
"Polisi? Kenapa harus pergi ke kantor polisi?!"
"Salah sendiri, padahal sudah petang begini, tapi apa yang sedang kalian lakukan? Dan nona, apa dia melecehkanmu?" sambil menunjuk ke wajah Franz.
" Melecehkan apanya?! Aku sedang membujuk dia untuk pulang ke rumah. "Jawab Franz. "Makannya tadi aku bilang, kami berdua sudah berpisah hampir satu minggu, jadi jangan seenaknya untuk memisahkan kami,"
"Tapi kau menciumku dengan paksa." sela Ovin dengan cepat, dan perkataannya juga tidak bohong.
"Apa?! Jadi benar pria ini mel-" belum sempat merampungkan ucapannya, Franz segera memotong.
"Maaf pak, tapi mana ada kata melecehkan di hubungan antara suami dan istri?" jawab Franz, membenarkan semua rahasia yang mereka berdua miliki.
'Apa?! D-dia... Dia mengatakan suami istri? Sejak kapan dia bicara begitu terus terang dengan hubungan ini pada orang lain?' benak hati Ovin setelah mendengar ucapan Franz yang terasa dirinya bisa saja baru salah dengar.
Pasalnya selama dua bulan lebih, pria ini tidak pernah mengakui hubungannya dan sekarang malah bicara dengan terus terang pada seorang polisi.
"Ha? Tidak perlu bercanda, kalian suami istri?
Kalau mau buat alasan itu harus harus yang lebih masuk akal sedikit. Kalian berdua itu terlihat masih anak SMA, tapi mengatakan hal yang tidak mungkin begitu," timpal polisi ini, tidak mempercayai perkataan dari anak muda tersebut.
"Jangan membuat alasan konyol nak, sekarang kalian berdua ikut ke kantor polisi untuk mememberikan keterangan yang lebih jelas, soalnya... Terlepas dari perilaku kalian berdua yang tidak tahu aturan, kalian berdua sama-sama melanggar rambu lalu lintas.
Lihat, mobil kalian melanggar rambu. Padahal tidak diperkenankan untuk parkir sembarangan, tapi kalian justru melakukan hal sebaliknya," menunjuk pada satu tiang dengan rambu dilarang berhenti.
"Gara-gara dia, aku jadi ikut kena tilang. " gerutu Ovin, tat kala dirinya harus kena tilang, padahal dirinya sudah tahu memang disini itu tempat yang salah untuk berhenti di pinggir jalan, namun ianya juga tahu kapan waktu patroli seperti polisi ini akan datang.
Jadi seperti telat kabur, Ovin pun kena dampaknya gara-gara Franz.
"Nah justru itulah, peraturan itu di buat untuk di langgar, pak. Itulah gunanya kita,"
"Sinting, kenapa kau malah bicara seperti itu?" omel Ovin teradap Franz.
"Aku dari awal ini sudah sinting, jadi tidak masalah juga, kalau aku dipanggil sinting olehmu," seringai Franz atas reaksi Ovin nyang tampak tidak suka terhadap kata-katanya.
CUP...
"Franz!"
PLAK!
Tamparan keras pun berhasil mendarat di salah satu pipinya Franz, dan membuat salah satu polisi tersebut, diam dengan mulut melongo.
_______________
Namun, pada akhirnya akibat dari kesalahan mereka berdua juga yang parkir sembarangan, mereka berdua pun di bawa ke kantor polisi.
__ADS_1
"Lihat... lihat, bukannya pria di sampingnya itu tampan?"
"Tapi apa yang terjadi? Sampai dibawa ke kantor polisi. Kesalahan apa yang diperbuat kedua pemuda itu?"
"Alahhh.... Palingan mereka berdua baru saja melanggar tindak pidana kalau tidak tilangan, atau kalau tidak, pasti karena hubungan gelap. "
Banyak yang berbisik-bisik dengan topik panas dari dua remaja itu, bahkan yang ada di dalam sel tahanan sekalipun juga tak kalah sedang saling bergosip.
"Jadi... Apa kalian berdua bisa menjelaskan situasinya?"
"Aku hanya istirahat sejenak apa tidak boleh?" tutur Ovin. Jawaban yang cukup singkat, jelas juga padat.
Akan tetapi, siapa yang akan percaya itu? Banyak yang bisa membuat alasan singkat seperti itu.
"Bukan alasan yang bagus," ketus pak polisi ini sambil menatap penuh curiga pada dua orang di depannya. "Lalu bagaimana dengan penjelasanmu?" tanyanya sambil menatap Franz.
"Aku mencari dia karena tidak pulang ke rumah hampir 6 hari, dan hasilnya... Aku malah menemukannya di pinggir pantai. "
"Kalau begitu, kenapa tidak lapor pada polisi? Kan sudah lewat 24 jam?" tanyanya, masih bisa beradu mulut dengan dua anak muda di depannya itu.
'Ini nih... Paling menyebalkan jika berbicara dengan polisi.' kutuk Franz dalam diam, lalu menjawab lagi, "Selagi keluargaku sanggup mencarinya sendiri, kenapa tidak?"
Terdengar alasan yang begitu arogan, padahal sebenarnya Franz sempat sampai putus asa, karena tidak kunjung menemukan Ovin.
"Oh... kalau begitu nona? Kenapa kabur dari rumah?"
"Hahh~." Ovin langsung memberikan sorotan tajam. Tidak suka dengan pertanyaan itu. "Bagaiman aku tidak kabur, jika aku dikatai pernah tidur dengan pria lain?"
"...! " semua orang langsung terbengong dengan jawaban dari nona itu.
"Sangat mengejutkan." ujar orang lain.
'Perempuan ini, apa tidak bisa menolongku sekali saja? Kenapa terlalu jujur pada polisi ini?!' lirik Franz pada gadis di sebelahnya, sampai-sampai rasanya ingin sekali memberikan hukuman. "Aku kan sudah minta maaf." sela Franz.
"Dengar, ya. Aku ini sudah sudah sakit, kata maaf juga sudah terlambat." jawab Ovin di detik itu juga membuat Franz sedikit kehilangan kata-katanya.
Karena sedikit bosan, dirinya menyenderkan punggungnya ke belakang ( sandaran kursi ) sambil menatap ke atas.
"Jadi bagaimana caraku agar bisa di maafkan?" pada akhirnya Franz bertanya, dan membuat mereka berdua malah jadi curhat satu sama lain di depan polisi.
Akhirnya ada gerakan, untuk diinya mengutarakan apa yang sangat ingin dilakukannya.
"Aku tidak minta yang berlebihan. Tarik semua ucapanmu menjelekkanku."
"Terus apa lagi?"
__ADS_1
"Jangan merendahkanku apa lagi orang lain, kau tahu sakitnya itu di hati. Dan... Karena mengataiku dadaku rata, lebih baik jangan memangsaku." dimana di akhir kalimat, nadanya sedikit lirih.
"Aku mendengarnya nona." pungkas pak polisi ini, mendengar kata 'mangsa' keluar dari mulut mungilnya Ovin.
"Jika dia memangsamu, aku yang akan menghajarnya." sambungnya lagi, sambil memperlihatkan bogem pada Franz.
'Apa-apaan ini, padahal bisa minta lebih, tapi dia hanya ingin membuatku menarik ucapan hinaanku padanya?' awalnya Franz sedikit melongo dan menghiraukan bogem yang ditunjukkan pak polisi itu, tapi ia hilangkan dan langsung saja menjawab. "Akan aku turuti semuanya."
"Jadi... Kalian sudah berdamai?" tanya salah satu diantara pengunjung.
" Sud- "
"Belum juga." sela Ovin sebelum Franz benar-benar menjawab 'sudah'.
"Masih ada lagi?"
'Pertunjukkan menarik.' pak polisi ini tersenyum dalam diam, melihat perdebatan kecil di antara dua pemuda ini.
"Perlakukan aku dengan baik selamanya," jawab Ovin sambil meringis menahan rasa pedih yang dia rasakan di dalam dada.
TES....
Satu tetesan air mata tiba-tiba keluar dan membasahi pipinya.
"V-Vin-" Franz tercekat tiba-tiba saja melihat gadis ini menangis di depannya.
TES.....
TES....
TES....
Tidak bisa membendungnya lagi, air matanya mengalir.
" Lo..? " dan Ovin sendiri menunjukkan wajah terkejutnya juga karena tidak sadar malah menangis.
"Hayo, kalau cara bicaramu sangat sombong begitu, siapa yang tidak akan sakit hati?" tegur polisi ini. "Terlepas dari hubungan kalian berdua yang entah masih pacaran, sudah suami istri, atau hanya tetanggaan, karena kalian berdua saah, aku akan tetap menilang mobil kalian berdua,"
Polisi tersebut pun memberikan dua lembar kertas surat tilangan dan di masukkan ke dalam salah satu saku dari kemeja yang di pakai oleh Franz.
"Kalau mau ambil, harus datang dengan walimu," ucapnya lagi.
"Polisi tidak berperikemanusiaan! Lagi nangis begini, kenapa malah memberikan kami surat tilang?" protes Franz.
"Ya, kalau tidak mau ditilang, kan tinggal tidak perlu melanggar lalu lintas?" balasnya.
__ADS_1