Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
27 : PUM : Jerry


__ADS_3

Esok harinya.


"Kenapa kemarin kamu mengikutiku? " Tanya Ovin terus terang kepada Sean.


Sean menaikkan sebelah alisnya sambil tersenyum miring. 'Perempuan ini benar-benar lebih pintar dari dugaanku. Padahal aku sudah bersembunyi dengan baik, tapi dia sadar dan sekarang baru bertanya?' Sean sebenarnya sudah cukup hati-hati untuk tidak ketahuan soal mengikuti Ovin kemarin malam. Tapi karena si korban sudah menanyakannya, maka Sean pun bertanya, " Sebegitu kentaranya ya? "


" Soal kemarin, apa kamu memberitahu pada seseorang? " Tanya Ovin menyelidik perbuatan sean semalam yang berani menguntit dirinya. Dia sebenarnya sudah tahu Sean pasti akan mengikutinya, tapi soal apakah Sean memberitahu pada orang lain, maka dia harus menyelidikinya saat itu juga.


"Entahlah...menurutmu bagaimana? " Sean mulai mencoba bermain-main dengan Ovin, karena dia merasa tertarik dengan wajah asli di balik kepolosan milik Ovin yang ternyata berani pergi ke bar, dan berkencan dengan orang kaya, sampai-sampai semua barang yang dipakainya, bahkan termasuk saat ini, semua itu jelas-jelas adalah barang terkenal yang tidak bisa diperjual belikan dengan mudah jika bukan karena permintaan khusus.


Dan Ovin mampu mendapatkan semua produk dari edisi khusus itu.


'Dari mana dan cara apa yang sebenarnya dia gunakan sampai bisa menadpatkan pacar setajir itu? Bahkan aku merasa kalau laki-laki yang bersama dengan dia semalam, lebih berkuasa ketimbang Franz. Ah...kalau aku jadi Franz, itu adalah sebuah ancaman besar, karena jadi punya saingan.' Pikir Sean panjang lebar.


".................." Ovin langsung memberikan Sean tatapan yang cukup datar. Dia sedikit benci melihat ada orang yang mau bermain tebak-tebakan, karena dia tidak mau membuang-buang waktu untuk sebuah teka-teki.


Sampai satu suara dari seseorang, berhasil menghentikan pembiacaraan dari mereka berdua. " Apa yang sedang kalian bicarakan? Sepertinya terlihat serius."


Ovin langsung mengalihkan pandanannya pada satu orang yang tiba-tiba menghancurkan suasana seriusnya dengan Sean yang sedang Ovin interogasi itu.


'Dia siapa?' tatap Ovin pada orang yang barusan datang. Jika berpikiran seperti itu, sudah dipastikan kalau orang ini memang laki-laki yang merupakan permasalah Ovin sebagai orang yang mengidap penyakit anehnya itu.


Karena itu, Ovin pun dibuat untuk berpikir keras, siapakah laki-laki yang baru saja mengampirinya ini?

__ADS_1


Jika saja bukan karena penyakit miliknya yang aneh, dia pasti sudah pasti bisa mengenali laki-laki ini langsung.


Tapi karena permasalahannya itu Ovin tidak mampu melihat ataupun mengenali wajah lawan bicarannya saat ini, hasilnya jadi dibuat repot sendiri.


'Hmm....apakah aku mengenal dia? Atau sebaliknya? Suaranya cukup familiar. Aroma parfumnya juga, karena aku sudah mulai hafal dengan aroma semua orang satu sekolah, aku jadi tahu kalau ini aroma baru di sekolah ini, jadi sudah pasti dia anak baru. Tapi pertanyaannya itu siapa ha?!' Racau Ovin. Sayangnya tebakannya belum saja membuahkan hasil meskipun sudah berpikir keras!


" Hei, aku datang kenapa di cuekkin? " Tegur laki-laki ini kepada mereka berdua, sebab mereka tidak mengatakan apapun setelah mencoba datang menghampiri dua orang ini.


" Mengganggu. " Cetus Sean, kemudian memilih pergi. " Mata empat, kita bahas itu di lain hari." Sean pun melambaikan tangan sebagai salam perpisahan kepada mata empat, yati Ovin.


Selepas di tinggal pergi, Ovin saat ini jadi berduaan dengan nak baru ini,


" Wajahmu pucat, apa mau aku antarkan ke UKS? " Tanya laki-laki ini terlihat khawatir dengan keadaan Ovin yang terlihat seperti sakit, karena wajahnya cukup pucat.


Mendengar jawaban Ovin yang cukup ketus, laki-laki ini kemudian sedikit membungkuk dan sedikit mendekatkan wajahnya ke depan wajah Ovin sambil bertanya, "Ovin, jangan-jangan kamu tidak mengingatku?"


Sebuah pertanyaan dimana anak ini mengetahui namanya?


'Padahal aku sedang tidak pakai tag nama, kenapa dia bisa tahu? Hahh.....mungkin saja dia tahu namaku dari murid lain. Itu bisa saja. Tapi masalahnya, kenapa dia berani sekali mendekatkan wajahnya kepadaku?' Pikir Ovin terhadap tindakan yang dilakukan oleh anak itu kepadanya.


Lantas, Ovin memandang manusia ini dari atas sampai bawah. Rambut pirang yang bercahaya ketika terkena pantulan cahaya matahari, tubuh yang tinggi sekitar 170 cm, memakai jam yang sedikit sama dengan dirinya namun hanya warnaya yang berbeda.


Ovin terus memperhatikan murid baru di depannya itu dengan cukup seksama.

__ADS_1


" .................... " Tapi hasilnya Ovin jadi terus terdiam, dan tidak memiliki reaksi apapun terhadap pertanyaan dari laki-laki itu, layaknya sebuah patung.


" Apa penyakitmu makin parah? " mencengkram kedua bahu Ovin dengan ekspresi yang cukup khawatir, sebab perempuan yang ada di depannya itu adalah orang yang cukup dia kenali. Tapi Ovin sendiri terlihat jelas sedang kesulitan untuk mengenalinya. " Aku Jerry, unit 3 dari pasukan Kalinci hitam, Ovin, kamu ingat aku kan?" sambung Jery lagi, namun di awal kata unit itu Jerry sedikit berbisik di dekat telinga Ovin agar tidak ada yang mendengarnya kecuali mereka berdua.


" Bukan makin parah, tapi aku hanya tidak mengingatmu." Jawab Ovin begitu saja, membuat laki-laki bernama Jerry itu semakin sakit hati, karena Ovin tidak mengingatnya.


" Bahkan kamu tidak bisa menyangkal. Ngomong-ngomong penampilanmu sangat biasa, tidak jauh beda ketika pakai seragam kerjamu " Kritik Jerry terhadap penampilan perempuan itu, karena tidak seperti kebanyakan perempuan yang akan berdandan demi mencari perhatian laki-laki, tapi sayangnya hal itu tidak berlaku kepada kenalannya itu, yang lebih suka dengan kesederhanaan.


".................." Ovin pun mengabaikan kritikan yang tidak berguna dari Jerry dan memilih beranjak dari sana.


" Ei....tunggu, tunggu " Jerry berlari dan berhenti di depan Ovin.


" Apa lagi? " Celetuk Ovin, sedikit kesal karena menghalangi jalannya.


" Apa pekan ini ada waktu? "


" Tidak "


" Bagaimana jika depannya lagi? " tanya Jerry lagi.


" Hahhh....katakan saja sekarang " keluh Ovin. Ia tidak mau berurusan dengan hal yang kurang berguna, jika bukan berkaitan dengan pekerjaannya maka tidak usah melalukan apapun dan mengisinya untuk bersantai.


Lalu pria bernama Jerry ini akhirnya mengulas senyuman lembut kepada Ovin, karena perempuna ini mau mendengarkan ucapannya.

__ADS_1


__ADS_2