
Di sekolah.
" Ok....anak-anak. Apa kalian tahu kenapa Bapak mengumpulkan kalian disini? " Setelah satu jam masuk kelas, pak Deny sebagai guru olahraga memerintahkan semua kelas 12 untuk berkumpul di lapangan basket.
Sebagai akhir dari kegiatan sekolah, ada satu hal yang sering dilaksanakan setiap 1 tahun sekali.
"Bapak menyuruh kalian berkumpul di sini sebab ada pengumuman buat kalian. Biasanya hari-hari seperti ini kalian lagi padat-adatnya belajar, tapi semuanya sudah berakhir. Maka dari itu, sekolah yang tiap tahunnya akan mengadakam tour ke luar negeri, untuk kali ini kalian akan melakukan tour di dalam negeri saja." Beritahu pak Deny ini.
Hingga semua orang yang hadir di sana langsung memberikan reaksi kurang puas.
" Halah.....padahal aku ingin pergi ke jepang."
" Iya...tahun kemarin kan ada tour ke jepang. Tau kali saja tahun ini bisa pergi ke Rusia."
" Lalu yang dua tahun yang lalu juga ada, tapi ke korea. " sahut siswa yang lainnya.
Mulai lah per bisikan antara satu siswa dengan siswa lainnya. Keputusan tour kali ini seperti mendapatkan hadiah zonk saja, padahal dulunya tiap tahun pasti akan tour ke negara berbeda tapi tahun ini tidak sama sekali.
Ini hanyalah karyawisata yang bisa dilakukan semua orang!
Dan mereka semua tentu saja tidak menyetujui apa yang barusan di umumkan.
" Cukup...cukup, Bapak belum menjelaskan kemana kita pergi tapi kenapa kalian sudah ribut?!" Seru Pak Deny. Dengan suaranya yag cukup keras itu, mereka semua berhasil di bungkam dalam seketika.
Dari ratusan siswa disitu, salah satu orang berani mengangkat tangannya untuk menanyakan satu pertanyaan yang mewakili mereka semua.
"Jadi, jika kita tidak jadi pergi ke luar negeri, lantas kita akan pergi kemana pak? " Tanyanya.
Semua orang mengangguk setuju dengan satu pertanyaan yang singkat namun juga cukup padat itu.
Pak Deny merotasikan arah pandangannya, dan melihat semua manak muridnya menampilkan ekspresi wajah yang kurang mengenakkan, karena kalimat 'batal' untuk tour ke luar negeri adalah salah satu pemicu terbesar atas respon mereka.
" Kita akan tour ke salah satu pulau pribadi milik seseorang. Karena perjalanannya sedikit jauh, kita harus menggunakan kapal pesiar untuk sampai kesana. Dengan fasilitas lengkap harusnya kalian tidak rugi juga bukan? Pulau yang akan kita kunjungi ini baru saja selesai proyek, jadi beliau memberikan promosi kepada kita untuk meramaikannya." Jelas Pak Deny , lalu entah mengapa ada satu tatapan sesaat menunjuk pada satu orang di barisan paling ujung sendiri, yaitu Franz.
'Kenapa tatapan pak Deny seperti menunjuk ke arahku?' Franz pun merasakan maksud tatapan dari pak Deny ini, seperti ada maksud yang terselubung, dan dari tatapannya itu merasa kalau ada hubungannya dengan seseorang yang suka ikut campur dalam semua urusan kehidupan pribadi Franz sendiri. 'Jangan-jangan ini ada kaitannya dengan Ibuku.'
"Jadi ke pulau mana Pak?" Tanya salah satu diantara mereka lagi.
"Kalian akan tahu jika sudah di ujung hari keberangkatan. Jadi jika ada yang tidak berkenan dengan keputusan dari kepala sekolah dan ketua Osis, maka silahkan ajukan protes kalian ke ketua Osis langsung." Pak Deny menunjuk pada Jordy yang diam pada barisannya sendiri. "Satu hal lagi, yang tidak ikut, justru akan dikenakan sanksi berupa denda. Apa kalian paham?" Imbuhnya lagi.
"He? Apa pak? Masa tidak ikut, kena denda sih?" Salah satu siswi mulai protes.
"Iya pak, itu tidak adil." Rungut siswi yang lainnya, tidak terima dengan tambahan informasi yang di beritahu Pak Deny kepada mereka semua.
" Acaranya akan berlangsung mulai pekan depan, jadi kalian persiapkan mulai dari sekarang. " sambung pak Deny lagi dengan tersenyum, lalu dia pergi sambil melambaikan tangan, hanya saja kepergiannya digantikan oleh Jordy sebagai mantan ketua osis.
"Baiklah, aku yang akan menjawab pertanyaan dari kalimat protes kalian yang tidak suka jika kena denda." Seperginya Pak Deny, Jordy pun menggantikannya untuk berbicara kepada semua teman-teman seangkatan.
Jordy pun menatap satu per satu wajah mereka semua. Wajah yang sebentar lagi tidak akan Jordy lihat lagi, sebab setelah kelulusan mereka semua nanti, maka jalan hidup mereka pun di mulai.
Mnitihkan karir mereka ke jenjang yang lebih tinggi atau langsung masuk ke dalam dunia pekerjaan, Jordy tidak tahu pasti, tapi dengan adanya Tour kali ini, Jordy berharap akan membawa sebuah kenangan yang tak terlupakan.
__ADS_1
"Coba untuk kalian berdua yang tadi bertanya kenapa bisa ada denda? Misalkan kalian berdua sudah patungan untuk membeli semua kursi di dalam kapal, dengan biaya yang tidak murah, tapi ternyata yang datang hanya sedikit, kira-kira yang rugi siapa?"
Satu pertanyaan telak langsung terlontar untuk mereka yang diam-diam juga tidak terima jika mendapatkan denda kalau tidak ikut Tour dalam negeri itu.
"Ih..ucapan Ketus Osis memang benar juga ya? Padahal sudah berharap banyak tamu yang di undang datang, setelah mengeluarkan banyak uang untu beli kursi untuk tamu yang di undang, tapi karena tidak berangkat...kursinya kan jadi sia-sia, dan jadinya rugi juga ya?"
"Aku juga tidak mau mengalami hal itu."
"Jadi kalau seperti ini, bukannya dari pada tidak berangkat tapi kena denda, lebih bagus berangkat saja dan kita bisa enak dengan semua fasilitas yang serba gratis?"
Perlahan mereka semua jadi menerima usulan itu.
"Jadi bagaimana? Apakah ada pertanyaan yang lain, mengenai Tour ini? Aku akan tetap ada di sini sampai ada di antara kalian yang bertanya lagi." Ucap Jordy. "Jadi santai saja." Tambahnya.
"Ehmm tanya apa lagi ya?"
"Sudah pasti memang dekat dengan pantai."
"Katanya resort mewah yang baru saja di bangun."
Semuannya mengangguk paham.
"Aku ingin tanya, siapa yang mensponsori tour kita kali ini?" Akhirnya satu orang berani bertanya juga. Dan yang bertnya adalah si Siska sendiri?
"Hei, sebenarnya dia itu siapa?" Bisik orang pertama.
"Aku juga tidak tahu. Anak itu kadang muncu tapi kadang menghilang." sahutnya.
Siska yang mendengar segaa bisikan itu hanya mengabaikannya saja. 'Aku kan di sini jika hanya ada Ovin saja.' Batin Siska, masih saja datang dengan penampilan layaknya laki-laki, tapi suara yang keluar tentu saja suara perempuan.
"Yang mensponsori tour kita kali ini adalah dari keluarga Eshter." Jawab Jordy, akhirnya membeberkan siapa orang yang berani menawarkan pariwisata secara cuma-cuma untuk mereka semua adalah karena keluarga Eshter.
Yang tidak lain adalah keluarganya Franz.
"Oh...jadi Tuan muda tampan ini."
"Pantas saja, kita semua bisa merasakan aura dari seorang yang paling kaya di antara kita semua."
"Wahh...jadi tidak sabar ingin pergi."
"Kalau sudah seperti ini, aku tidak akan protes lagi. Aku akan ikut,"
"Iya, aku juga mau ikutan, ah. Pasti akan sangat menyenangkan dari pada ke luar negeri."
Satu persatu, setelah tahu orang yang bersangkutan adalah dalang dari rencana tour mereka ke luar negeri di batalkan adalah karena berhubungan dengan keluarganya Franz, mereka semua akhirnya menyetujuinya juga.
"Jadi masih ada yang di tanyakan lagi tidak? Kalau tidak ada lagi, aku akan mengakhiri pertemuan ini." Beritahu Jordy .
Semua orang menggeleng sebagai tanda, kalau mereka semua sudah cukup dengan segala informasi tadi.
Yang intinya, jika berhubungan dengan Franz, maka tidak ada yang perlu di protesi lagi.
__ADS_1
"Kalau begitu pertemuan kali ini aku akhiri. Kalian bisa kembali ke kelas masing-masing." perintah Jordy, membubarkan semua barisan antar kelas itu
Semua orang pun membubarkan diri dari barisan mereka dan membuat kelompok disusi yang berlangsung sampai ke kelas mereka masing-masing.
Dan meninggalkan beberapa orang yang masih berada di sana. Diantaranya adalah Siska, Jerry, Jordy, Ovin serta Franz juga Bella.
'Kenapa mereka tidak pergi? Apalagi-' Franz langsung melirik ke arah Bella yang terlihat sedang menunggu Franz. 'Bella, aku sudah melihat rencana liciknya saat ada di kolam renang waktu itu. Dia yang menceburkan dirinya sendiri agar aku,-' Franz memejamkan matanya.
Dia sungguh merasa bersalah dan langsung terjerat dengan apa yang Franz lakukan saat berad adi gedung C, dimana dia langsung menuduh Ovin tanpa bukti sudah mendorong Bella.
Karena Franz sudah tahu faktanya setelah mendapatkan cuplikan Video dari seseorang, Franz pun jadi tidak memiliki keluasaan saat berdekatan dengan Bella.
'Apakah karena selama beberapa hari ini aku banyak mendapatkan insiden dengan Ovin, makannya aku merasa sedikit jadi risih dengan Bella?'
Tidak mau berlama-lama dalam pikirannya itu, Franz pun membawa pergi Bella dari sana, sebelum dia melihat rencana lain yang mungkin saja sedang di rencanakan di dalam pikirannya.
"Ayo pergi juga." Ajak Franz, kepada Bella yang diam-diam sebenarnya memang punya niat untuk melakukan sesuatu kepada Ovin yang di saat yang sama itu terlihat sedang di tunggu oleh kedua Jerry serta Jordy?
'Kenapa mereka berdua terlihat seperti memang tertarik dengan perempuan itu?' Pikirnya, sebelum dia akhirnya pergi dari sana bersama dengan Franz.
"Vin, ayo pergi." Tawar Jerry kepada Ovin, seraya menarik pergelangan tangan kanannya.
Siska yang hanya ikut-ikutan saja, menarik tangan Ovin agar pergi dari sana juga meninggalkan Jordy yang masih berdiri di depan podium.
'Kelihatannya ada yang ingin dia bicarakan padaku kan?' Akan tetapi, karena Ovin tidak mampu untuk melihat ekspresi macam apa yang di perlihatkan oleh Jordy itu kepadanya, makannya Ovin pun mengabaikan Jordy yang masih berdiri di atas podium dan meninggalkannya pergi bersama dengan Jerry juga Siska.
KLEK.
Setelah kepergian dari mereka semua, Jordy pun mengeluarkan kotak perhiasan dengan bentuk yang cukup kecil itu dari saku blazer nya. 'Padahal ada yang ingin aku bicarakan sambil mengembalikan barangnya.'
Jordy pun membuka tutup dari kotak perhiasan itu dan menatapnya dengan seksama.
Kilauan dari batu kelereng berwarna Ruby itu memang selalu saja cukup menyita perhatiannya. 'Mungkin aku bisa mengembalikannya saat tour nanti.'
Karena sudah tidak ada apapun lagi yang harus dia lakuan di sana, Jordy sebagai orang terakhir pun akhirnya turun dari podium dan pergi keluar dari sana.
*
*
*
'Aku selalu mengawasi mereka dari balik layar. Rupanya Jordy ini lah yang menyimpan kelereng kesukaannya Ovin.' Chade yang saat ini berada di dalam hotel dalam posisi baru saja mandi, dia pun tengah duduk selonjor dengan kedua kaki di atas meja dan laptop berada di atas pangkuannya.
Dengan posisinya itu, Chade pun menikmati waktu santainya sendirian saeraya melihat pemandangan yang bisa di tampilkan oleh gedunng pencakar langiit setinggi lima puluh dua meter itu.
TAK.
Chade meletakkan secangkir kopi yang baru saja Chade seruput, dan mulai menggerakkan kembali ke sepuluh jarinya untuk melakukan proses pencarian.
Pencarian untuk siapa?
__ADS_1
Setelah ujung dari jari telunjuknya menekan tombol enter, Chade pun di perlihatkan sederet profil fari foto Bella.
"Sesuai dugaan, kalung yang di lelang di tempat pelelangan itu ada di tangannya. Aku harus selidiki ini. Karena dengan karakternya itu, mana mungkin dia menyukai kalung mahal dan norak seperti itu." Gumam Chade.