Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
PUM : Semakin Panas


__ADS_3

Di pinggir pantai, terlihat satu orang sedang berdiri menikmati lautan biru yang perlahan berubah menjadi oranye karena pantulan dari cahaya matahari sore.


Angin yang berhembus, menerpa wajah tanpa ekspresi itu, dan membuat jaket coat nya berkibar.


Tak selang berapa lama, dia mengambil satu langkah ke depan dan menoleh ke samping kanan.


Di lihatnya hamparan pasir putih, dan membuktikan bahwa hanya dirinya seorang yang sedang berada di pantai itu.


Setelah cukup puas memandang, di saat yang sama gulungan ombak mulai menerjang kaki telanjangnya.


'Aku... Sangat kesepian.' pikirnya, lalu berjalan mundur beberapa langkah dan berakhir dengan duduk di atas kain yang sudah ia betangkan beberapa puluh menit lalu.


Dia memeluk lututnya seraya pandangannya terfokus pada matahari yang mulai terbenam di ufuk barat.


Selama lebih dari 5 hari dirinya di rumah atau hanya sekedar bekerja sampingan, akhirnya sekarang ia bisa bersantai menikmati lautan yang sepi.


"Hah~ Akhirnya aku bisa sedikit lebih bebas. Tanpa mendengar semua hinaannya Franz, juga tanpa mendengar ocehan dari kedua pamanku." tuturnya.


Seketika dia pun langsung membaringkan tubuhnya dengan kedua telapak tangan sebagai bantalan kepalanya dan menatap langit-langit di atas yang mulai menampakkan bintang kecil yang masih samar itu.


'Dibilang cinta juga tidak, benci juga lumayan, aku juga tidak merasa kehilangan juga. Hanya saja-' ketika kalimatnya di pikirannya menggantung, telapak tangan kanan yang tadinya digunakan untuk bantalan kepala, sekarang dia gunakan untuk menyentuh kedua matanya.


"Jujur, sekarang aku sudah tidak tahan dengan penyakit aneh ini.


Aku ingin bisa melihat wajah paman pertama juga Kelvin. Aku ingin melihat keimutan yang selalu di agung-agungkan oleh banyak orang ketika melihat Kelvin.


Dan aku ingin melihat orang yang benar-benar ingin aku lihat wajahnya. Salah satunya adalah Jerry.


Kenapa aku punya nasib aneh seperti ini?" gumam Ovin, merasa tersiksa dengan semua keadaan miliknya dari semenjak Ibu nya meninggal sampai detik ini.


" Sampai kapan?" gumamnya lagi.


Tat kala matanya dia tutupi dengan lengan tangan kanannya, sehingga menampakkan separuh wajah bagian bawah, dia pun terus menerus bicara sendiri.


"Sampai kapan aku seperti ini?"


Lebih dari 30 menit gadis ini terbaring sendiri di tepi pantai.


Meskipun tubuhnya sudah mulai kedinginan dan hari mulai malam, ia tetap bergeming dari tempatnya, sampai tidak lama setelah itu, dia tiba-tiba saja mendengar suara knalpot mobil yang tidak jauh dari tempat Ovin tidur.


BRUUMMM........


Suara knalpot itu langsung membuat gadis ini membuka matanya dan segera berdiri, dia pun memutar tubuhnya ke belakang untuk menemukan mobil siapa yang datang dengan knalpot menjadi pengganggu tidurnya.


'Ternyata ada orang lain yang ingin pergi ke tempat sepi seperti ini. Tapi siapa dia? Kenapa dari dia jalan, rasanya cukup familiar?' Ovin melihat satu orang turun dari mobil yang terpakir jauh di depan sana dan langkah kakinya itu ternyata terus berjalan mendekat.

__ADS_1


TAP....


TAP.....


TAP......


Karena orang itu terlihat seperti sedang terburu-buru, Ovin yang biasa membawa teropong kecilnya, akhirnya dia gunakan juga.


Dan betapa mengejutkannya?


Orang yang tidak dia harapkan, tiba-tiba saja muncul.


"Bagaimana Franz bisa tahu aku ada disini? Bukannya aku sudah mencoba untuk mengganggu sinyal dari semua CCTV di sekitarku?" gumamnya.


"Vin!" seru Franz memanggil nama perempuan yang sedari kemarin ia cari akhirnya sudah berada di depannya.


Lampu jalanan, yang menerangi pinggiran antara pantai dan jalanan sudah mulai menyala.


Hal itu pun sukses membuat Franz akhirnya dapat menemukan perempuan yang awalnya dia ragu, kalau sosoknya adalah bear-benar Ovin.


"Kenapa kau bisa tahu?"


"Kamu pikir aku bodoh?" timpal Franz.


Ovin pun terkekeh, menatap Franz dengan tatapan merendahkan, "Lumayan bodoh, jika hari ini baru bisa menemukanku. "


Apa yang dikatakan perempuan ini ada betulnya juga.


Dari siang sampai sore, berkat dirinya menanam alat pelacak di mobilnya Ethan, Franz jadi bisa menemukan rumah Ethan dengan bantuan Jeni.


Jeni memeriksa setiap CCTV yang ada, dan menemukan saat di rumah, terlihat ada seorang gadis muda menyambut Ethan bahkan Ethan sendiri memberikan pelukan hangat pada gadis itu.


Memantau CCTV terus, hingga akhirnya dia pun melihat gadis yang merupakan Ovin itu, akhirnya keluar dari rumah dengan mobilnya.


Gadis yang selama ini jarang mengendarai mobil, justru menyusuri jalanan padat kota dengan begitu cekatan.


Sampai membuat Franz, tidak bisa langsung mengikuti kemana Ovin pergi, karena baginya kurang efisien.


Meskipun begitu, berkat ketekunan dirinya untuk terus mencari, dia pun akhirnya sekarang bisa berdiri di depan perempuan ini lagi.


Bisa dikatakan kalau Ethan lah yang jadi satu-satunya petunjuk.


"Aku akan pura-pura tidak mendengar ucapanmu tadi. Tapi, ayo sekarang pulang," Franz pun langsung mengajak Ovin pulang, seolah dia sama sekali tidak punya hal yang perlu di bicarakan kepada istri kecilnya itu.


Maka dari itu, tanpa menjawab dengan pasti tawarannya Franz, Ovin justru bertanya balik, "Kenapa harus pulang? Bukannya sudah aku katakan, kalau aku sekarang ingin sendirian, dan kalau bisa, menjauh darimu dengan selama mungkin, agar pikiranku bisa tetap waras."

__ADS_1


"Masih tanya lagi? Ibuku mengkhawatirkanmu. Dan soal hari itu, aku benar-benar minta maaf," jawab Franz.


Jujur saja, dia cukup malu karena dia adalah tipe orang yang tidak pernah sekalipun minta maaf, dan bahkan jika pernah, itu masih bisa di hitung dengan jari.


"... " malas mendengar alasan pria remaja ini, Ovin langsung berbalik.


"Ovin, ayo pulang," langsung mengekori Ovin dari belakang, tapi perintah yang tadi masih saja di abaikan oleh gadis ini.


"Tidak, aku sama sekali tidak punya niat pulang bersamamu.


Bersama orang yang bahkan sama sekali tidak bisa bicara dengan benar pada orang yang sudah kau sakiti," sahut Ovin dengan nada penuh dengan penekanan.


Sampai-sampai, setiap kata yang dia tekankan, memiliki makna tersendiri untuk menjadi menyinggung perbuatan Franz selama ini yang kurang ajar itu.


"Apa yang sebenarnya kau inginkan? Aku sudah minta maaf, tapi kenapa kau malah seperti ini?"


"Hah?!" berteriak keras, Ovin angkat bicara, "Aku pikir setelah aku meninggalkanmu sampai hampir satu minggu, bisa membuatmu sadar diri.


Tapi nyatanya, kau sama sekali tidak memiliki perubahan apapun dengan sifatmu itu, ya?" beber Ovin dengan terus terang.


Ovin sudah merasa kesal, dia ingin sekali memukul anak di depannya itu dengan bogem mentah yang dia miliki itu, namun dia harus tetap menahan diri.


"Aku jadi penasaran, kira-kira jika aku berpisah denganmu, apa yang akan terjadi padamu ya?" sindir Ovin dengan keberanian yang tinggi.


Tiba-tiba dia jadi punya keinginan untuk memperovokasi Franz, saking inginnya membalas dendam apa yang sudah pria itu lakukan kepadanya selama kurang lebih dua bulan ini.


"Satu, kau tidak akan mendapatkan warisan apapun, kedua kau tidak akan memiliki kuasa apapun," ejek Ovin.


"Berhenti," gumam Franz, apapun yang barusan Ovin katakan, menuai perasaan yang kian tidak nyaman di dalam dadanya itu.


Tetapi, Ovin yang tidak mau mendengarkan kata-katanya Franz, justru tetap bicara, "Meskipun kau populer, tapi hanya itu saja yang kau miliki, Franz. Apakah ke depannya kau bisa hidup seenak ini?"


"Aku bilang berhenti bicara," ucap Franz, nadanya sedikit lebih keras dari pada sebelumnya, akan tetapi Ovin tetap menghiraukan perkataannya.


"Jawabannya itu tidak jika kau tidak merubah sikap dan sifatmu yang keras kepala itu! Kau selamanya akan menjadi pria tidak berguna yang hanya mengandalkan egomu," marah Ovin, dia akhirnya meluahkan semua rasa kesal yang di kumpulkan nya dengan susah payah, untuk menciptakan keributan dengan pria ini.


"Aku bilang berhenti! Jangan bicara lagi! Aku tahu apa yang selama ini aku lakukan kepadamu itu salah, aku tahu, jadi jangan bicara lagi!" marah Franz, dia akhirnya kena panas yang di buat oleh Ovin terhadapnya.


"Mulut-mulutku sendiri, apa hak kau menyuruhku diam?


Jika kau memang ingin membuatku diam seperti keinginanmu, kenapa kau tidak membuat aku mati saja?


Dengan begitu, aku tidak bicara seperti ini, breng*ek!" teriak Ovin, dia puas dengan apa yang dia katakan kepada pria ini, Ovin pun akhirnya sudah tidak tahan lagi untuk melayangkan tinjunya kepada Franz.


Sebab Ovin tidak mendengar perintahnya, Franz langsung memegang bahunya Ovin dan menangkap satu kepalan yang hampir meninju wajahnya.

__ADS_1


Hanya saja dengan triknya sendiri, tangan yang hampir melayang ke wajahnya tadi itu segera dia tarik ke belakang dan hasilnya justru Ovin tertarik ke depan dan akhirnya membuat Ovin pun langsung menerjang tubuhnya Franz saat itu juga.


BRUUKK.....


__ADS_2