Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
PUM : Hutang


__ADS_3

15 menit kemudian..........


Di dalam helikopter.


"Bagaimana kau bisa menerbangkan helikopter ini?" tanya Siren dengan nada sedikit ketus.


Meskipun begitu, dia memandang lautan luas yang di hiasi oleh lampu-lampu kapal nelayan yang sedang mencari ikan.


Sebuah pemandangan yang belum pernah sekalipun Siren dapatkan, karena ia memang tidak pernah sekalipun pergi menggunakan helikopter, meskipun dia pernah menaiki pesawat, tapi ia tahu kalau sensasinya jelas berbeda.


"Tentu saja belajar. Memangnya setiap keahlian tidak butuh proses belajar?!" Jawab Ovin sekaligus bertanya balik dengan singkat, jelas dan padat. 'Untung saja bahan bakarnya full.'


melihat bahan bakar Helikopter terisi full, Ovin pun jadi merasa lega dengan hal tersebut.


Ovin melirik ke arah bawah, ia sudah mulai memasuki kota metropolitan, dan Ovin pun mulai menimbang-nimbang rumah sakit mana yang memiliki ruftoop untuk pendaratan helikopternya.


Sedangkan Siren?


Sebenarnya Siren jadi iri.


Rupanya orang yang selama ini di rendahkan, dan beranggapan kalau Ovin adalah orang yang harus keluar dari sekolah ataupun mati, rupanya bisa menjadi orang yang terlihat cukup keren, karena bisa mengendarai helikopter.


Padahal menjadi seorang pilot, bukanlah hal yang mudah yang bisa kendarai oleh anak-anak, karena perlu jam terbang tinggi untuk bisa menguasainya .


Namun apa? Gadis tersebut menjadi satu-satunya harapan, di saat selama ini Ovin adalah korban dari banyaknya orang yang membully nya.


Tapi, melihat Ovin yang masih mudah saja bisa membawa helikopter dengan cukup aman, akhirnya dalam diamnya itu, Siren mengakui kehebatan dari Ovin ini.


Lalu menyingkirkan awal pujian dari nya kepada Ovin, Siren pun bertanya soal Reno. "Pak, apa, dia akan baik-baik saja?"


Akhirnya Siren bertanya tentang kondisi Reno pada Pak Rouwis yang sedang mengelus kepala anaknya selepas memberikan pertolongan pertama dengan menggunakan sebuah tabung oksigen untuk membantu pernafasan dari Reno yang tidak teratur dan cukup kesusahan bernafas.


"Dia akan baik-baik saja jika dapat pertolongan dengan tepat waktu," Jawab pak Rouwis dengan ketus.


Jujur, dia masih tidak bisa menerima kalau anaknya benar-benar mengalami krisis besarnya dengan berhadapan dengan nyawanya sendiri di jam malam seperti itu.


'Semoga saja tepat waktu. Ternyata perempuan ini hebat juga, padahal selama kepindahannya, dia sering di bully. Tapi, apa yang membuatnya marah kepada Franz ya?' Pak Rouwis mulai senang saat lampu-lampu yang menerangi kota sudah terlihat yang artinya tidak lama lagi mereka akan sampai.


Dari situlah, Ovin dengan serius memperhatikan sekitarnya, mana rumah sakit yang dekat dan tepatnya lagi tempat pendaratan heli masih kosong.


Dan akhirnya mereka berempat mendarat di atas sebuah gedung lantai lima belas, yang merupakan rumah sakit terkenal di kota tersebut.


Beberapa orang staf karyawan rumah sakit yang merasakan sempat adanya getaran karena ada helikopter yang mendarat di atas gedung, langsung berlari dan mencoba mencari tahu helikopter mana yang berani mendarat di atas gedung.


KLEK.....


Pintu besi itu pun terbuka dan beberapa orang keluar sambil memperhatikan helikopter tersebut.


"Siapa kalian?" Tanya salah satu diantara mereka.


Pak Rouwis turun setelah Siren lebih dulu turun untuk membantu membukkan pintu, dan setelah itu Ovin pula yang turun.


"Dia guru dan temanku." jawab Ovin, lalu berlari keluar dari helikopter, "Bantu anak dari guruku untuk segera di rawat, dia mengalami alergi berat yang cukup parah."


Tanpa sepatah kata apapun, mereka bertiga langsung berlari menghampiri fokus utama dari anak yang perlu di tangani oleh mereka.


"Mari pak letakkan anak anda disini." pinta pria ini seraya mendorong sebuah tempat tidur pasien.


"Nona, mari ikut kami juga," lalu satu orang lainnya, membantu Siren turun dari helikopter.


"I-iya," jawab Siren dengan ragu. Meskipun begitu, dia tetap menurutinya untuk ikut bersamanya.

__ADS_1


Dan sisanya hanya tinggal satu orang laki-laki berseragam hitam dengan topi membungkus ujung kepalanya.


Setelah ketiga orang itu sudah berhasil di amankan, Ovin lantas menatap wajah dari orang tersebut, yang lagi-lagi wajah yang tidak bisa Ovin kenali.


"Kenapa tiba-tiba minta di jemput?" Tanya pria ini, dia pun melepaskan topi hitamnya lalu berjalan ke arah gadis yang terlihat menginginkan sebuah pelukan.


"Karena aku ingin pulang bersamamu," jawabnya.


______________


Siang itu, Franz akhirnya sudah sampai di rumahnya.


Pamannya, orang itu sudah tidak ada lagi di rumahnya karena ia sudah mengusirnya keluar dari rumahnya karena soal kamera pengawas yang di letakkan secara diam-diam atas perintah Ibu nya Franz.


Dan ketika ia masuk kedalam rumah, ia berharap kalau gadis itu ada di dalam sana, dan sekedar mengurung diri .


"Ovin!" Panggil Franz, ia tidak memperdulikan koper yang sempat ia turunkan, ia tinggal di ambang pintu, karena ia sudah tidak sabar untuk mencari perempuan tersebut. "Vin, jangan bercanda denganku, keluar atau tidak!"


Matanya terus ia rotasikan ke segala penjuru rumah, tapi ia sama sekali tidak menemukan tanda-tanda tentang dari keberadaan gadis itu.


Bahkan ketika Franz mencoba untuk mencari nya kedalam kamarnya Ovin sendiri, ia sama-sama tidak menemukan hasil yang sesuai dengan harapannya.


"Vin!" Panggilnya lagi.


Tapi, di dalam rumah itu hanya ada keheningan saja.


'Ovin, kemana perempuan itu pergi?' Ketika Franz mencoba untuk menghubunginya, sayang sekali, nomor itu tidak bisa di hubungi, dengan kata lain sudah tidak aktif?


Apa mungkin?


"Tch..kenapa hasilnya malah jadi seperti ini?" gerutu Franz. Dia sangat menyesal, karena ucapannya semalam justru membuat gadis itu pergi. 'Salahku, aku memang susah sekali mengendalikan mulutku ini. Semoga Ibu belum tahu ini, semoga saja, aku mohon.' harap Franz.


Memikirkan itu lagi, Franz pun akhirnya tidak tahan dan melampiaskan kemarahannya.


 "Argghh! Ovin! Hanya kata-kata itu saja, bisa-bisanya dia langsung tersinggung!" teriak Franz seraya meninju pintu yang tidak bersalah itu dalam sekali pukul.


BHUAK...


'Bagaimana jika Ibuku tahu soal ini? Aku harus bagaimana?' Satu kekhawatiran miliknya Franz pun datang juga, yaitu mengenai masalah soal Ibu nya.


Karena Ibunya Franz justru terlihat lebih menyayangi Ovin, jelas tidak lama lagi kalau dirinya akan berdebat lagi dengan sang Ibu.


Rasa kesal pun menyelimuti hatinya, ia tidak tahu harus bagaimana caranya untuk menemukan Ovin, karena hasilnya selalu saja nihil. Meski sudah di telfon, nomornya justru tidak aktif.


Satu hal lagi, keberadaan helikopternya meski sudah diketahui, tapi tidak ada petunjuk kemana Ovin pergi.


Dan ketika lagi serius-seriusnya dengan pemikirannya sendiri dan ponselnya pula, datanglah satu teriakkan...


BRAKK... !


"FRANZZ!" Teriak wanita paruh baya itu kepada Franz.


" Ibu?!" buru-buru menyimpan Handphone nya ke dalam saku celananya. 'Padahal aku baru saja menebak kalau tidak lama lagi aku pasti harus kena omel oleh ibuku sendiri. Tapi kenapa bisa-bisanya secepat ini? paling tidak kan, besok lah, kenapa harus sekarang?!'' Pikirnya.


Ny. Jean alias ibunya tiba-tiba datang dengan teriakan yang cukup memekakkan telinganya karena suara nyaringnya itu.


"Apa yang terjadi?! Kenapa kau tidak kembali dengan Ovin ku?" ibunya berhenti tepat di depan Franz dan menatapnya dengan begitu lekat. " Apa kalian bertengkar lagi?" imbuhnya.


Dan pertanyaan itu pun sangat telak untuk di buat sebagai jawaban yang sudah pasti.


"Dari mana Ibu bisa tahu?" Franz malah tanpa sadar mulutnya bicara demikian.

__ADS_1


"Dari mana ibu tahu, kau tidak perlu tahu juga. Jawab saja pertanyaan Ibu, apa yang kalian pertengkarkan?!"


"... " seribu sayang, Franz tidak berani bercerita hanya karena masalah hinaan itu.


"Kalau tidak mau bercerita ya sudah, tapi cari dia sampai dapat dan bawa dia kembali, jika tidak..., Ibu tidak akan lagi menganggapmu sebagai anak dan akan ibu coret namamu dari daftar keluarga. " ancam ibunya kepada anaknya sendiri.


"Hanya karena dia kenapa ibu terus saja mengancam namaku di coret dari daftar keluarga?! Sebenarnya anak kandung ibu itu aku atau dia sih?!


Aku dari dulu sebenarnya heran, semenjak dia datang ke keluarga kita, Ibu justru lebih menyayanginya ketimbang aku.


Bahkan aku seperti di anggap orang asing saja!"


Franz meragukan keberadaan ibunya yang seakan gadis itu lebih berharga.


Bahkan perintah harus di cari sampai dapat, juga merupakan titik dimana kalau sang Ibu, memperlakukan Ovin lebih baik dari pada Franz yang merupakan anaknya sendiri.


Mendengar Franz memarahinya, Ibunya Franz ini pun langsung menjawab : "Apa kau bahkan masih tidak mengerti juga?! Dia sudah menyelamatkan ayah dan ibu dari kematian kecelakaan beberapa bulan lalu, jadi harus balas budi. " ujar Ny. Jean.


"Dan menggunakanku sebagai balas budi Ibu dengan sebuah pernikahan?!" tanya Franz dengan nada sedikit tinggi. "Bahkan tanpa memikirkan perasaanku, kalian berdua terus mendesakku untuk menikah, sebenarnya Ibu ini orang tua macam apa?!"


Ny. Jean memejamkan matanya selama beberapa waktu, untuk menyiapkan hati dan pikirannya untuk menjawab pertanyaannya Franz ini.


"Tentu saja itu karena balas budimu padanya juga Franz, ketahuilah, bukan Ibu dan Ayah saja yang memiliki hutang budi kepadanya, tapi bahkan kau sendiri sebenarnya punya hutang yang lebih besar kepada Ovin.


Itulah yang harus kau ketahui, sampai aku memilih agar kau menikah dengannya, sebagai bayarannya, apa kau paham?! "


Setelah berkata seperti itu, dua tangannya menyentuh wajahnya Franz dan sedikit menariknya agar Franz itu sedikit membungkuk.


Setelah wajahnya kini saling berhadapan, Ny. Jean berkata lagi untuk melanjutkan ayatnya yang belum selesai.


"Kau itu benar-benar punya hutang padanya, dan mendampinginya sampai selamanya adalah pilihan bagus.


Satu hal lagi, karena ini permintaan dari Ayahmu juga, kau seharusnya menghormatinya, bukan malah terus berpikir kami berdua tidak mempertimbangkan masalahmu dengan dia tanpa pikir panjang, itu salah Franz." dengan nada yang sedikit pelan namun penuh dengan makna tersembunyi.


Mata Franz terus menatap wajah Ibu nya itu.


Dia ingin mendapatkan penjelasan lebih dari yang tadi.


"Hutang, hutang, hutang terus. Memangnya sebenarnya aku sudah hutang apa pada dia?


Sampai aku bahkan tidak ingat kalau aku punya hutang dengan dia," tanya Franz.


Karena anaknya makin penasaran, ia terpaksa memberitahu maksud dari kata-katanya barusan, namun sambil berbisik tepat di telinga.


"Hutang nyawa." detik itu juga kedua tangannya melepaskan wajah terkejut dari anaknya lagi.


Dalam waktu itu juga, hanya ada keheningan yang di ciptakan oleh mereka berdua.


Franz cukup tercengang, pasalnya dia sendiri tidak ingat, kalau dirinya memiliki hutang nyawa kepada perempuan itu?


'Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin aku punya hutang nyawa dengan dia?' faktanya, Franz sendiri masih ragu dengan kata-kata dari Ibu nya itu. "Jika memang iya, aku punya hutang padanya, kenapa aku tidak ingat?!" tatap Franz terhadap Ibu nya.


Ny. Jean, sejenak diam, lalu menghela nafas dengan kasar sebelum dia akhirnya angkat suara lagi. "Kau kan pernah jatuh dari tangga? Dan kepalamu sempat bocor, makannya kau tidak ingat dengan kejadian saat kau masih kecil,"


'Apa?' Franz lantas menyentuh dahinya. Ada luka tersembunyi di balik poninya.


Pada akhirnya, Franz pun mencoba mengingat apa yang sudah terjadi sebelum dia kecelakaan.


Tapi, akibatnya setiap kali dia berusaha untuk mencari tahu dari ingatannya itu, kepalanya agak pusing.


"Aku tidak tahu, aku tidak bisa ingat. Lalu sebaiknya Ibu tidak mengarang cerita, jika hanya ingin membuatku merasa bersalah kepada perempuan itu, Ibu," jawab Franz seraya menahan rasa sakit di kepalanya karena tiba-tiba jadi pusing.

__ADS_1


__ADS_2