Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
43 : PUM : Dua berduaan


__ADS_3

Franz langsung terdiam setelah mendengar alasan dari tindakan gila yang dilakukan oleh Istrinya itu. 


“Kamu pikir aku tidak ingat, kamu waktu itu baru saja mengantarkan Bella pulang. Jadi aku pun menunggumu agar aku bisa pulang bersama denganmu, karena waktu itu aku kehabisan uang. Tapi apa yang aku dapat?” Terus terang Ovin. Dia benar-benar masih ingat dengan jelas, dimana dirinya beberapa kali minta tumpangan kepada Franz. Dan jika melakukannya dengan melambaikan tangan dari pinggir jalan tidak ampuh, maka cara paling ampuh lainnya tentu saja adalah agar Franz bisa melihat dirinya sepenuhnya bahwa dia sedang ada di depan jalannya, dan Franz harus berhenti saat itu juga. 


Itulah yang dia lakukan dengan tindakan yang cukup ekstrim itu, sebab jika dirinya kehilangan keyakinan kalau Franz akan menabraknya, sudah pasti sekarang dirinya sudah ditabrak. 


Franz tidak bisa berkata-kata lagi atas kenekatan yang dilakukan oleh istrinya itu. 


Ya..


Perempuan di depannya itu, Franz sadar kalau Ovin hari ini sedang banyak mengalami sial. 


Dan mau lebih sial lagi, justru Ovin hampir menjadi korban tabrak oleh Franz sendiri, jika benar-benar tidak bisa mengendalikan laju mobilnya sendiri dengan benar. 


“Ok..ok…aku mengerti.”


“Kamu tidak akan pernah mengerti.” Sela Ovin di detik itu juga. 


Franz semakin mengernyitkan matanya. Karena tidak mau urusannya jadi panjang, Franz pun langsung bertanya ke poin intinya. “Sudahlah, jadi apa yang membuatmu ingin ter tabrak olehku?”


“Ban sepedaku bocor.”


“Lalu?” Salah satu alisnya terangkat. 


“Untuk hari ini, biarkan aku menumpang dengan mobilmu.” Jawab Ovin dengan terus terang. 


Franz melirik ke arah sepeda listrik yang digunakan oleh istirnya itu pulang pergi. 


Sebenarnya Frans merasa Ovin memang tidak ingin menuntut apapun, mungkin karena itu, terkadang di dalam hatinya terbesit rasa bersalah. 


Tapi semua kata hati itu, Franz pikir ulang, siapakah yang membuat dirinya jadi punya belenggu ikatan suami istri?


Tentu saja Franz akan selalu menunjuk kepada Ovin. 


Franz berbalik dan berkata, “Cepat, jangan buat aku menunggu.” ketus Franz. 


“............” Ovin dengan senang hati, berjalan mengikuti Franz dari belakang dan ikut masuk kedalam mobil.


“Sepedamu?” Tanya Franz. 

__ADS_1


Ovin jadi kembali keluar dari mobil, dia akan merantai sepeda miliknya dengan rantai khusus, dimana di sana harus menggunakan kata sandi. Tentu saja dia merantainya ke pagar pembatas jalan yang kebetulan juga terbuat dari besi. Jadi hal itu tidak dipermasalahkan, sebab Ovin akan menghubungi seseorang untuk membawa sepedanya dalam kondisi ban yang sudah di ganti dengan yang baru. 


Setelah itu, Ovin kembali masuk kedalam mobil. 


Sampailah dimana mereka berdua saat ini masuk kedalam mobil dalam kondisi tubuh basah kuyup.


‘Kenapa posisi dia masuk, aku merasa tidak asing?’ Tentu saja tidak asing, karena Franz sendiri baru saja memimpikan istrinya yang basah kuyup itu masuk dan duduk di kursi mobilnya. 


“Ngomong-ngomong, apa yang sedang kamu pikirkan sampi punyamu itu bereaksi seperti itu?” Tanya Ovin dengan gamblang, sambil menunjuk ke area pribadi milik Franz yang saat ini sudah terlihat sesak?


“Tidak perlu tahu. Sebaiknya diam, atau aku usir kamu dari mobilku.” Cetus Franz, berada di bawah tekanan malu, karena miliknya kembali meronta. 


“...........” Ovin langsung angkat tangan, dan tidak akan bertanya lagi soal apa yang sedang di alami oleh suaminya itu.


Akan tetapi, sekalipun Franz sudah berkata demikian kepada istrinya seperti itu, sayangnya ditengah-tengah dirinya kembali mengendarai mobilnya, sudut matanya terus menangkap apa kira-kira yang ada di balik rok seragam yang di pakai oleh Istrinya itu?


Melihat kedua paha milik Ovin yang putih mulus itu, tangannya sudah gatal ingin menyentuh itu. 


‘Aku benar-benar sudah gila juga, ini.’ Rutuk Franz. Dia semakin mencengkram stir mobilnya, karena dia harus menahan has*r*t yang tiba-tiba tumbuh itu. 


“Aku bisa membantumu.” Matanya kembali melirik ke arah harta itu. 


“Yakin?” Tawar Ovin. 


“Jangan mengajakku bicara terus!” Ketus Franz, sudah tidak ingin berbicara lebih jauh lagi dengan Istrinya itu. 


“............” Maka dari itu, Ovin tidak akan bicara lagi, dan menikmati saja pemandangan suaminya sendiri yang sedang tersiksa itu. 


Dikarenakan terus di pandang oleh Istrinya, Franz kembali menginjak Rem dengan cukup dalam.


CKIT..


“Kenapa kita berhenti?” Tanya Ovin.


‘Dia benar-benar menggodaku.’ Franz menatap Ovin dengan tatapan serius. Tangannya langsung meraih tangan Ovin, dan menariknya begitu saja. 


BRUK…


“Katamu yakin tidak minta bantuanku.” Tanya Ovin, saat ini di hadapannya sedang disuguhi pemandangan yang cukup menakjubkan. Dimana tepat di depan matanya itu, ada satu benda besar, yang ingin segera dikeluarkan.

__ADS_1


“Diam.” perintah Franz dengan ketus. Dia jengkel, sekaligus marah pada dirinya sendiri karena dia sudah tidak bisa menahannya lagi untuk tidak disentuh, gara-gara Istrinya itu entah kenapa di pandang jadi terlihat seperti lebih menggoda. 


Tentu saja sebab Ovin di suruh diam, maka dia hanya menatap benda asing itu dengan posisi diamnya, tanpa bergerak serta bicara sedikitpun. 


Kesal, Franz meraih tangan kanan Ovin dan membuat tangan yang basah itu menyentuh miliknya yang sudah menggunung.


PRESS///–///


‘Heh…kenapa enak seperti ini?’ Franz pun jadi semakin merasakan sesuatu yang aneh, tapi sedikit enak.


“............” Sedangkan Ovin sudah melotot, karena telapak tangannya saat ini benar-benar sudah menyentuh area pribadinya Franz. ‘B-besar..?!’ 


Wajah mereka berdua pun sama-sama tersipu malu. 


“Lakukan itu.”


Ovin sempat mendongak ke atas, dan melihat reaksi wajah Franz yang terlihat seperti menginginkan lebih dari sekedar di pegang seperti itu saja.


‘Dasar plin plan. Tapi kelihatannya ini juga menyenangkan. Toh, mau menuntutku, aku ini istrinya.’ Batin Ovin. 


Dengan demikian, di dalam mobil, di bawah tubuh mereka yang basah kuyup karena hujan deras yang masih mengguyur itu, tidak membuat suasana yang semakin panas itu menjadi pudar?


Franz kembali menyetir mobil, tapi di satu sisi Ovin yang sedang menumpang itu, mau tidak mau harus melakukan pekerjaannya, baik itu sebagai bayaran karena menumpang mobilnya, sekaligus sebagai Istri?


Persetan dengan status mereka berdua. Sebagai dua orang anak SMA yang memiliki banyak rasa penasaran akan hubungan dari yang namanya kontak fisik, membuat mereka berdua pergi ke dalam jurang kesenangan mereka masing-masing. 


Franz yang akhirnya merasa enak, karena mendapatkan pijatan. Walaupun tidak seenak jika dirinya membuat miliknya itu untuk bermain dengan istrinya, dia merasa itu sudah lebih dari cukup agar tidak terlalu merasakan sakit, karena berusaha di tahan. 


“Sebaiknya keluarkan ini.” Tutur Ovin mengingatkan. 


“Jangan sampai membuatku menginginkan lebih dari ini.” Sela Franz. Ekspresi wajahnya sebenarnya sudah tidak karuan ingin membuat mulutnya untuk melenguh, tapi dia berusaha untuk terus ditahan.


‘Tapi aku menginginkannya tuh.’ Benak dari hati Ovin paling dalam. ‘Seperti ini, mana ada rasanya kan?’


Dan sekali lagi, Ovin membuat tindakan yang cukup ekstrim karena menyangkut tubuhnya juga. 


Dia dengan berani, langsung membuka resleting celana Franz. 


SRET..

__ADS_1


“Vin!” pekik Franz, di tengah-tengah dirinya sedang menyetir. 


__ADS_2