
BRUKK....
Keduanya terjatuh bersama-sama dan saling tumpang tindih.
Membuat keduanya sekarang saling pandang satu sama lain.
Nafas yang terdengar lebih jelas, dan detak jantung yang begitu cepat, membuat mereka saat ini ini saling berbagi sekaligus bertukar udara.
Sebuah perpaduan yang cukup mengesankan, meskipun sudah berulang kali mendapatkan keberuntungan yang seperti itu.
"......" Ovin merasakan detak jantung pria yang sedang di tindihnya itu begitu cepat, tapi persetan mau cepat atau lambat, ia segera menopang tubuhnya dengan kedua tangannya, hanya saja Franz terus bersikeras ingin bicara dengannya.
" Sudah aku bilang jangan pergi. " kata Franz, seraya tangan kanannya merangkul pinggang dari gadis ini dengan erat.
Dia tidak ingin membiarkan gadis di atasnya itu pergi dari pandangannya.
Namun, siapa yang mau menuruti orang yang baru saja memberikan hinaan yang begitu besar kepadanya?
"Siapa peduli dengan itu?!" bentaknya, kedua tangannya berusaha menopang tubuhnya lagi. "Kau bisa-bisanya menghinaku seperti itu?! Apa kau bicara tidak pakai otak? Padahal aku hanya bercanda, tapi kau selalu saja menganggapnya dengan sangat serius, aku mana mungkin terima hinaan seperti itu!" sarkas Ovin.
Dia sudah cukup lelah untuk mengetahui fakta yang sering kali dia abaikan, yaitu fakta dimana Franz memang bukanlah orang yang setia, baik, atau apapun itu.
Entahlah ... Dia hanya merasa sudah cukup lelah untuk semua yang dia hadapi.
Dimatanya, semua keburukan hanya ada pada diri Franz.
Masa kecilnya direnggut, dimana Ibunya yang menjadi korban atas keserakahan yang dimiliki oleh Franz ini.
Tentu saja, jika bukan karena pria yang ada di bawahnya itu, mana mungkin hidupnya menjadi seperti sekarang ini.
'Benar-benar ..., sekali aku mengatakan itu, seketika dia jadi sudah langsung berubah.' Pikir Franz rasa penasarannya tentang sifat lain dari gadis ini pun terungkap. "Aku minta maaf,"
Mau dilihat dari manapun, Ovin sama sekali tidak melihat adanya ketulusan di dalam ucapannya Franz.
Dia sama sekali tidak begitu mempercayainya.
"Aku bilang kau telat." Seketika ekspresi wajahnya begitu dingin. "Minta maaf tidak akan menyelesaikan masalah diantara kita berdua! Kau yang memulai duluan, jadi akulah yang mengakhiri ini juga."
Dia tidak ingin menerima permintaan maaf dari laki-laki ini, karena sudah bukan sekali dua kali dirinya di hina, tapi sudah berkali-kali, dan setiap mulut yang keluar dari mulutnya Franz, itu sama saja seperti pisau, cukup tajam untuk menembus hati nurani orang lain.
"Jangan pergi, kalau Ibuku tahu, bagaimana?" Franz yang sudah mulai kesal dengan sikapnya Ovin, langsung lebih mengeratkan pelukan diantara mereka berdua.
"Itu akan jadi masalahmu sendiri. Aku tidak akan peduli lagi denganmu." ketusnya, dirinya masih memberontak keras dari rangkulan ketat itu.
'Karena sekarang kau mau membuatku susah begini, masalahmu sekarang adalah-' begitu tangan kanannya terus mempertahankan kekuatan di belakang pinggangnya Ovin, tangan kirinya Franz pun terangkat dan mendorong tengkuknya Ovin, sampai pada akhirnya dia berhasil memaksa mulutnya Ovin, untuk dia bungkam sepenuhnya dengan sebuah ciuman.
CUP.....
Franz mencium bibir ranum itu, bibir merah alami tanpa sebuah polesan lipstik atau apa pun. Benar-benar kenikmatan yang berbeda dan alami.
__ADS_1
Hanya saja, ia justru melihat mata Ovin yang membulat lebar karena rasa terkejutnya, tidak membuat dirinya bergeming untuk menikmati ciuman itu.
Ketika lidahnya hendak menelusup masuk ke dalam mulutnya gadis ini, secara singkat dan padat sebuah gigitan pun Franz dapatkan.
"Ahh!" gigitan besar sukses membuat Franz mengaduh sakit.
Sontak saja secara refleks, dia akhirnya melonggarkan rangkulan tangannya terhadap belakang pinggangnya Ovin.
Berkat itu pula, Ovin berhasil lepas dari pelukan yang membuatnya cukup muak untuk dia kenang, karena hanya berisi ketidakpastian dari hubungan mereka berdua.
'Bisa-bisanya, di saat aku marah seperti ini, dia malah menciumku.' detik hati Ovin.
Meskipun bagi para perempuan, ciuman dari Franz adalah salah satu berkah yang tidak dapat tergantikan bagi mereka, namun bagi Ovin, ciuman kali ini adalah ciuman terkutuk.
Ketidakpuasan dalam hatinya, membuat dia langsung meludah dengan cukup kasar.
"Phuih! Kenapa kau seenaknya menciumku? Mau meredakan amarahku dengan iming-iming ciuman itu? Jangan berharap besar denganku." Ucap Ovin sambil meludah sembarangan ke lantai.
Setelah itu, lengan baju kanannya ia gunakan untuk menyeka air ludahnya yang membasahi pinggiran dan sudut bibirnya gara-gara ci*man yang rakus tadi.
Sambil membersihkan bibirnya dari air liur yang dia anggap cukup membekas di bibirnya, Ovin berkata sekali lagi, "Apa kau tahu? Bagiku, ciumanmu itu cukuplah menjijikan.
Entah sudah berapa banyak perempuan yang kau cium.
Dengar ya, aku tidak sudi di cium oleh bibirmu lagi!" kelit Ovin, tanpa memperlihatkan belas kasihan kepada Franz yang sudah diam mematung kehabisan kata-katanya.
Setelah itu Ovin segera mundur dua langkah ke belakang dan mengambil koper yang tadi sempat tergeletak.
"Vin!" panggilnya, selagi menyeka bibirnya yang sedikit bernoda darah gara-gara gigitan tadi.
Agak terguncang dengan sikapnya Ovin, Franz bergegas merangkak untuk meraih salah satu kakinya Ovin.
BRUKK ...
"Jangan harap bisa pergi!" marah Franz.
"Terserah aku dong. Kenapa? Apa kau menyesal? Atau karena kau takut dengan Ibumu sendiri hmm? Sana! Jangan pernah sentuh aku lagi!" marah dalam kondisi paling marah, Ovin langsung menghentakkan kakinya itu dari tangannya Franz dengan cukup kasar.
Alhasil, usahanya itu, sempat membuat jidat Franz kena sepatu boots yang di pakai oleh Ovin.
DHUAK..
"Akhhw ...!"
"Mampus lo," seringai Ovin, ada sedikit kepuasan yang seketika langsung sirna, sebab dia akhirnya memiliki kesempatan untuk pergi dari sana.
"'Vin! Tunggu! Ovn!" jerit Franz, dia kali ini seperti orang gila karena harus mengejar si perempuan yang dari luar terlihat seperti pendiam, tapi begitu marah, itu tidak main-main.
Tapi yang di panggilnya justru di respon dengan sebuah suara keras karena pintu yang di tutup dengan kasar.
__ADS_1
BRAKK.....
Pintu yang lagi-lagi jadi pelampiasannya gadis yang sedang marah ini, yang hanya di awali sebuah candaan kecil, justru jadi sebuah masalah yang sedikit makin rumit.
"Sial...., aku harus bagaimana?!" memukul lantai dengan kasar. Setelah itu, dia berdiri dan mencoba mengejar Ovin. "Ovin! Dengar aku! Aku m-"
"Diam! Diam! Diam! Jangan bicara lagi! Aku sedang gedeg sendiri denganmu yang tidak tahu cara bicara yang benar!" Teriak Ovin di dalam lorong tersebut, sampai beberapa pelayan yang sempat lewat, ikut mendengar pertengkaran kedua orang tersebut.
Tapi, Franz yang tidak mau mendengar amarah dari Istrinya itu, langsung mengejarnya.
Meskipun ternyata Ovin punya langkah yang begitu lebar dan cepat, tidak menyulutkan Franz untuk menghampiri gadis tersebut.
"Kira-kira ada apa dengan mereka berdua?"
"Oh, apa mereka berdua sedang bertengkar? Kelihatannya sangat serius."
"Tapi Tuan muda Franz, sampai mengejar Nona itu, berarti memang cukup serius itu. Tapi ngomong-ngomong, apa hubungan mereka berdua ya?"
Ucap mereka bertiga sambil melihat betapa jeri payah Franz dalam mencoba untuk mengejar Ovin dan mencoba untuk berbaikan.
"Aku jadi kasihan."
"Kau benar, Tuan muda benar-benar terlihat seperti orang yang sedang sangat menyesal."
"He em. Padahal aku dengar, Tuan muda Franz itu orang yang cukup arogan dan sombong, tapi kelihatannya beliau cukup perhatian dengan nona itu."
'Sial! Padahal aku tah persis kalau dia punya kaki yang pendek. Tapi kenapa dia jalanya begitu cepat seperti itu?!' panik Franz.
Pusing, lelah, dan sakit. Semua rasa itu ada dalam satu tubuh yang dia paksa untuk mengejar Ovin.
Bahkan, sekalipun di dalam koridor itu cukuplah sejuk, tapi tidak menyulut kalau Franz sudah berkeringat banyak hanya untuk berlari dan menyusul Ovin.
'Franz ini. Giliran aku sudah marah seperti ini, dan aku ingin pisah denganmu, kenapa kau lari seperti itu, hanya untuk mengejarku? Rasakan sendiri.
Aku akan membuat perhitungan denganmu, rasakan semua yang aku rasakan selama ini, Franz.
Itulah konsekuensi yang harus kau tanggung setelah merendahkan aku.' marah, sakit hati, serta masih tidak puas hati.
Ovin terus ada dalam circle yang membuatnya terus dalam derita.
Sudah berapa lama?
Itu lebih lama dari yang di pikirkan orang lain.
"Vin! Jangan pergi!" teriak Franz dengan wajah frustasi.
Namun, semuanya terlambat.
Saat Franz hampir meraih pintu lift, pintu itu lebih dulu tertutup, dan pada akhirnya dia hanya melihat tatapan mata Ovin yang tampak lebih dingin dari es batu.
__ADS_1