
"Ya iya lah. Kan aku Istrinya, aku pasti tahu apa yang biasanya suamiku lakukan." Jawab Ny. Jean atas ucapan dari Admes tadi.
Setelah mengeluarkan amplop besar berwarna coklat yang masih tersegel itu, Admes pun kembali memperhatikan dua orang yang sebenarnya berhasil menarik perhatiannya.
"Apakah anak anda kebetulan sedang membawa pacarnya?" Tanya lagi Admes kepada Ibunya Franz. "Jika iya, maka ini pacarnya dari anak anda harus pergi dulu, karena ini masalah hak warisan dari keluarga anda Nyonya." Imbuhnya.
Mendengar hal tersebut, Ny, Jean atau ibunya Franz langsung melirik pada dua pemuda, dimana jika yang satu berekspresi biasa saja, maka tidak dengan yang satunya lagi, karena ekspresinya benar-benar memperlihatkan perasaannya yang sedang jengkel.
"Sepertinya kau salah paham Admes, mereka berdua bukanlah dua anak yang berpacaran lagi, karena kami sudah menikahkan mereka berdua. Jadi istri dari anakku itu harus tetap di sini." Dan seperti itulah jawaban yang di berikan oleh Ibu nya Franz.
Admes memberikan reaksi terkejutnya, karena dia ternyata salah sangka dengan dua orang yang saat ini sedang memakai hoodie dengan warna dan corak yang sama, layaknya sepasang kekasih?
Tapi memang itulah, mereka berdua sudah bukan lagi sepasang kekasih lagi, karena kalimat yang lebih tepat lagi itu adalah Suami dan Istri.
"Tapi, menurut saya mereka berdua terlalu muda untuk jadi suami dan Istri." Admes masih separuh percaya dan tidak percaya.
Franz yang dari tadi diam, akhirnya angkat bicara. "Bahkan paman sendiri menyadarinya juga, kalau kita terlalu muda untuk jadi suami istri kan?" ungkap Franz sambil menopang kepalanya dengan tangan kanannya.
Dia saat ini sedang memandang dengan tatapan malas ke arah pengacara bernama Admes itu.
Tapi karena ucapannya tadi begitu gamblang, maka mereka semua termasuk Erina, Ibu, dan Ovin, sama-sama menatap ke satu arah yang sama yaitu ke arah Franz yang ternyata bisa mengatakan itu di luar perkiraan dari mereka semua.
'Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba Franz berbicara seolah memang sedang mengakui hubungannya denganku?' Lirik Ovin.
"Ya. Memang, jika berdasarkan pendapat saya, anda memang terlalu muda untuk menjalin sebuh rumah tangga." Sahut Admes. "Tapi yang namanya Cinta, memang selalu nya tidak memandang umur. Jika anda memang sudah jadi suami dari Nona di samping anda, maka anda harus jaga dia dengan baik." Imbuh Admes.
Franz yang hendak bicara lagi, langsung terdiam, karena orang yang Franz pikir ada di pihaknya itu, ternyata pada akhirnya menyatakan kalau Cinta adalah dasar dari segalanya, yang artinya pengacara ini pun melakukan pemihakan kepada Ovin.
__ADS_1
"Akan tetapi karena peraturan tetaplah peraturan yang harus di kerjakan, maka bisakah anda memperlihatkan buku nikah anda sekalian?" Admes pun mencoba mendapatkan bukti nyata, karena jika tidak seperti itu maka Admes tidak akan pernah membuka amplop dari saat perjanjian yang di bawanya itu.
Sedangkan Franz pun langsung memberikan reaksi yang cukup dingin, ketika ibunya ternyata sudah lebih dulu menyiapkan apa yang di mau oleh paman Admes itu.
Dan dua buku nikah milik Ovin dan Franz pun Admes ambil. Dia melihat dan mencoba memperhatikan isinya yang ternyata sesuai dengan ucapan dari Ibunya Franz, maka sekarang Admes pun percaya, kalau dua orang yang duduk berjejer itu adalah sepasang suami Istri muda yang mendapatkan tuntutan dalam sebuah perjodohan.
“Pasti berat ya?” Satu pertanyaan yang jelas seperti apa jawabannya keluar dari mulutnya Admes.
Tentu saja Franz yang hanya mendengar pertanyaan itu tanpa menjawabnya, hanya berekspresi masam.
Siapa yang tidak merasakan berat jika pernikahan yang di dasari perjodohan tanpa sebuah cinta akan berjalan sesuai dengan kisah dari cinta romantis yang biasanya terjadi pada sepasang kekasih yang saling mencintai satu sama lain.
Semua itu sama sekali tidak terjadi pada diri Franz dan Ovin, itulah yang Franz percayai hingga beberapa minggu ini dia merasakan satu permasalahan pada hatinya itu.
“Baiklah, saya mengizinkan istri dari Tuan muda Franz untuk tetap di sini.”
“Bweeh…” Seperti yang di harapkan oleh adiknya yang begitu jahil dan suka nakal, Franz mendapatkan ejekan langsung dari Erin di depan semua orang.
Sama hal nya dengan apa yang di lakukan oleh adiknya Franz, maka Ovin pun melakukan hal yang sama juga.
Ovin sudah menyangga dagunya sambil menatap ke arah lain. Tapi d saat yang sama juga, telapak tangan yang di gunakan untuk menahan dagu nya itu pun Ovin gunakan untuk menutup mulutnya yang sedang menahan tawanya sendiri.
Ny. Jean pun jadi ikut tersenyum dalam diam karena melihat tingkah ketiga anaknya itu sungguh lucu karena punya ekspresi yang berbeda-beda.
“Keluarga anda termasuk menyenangkan ya?”
“Oh, apa itu sebuah pujian?” Tanya Ny. Jean balik.
__ADS_1
“Dari pada banyak basa-basi, cepat beritahu kami isi wasiatnya.”
“Franz~” tegur sang Ibu kepada Franz.
Malas mendengar ocehan dari Ibunya, Franz kembali menyandarkan tubuhnya kebelakang dan menutup matanya. ‘Hanya karena acara pertemuan seperti ini, kenapa juga aku harus di paksa memakai pakaian yang sama dengannya.’
Franz melirik lagi ke arah Istrinya itu yang sudah terlihat tenang dari pada beberapa saat tadi.
‘Perempuan ini, apa tidak ada penampilan lain selain hanya memakai Hoodie ukuran tubuhku? Kenapa Ibu memberikan ukuran yang kebesaran kepada dia? Mau di lihat dari sudut manapun, jelas dia kan jadi terlihat seperti tidak memakai apapun selain pakaian itu.’ Protes Franz.
Merasa risih dengan penampilan Istrinya yang benar-benar memperlihatkan kedua kakinya yang jenjang itu, sampai memperlihatkan separuh paha dengan kulit putih layaknya porselen itu, Franz pun langsung melemparkan bantal sofa dengan kasar tepat ke wajah Ovin.
Dan Ovin menerima bantal sofa lemparan Franz dengan raut wajah kesal.
“Apa kau mau perang bantal denganku?” Suara yang keluar dari mulut Ovin langsung menyita perhatian mereka semua yang ada di sana, bahkan termasuk Admes itu.
‘Kenapa dia justru mengartikannya seperti itu?’ Kesal karena Ovin salah paham sendiri. Maka dari itu, tanpa banyak kata, Franz justru langsung menyentil keras paha Ovin dengan serta merta.
Apa yang sebenarnya Franz lakukan sampai menyentil paha miliknya, Ovin pun jadi tersadar dengan maksud yang di lakukan oleh Franz itu adalah agar bantal sofa lemparannya itu di gunakan untuk di pangku untuk menutupi kaki bagian atas nya.
‘Hahaha…ini memang rencana yang bagus. Membiarkan Ovin memakai Hoodie saja di depan Franz, ternyata bisa memberikan pemandangan seperti ini. Aku memang cukup pintar, karena akhirnya aku bisa membuat Franz menaruh perhatian pada Ovin.’ Pikir Ibu nya Franz, melihat aksi dari kedua anaknya itu yang terasa menggemaskan.
“Ok, saya akan membuka amplop ini di depan anda semua.” Karena kebetulan dirinya membawa gunting sendiri, maka dia pun menggunting tipis sisi dari amplop agar bisa di buka.
Ke empat orang yang sudah jadi sebuah bagian dari keluarga besar Eshter pun segera memasang ekspresi wajah serius.
Sampai dua orang yang terlihat sedang memainkan lelucon tadi, sudah duduk diam memperhatikan pak guru, tidak..tapi paman pengacara.
__ADS_1
Setelah itu, beberapa lembar kertas pun di keluarkan, hingga akhirnya pengacara Admes itu melihat isinya dan memutuskan memberitahu isi dari keseluruhan surat wasiat yang sudah di sepakati oleh kepala keluarga Eshter.