Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
97 : PUM : Butuh stimulan


__ADS_3

"Coba mereka di letakkan di hotel saja, pasti lebih menyenangkan." Rungut Linda, ketika dia saat ini sedang melihat ke arah bawah, dimana banyak orang sedang menonton apa yang sedang di pertunjukkan oleh lima orang pria bersama dengan satu wanita.


"Kenapa kau tidak melakukannya sendiri saja sana?" Sahut Ovin, dia kini sedang duduk di antara bangku penonton yang kosong. Sama hal nya dengan apa yang sedang di lakukan oleh Linda, dia pun juga melakukan hal yang sama dengan menonton pertunjukan kecil hasil rencananya sendiri.


_______________


Flashback.


"Dia sudah tidur." Kata Linda. Melihat pria di belakangnya itu sudah terlelap tidur akibat di tembak dengan obat bius oleh Ovin. "Apa yang akan kau lakukan dengan mereka sekarang?"


Ovin yang sedari tadi diam di dalam mobil, memutuskan untuk keluar dan menghampiri Linda seraya memperhatikan semua orang yang berhasil Linda lumpuhkan itu.


Ketika Linda hanya berdiri sambil menatap pria yang terbaring di depan mobilnya Ovin, Ovin justru sedang berjalan ke arah Eldo yang merupakan orang yang menjadi dalang dari apa yang terjadi pada Linda hari ini.


'Sayangnya aku tidak bisa melihat wajahnya. Sayang sekali, padahal aku ingin melihat wajah laki-laki ini. Karena aku hanya bisa melihat wajah milik paman dan Franz, aku jadi ingin cepat-cepat pulang.' Ovin pun sempat berjongkok dan mengusap wajah Eldo yang sebelas dua belas dengan Franz. "Baiklah, ayo bekerja." Ucap Ovin.


Bangkit dari posisinya itu, dia pun segera mengangkat tubuh dari pacar Eldo itu untuk di masukkan kedalam mobil. Setelah di masukan kedalam salah satu mobil yang berjejer di garis finish itu, Ovin dengan jahilnya membuka pakaian dari wanita ini.


Dan ekspresi wajah paling datar yang bisa Ovin ekspresikan pun di perlihatkan juga.


Dia sangat iri dengan apa yang di miliki oleh perempuan di depannya ini. "Sebenarnya gen seperti apa yang bisa buat ini jadi besar? Walaupun sekarang zaman memang sudah cukup canggih, tapi aku tetap saja merasa iri dengan ini." Gumam Ovin dengan kedua tangan sedang melucuti pakaian yang di pakai oleh pacarnya Eldo.


Sama seperti apa yang di lakukan oleh Ovin kepada pacar barunya Eldo, Linda pun melakukan hal yang sama juga, dengan menempatkan posisi pria di rangkulannya itu untuk duduk di kursi bagian depan dan melakukan pelucutan pada pakaiannya.


Mereka berdua lakukan untuk membalaskan apa yang di perbuat oleh mereka semua kepada Alinda. Tidak, tapi lebih tepatnya kepada Linda yang merupakan seorang perempuan. Dengan kata lain, mereka berdua jadi mewakili rasa sakit hati semua perempuan ketika di khianati atau di tipu, itulah tujuan dari mereka berdua.


"Tapi Linda, darimana kau bisa bertemu dengan laki-laki ini?" Tanya Ovin kepada Linda, menanyakan laki-laki bernama Eldo.


"Sebenarnya satu bulan yang lalu aku pernah naik ke pohon untuk menyelamatkan kucing di taman. Tapi karen aku tidak hati-hati, aku jadinya jatuh, dan dia yang kebetulan sedang joging, langsung menolongku dengan membawaku ke klinik. Dari situ, sebenarnya aku memang sudah jatuh hati kepadanya.


Memangnya kenapa kau menanyakan itu?" Ungkap Linda dengan penjelasan yang cukup panjang itu kepada si penanya, yang terlihat seperti ada sesuatu yang sedang di pikirkan oleh Ovin itu.


Flashbak Off.


_________________


Kembali ke waktu sekarang. Ovin pun tetap mencoba memikirkan apa yang sedang dia pikirkan mengenai Eldo.


"Hmmm...."


"Ini sudah sore, apa kau mau pulang atau mau pergi ke tempat lain denganku?" Ucapan dari Linda lantas membuyarkan semua pikiran yang ada di dalam kepalanya Ovin.

__ADS_1


Ovin langsung bangkit dari kursinya, menatap langit yang kian senja, menunjukkan malam akan segera tiba. "Aku sedang merindukan sesuatu, jadi aku tidak akan ikut denganmu." Kacamata yang tadi Ovin pakai, dia angkat dan di letakkan di atas kepalanya.


"Merindukan? Hei, jangan-jangan sudah ada laki-laki yang mengisi hatimu ya?" Ledek Linda dengan tatapan mata menyipit serta senyuman tipis penuh makna.


Ovin sedikit menunduk, meraih satu alat yang menempel di lehernya, dan melepaskannya.


Setelah di lepas, seketika suara Ovin pun berubah menjadi normal lagi seperti layaknya perempuan pada umumnya. "Hmm..itu benar, ada orang yang sering menjengkelkan, tapi aku tidak bisa membencinya."


Ucapan yang cukup membuat Linda jadi punya persepsinya sendiri kalau Ovin saat ini sedang merasakan jatuh cinta.


"Apa kau mau memberitahuku siapa orang yang berhasil merebut hati perempuan sepertimu?" Tanyanya, ingin mencari tahu arti dari ucapannya Ovin yang tadi.


Ovin lantas melirik, menggunakan headset nirkabel dan menyambungkan koneksi dari bluetooth nya ke handphone miliknya.


Memainkan lagu yang sangat di sukainya, Ovin hanya bisa menjawab : "Bukan rahasia namanya, jika aku memberitahumu. Jangan terlalu penasaran, sana pergi, dan tepati janjimu tadi."


Ovin pun menepuk bahu Linda sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan Linda yang masih duduk di kursi penonton. "Jika kau bilang seperti itu, pasti ini adalah rahasia yang besar kan?" Terka Linda.


Tapi balasan yang di lemparkan oleh Ovin hanyalah senyuman tipis yang bahkan terlihat kian mengembang, menunjukkan kebahagiaannya?


"Haih...dia itu perempuan aneh. Tapi aneh-aneh seperti itu, ternyata Jerry bisa menyukainya loh. Cinta memang buta, tidak akan memandang apapun kekurangan yang di miliki oleh pasangannya." Ucap Linda pada dirinya sendiri sambil melihat kepergian Ovin itu. "Tapi Eldo, hari ini aku bisa melepaskanmu, tapi tidak dengan besok atau besoknya lagi." Masih menyimpan rasa marah di dalam hatinya karena Eldo berani-beraninya menjadikannya sebagai barang yang di jual pada orang lain.


"Berhenti mengambil gambarku!" Teriak pacar nya Eldo, karena dia benar-benar sudah merasa malu setengah mati dengan situasinya itu.


Baik dari tubuhnya, maupun orang-orang yang ada di sekitarnya.


Termasuk dua mobil yang melakukan drifting sedan mengitari mereka.


Rusak sudah wajah mereka di depan mata orang lain, karena sedang di jadikan bahan tontonan mereka semua.


_________________


Sedangkan Ovin, dia langsung mengebut agar bisa pulang lebih cepat.


Tidak sesuai dengan ucapannya yang beberapa jam lalu mengatakan tujuh puluh kilometer saja sudah cepat, kenyataannya agar dia bisa sampai rumah dengan cepat, Ovin pun justru mengendarai mobilnya dengan kecepatan sampai angka sembilan puluh lima.


Sampai salah satu dari alat pembatas kecepatan yang sudah tertanam di dalam mobil yang di kendarai oleh Ovin, sudah menyala.


*


*

__ADS_1


*


"Bi! Bawakan aku makanan! Bawa ke kamarku!" Teriak Chade, saat dia baru saja melakukan ritual sore nya untuk mandi.


"Baik Tuan!"' Sahut salah satu pelayan yang tadi di panggil bibi oleh Chade.


Chade yang sedang asik-asiknya untuk bersantai setelah menyegarkan tubuhnya dengan air dingin, tiba-tiba saja di kejutkan dengan suara peringatan dari handphone nya yang sempat Chade letakan di atas nakas.


PIpp...pippp...pipp....


Dan ketika di lirik, Chade langsung membelalakkan matanya, karena dering dari peringatan itu adalah suara peringatan dari sistem aplikasi yang Chade buat untuk menerima situasi dari mobil yang di kendarai oleh keponakannya. "Apa ini? Kenapa keponakanku ini tiba-tiba menyetir mobil dengan kecepatan tinggi?"


Karena cemas dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Ovin, Chade jadinya membuang handuk kecilnya ke atas ranjang dengan sembarangan, lalu segera menelepon keponakannya itu.


"Vin, apa yang sedang kau lakukan? Kan aku sudah bilang, jangan menyetir mobil dengan kecepatan tinggi." Tekan Chade seraya mengawasi cctv untuk mencoba melihat jalan yang di lintasi oleh keponakannya itu memang sedang cukup lengang, dan tidak ada seorang pun yang mengejarnya


"Tapi ini darurat." Sahut Ovin dengan tenang. Dan saat jalan yang harus Ovin lintasi itu harus melewati tepi pantai, maka Ovin pun membuka atap mobilnya, untuk merasakan nuansa menaiki mobil di bawah langit senja tepat di pinggir pantai.


Makannya, angin yang berhembus itu membuat panggilan di antara mereka berdua terhalang oleh hembusan angin yang cukup besar itu.


WUSSHH....


Silaunya matahari yang terbenam itu pun membawa Ovin untuk menurunkan kacamatanya dari atas kepalanya dan memakainya lagi.


Selesai sudah, posisi dari seorang Nona muda kaya yang di sayangi Chade itu sedang menikmati apa yang namanya merasakan berkendara sendirian sambil mendinginkan hati serta pikirannya yang sempat lelah itu.


"Darurat apa maksudnya? Katakan dengan jelas, jangan membuatku khawatir." Protes Chade, agar Ovin segera menjelaskan maksud dari ucapannya tadi.


"Darurat, karena aku butuh energi dari wajah yang bisa aku lihat."


Akal dari Chade pun sesaat langsung terputus, sampai membuat Chade terdiam, sebab dia tahu maksud dari ucapannya Ovin tadi, yaitu Ovin ingin cepat-cepat pulang untuk menemui suaminya itu.


"Ovin, kan ada aku. Jangan hanya dia saja yang kau pikirkan. Wajahku ini kan bisa di lihat olehmu, jadi kerumahku saja." Ucap Chade.


"Tapi aku sudah bosan melihat wajah paman selama hampir lima tahun penuh ini. Jadi aku harus cari stimulan dari wajah franz, dong."


"Kau..benar-benar sudah bucin." sebuah pujian berisi sindiran juga, keluar dari mulu Chade.


Tapi yang di katain seperti itu, hanya tersenyum tipis sambil mematikan panggilan diantara mereka berdua secara sepihak.


Menyatakan kalau Ovin memang tidak apa-apa, tapi juga tidak bisa menyangkal dengan apa yang barusan pamannya katakan itu.

__ADS_1


__ADS_2