan?" Tanya si temannya Franz yang tiba-tiba muncul dari belakang, karena melihat Franz tadi begitu Intens melihat satu orang yang baru masuk gerbang.


Dia pun mencoba mencari tahu siapakah yang membuat pandangan tuan muda nya itu bisa teralihkan dari perempuan cantik yang sedari tadi menyapanya.


"Ohh....aku baru pertama kali melihat gadis itu, apa dia anak baru yang dirumorkan beberapa hari ini?" Tanyanya pada Franz.


"............." Franz hanya melirik temannya itu lalu berlalu pergi.


Setelah Ovin masuk sekolah yang baru, rupanya yang dimaksudkan akan menyesuaikan diri di sekolah adalah di bidang pelajarannya saja.


Karena hari-harinya dia di bully teman sekelasnya itu.


Ovin juga terlihat lebih suka diam dan jarang merespon ejekan dan makian orang lain.


Wajar jika di bully karena kenyataannya Ovin memang selain anak baru juga dia terlihat lemah dan juga berpenampilan kampungan, dan apatah lagi dia juga awalnya berasal dari sekolah yang biasa.


Itulah mengapa Ovin menjadi bahan ejekan dari semua orang baik di kelas maupun dari kelas lain.


"Lihat dia si anak bodoh itu, setiap ulangan selalu mendapatkan nilai separuh, bagaimana bisa dia masuk ke sekolah yang elit ini?" Maki salah satu seorang siswa.


Franz juga pernah mendengar gosip itu, memasukkan siswa yang memiliki status rendahan ke sekolah elit. Apalagi Ovin selalu mendapatkan nilai rendah, yang artinya sama saja dengan menampar dirinya sendiri.


Tapi Ovin sama sekali tidak peduli dengan semua perlakukan yang dia dapatkan.


Dari awal hingga sekarang ia hanya menemukan informasi yang tidak begitu penting, tempat lahir, keluarga, sekolah, hanya mendapatkan informasi biasa dan tidak ada yang spesial dari Ovin itu sendiri, tapi mengapa ayah dan ibunya mendesak dirinya untuk menikah dengan gadis ini?.


Itulah yang menjadi pertanyaannya selama ini, di benak hatinya Franz yang terdalam selalu mendapatkan kesan yang biasa saja dengan Ovin.


"Ugh....kenapa aku malah memikirkannya?" Franz mengeluh sendiri karena tiba-tiba mengingat kisah lalunya yang terjadi sebulan lalu.


TRING........


Suara notifikasi handphone nya menunjukkan satu pesan yang baru masuk.


" Apa!? " Franz langsung melotot ke arah layar handphone nya. 'Tagihan listrik rumah masih belum dibayar?'


Padahal tiap bulan ia membayarnya dengan teratur, atau mungkin karena terlupa, jadi sekarang ia akan membayarnya dengan mengambil dari uang di bank. Tetapi ada masalah lain. “Kenapa tidak ada saldo? Pasti ini ulah ibu!“ 


TRING......


-Ibu tahu kalau kamu mengusir nak Ovin dari rumahmu, jika kamu tidak membawanya kembali ibu akan benar-benar memblokir semua rekening bank mu. Sekalipun rumahnya tidak ibu sita tapi tidak akan ada listrik jika tidak membayarnya, apa kau mengerti Franz?- Pesan dari ibunya benar-benar mengancam.


'Sialan, masa aku harus membuatnya kembali ke rumahku!' Ia merasa dipermainkan oleh ibunya sendiri, sangatlah tidak adil dan merasa tidak bebas, padahal selama tiga hari ini ia sudah mulai hidup nyaman tanpa ada gangguan dari perempuan licik itu. "Kau...." Panggil Franz yang menunjuk pada Ovin yang baru saja masuk ke kamar.


"...........?"


"Mulai besok balik ke rumah!" Perintah Franz pada Ovin, lalu ia langsung segera tidur dengan menyelimuti tubuhnya sendiri dengan selimut dengan posisi membelakangi Ovin.

__ADS_1


"Hhh.... " Ovin tersenyum sedikit, ia sudah menebak kalau pemuda yang satu ini tidak bisa membantah dengan ancaman yang diberikan ibunya itu.


Dari kamar Erin ia sudah memakai piyama milik Erin.


Alasannya sederhana, yaitu dia  benar-benar tidak suka jika memakai piyama yang sudah disediakan ibunya Franz karena terlalu mencolok, sebab merupakan piyama seksi, yang membuat si pemakai memperlihatkan belahan dadanya, dan juga cukup menerawang.


Karena piyama yang tidak lain adalah lingerie itu, digunakan untuk menghasut Franz.


Sekarang, piyama yang dipakainya tentu saja lengan panjang sekaligus dengan celana.


Ovin lebih selesa dengan baju itu, walaupun merasa tidak terima dipermainkan oleh adik iparnya sendiri yang berbuat senonoh.


Dia mengambil bantal serta selimut di lemari, tapi ternyata tidak ada selimut di lemari tapi ia menemukan kaos kaki.


Jadi Ovin mengambilnya untuk dia pakai. Setelah siap untuk tidur ia mematikan lampu kamar, dan berjalan menuju sofa yang terbentang di dekat jendela kamar.


Lalu karena di sebelahnya ada meja, maka dia menyeret meja itu agar bisa dekat dengan, sofa agar ketika dirinya tidur maka tidak akan jatuh ke lantai.


Tapi sebab posisinya yang pas dimana di sebelahnya adalah jendela dengan kaca yang besar, ia bisa jadi menatap bintang di balik jendela tersebut.


Dia bisa menatap pemandangan dari langit malam yang sedang bertabur banyak bintang.


'Sekalipun dia membenciku, setidaknya dia tidak mengusikku, seperti saudara jauh.' Detik hati Ovin, arah pandangannya yang menatap langit malam itu tidak berubah.


Ovin melepaskan kacamatanya dan dia letakkan ke meja, lalu tangan kanannya juga sama ia letakkan di atas meja agar tidak tersenggol atau tertindih tubuhnya sendiri ketika tertidur.


___________


Lepas pulang dari kediaman ibu, Ovin kembali ke asramanya untuk mengambil barang-barangnya dan kembali ke kediaman villa milik Franz.


Sekarang ia sudah ada di depan gerbang dan otomatis gerbangnya itu terbuka dengan sendirinya.


"Jadi sekarang aku kembali kesini?" Ovin kembali menoleh ke kanan dan ke kiri, tidak ada siapapun disitu.


Siapapun itu ditujukan pada orang-orang yang biasanya bekerja di villa majikan untuk merapikan kebun atau pembantu yang membersihkan rumah.


Dia melangkah masuk dan yang berarti ia masuk ke kandangnya lagi.


"Padahal tempatnya jauh dari sekolah, kenapa aku dipaksa kembali kesini?" Kutuk Ovin, terlepas dari perjalanannya yang mengharuskan dirinya menaiki kereta terlebih dahulu lalu naik taxi agar sampai ke rumah milik Franz.


Sesampainya di depan pintu rumah, pintu tersebut juga sama-sama otomatis terbuka karena sudah diatur untuk terbuka jika ada tamu yang datang.


Ovin sekali lagi melangkahkan kakinya masuk dan disambut robot kecil yang merupakan pembersih debu otomatis. Robot itu akan berkeliaran di rumah lantai dasar untuk membersihkan tempat dan kolong yang dirasa kotor. 


Dan robot tersebut Ovin beri nama weny. Ada layar LCD yang menggambarkan ekspresi Weny yang suka akan kepulangan majikannya itu.


Ovin ikut tersenyum, 'Yah....dia hafal majikannya sendiri karena aku sendiri yang memodifikasinya sendiri.' Pikir Ovin saat menatap robot pembersih debu, yang Ovin modifikasi sendiri agar terlihat imut.


"Jangan menghalangi jalan!" Franz berjalan pergi melewati Ovin yang baru saja sampai.


Ovin menatap Franz yang dari pakaiannya terlihat cukup rapi.


Ovin sudah menebak kemana Franz akan pergi, tapi Ovin lebih memilih membiarkannya saja.

__ADS_1


".............." Ovin tidak memperdulikannya, ia bergeser sedikit agar tidak menghalangi jalan orang yang hendak pergi itu.


__ADS_2