
Di tempat lain.
Lagu dengan suara yang cukup keras membuat seisi ruangan jadi berisik. Lagu DJ yang begitu mengasyikan itu berhasil membuat sebagian besar orang terus untuk di buat bergerak, menari satu sama lain, dengan gaya heboh untuk menarik perhatian satu sama lain.
"Hyahh..ayo sayang, goyang lebih heboh." Ucap seorang pria, dia ikut menari di belakang seorang wanita, dengan kedua tangan di letakkan di pinggang sang wanita, dia pun ikut menari dan menuntun sang wanita untuk bisa bergoyang lebih semangat dan menggoda. Dengan tubuh penuh keringat dan pakaian minim yang menampilkan kesan seksinya, membuat gairah mereka berdua semakin menyatu dalam tarian mereka berdua.
"Ah ya sayang." Dengan gayanya yang cukup senu*al, dengan posisinya, dimana dia berdiri dan menari di depan sang pria tersebut, kedua tangannya pun sempat dia letakkan di belakang meraih wajah serta kepalanya agar wajah mereka saling mendekat.
"HEmm..., kau seksi, aku booking kau malam ini juga ya."
"Tentu, apapun untukmu, aku akan melakukannya, walaupun setidaknya setara dengan harga tentunya.." Sempat berhenti bergerak, dia pun memberikan sebuah kecupan tepat di bibir sang pria .
CUP....
Dan setelah itu, kedua pinggang mereka berdua pun kembali bergoyang dengan jarak sudah saling menempel satu sama lain.
Jika di satu sisi mereka pada menari dalam kegembiaraan, membebaskan diri dalam berbagai masalah dalam kesenangan yang mereka lakukan di dalam sebuah bar terkenal di kota tersebut, mereka pun terus berinteraksi dalam cara mereka sendiri.
"Untuk semuanya, siapa yang ingin uang?!" Teriak sang pemuda yang menempati posisi sebagai pengarah lagu DJ. Dia berteriak dengan mengeluarkan segepok uang berwarna biru juga merah.
"Ayo, lempar!"
"Jangan lama-lama! Lempar uangnya!"
"Ok! Asal tarian kalian lebih bersemangat, akan aku sebar uang ini untuk kalian. Yah! kalian akan di hujani uang milik dari Tuan muda Deon!"
"'YAAA...!"
Walaupun mereka orang-orang yang tidak akan kekurangan uang, mereka tetap ingin agar uang yang sedang di pegang oleh pemuda tersebut untuk di lempar.
Dan syarat untuk membuat uang itu di lempar pun dengan membuat musik semakin keras, suara yang cukup memekakkan telinga itu tidak menjadi penghalang untuk di kalahkan oleh suara teriakan heboh mereka.
__ADS_1
Akhirnya goyangan, teriakan semangat, wajah bahagia seperti orang yang tidak memiliki masalah sama sekali, membuat suasana di dalam bar pun semakin meriah.
"Hyahh...berikan salam untuk Tuan muda Deon kita! Beliau yang akan mentraktir semua tagihan kalian di malam ini!"
"Yeahh! Deon!"
"Tuan muda Deon! Terima kasih!"
"Goyang lagi!"
Dan begitu mereka sudah meneriaki salam serta semangat mereka pada sang pemuda yang ada di lantai dua, uang pun langsung di sebar oleh seorang wanita yang berdiri di ujung tangga.
Hujan uang pun menjadi semangat baru mereka dalam nuansa meriah yang sudah tidak bisa di bandingkan lagi.
"Mentang-mentang orang kaya, kau suka sekali ya menghabiskan uang." ucap seorang wanita yang kini berdiri sambil bersandar ke pagar kaca pembatas dari lantai dua itu sendiri.
Sambil menyeruput cocktail berwarna ungu, wanita ini pun menghisap sebuah puntung rokok.
Yang kelihatannya memang benar-benar membutuhkan." Kata Deon, mengulangi ucapannya di bagian kedua saat sudut mata dari pria ini melihat beberapa pelayan bar, tengah ikutan memungut uang yang di sebar tadi. "Dan mereka orang yang tepat untuk menjadi budak uang di sini. Padahal gajinya sudah lumayan, tapi karena tanpa tahu malu ikut memungut uang, mereka benar-benar seperti orang yang kekurangan uang ya?"
"Ah, ada kalanya kau melihat ke atas, Deon, jangan lihat ke bawah terus." Peringat wanita ini, bahwa sekalipun Deon anak dari orang yang kaya, bukan berarti kalau dia akan terus berada di posisi untuk menjadi seorang penonton, sebab ada juga yang sedang menontonnya dari tempat yang lebih tinggi. Dengan kata lain, ada orang yang bahkan lebih kaya dan cukup berpengaruh, dan orang itu kini ada di lantai tiga, dimana seorang pria bertopeng, kini tengah menatap mereka berdua.
"Siapa dia?" Tanya Deon pada wanita tersebut.
"Dia beberapa kali datang kesini, tapi dia bukan sembarangan orang. Tapi karena kelihatannya dia sedang memanggilku, aku akan pergi ke sana. Titip ini ya." Dengan senyuman khas nya yang menggoda, wanita ini pun meletakkan segelas cocktail yang sudah tinggal separuh di depan Deon, lalu pergi untuk naik ke lantai tiga, menghampiri pria bertopeng dengan topeng uniknya yang seperti burung hantu.
"Siapa dia?" Gumam Deon sambil terus memberikan tatapan perhatian pada pria asing dan misterius itu. Sampai secara tidak sengaja, dia pun melihat bandul kalung yang dipakai oleh pria tersebut. Karena jaraknya cukup jauh dan di tambah dengan suasana di mana lampu sorot warna warni, penglihatannya pun jadi sedikit terganggu.
DRRTT....
DRRTT...
__ADS_1
Sampai tidak lama kemudian, Deon mendapatkan satu panggilan dari Gea.
Deon lantas mengangkatnya, dan langsung mendengarkan.
-"Deon, datanglah kesini, Tuan Owl ini ingin bicara empat mata denganmu."- Ucap wanita ini, dia bernama Gea yang beberapa saat tadi berbincang dengan Deon.
Selesai bicara, Deon langsung mematikan dan menatap kembali pria tersebut dengan tatapan penuh curiga.
'Huh, apalagi yang harus aku hadapi? Aku belum selesai menyelidiki si gadis bernama Ovin itu, tapi orang ini kelihatannya ingin sesuatu dariku.' Batin Deon, dengan gerakan malasnya, Deon pun beranjak dari tempat duduknya dan akhirnya naik ke atas.
Begitu pergi ke lantai tiga dan berdiri di hadapan si Tuan Owl ini, iris mata berwarna kuning itu pun benar-benar bertemu dengan iris mata berwarna coklat milik Deon.
"'Aku sudah di sini, jadi apa maumu?"
"Apa kau kenal seorang perempuan bernama, Oktavin?"
Dan seketika Deon mengernyitkan matanya begitu dia langsung mendengar nama asli dari nama panggilan Ovin, yaitu Oktavin.
"Entahlah, apa hubungannya antara nama itu sampai menanyaiku?" Tanya Deon dengan wajah angkuhnya.
"Jika kau ingin tahu, aku ingin bicara lebih lanjut denganmu, tapi bukan di sini." Kata pria ini. Lalu dia pun mengangkat tangan kanannya, dan salah satu anak buahnya yang dari tadi berdiri di belakangnya, tiba-tiba saja berjalan menghampirinya, dan menyerahkan selembar sebuah kartu nama, yang sudah jelas adalah nama samaran. "Hubungi aku jika kau ingin tahu alasan aku menanyaimu, nanti asistenku akan mengatur waktu pertemuan kita berdua." Kata pria ini lagi. "Dan itu tip untukmu."
Dan anak buah dari pria misterius ini pun memberikan sejumlah uang kepada Gea sebagai tanda terima kasih karena sudah membantu untuk memanggilkan Deon kepadanya.
"Terima kasih Tuan." Senyum Gea dengan senyuman yang begitu cantik, karen akhirnya dia pun mendapatkan uang tanpa perlu banyak membuang begitu banyak waktu dengannya.
"Ayo pergi." Kata pria ini lagi kepada anak buahnya itu.
"Baik Tuan." Lalu kedua orang itu pun pergi dari sana meninggalkan Deon.
"Owl, kaya tidak ada nama samaran yang lebih bagus saja" Decih Deon, dia membolak balikan kartu nama itu dengan tatapan malasanya, dan di situ hanya tertera nama dari pria tadi, Owl dan juga sebuah nomor telepon yang bisa di hubungi.
__ADS_1
Tidak ada informasi apapun yang bisa Deon lihat selain nama dan nomor telepon saja.