Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
91 : PUM : Sisi lain


__ADS_3

"Sudah lama di peluk, masih kurang lama lagi? Atau sampai aku membawamu tidur dalam pelukanku?" Goda Chade kepada keponakannya itu.


Ovin yang tiba-tiba saja mendapatkan sebuah kalimat gombalan dari pamannya itu, dengan sengaja langsung memeluk tubuh pria ini lebih erat, hingga Chade sendiri sudah kewalahan karena dia akhirnya merasakan sesak.


"Uhukk..hhah...ini hanya bercanda, lepaskan. Apa kau ingin membuat kakakmu ini mati kehabisan nafas?" Tanya Chade mencoba membujuk keponakannya yang sebenarnya memiliki segudang energi yang cukup banyak, hingga pelukan yang diberikan oleh keponakannya itu bisa jadi pelukan kematian untuk Chade sendiri.


"Lagian, jangan menggombal denganku." Sahut Ovin masih memeluk tubuh Chade dengan cukup erat.


"Itu salahmu, karena aku ternyata punya adik yang aneh tapi cukup imut. Jadi aku tidak tahan untuk menggoda adikku sendiri." Sebuah kalimat gombalan lantas jadi keluar lagi. Dan karena itu pula Chade akhirnya jadi mendapatkan balasan yang lebih menyesakkan dari yang tadi.


GREP...


"Errkk..!" Sampai tangan kanannya yang awalnya hendak Chade gunakan untuk mengusap ujung kepalanya Ovin, langsung dia buat untuk segera mendorong tubuh Ovin untuk menjauh sekaligus agar melepaskan pelukan yang sangat menyesakkan di dalam dadanya.


Ovin yang sudah melepaskan pelukannya sendiri dari Chade, hanya berdiam diri melihat ekspresi pamannya sendiri yang terlihat tersiksa dan sedang mencoba mengatur nafasnya lagi.


"Hah..hah..hhah...kau kurang ajar juga ya? Mau membuatku mati?" Kata Chade mencibir.


"Kan aku sudah sering memperingatkanmu, agar tidak menggodaku." Ovin yang sudah tidak sabar ingin mencoba mobil barunya, memutuskan masuk kedalam mobil dan membiarkan Chade masih dalam kondisi mengatur tubuhnya dari rasa sakit yang masih tertinggal di badannya itu.


"Tapi jika dia yang menggodamu, apakah kamu akan melakukan sebaliknya kepadanya?" Dan satu pertanyaan itu jelas tertuju untuk satu orang yang tidak salah lagi tentunya adalah Franz.


Ovin yang sudah duduk di depan stir mobil, lantas menoleh ke belakang dan menjawab. "Ya. Aku akan membalas godaannya."


"Kau memang sungguh sudah bodoh karena cinta."


"Aku juga tahu. Tapi mau bagaimana lagi? Aku sudah tidak bisa mengontrolnya, jadi biarkan saja apa yang ingin aku lakukan kepadanya atau sebaliknya." Balas Ovin. Lalu dia pun memakai kacamata hitam yang dia dapatkan setelah berhasil mencurinya dari Chade.


'Sejak kapan dia mengambil kacamataku?' Chade pun kebingungan, padahal yang dilakukan oleh Ovin tadi jelas-jelas hanya memeluknya dengan erat, tapi entah sejak kapan kacamata miliknya itu sudah berpindah tangan.


"Sebagai balasan sudah memberikanku mobil, apa yang ingin kakak mau dariku?"


'Aku hanya ingin dirimu bahagia saja.' Itulah yang Chade batin kan. "Jalan-jalan bersama."


"Atur saja jadwalnya, nanti aku akan coba sesuaikan dengan urusanku. Dadah," Seperti anak kecil yang mengucapkan dadah kepada orang yang di tinggalnya, Ovin pun melakuannya juga kepada Chade yang akhirnya Ovin tinggal pergi dengan membawa mobil yang sudah menjadi miliknya itu.


BRRMMM....


*


*

__ADS_1


*


Jika biasanya Ovin akan menempuh jarak yang terasa panjang dan menghabiskan waktu yang cukup lama untuk sampai ke tempat tujuannya, kali ini sudah tidak lagi.


Untuk pertama kalinya sebagai seorang murid sekolah, dia pulang membawa mobil yang sudah menjadi miliknya.


Dan dia pun berkendara membelah jalan dari kota metropolitan yang sedang dalam kondisi sibuk, sebab jam ini adalah jam untuk semua orang bisa pulang ke rumah dan berkumpul dengan keluarga?


Tapi Ovin sudah tidak lagi memiliki keluarga utuh yang masih di miliki oleh banyak orang di sekitarnya.


Dia adalah salah satu orang yang mendapatkan takdir antara menenaskan dan mengesankan.


Itu yang dia pikirkan selama ini.


'Tapi- ngomong-ngomong kemana Franz pergi ya? Dia pulang bersama dengan Bella.' Ovin pun jadi di buat untuk berpikir keras, dan membuat dia jadinya menyangga kepalanya dengan tangan kirinya, seraya tangan kanannya tetap berada di stir mobilnya. 'Sebenarnya apa yang Franz lihat dari perempuan seperti dia? Dimataku, dia cukup mencurigakan. Tapi kecurigaan yang hanya berasal dari instingku sebagai perempuan saja tidak lah cukup untuk menemukan bukti.'


Dan di tengah-tengah Ovin sedang berpikir itu, mulutnya pun jadinya menghela nafas dengan pelan.


'Saat dipertemuan tadi pagi saja, dia terlihat seperti sedang memikikan sesuatu yang berhubungan denganku. Ah~ Ini sungguh membuatku frustasi.' Karena kebetulan dia sedang di hadapi lampu lalu lintas berwarna merah, Ovin pun melepaskan tangannya dari stir mobil dan mulai mengatur rambutnya yang tadinya dia urai untuk dia ikat jadi satu.


Sebab jika tidak begitu, rambutnya nanti akan acak-acakan dan menjadi kusut, sebab terkena terpaan angin.


Hanya saja di saat itu pula, di saat yang sama tepat di samping mobil yang di kendarai oleh Ovin, sudut mata Jordy yang melihat Ovin ternyata ada di samping mobilnya, lantas membuat mata Jordy membulat sempurna.


Siapapun yang melihatnya akan mengira kalau itu adalah sosok asli dari penampilan Ovin yang biasanya terkesan biasa-biasa saja.


Jordy benar-benar di buat terkesan dengan apa yang dia lihat itu.


Karena lampu lalu lintas sudah kembali berwarna hijau, mereka semua pun langsung menjalankan kembali mobil mereka untuk pergi ke tempat tujuan mereka.


Dan Jordy yang masih satu jalur dengan Ovin, sesekali meliriknya.


"Apa? Kenapa tiba-tiba? Aku kan sedang ingin pulang untuk Istirahat." Rutuk Ovin setelah tiba-tiba saja mendapatkan satu panggilan untuk membuatnya pergi ke tempat lain lebih dulu.


'Dia sedang menelepon dengan siapa?' Pikir Jordy.


Hingga di tengah Ovin sedang menerima telepon, tiba-tiba saja di depan jalur Ovin berkendara ada satu anak kecil yang tiba-tiba saja nyelonong turun ke tengah jalan.


"Eh..Vian!" Sang Ibu yang tiba-tiba kehilangan anaknya itu langsung membelalakkan matanya, karena anaknya sudah ada di tengah jalan.


TINN...!

__ADS_1


Jordy yang melihat hal it, langsung menekan klakson dengan tujuan agar Ovin sadar kalau sebentar lagi mobil yang dikendarai oleh Ovin akan menabrak anak kecil itu.


"Kyaa...!" Anak kecil ini langsung menutup matanya dan berteriak secara spontan.


"......" Ovin yang sehera menyadari adanya anak kecil di depan jalur linatasannya, langsung menginjak pedal gas dan rem secara bersamaan sampai dia jadinya membanting stir mobilnya ke arah kiri dan..


CKITT....


"Huwaa...! Mama! Aku takut!" teriak anak kecil ini dengan tangisan yang cukup keras, sampai membuat para pejalan kaki yang melihatnya langsung memasang wajah tegang mereka, termasuk Jordy sendiri.


Mereka semua akan mengira kalau akan ada kecelakaan.


Tapi semua itu hanyalah ekspetasi dari pikiran negatif mereka, sebab orang yang hampir menjadi tersangka, padahal korban dari kecerobohan si ibu yang tidak sadar kalau anaknya kabur, sudah berhasil mengatasinya dengan cukup baik dan tenang.


Ya..Ovin dengan cekatan langsung melakukan drifting setengah putaran, yang pada dasarnya memang Ovin kuasai, seperti yang hampir pernah dia alami karena saat hari Franz juga hampir menabraknya.


"Vian!" Sang Ibu langsung berlari menghampiri anaknya yang hampir kena tabrak. "Kamu baik-baik saja kan? Tidak ada yang terluka kan?" Tanya wanita ini kepada sang anak yang sudah terjatuh dalam kondisi terduduk.


"Ma..hiks..aku takut. Huwaa..!" Teriak anak kecil ini.


"Mama ada disini. Cup..cup...cup." Mencoba menenangkan anaknya itu agar tidak ketakutan lagi.


"Kalau bisa, ikat tangan anakmu, agar tdak kabur jika memang sibuk bermain handphone ketimbang memperhatikan anaknya sendiri." Tegur Ovin sebagai sebuah sindiran yang cukup keras.


DEG.


Siapa yang bisa di salahkan disini, mereka semua pada akhirnya tidak bisa berkata apapun, karena Ibu dari anak itu memang juga salah, karena sibuk dengan urusannya sendiri, jadi mengabaikan anaknya yang sudah lepas dari mengawasannya.


Tapi di satu sisi lain, Ovin juga mengatakan hal yang langsung menyakitkan hati orang. Hanya saja, apa yang di katakan oleh ovin memang ada benarnya juga, jadi tidak ada orang lain yang menegurnya.


'Kenapa dia bisa mengatakan hal itu kepada wanita itu? Bukannya menggunakan kalimat yang baik, tapi-' Sayangnya keberadaan Jordy pun langsung di ketahui oleh Ovin.


Ovin hanya menatap mobil berwarna biru yang di kendarai oleh Jordy. Dia tahu, sebab dia ingat dengan plat nomor mobil dari ketua Osis itu.


"M-maafkan saya Nona, saya akan lebih memperhatikan anak saya aar tidak ada kejadian yang seperti ini lagi." Ucap wanita ini kepada Ovin yang kebetulan posisi mobilnya jadi menghadap ke arah yang salah.


Kini posisinya saling berhadapan dengan mobil milik Jordy, oleh sebab itu Ovin sepintas melirik ke arah Ibu dan anak itu, dan sisanya kembali menatap Jordy yang sudah pasti ada di dalam mobilnya.


"Hm..jadi perhatikan lagi anakmu, jangan sampai orang yang berkendara, jadi tersangka atas kelalaianmu." Pesan Ovin, lalu dia langsung menancap gas agar mobilnya mundur.


Setelah berada di jarak yang tepat dalam posisi menjauhi Jordy lebih dulu, Ovin langsung mengalihkan gigi mobil ke depan, sehingga laju mobil yang Ovin kendarai itu pun langsung beralih untuk maju ke depan, dan saat itu juga Ovin memutar stir mobilnya dengan segera gar bisa berputar arah lagi ke jalur yang benar.

__ADS_1


'Kenapa Jordy ada di jalur ini? Seharusnya kan dia mengambil arah yang berlawanan dari jalan ini.' Pikir Ovin.


__ADS_2