
'Kenapa dia ada di tempat tidurku?' Tapi yang lebih penting dari pada kenapa ovin ada di sisinya, yaitu 'T-tunggu! Kenapa aku tidak memakai pakaian? Dia juga, dia-'
Keterkejutanya selain dia baru menyadari kalau dirinya tidur tanpa sehelai pakaian adalah dimana tangan kanannya sekarang berada di atas permukaan yang empuk?
Hanya saja, karena dia benar-benar tercengang kalau tangan kanannya saat ini berada di atas buah separuh bulat itu cukup empuk, dengan rasa penasarannya itu Franz justru kembali memijatnya, dan hal itu membuat reaksi mengejutkan untuk si perempuan yang ada di depannya itu untuk mende*sah.
"Ah~" Ovin jadi melenguh, dan semakin meringkuk kedalam pelukannya Franz, karena rasa geli itu berhasil membuat bulu kuduknya jadi berdiri.
Franz segera menghentikan aksi tangannya, karena suara yang barusan keluar dari mulutnya Ovin, rupanya sungguh membuat satu pancingan yang aneh, karena terdengar seperti obat perangsang, khusus untuk diri Franz sendiri.
"Franz, kau mesum-" Gara-gara telapak tangan itu merapat kencang di salah satu asetnya, Ovin pun encengkram lengan kekar sebelah kanannya Franz.
"Bukannya kau sendiri yang membuatku mesum seperti ini?" Itulah yang keluar dari mulutnya, padahal di dalam kepalanya, 'Kenapa aku justru mengatakan itu? Kan harusnya kenapa kita berdua bisa seperti ini? Ini sama saja aku seperti mengakui kalau aku mel-'
Kalimat yang menggantung di udara itu segera mengalihkan pikirannya untuk melihat ke bawah. Satu reaksi yang cukup familiar ketika ia pernah mimpi basah, membuat Franz kembali membelalakkan matanya.
"A-apa yang barusan kita berdua lakukan semalam?" Akhirnya Franz bertanya pada poin intinya.
Dia bertanya demikian juga karena penampilan mereka berdua sungguh membuat orang pasti punya satu pikiran yang sama, kalau mereka baru saja melakukan malam pertama?
"Memangnya apa lagi? Sudah seperti ini, jawabannya juga harusnya sudah tahu kan?" Lalu Ovin dengan sengaja menggerakkan sedikit pahanya yang mulus itu, hingga jepitan itu menyeret adiknya Franz untuk kembali menegang dam perlahan menetes keluar.
"...........!" Franz yang terkejut akan mengeluarkan pasukannya, dia langsung mendorong kasar tubuh Ovin ke depan dengan cukup kasar. "Minggr!"
"Ternyata sekalipun sudah berolahraga semalaman, tenagamu masih saja besar." cibir Ovin sedikit mendesis sakit, karena tiba-tiba di dorong kasar seperti itu, hingga tubuhnya yang tadinya berada di dalam selimut, langsung keluar dari sana.
"Tidak mungkin, kan aku sudah pernah mengatakanya, aku tidak ak-" Lagi-lagi kalimatnya menggantung saat Franz melihat adanya darah di atas sprei putih. 'Itu darah kan? Apa aku benar-benar melakukannya semalam? Kenapa seperti ini? Aku sama sekali tidak bisa mengingatnya. Yang hanya aku ingat itu cuman menyeret Ovin ke dalam kamarku dan menciumnya, saja. Tapi-'
Namun mau di lihat dari sudut manapun, Franz melihat itu adalah darah segar yang belum lama ini keluar. Dan melihat adik kecilnya saja juga ada sedikit darah yang menempel, membuat Franz sungguh yakin, kalau dirinya memang melakukan pekerjaan untuk saling memuaskan diri mereka dengan berhubungan badan.
__ADS_1
'Pasti gara-gara aku mabuk. Kalau saja yang aku minum wine, pasti aku masih bisa mengingatnya, sekalipun aku mabuk. Tapi karena aku minumnya Vodka, aku-' Franz pun mengacak rambutnya frustasi memikirkan nasibnya sendiri karena dia melakukannya tidak dalam kondisi sadar, bahkan ingatan tentang semalam saat berdua dengan Ovin pun sama sekali tidak muncul.
Ketika dia melihat ke depan, Ovin pun hanya duduk dengan diam, memperlihatkan tubuh polosnya saat ini hanya tertutup oleh rambut panjang yang tergerai itu.
"Apa kau menyesal?" Tanya Ovin sambil memeluk kakinya sendiri, lalu wajahnya yang di letakkan di atas kedua lututnya, menoleh ke arah Franz, menatapnya dengan rasa penuh penasaran, akankah yang di lakukan oleh Franz semalam membuat diri Franz itu merasa menyesal?
Franz yang di tanyai seperti itu jadi bingung menjawabnya. Karena dia sendiri tidak ingat apapun, dan segala perasaan saat melakukannya?
"Aku tidak tahu." Ketus Franz. Dia kemudian duduk dan bersandar ke headboard, lalu menutupi separuh tubuh bagian bawahnya itu dengan selimut.
Dia mengambil handphone yang tergeletak di atas nakas. Saat melihat layar, jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan pagi.
Tapi karena kamarnya memiliki tirai tebal, jadi cahaya dari luar pun sama sekali tidak ada yang masuk. Apalagi karena di dalam kamarnya hanya di temani satu lampu meja yang masih menyala, maka suasananya tetap masih seperti malam tadi, cukup remang, tapi masih bisa melihat seperti apakah penampilan miliki dari mereka berdua.
Bahkan untuk apa yang sudah Franz perbuat kepada tubuh Istrinya itu, terlihat banyak sekali bekas tanda yang di tinggalkan oleh Franz kepadanya.
'Apa aku sungguh melakukannya dengan kasar? Itu banyak sekali!' Franz memejamkan matanya, dia mencoba untuk menata hatinya, melihat hasil kerja kerasnya itu berhasil menodai tubuh Ovin sampai sedemikian rupa.
".........." Ovin melirik ke arah Franz yang sedang memejamkan matanya itu. 'Apa dia sedang mencoba mengingat apa yang terjadi malam tadi?' Wajahnya pun masih tenggelam di atas tumpukan tangan yang ia letakkan di atas lututnya.
Tidak lama kemudian, dia mengalihkan pandangannya terhadap noda darah merah segar yang ada di arena pergulatan mereka berdua semalam dengan tatapan yang kian mendalam.
"Kau harusnya ingat kan apa yang semalam aku lakukan?"
"Itu samar-samar juga. Kau menciumku dengan mulutmu yang bau alkohol, siapa yang tidak tertular mabukmu coba." Sangkal Ovin.
Sebenarnya walaupun malam tadi dia sempat mabuk, tapi Ovin masih tetap mengingat apa yang terjadi malam tadi itu memang sungguh menggairahkan.
Seolah ada dendam yang terpendam cukup lama, semua aksi dari Franz itu membuat Ovin menerima banyak ****** yang menghiasi tubuhnya.
__ADS_1
Entah depan, belakang, maupun bawah, semuanya terjamah. Tapi dari pada itu semua, yang sebenarnya belum terjamah adalah mahkotanya. Karena setelah Franz memberikan banyak tanda kepada tubuhnya, dan di saat Franz sendiri memang mau menjebolnya, tiba-tiba Franz pingsan.
Ada rasa sedikit kecewa sih, tapi di satu sisi ia juga merasa bersyukur, sebab ia tidak berhubungan badan dalam kondisi Franz sendiri tidak ingat apa yang di lakukan nya semalaman kepada tubuhnya.
Dan Ovin pun jadi menjahilinya. "Kalau aku hamil gimana?"
"Ya lahirin saja."
'Gampang sekali dia bicara.' Ovin jadi mengernyitkan matanya, karena tidak ada kata lain yang di harapkan, sebab biasanya Franz itu pemarah.
"Tapi kau yang urus sendiri. Karena setelah aku lulus, aku akan pergi kuliah." Franz yang merasa kalau semuanya sudah terlanjur, sampai Franz benar-benar percaya kalau mereka berdua sudah berhubungan badan, Franz pun sudah tidak mau berpikir panjang lagi.
Sedangkan Ovin yang barusan mendengar jawabannya Franz, semua urat nadi dan otot tangannya pun tertarik, sebab Ovin sungguh ingin membogem mentah Franz.
'Ingin sekali ku getok kepalanya. Laki-laki mah enak, tinggal tanam langsung tumbuh. Dan mereka tidak tahu bagaimana rasanya mengandung. Hanya Haid saja, perutku ini sudah mulas, tapi bagaimana jika aku benar-benar hamil dan melahirkan?' Ovin pun jadi berpikir jauh kearah sana. 'Pasti akan sangat menyiksa.'
Hanya dengan memikirkannya saja, Ovin jadi frustasi juga. Dia sendiri belum siap jika di haruskan hamil, karena ia sama sekali belum punya niat itu selain niat untuk bermain saja.
"Hahh~" Tanpa kesepakatan apapun, mereka berdua menghela nafas secara bersamaan.
'Jika dia hamil karena malam tadi, aku benar-benar belum siap sama sekali.' Pikir Franz.
'Untung saja malam tadi Franz lebih dulu pingsan.' Pikir Ovin pula, merasa lega.
Dan dua pikiran itu kembali bersatu dalam pikiran mereka berdua masing-masing.
'Tapi aku ingin sekali merasakannya.' Pikir Franz dan Ovin.
Ovin yang baru merasakan separuh kesenangan gara-gara Franz pingsan lebih dulu, dan Franz yang tidak ingat apapun dengan apa yang terjadi semalam bersama dengan Ovin, membuatnya jadi penasaran bagaimana rasanya bisa berhubungan badan.
__ADS_1