Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
38 : PUM : Jarak


__ADS_3

DI waktu yang bersamaan, ketika beberapa orang siswi ingin masuk ke dalam toilet.


KLEK...KLEK....


"Eh? Kenapa pintunya tidak dapat di buka?" Perempuan ini mencoba memutar knop pintu, tapi seperti yang terjadi saat awal tadi, pintu itu tidak dapat di buka. "Ini tidak bisa di buka."


"Coba sini aku yang buka." Salah satu temannya ikut mencoba, apakah pintu toilet itu benar-benar tidak bisa di buka?


KLEK....KLEK.....


"Sebenarnya pintunya tidak ada masalah, kecuali pintu ini di kunci." ujar perempuan ini kepada beberapa teman yang ada di belakangnya.


"Apa jangan-jangan ada yang rusak? Makannya pintunya di kunci?"


"Padahal belum satu jam aku keluar dari sini. Toiletnya bak-baik saja kok," Mencoba sekali lagi.


Tapi karena hasilnya tetap sama, mereka yang hendak pergi untuk ke toilet yang ada di tempat lain, tidak sengaja melihat seorang petugas kebersihan.


"Hei kamu," Tunjuk perempuan ini kepada wanita yang bertugas untuk bersih-bersih.


"Ya nona?" Wanita ini pun memberhentikan langkah kakinya.


"Apakah toilet ini bermasalah?"


"Tidak Non, sepuluh menit yang lalu saja saya baru membersihkan toilet itu, tidak ada masalah apapun." jawabnya.


"Tapi kenapa pintunnya terkunci?" Perempuan ini semakin mengeryitkan matanya, memberikan tatapan intimidasi kepada wanita tersebut.


Merasa takut akan menyinggung siswi tersebut, wanita ini pun berjalan menghampiri pintu itu dan mencoba membukanya.


"Kenapa di kunci?"


"Itulah yang aku tanyakan padamu, kenapa bisa di kunci, atau kamu yang menguncinya?" Sungut perempuan ini.


"S-saya ada kunci cadangannya, biar saya yang buka." Dengan wajah gugup, wanita ini pun mengeluarkan kuunci cadangan untuk membuka pintu tersebut.


"Ya cepat! Sana buka!" Sudah mulai naik darah karena pakai jawab ucapannya terus.


"I-iya..iya." Panik karena diberikan perintah nada yang tinggi seolah akan mengusirnya atau bahkan memecatnya, sebab menyinggung hati siswi tersebut, wanita ini kemudian memasukkan kunci itu kedalam knop pintu, dan..


KLEK....


"Sudah Non,"


Kedua perempuan itu hanya mendelik tajam hingga salah satu diantara mereka berdua berkata, "Kerja itu yang cepat,"


"Ma-maafkan saya Nona," Membungkuk tanda membuat permintaan maaf kepada kedua Nona muda itu.

__ADS_1


"Hmph...." Tanpa memperdulikan wanita itu, mereka berdua langsung masuk kedalam Toilet.


Dan belum juga pergi dari depan toilte, wanita ini langsung dikejutkan dengan sebuah teriakan.


"Kyaa...apa-apaan ini?!"


Wanita ini langsung bergegas untuk masuk kedalam toilet tersebut, dan betapa mengejutkannya bagi mereka bertiga bahwa...


_______________


"Hei Vino, kenapa kamu sampai seperti ini?" Tanya Siska kepada Ovin.


"Jangan panggil aku Vino, aku ini perempuan."


"Tapi aku suka memanggilmu Vino."


"Tapi aku tidak suka panggilan itu." Sahut Ovin dengan cepat.


"Tapi ngomong-ngomong, dalam*a*nmu kelihatan banyak tuh," Tatap Vino pada satu hal yang ada di balik rok pendek yang digunakan oleh Ovin. "Warnanya hitam, cukup mengagumkan, aku jadi bisa melihatnya langsung ya?"


"Berisik~" Tekan Ovin dengan nada sedikit berbisik.


"Salahmu juga, membuatku keluar lebih dulu ketimbang kamu, hasilnya kan aku bisa melihat apa yang ada di balik rokmu dengan jelas." Jelas Siska lagi dengan seringaian liciknya, sebab saat ini dirinya sedang menunggu Ovin turun dari jendela toilet.


Demi menghindari gosip lagi, Ovin bersikeras untuk keluar dari jendela, gara-gara pimtu toilet tadi sudah di tutup dan dikunci oleh Merli dari luar.


"Tapi kita jadi terlihat baru melakukan sesuatu yang mes*um ya?"


"............." perempatan siku di dahi Ovin pun muncul. Sebab dirinya harus di hadapi oleh satu orang yang cukup blak-blakan. Cara bicara tanpa di filter dulu itu terkadang membuat Ovin juga bisa emosi.


"Apa? Takut ketinggian? Mau aku bantu?" Tawar Siska dengan senyuman yang kian mengembang. "Kalau mau, aku akan menangkapmu." dan Siska pun secara terang-terangan langsung menyentuh kedua kaki Ovin yang jenjang itu.


"Heei~ Aku tidak takut turun," Protes Ovin terhadap tindakan yang sedang di lakukan oleh Siska kepadanya.


"Halah...dari pada kelamaan, cepat lepas tanganmu dari sana." Perintah Siska, sudah tidak sabar melihat Ovin yang tidak kunjung turun juga.


"Haisshh..." Sedikit kesal dengan Siska, tapi karena meang tidak ada waktu lagi, Ovin pun melepaskan kedua tangannya dari tepi jendela.


Dan Siska pun langsung menangkap tubuh Ovin yang..


"Sebenarnya apa yang kamu makan sih? Aku selalu merasa berat badan badanmu tidak bertambah sedikitpun." Imbuh Siska seraya memegang tubuh Ovin.


"Apa urusanmu dengan itu? Yang penting kan aku sehat, bukan sakit-sakitan." Jawab Ovin dengan selamba. "Tur-"


Belum juga mengatakan kalimatnya secara keseluruhan, seseorang tiba-tiba berhasil memergoki mereka berdua.


"M-mata empat! A-apa yang kamu lakukan disitu, dan..." Sean yang tidak sengaja menangkap basah dua orang yang baru saja keluar dari toilet itu langsung dikejutkan dengan wajah dari dua orang tersebut, yaitu Ovin, dan satu lagi adalah 'Siapa lagi laki-laki ini?! Kenapa diam-diam disekitarnya ada banyak lagi-lagi yang dekat dengannya?! Sebenarnya dia menggunakan kemampuan apa sampai, laki-laki tak dikenal ini..! D-dia...'

__ADS_1


Sean matanya langsung jelalatan melihat Siska memberikan senyuman mautnya, di saat kedua tangan Siska saja sedang menggendong tubuh Ovin.


'Apakah dia pacar barunya si mata empat?!' Terka Sean.


'Hadehh...semoga saja hanya dia saja yang melihat kami berdua keluar.' Batin Ovin, lalu berkata, "Turunkan aku," Pinta Ovin kepada Siska yang masih saja menggendongnya dengan jarak yang terlihat cukup intim. Karena wajah Siska kebetulan tepat ada di depan perutnya Ovin.


CUP..


"............!" Siska yang dengan jahilnya mencium perut Ovin, tanpa basa-basi lagi dia langsung memukul kepala Siska.


PLAK..


"Kyaaa....!" sampai suara teriakan itu benar-benar terjadi. "Apa-apaan ini?!" Imbuhnya.


Sampai Sean sendiri kembali di kejutkan dengan kedua hal tersebut, yaitu adegan Siska yang sedang memeluk Ovin sampai mencium manja perut Ovin, dan satu lagi adalah sebuah teriakan yang berasal dari balik dinding ini, yaitu toilet.


TAP...


Setelah berhasil memukul kepala Siska, barulah Siska menurunkan Ovin.


"Apa yang sudah kalian berdua lakukan di dalam toilet?" tanya Sean dengan penasaran.


"Biasanya ap-mpph!" Mulut Siska langsung di bungkam oleh tangan Ovin, agar tidak bicara sembarangan.


"Hayo~ Nanti aku lapor loh, pada guru, baru tahu rasa." Ancam Sean, lalu berbalik untuk pergi dari sana.


Ovin yang melihat Sean hendak pergi itu, tanpa sepatah kata melepas bungkaman di mulut Siska, setelah itu Ovin mengambil langkah cepat untuk menyusul Sean yang hendak pergi, tepat di belakangnya Sean persis, Ovin segera mengangkat tangan kirinya, lalu..


GREP.....


"Hmmphh!" Ronta Sean saat mulutnya tiba-tiba saja dibungkam oleh Ovin yang ada di belakangnya persis.


Dikarenakan Sean punya tubuh yang cukup tinggi, Ovin pun menarik tubuh Sean ke belakang sampai Sean sendiri jadi terjatuh ke belakang dengan mulut masih di bungkam dengan tangannya Ovin.


'K-kenapa dia bisa seberani itu? Aku juga tidak bisa berdiri.' pikir Sean, saat dirinya ingin berdiri, yang ada adalah kedua bahu Sean sedang di tindih dengan kedua lutut Ovin, sampai akhirnya wajah Ovin pun benar-benar dekat, dan di atas wajahnya Sean persis. "............!"


Tentu saja Sean cukup terkejut saat dirinya bisa melihat wajah Ovin dari dekat, dia baru tahu ternyata matanya bisa menemukan bibir itu dari dekat dan justru jadi terlihat manis, seperti buah cerry, karena bibir Ovin yang ternyata terliihat begitu ranum.


'Aku baru sadar, kalau dia...cantik?!...... Apa? Kenapa aku bisa berpikiran seperti itu terhadap si mata empat ini? Tapi kelihatannya jika perempuan ini tidak pakai kacamata, dan di poles sedikitt perwatan, dia pasti memang bisa cantik.' Pikir Sean lagi.


"Apa-"


'Dia mau mengatakan apa?' Entah karena terbuai dengan wajah Ovin yang tiba-tiba saja ada di depan matanya itu, dia pun jadi tidak sabar kalimat apa lagi yang akan keluar dari bibir yang terlihat menggoda itu? 'Eh? Sudut bibirnya, kelihatannya terlukan.' Matanya pun tidak bisa dia alihkan dari bibir Ovin yang ternyata ada sedikit luka. Jika tidak di perhatikan dengan baik, memang tidak akan kelihatan, tetapi karena Sean memang sedang berada di jarak yang cukup dekat dengagn wajah perempuan ini, maka Sean pun dapat melihatnya.


"Apa kamu yakin, mau mengatakan apa yang kamu lihat tadi kepada guru?"


'Apa? Apakah dia melakukan ini kepadaku hanya untuk menanyakan hal itu saja?' Terkejut Sean, saat mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Ovin. 'Dia takut jika aku benar-benar mengatakannya kepada gurunya?' benak hati Sean saat melihat wajah Ovin yang terlihat dingin seolah seperti sedang putus asa.

__ADS_1


__ADS_2