Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
37 : PUM : Pencegahan


__ADS_3

"Jerry," Ovin memanggil nama Jerry.


Tapi karena Jerry sendiri masih punya rasa kesal di dalam hatinya, kenapa Ovin tidak membalas mereka saja, dan membiarkan dirinya sendiri jadi bahan bully oleh murid lain, maka panggilan yang Ovin lakukan sempat tidak terdengar.


"Jerry! Lepaskan!" Seru Ovin, dia langsung menarik tangannya itu dari cengkraman tangan Jerry.


Jerry yang melihat reaksi Ovin yang marah pun langsung melepaskan cengkraman tangannya tersebut.


"Kenapa kamu pakai mengatakan kepada mereka kamu menyukaiku?"


"Aku hanya tidak sengaja." Sebuah alasan konyol pun keluar. 'Lagipula, kenapa tidak membalas saja mereka-"


"Mereka?"


Mata Jerry jadi sayu, lalu menambahkan, "Aku melihatnya. Ada yang sengaja mendorongmu dengan punggung, jadi terlihat seperti orang yang tidak sengaja mendorongmu."


"Hanya itu?"


"Ayolah Ovin, kenapa kamu mau diperlakukan seperti ini oleh mereka. Kenapa harus masuk ke sekolah Clarty seperti ini? Masih banyak sekolah elit lain yang bisa kamu masuki. Lihat saja, mereka terus saja membully mu kan? Bukankah kamu disini ingin jadi seorang pelajar normal?"


'Siapa yang bilang begitu? Aku hanya menuruti apa yang Ibunya Franz itu lakukan, agar aku satu sekolah dengan anaknya itu.' pikir Ovin. "Jerry, aku tahu apa yang kamu khawatirkan. Tapi saranku, pikir saja dirimu sendiri dengan baik. Aku bisa mengurus masalahku, jadi jangan terlalu ikut campur juga.


Dan soal kamu bilang menyukaiku di depan mereka....apakah kamu tahu, yang seperti itu akan membuat mereka semakin melakukan perkara denganku. Jadi agar tidak lebih menambah masalahku, jangan lakukan hal seperti itu di depan banyak orang, paham kan maksudku ini?" Jelas Ovin panjang lebar. 'Karena dia mengatakan itu di depan mereka, Secara tidak langsung pasti akan terdengar di telinga Franz. Ini sedikit gawat, dia pasti berpikir hal yang tidak-tidak padaku. Kesanku sudah pasti lebih hancur ketimbang sebelumnya. Dasar Jerry, kenapa juga melakukan itu di depan mereka.'


Jerry semakin mengernyitkan matanya, "Tapi aku tidak rela kamu diperlakukan seperti itu,"


"Tahan saja kali." Celetuk Ovin, lalu langsung berbalik dan pergi meninggalkan Jerry begitu saja.


Jerry yang hendak merai bahu itu, hanya bisa menangkap angin kosong saja, lalu mengepalkan tangannya dengan erat. 'Apa yang membuatnya jadi seperti itu? Aku rasa dia menyimpan rahasia yang cukup besar.'


Karena tidak mendapatkan balasan apapun setelah membawa Ovin keluar dari situasi yang terlihat rumit itu, Jerry pun pergi dari sana sendirian.


________________


"Hahh~" Helaan nafas panjang dan kasar pun keluar dari mulut Ovin. Untuk kedua kalinya, dirinya terpaksa harus berganti pakaian, karena sekarang pakaiannya kotor.


Oleh karena itu, Ovin pun masuk ke dalam kamar mandi dan berganti pakaian di sana.


'Awalnya, aku pikir sekolah dari kalangan elit seperti ini membawa mereka punya kepribadian yang tidak peduli dengan orang di sekitarnya. Tapi kenapa mereka, masih saja punya waktu menonton orang yang sedang di rendahkan?' Satu persatu seragamnya pun Ovin lepaskan, dan menggantinya dengan seragam baru. 'Hmm...seragam baru memang punya wangi yang enak.' Puji Ovin.


Sedangkan diluar kamar mandi, Merli dan kedua anak buahnya, tanpa kehilangan ide untuk mempermainkan Ovin yang sedari awal sudah menjadi sasaran mereka, saat ini mereka tentu saja akan melakukan kejahilan lagi dan lagi.

__ADS_1


"Kalian berdua sudah menyiapkannya kan?" Tanya Merli kepada kedua teman bayarannya. Yah...jika tidak di bayar, tentu saja mereka berdua tidak akan mau menuruti keinginannya.


"Sudah." jawabnya. Di sebelah kakinya saat ini ada seember air hasil dari cucian piring.


"Tentu saja." sedangkan perempuan ini, membawa dua kantong plastik berisi es batu.


Demi melancarkan rencana, es batu tadi di masukkan kedalam air cucian, lalu mereka berdua membawanya masuk kedalam kamar mandi.


Sedangkan Merli, berada di luar untuk memantau situasi.


'Rasakan itu Ovin, dengan memandikanmu dengan air cucian piring itu, tubuhmu pasti jadi lebih bersih. Dan dengan seperti ini, kamu mana mungkin punya seragam lagi untuk dipakai.' Sudut bibir Merli pun tersungging. Dia benar-benar sangat menantikan pertunjukan menarik lainnya setelah kejadian yang terjadi di kantin tadi. 'Kira-kira penampilanmu nanti akan seperti apa ya?' Harap Merli, sampai...


BYURRR....


Suara dari guyuran air yang cukup melimpah itu segera mengisyaratkan kalau rencananya berhasil.


"Merli, kami sudah melakukannya."


"Dia pasti sedang kedinginan sekarang."


Mendengar hal tersebut, Merli tersenyum puas. Tapi demi mencari faktanya sendiri, dia mencoba cek hasil kinerja dari anak buahnya itu.


Merasa sudah sesuai dengan ekspektasinya, Merli tanpa sepatah kata itu langsung pergi. Tapi sayangnya, demi menambah rencananya tadi, Merli pun mengunci pitu kamar mandi dari luar.


KLEK....


"Kerja kalian bagus. Kalian berdua mau apa, nanti akan aku belikan, setelah aku melihat tampang perempuan dekil itu." Kata Merli sambil memasukkan kunci kedalam saku seragamnya.


Kedua orang perempuan itu pun tersenyum puas karena sebentar lagi akan mendapatkan Imbalan.


*


*


*


Sedangkan di dalam kamar mandi, yang menjadi korban kejahatan dari tiga orang anak yang sudah Ovin tebak.


"Wah...aku tidak menyangka, kalau di dalam kamar mandi saja bisa ada hujan sebesar itu. Bahkan sampai ada es batu segala, lagi." Gerutu Ovin, sambil memegang payung lipat yang sedang dia pakai.


Karena sudah menyangka pasti akan terjadi hal lain, Ovin yang saat ini sudah memakai seragam rapi dan duduk manis di atas kloset yang tertutup itu, dengan santai memegang payung berwarna hitam.

__ADS_1


Salah satu tameng itu pun berhasil mencegah dirinya basah kuyup untuk yang kedua kalinya.


Tapi di tengah-tengah Ovin sedang bergumam itu, di bilik sebelahnya pun terdapat satu orang lagi yang sama-sama memegang sebuah payung. Alasannya cukup sederhana, agar dirinnya tidak terkena cipratan air kotor yang dilakukan oleh kedua anak buah Merli tadi.


"Aku salut padamu Vino, bagaimana orang sepertimu jadi bahan tindasan dari orang seperti mereka?" Senyuman manis tapi terlihat seperti senyuman maut penuh siasat terus tersungging di bibir seksinya. Dia saat ini juga sama-sama duduk di di atas kloset.


"Yah~ Apa salahnya jadi terlihat seperti orang yang tidak berdaya?"


"Ho~ Apakah kamu sedang mencari perhatian orang lain agar bersimpati kepadamu?" Tanya laki-laki ini. Tidak...walaupun penampilannya seperti laki-laki, karena memakai seragam laki-laki, tapi bukan berarti dia pria tulen.


"HHmm~ bisa jadi sih. Tapi semua itu juga tidak ada gunanya."


"Kalau tahu tidak ada gunanya, lalu kenapa masih saja sok lemah?"


KRAK....


Mereka berdua sama-sama kembali melipat payung mereka. Setelah itu mereka berdua pun keluar dari bilik itu.


KLEK...


Dua orang itu akhirnya keluar dari bilik tersebut, dan saling bertatap muka.


"Memangnya salah ya, jika terlihat lemah?" Tanya Ovin.


"Tidak salah sih. Hanya saja, bukankah jadi lemah itu cukuplah menderita?"


Ovin menunduk, lalu tersenyum simpul. "Tapi jika aku tidak bersikap lemah, maka rasanya tidak menyenangkan juga. Yah...setidaknya aku bisa mengetahui karakter mereka semua."


"Kamu ini memang aneh."


"Ya...mereka sering mengatakan itu, sampai aku sendiri sudah bosan. Jadi dari pada mengatakan itu padaku lagi dan lagi, lebih baik, jawab saja aku, kenapa kamu bisa ada disini? Siska?" Tanya Ovin dengan melirik sosok dari temannya, yang justru menyamar menjadi seorang laki-laki. "Apakah kamu tahu, jika kita berdua keluar bersama, dan mereka melihatmu yang seperti laki-laki ini?"


"Tentu saja aku tahu reaksi dan gosip baru yang akan beredar di segala penjuru sekolah. Tapi apa masalahnya itu? Lagi pula semua guru sudah tahu aku ini perempuan, jadi jika ada yang menggosipkan kita, maka gosip itu tidak akan membahayakan kita."


"Memangnya boleh ya? Berpakaian laki-laki seperti itu?" Tanya Ovin sembari melihat penampilan Siska yang kelewat persis seperti laki-laki.


Tubuh yang tinggi, badan yang lebih berisi, sehingga terlihat seperti laki-laki yang sering berolahraga, dan tampang wajah milik Siska pun memang jadi terlihat seperti laki-laki yang cantik.


"Tentu saja boleh, karena akulah yang memperbolehkannya," sahut wanita ini.


Sekalipun yang menjadi lawan bicara Ovin saat ini adalah seorang perempuan, tapi mau di lihat dari sudut pandang manapun, Siska ini akan terlihat seperti pria tulen.

__ADS_1


__ADS_2