Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
82 : PUM : Tinggalkan


__ADS_3

"IBUU!"


"Akhw." Rintih Franz.


Franz segera memegang kepalanya sendiri yang sakit itu. 'Suara siapa itu? Kenapa aku mendengar suara anak kecil? Itu jelas bukan suara milikku.'


Hanya saja, karena Franz tidak ingin membiarkan Ovin terus melakukan cara seperti orang gila seperti itu, Franz pun langsung mencengkram kembali tangan Ovin agar menghentikan perbuatan yang dilakukan oleh istrinya itu.


GREP..


"Hentikan itu, bagaimana jika Jenifa tahu kau malah merobek baju itu?" Tanya Franz dengan tegas.


Mendengar hal tersebut, tentu saja Ovin kemudian berbalik dan berdiri menghadap Franz. Karena dirinya lebih pendek 15 cm dari Franz, Ovin hanya menatap datar dada bidang milik Franz.


"Kan aku sudah bilang, salah dia memberikan baju warna pink." tukas Ovin.


"Tapi tidak usah mengguntingnya juga kan?"


" Apa peduliku? " Ovin kemudian melangkah satu langkah ke depan dan membuat Franz mundur satu langkah, sekalipun tangannya saat ini masih di cengkram oleh Franz.


"..............! " Franz mengernyitkan matanya dan mundur satu langkah lagi demi menghindari kontak fisik dengan perempuan yang kurang disukainya itu.


" Jika bukan karena kecelakaan, aku tidak akan melakukannya."


" Itu untuk ibu mu? Tapi jika iya pun, bukannya kau sendiri yang harusnya beli baju jika memang untuk di hadiahkan untuk Ibumu, bukan dengan cara mengorbankan baju mulik orang lain." Jelas Franz, kini kepalanya sudah sembuh dari rasa sakit yang beberapa tadi terasa.


" Ya! Karena itu, kau harus bertanggung jawab! " Seru Ovin, cengkraman tangan yang di lakukan oleh Franz kepadanya pun Ovin kembalikan dengan sebuah ancaman.


Karena kebetulan Ovin saat ini memegang gunting, maka Ovin pun tiba-tiba mengancam Franz dengan gunting itu, dan mengarahkan ujung gunting tersebut ke arah Franz.


'Apa dia gila? Dia mau membunuhku? Lalu memangnya apa yang harus aku pertanggungjawabkan? Kan aku tidak melakuan apapun kepadanya.' Pekik Franz di dalam hatinya.


Tangan yang awalnya dia gunakan untuk menghentikan Ovin untuk tidak memotong-motong baju yang sudah rusak itu lagi, justru saat ini keadaannya jadi bumerang bagi Franz sendiri, sebab dia malah jadi di ancam oleh ovin dengan menggunakan gunting itu sebagai senjatanya.


"Kau harus bertanggug jawab Franz, karenamu aku jadi seperti ini! Kau selalu saja memarahiku, menganggapku sebagai orang yang licik karena ingin memanfaatkanmu karena keluargamu yang kaya? Aku tidak butuh kekayaanmu!"

__ADS_1


"Vin, tena-"


"Apa yang harus di tenangkan?!" Pekik Ovin lagi, dengan air mata akhirnya sudah memenuhi matanya.


"Diam! Kita itu ada di rumah orang!" Franz tanpa sadar jadi terbawa emosi juga gara-gara cara bicara Ovin yang tinggi itu, makannya jadi terpancing menggunakan naa tinggi juga.


"Memamangnya kenapa kalau di rumah orang?! Aku bahkan tidak peduli dengan itu, kenapa kau bisa peduli dengan apa yang akan di pikirkan oleh orang lain?! Bukannya kau selama di sekolah tidak begitu mempedulikan dengan orang yang membicarakanmu?!"


"SHhtt...!" Franz yang sudah marah dan tidak tahan dengan Ovin yang lagi-lagi meracau seperti kemarin, langsung membekap mulut ovin.


"MMPPHH...!" Ovin yang tidak suka dengan tindakannya Franz ini, matanya segera melotot, tangan kanannya terus berusaha untuk mengerahkan tenaganya agar gunting yang sedang dia pegang itu bisa dia gunakan untuk melukai Franz ini.


Dia sering di sakiti, kenapa tidak menyakitinya balik?


Sebuah balas dendam yang ingin Ovin lampiaskan, setidaknya untuk satu kali saja. Itulah yang sangat di inginkan oleh Ovin kepada Franz, yang merupakan akar atas kasus di mana Ibunya jadi korban tabrak lari waktu dirinya masih kecil.


"Arggh..." Dengan keganasan yang di miliki oleh Ovin, Ovin pun berhasil membuat tangan kanannya Franz yang awalnya di gunakan untuk membungkam mulutnya bisa Ovin gunakan sebagai daging yang dia gigit sesuka hatinya, sampai Franz sendiri akhirnya..


"AKhhw! Kau anj*ing gila ya?!" Pekik Franz saat mendapati tangan kanannya itu di gigit ganas oleh Ovin.


GREP...


Tangan kirinya pun tanpa sengaja jadi mencengkram pergelangan tangan Ovin lebih kuat, sampai Ovin yang merasa sakit itu, gunting yang di pegangnya pun terlepas.


KLANG...


Dan rasa sakit yang Ovin dapatkan akibat cengkraman Franz yang kuat itu akhirnya membuat Ovin jadi bungkam juga.


Rasa sakit itu berhasil menyadarkan kembali apa yang semua mulutnya tadi katakan, dan menyadarkan kembali apa yang hampir dia lakukan dengan gunting yang sudah tergeletak di lantai itu.


Ya..


Tangannya itu hendak dia gunakan untuk mencelakai Franz? Suaminya?


'Padahal dialah, karena dia Ibuku JADI meninggal. Setidaknya aku harus memberinya pelajaran, menusuk bahunya bisa jadi salah satu sedikit dari rasa sakit yang aku miliki. Tapi kenapa aku tidak bisa melakukannya?' Resah Ovin di dalam hatinya.

__ADS_1


Dia sungguh ingin sekali, setidaknnya memberikan sedikit sebuah luka kecil untuk di tanamkan pada tubuhnya Franz, tapi saat melihat kembali sorotan mata Franz yang begitu tajam ke arahnya, membuat Ovin jadi merasa enggan untuk melakukannya.


Dia takut kepadanya?


'Kenapa aku jadi takut? Kenapa?!' Air matanya yang sudah tidak bisa di bendung itu pun sudah pecah sedari tadi.


Kedua kakinya yang gemetar, karena pikirannya kembali tersadar, membuatnya tak mampu untuk berdiri lagi dan akhirnya dia jatuh terduduk.


BRUK...


'Kenapa aku seperti ini? Setiap kali di hari kematian Ibu, kenapa aku selalunya tidak mampu mengendalikan gejolak amarah dan kesedihanku ini?' Dengan ekspresi wajah diam, Ovin mengangkat kedua tangannya untuk memegangi kepalanya.


Dia setiap tahun, tepat di hari kematian sang Ibunda tercinta, satu rahasia yang tidak pernah di ketahui oleh orang lain kecuali kakek dan pamannya serta semua pembantu di rumah besarnya, Ovin selalu tidak mampu mengendalikan emosinya, karena dia benar-benar merasakan kehilangan.


Kehilangan semuannya.


Kehilangan Ibu, Ayah, Kakek, Nenek, Rumah lama, intinya keluarganya. Semuanya pergi meninggalkannya secara bertahap, membuat Ovin jadi merasa seperti orang yang memang tidak memiliki hak untuk mendapatkan apa itu kasih sayang dari mereka semua.


Dan karena itulah, dirinya saat ini.


Menjadi orang yang penuh dengan kekacauan.


'Dan sekarang, Franz ini. Dia pun...dia pasti memang bisa melakukan hal yang sama seperti mereka. Meninggalkanku, tidak..tidak...aku tidak mau di tinggalkan terus!' Dan Ovin pun jadi menjambak rambutnya sendiri sampai mulut yang sedari sudah terdiam itu langsung menjerit dengan kencang. "Tidakk!"


Franz yang panik itu segera berjongkok dan buru-buru mencengkram kedua tangan Ovin yang terlihat menyiksa kepalanya sendiri dengan menjambak rambutnya, sambil berteriak. "Vin! Tenang, berhenti melakukan ini!" sambil mengguncang-guncang tubuh Ovin yang terasa kembali panas.


"Tidak! Lepaskan tanganku!" Racau Ovin, sambil berusaha memberontak.


Tapi Franz tidak melepaskannya sedetikpun.


'Apa yang terjadi kepadanya? Kenapa emosinya jadi tidak terkontrol seperti ini?!' Franz yang kebingungan dengan tingkah Ovin yang cukup brutal itu, hanya punya satu cara saja, dia langsung memeluk tubuh kecil itu agar bisa tenang.


"Kalau mau meninggalkanku juga maka tinggalkan aku sekarang saja! Sana pergi! Itu yang kau inginkan kan?! Lepaskan!" Ovin pun terus meracau. Karena permintaannya tidak kunjung di turuti oleh Franz, Ovin pun jadinya mengigit bahu Franz.


GRRTT....

__ADS_1


"Akhh...." Franz merintih sakit. Tapi Franz tetap berusaha untuk tidak melepaskan tubuh Ovin yang ternyata kembali panas lagi. Dan di tambah dengan emosinya yang sedang naik, maka Franz tidak akan membiarkan perempuan ini lepas darinya, karena kalau tidak, yang ada adalah Ovin bisa membuat kacauan lain selain berteriak histeris seperti ini.


__ADS_2