Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
76 : PUM : Kejaran


__ADS_3

Franz, ia berjalan santai dengan membawa blezernya di pundak dimana jari telunjuk tangan kanannya digunakan untuk mengaitkan bagian kerah blezernya . Satu kacamata hitam juga sudah menutupi sepasang matanya sehingga lebih bergaya, dia menuju ke mobil putih tanpa atap.


Beberapa orang perempuan yang lewat sengaja menyapa dan Franz memberikan senyuman serta lambaian tangannya pada mereka sebelum akhirnya pergi secepat angin.


Franz mengebut di jalan raya yang lengang itu, angin yang berhembus menabrak body mobilnya serta sebab tidak ada atap maka anginya membuat rambut Franz terus begerak mengikuti terpaan angin yang menerjang wajahnya.


10 menit kemudian Franz berhenti di salah satu cafe untuk mengistirahatkan otak dan tubuhnya.


Sekali-kali, dia akan melakukan hal yang belum pernah dia lakukan.


Dan salah satunya adalah ini.


" Bawakan 2 menu makanan terbaik kalian." perintah Franz pada pelayan cafe. "Minumannya jus alpukat."


"Baik Tuan." Setelah membuat list dari menu yang dipesan oleh Frans, pelayan laki-laki ini langsung pergi untuk memberitahu pihak dapur.


Dan lagi-lagi, karena Franz bukanlah orang yang begitu familiar di mata mereka semua, sebab ini kali pertama mereka melihat Franz mengunjunngi cafe tersebut, maka keberadaan dari Franz berhasil menarik perhatian banyak orang.


Tapi kaum hawa pula yang selalu menjadi dominan atas ketertarikan mereka pada wajah Franz yang tampan itu.


"Siapa dia? Apakah dia artis baru?"


"Dari seragamnya, dia dari SMA terkenal itu."


"Berarti laki-laki itu orang kaya dong."


"Itu sudah pastinya."


"Aku jadi ingin berkenalan dengannya."


"Sebaiknya jangan, ketimbang kau nanti di permalukan. Kan biasanya orang kaya seperti dia, selalu sombong, dan merendahkan orang lain yang tidak dikenalinya."


Satu persatu bumbu pujian menghujani FRnaz saat itu juga.


Hanya saja, sekalipun yang mereka semua bahas adalah dirinya, maka Franz sendiri ini justru sedang memikirkan hal lain.


'Hari ini rasanya kenapa sangat damai? Biasanya di dekolah selalunya bersik. Apalagi jika sudah menyangkut perempuan itu.' Franz sayangnya tidak bisa mengalihkan pikirannya dari perasaannya yang anehnya sedang merasa damai.


Jika bukan karena Ovin yang berbuat ulah kepadanya, pasti orang-orang sekelas pula yang akan berbuat onar kepada Ovin.


Itu selalu saja bergantian setiap waktu, Ovin terhadapnya, atau mereka kerpada Ovin.


Dan untuk pertama kalinya, rasa dari keheningan itu tiba-tiba datang. Makannya Franz jadi merasa aneh sendiri, karena apa yang biasanya di buat jadi berisik, tiba-tiba saja jadi hening alias diam.


'Ahh..sudahlah. Kenapa aku terus saja tidak sadar jadi memikirkannya lagi?' Kernyit Franz.


Sambil menunggu makanannya siap, Franz memainkan handphone nya.


Ia membuka berbagai macam aplikasi serta menjawab macam komen yang ada di media sosialnya.


Kebetulan ia duduk di tepi jendela besar sehingga selagi bermain hanphone, dia pun bisa melihat para pejalan kaki yang sedang berlalu lalang di depan cafe.


"Sayang, terima kasih sudah memberikanku jam tangan ini ya?" Seorang perempuan dari sekolah lain, saat ini sedang bergandengan tangan dengan kekasihnya, yang ternyata membelikan perempuan tersebut sebuah jam tangan.

__ADS_1


"Iya sayang. Selama kamu senang, berapapun itu pasti akan aku belikan untukmu." Jawab sang kekasih kepada perempuan di sampingnya itu.


Baru satu pasangan yang lewat, maka satu pasangan lainnya pun lewat juga.


"Hari ini cukup menyenangkan ya? Bahkan sampai mau membelikanku tas ini. Padahal ini mahal loh, yakin tidak apa-apa memberikannya kepadaku seperti ini?" Tanya wanita ini kepada sang kekasing, sebab tiba-tiba membelikannya tas branded.


"Ini kan hari ulang tahunmu. Jadi tentu saja harus ada kado spesial yang mahal juga." Sahut pria ini. Menjawab pertanyaan dari keraguan sang kekasih karena tidak yakin dengan hadiah dari pemberiannya karena terlalu mahal.


Pemandangan itu pun menjadi sebuah cerminan dari diri Franz juga?


" Cih, perempuan memang suka uang. Spesifiknya suka menghamburkan uang. Aku tidak masalah sih, tapi juga harus hati-hati menggunakannya. Apa aku buat tabungan lain ya? Dari pa- " belum juga menyelesaikan gumamannya sendiri, Franz diperlihatkan oleh seseorang yang tiba-tiba saja berlari dei depan cafe.


Franz tak sengaja melihat ist...bukan.


Matanya mengikuti arah orang yang barusan lewat. Seorang perempuan, yang selalu saja berbuat onar dengan memancing pikiran dan birahinya tiap kali bertemu dalam kondisi yang berakhir dengan kata wah, dan dia adalah Ovin?


'Dia....? Apa selalu seperti itu? Atau karena tahu aku ada di sini, makannya dia sedang mencoba menarik perhatianku dengan cara sepert itu?' kata hati Franz lepas melihat Ovin berlari kencang di jalan trotoar.


'Dia seperti sedang lari dari sesuatu. Jangan-jangan dia juga berbuat onar di luar sekolah. Ternyata dia memang perempuan yang cukup bar-bar. Wajahnya yang terlihat polos itu selalu bisa menarik perhatian orang, dan setelah dibuat lengah dengan ekspresinya itu, dia akan baru bertindak. Seperti semalam-' pikirnya lagi.


Arus dari tatapannya terus tertuju pada rambut panjang ovin yang berkibar itu, terlihat cukup berkilau, layaknya bulu dari seekor burung gagak.


Tetapi memang seperti itulah, kesan dari Franz terhadap Ovin yang terlihat seperti burung gagak.


Diam-diam terus memperhatikan mangsanya, dan jika sudah sesuai dengan waktu perkiraannya, maka dia akan melakukan sesuatu pada mangsanya.


Sampai lamunan dari Franz terhadap Ovin yang baru saja lewat di depannya itu, langsung Franz tarik kembali setelah mendengar teriakan dari seseorang.


" Kejar dia! " teriak seseorang.


'Kenapa situasinya terlihat lebih dari sekedar berlari biasa? Ini sangat tidak mengenakkan. Jangan-jangan ini adalah akhir dari kedamaianku?' Apapun itu, Franz yang tiba-tiba saja terbesit rasa tidak tega untuk membiarkan sesuatu terjadi pada perempuan tadi, membuat tubuhnya tiba-tiba saja bergerak.


" Tuan, ini pe- " Seorang pelayan hendak memberikan semua pesanan yang tadi di pesan oleh Franz. Namun belum juga menyelesaikan ucapannya itu, kalimatnya langsung di potong dengan gerakan Franz yang tba-tiba itu.


Franz tiba-tiba saja langsung berdiri dan meletakkan 3 lembar uang dengan nominal besar sambil berkata. " Habiskan untukku." pinta Franz pada pelayan tersebut untuk menggantikan dirinya memakan makanan yang sudah di pesan itu, sebelum Franz akhirnya pergi keluar dari Cafe begitu saja tanpa melihat reaksi dari pelayan itu.


'Uwahhh! Dia menyuruhku makan pesanannya, sisa kembaliannya juga sisa lebih. Rejeki nomplok ini.' pelayan ini merasakan senang, sehingga membawa balik makanan yang dibawanya dan akan dimakan ketika waktunya istirahat, dan yang lebih untungnya, total dari makanan yang di pesan oleh Franz itu lebih sedikit ketimbang uang yang di tinggalkan oleh Franz tadi.


Kembali ke posisi Franz, dia berlari menuju mobilnya dan langsung berkendara mencari keberadaan si mata empat.


" Jika kamu kenapa-kenapa, aku akan menyalahkanmu seumur hidup jika ibu menyalahkanku juga " kutuk Franz pada Ovin.


Lalu sekarang dimana keberadaan Ovin?


Dia masih berlari dan masuk ke dalam kerumunan orang dari pejalan kaki, sebab hari sudah sore maka banyak orang yang berlalu lalang lalang untuk pulang kerumah setelah menyelesaikan pekerjaan atau pun sekolah mereka.


Tapi usahanya untuk menemukan istrinya itu belum membuahkan hasil.


Sampai...


" Cepat turun, aku tadi melihatnya disini. Kalian berpencar, jangan sampai lengah, dan pastikan untuk mendapatkan dia." perintahnya pada ke tiga anak buahnya untuk mencari jejak keberadaan gadis SMA itu, yaitu Ovin.


Ketiga orang tersebut berpencar mencari dari sudut bangunan ke bangunan lain, mencarinya sampai ke toko pakaian sebab banyak diantara mereka akan menyamar jika sudah berganti pakaian.

__ADS_1


'Ovin ini, apa yang sebenarnya sudah dia lakukan? Sampai mengundang ke empat preman itu?' Franz pun jadi bertanya-tanya sendiri atas nasib dari hubungannya itu, karena Franz benar-benar punya satu orang yang selalu saja merepotkan orang lain. 'Coba aku hubungi dia.'


Masih mencoba mencarinya, Franz pun mencoba menhubungi nomor istrinya itu.


Akan tetapi, semua usaha untuk mengubungi nomor Ovin, sama sekali tidak membuahkan hasil.


'Kemana anak ini pergi?' Franz mengernyitkan matanya sambil menatap handphone nya sendiri yang saat ini meperlihatkan panggilan gagal.


Gagal, dan gagal terus.


10 menit kemudian.


Kembali ke posisi dimana ke tiga anak buah tadi sudah berusaha untuk mencari keberadaan dari gadis yang sedang mereka kejar.


" Hahh...hah...., m-maaf Bos, saya tidak menemukannya." kata anak buah pertama ini, memberikan informasi yang tidak berguna kepada Bos nya itu.


" Saya juga, sepertinya anak itu sudah hilang dari jangkauan kita. " Beritahu anak buah ke dua ini.


" Tapi kita sudah memantau perempuan itu selama beberapa minggu ini, kita hanya bisa menunggu dia datang ke sekolah lagi "


Ketiga orang tadi pun melapor pada atasannya, dan Bos yang tadi mereka panggil pun akhirnya menjawab. "Hanya gadis SMA, tapi cerdik juga bisa memanipulasi jalur pelariannya. Biasanya anak sekolah banyak dendam pada temannya sendiri, kalian selidiki kemhngkinan ketidaksukaan mereka pada perempuan ini." perintahnya, kepada ketiga anak buahnya itu.


"Baik Bos!" Mereka bertiga menjawab dengan serentak.


"Tapi tetap hati-hati, dia itu walaupun dari luar kelihatan seperti gadis bodoh, sebenarnya dia itu pintar. Jangan terpengaruh dengan kepolosan wajahnya itu." Imbuhnya.


"Lalu apa yang akan kita lakukan jika kita sudah berhasil menangkapnya?"


"Tentu saja membuat dia menderita. Yang pertama kelihatannya enak, jika mencicipinya, bahwa melawan dunia orang dewasa itu lebih kejam ketimbang mendapatkan bully di sekolah."


"Wah...ternyata begitu, jadi kalau bisa menangkapnya, aku bisa makan enak dong." Wajah dari anak buah pertama ini langsung berekspresi senang, dan memulai khayalannya, dengan bermain-main dengan seorang gadis SMA.


"Tentu saja. Ayo kita kembali dan coba lacak terakhir kali sebelum dia menghilang. Pasti akan ada sesuatu yang bisa di dapatkan, apalagi jika aku berhasil meretas cctv yang ada di sekitar sini." Senyuman remehnya pun menghiasi bibirnya.


Lalu mereka semua langsung masuk kedalam mobil mereka.


_____________


Di satu sisi.


" Hahhh......hahh.......hhahhhh......." Suara dari deru nafas yang memburu itu berhasil Ovin dapatkan setelah bisa kabur dari kejaran beberapa orang yang tadi sedang mengejarnya.


Ya...Ovin akhirnya bisa lolos dari kejaran mereka, mereka yang dimaksudnya itu adalah orang-orang dari salah satu kelompok yang pernah Ovin urus dalam salah satu misinya.


Bisa dibilang pembalasan dendam mereka pada Ovin adalah untuk pelampaiasan sebab teman-teman dari ke empat orang itu berhasil Ovin jebloskan ke penjara.


'Apa mereka bodoh ya? Jika mengejarku secara terang-terangan seperti ini, itu sama artinya dengan menyerahkan diri mereka juga keadaku. Kita lihat, kira-kira siapa dulu yang akan tertangkap, aku atau kalian.' Pikir Ovin dengan senyuman miringnya.


'Walaupun wajah kalian memang tidak bisa aku lihat, dengan panca inderaku yang lain, maka bukan berarti aku tidak bisa mengingat kalian yang sudah operasi plastik. Setiap orang tidak akan pernah bisa langsung merubah kebiasaannya lam waktu yang singkat, dan kalian? Akan aku pastikan kalian ikut menyusul dengan teman-teman kalian yang ada di dalam penjara, karena membuatku berlari seperti orang bodoh juga.'


Akan tetapi, karena saat ini dirinya mampu lolos dari mereka, maka Ovin mencoba untuk menepis tujuan untuk memberikan balasan pada mereka berempat, sebab hari ini adalah hari paling berkenang dalam hidup Ovin sendiri.


Ovin yang rambutnya sudah kusut itu, mencoba dia rapikan lagi dengan mengikat rambutnya jadi satu, setelah itu pakaiannya juga.

__ADS_1


Barulah, Ovin menatap langit yang perlahan sudah mulai senja itu. 'Delapan belas Desember.' pikirnya dengan kelopak mata tertutup. 'Sebelum terlalu sore, sebaiknya aku pergi sekarang.'


__ADS_2