Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
22 : PUM : Demam


__ADS_3

Piringnya sudah kosong, tapi satu piring lainnya masih utuh tidak tersentuh sama sekali karena merupakan bagiannya Franz untuk sarapan pagi.


'Kenapa Franz belum sarapan? Dia memang tidak menyukai masakanku, tapi jika Bibi yang masak, dia akan makan. Tapi kenapa dia...' Ovin mendongak ke atas. Dia menatap ke arah lantai dua yang di tempati oleh Franz.


Dan sekarang jam sudah menunjukkan waktu 06:15. Bagi mereka berdua, jam enam lebih itu sudah seperti siang hari, karena mereka lebih suka berangkat pagi.


Tapi tidak seperti biasanya, Franz yang akan berangkat lebih awal ketimbang Ovin, sekarang tidak ada tanda-tanda dari keberadaan anak itu.


Merasa aneh belum muncul juga, jadi Ovin pun memutuskan untuk menjenguk si empu dari pemilik rumah yang besar itu.


Undakan tangga, satu persatu langkah kakinya menginjak tangga untuk sampai ke lantai dua yang sangat jarang Ovin kunjungi.


Lantai dua itu sudah seperti wilayah kekuasaan Franz, walaupun Franz sendiri tidak memperingati untuk jangan ke lantai dua. Tapi setidaknya ia pernah diperingatkan untuk jangan masuk ke kamar pribadinya itu, ok....karena alasan itu maka dengan sopan dan dalam kondisi yang sangat baik hati, sesampainya di depan kamar Franz, dia pun mengetuk pintunya.


Tok......Tok.....Tok.....


Mengetuk pintu itu.


Tok.......Tok.......Tok......


"Frnaz, apa kamu ada di dalam? " panggil Ovin.


"................." Tapi tidak sesuai yang diharapkan oleh Ovin, dia hanya mendapatkan keheningan saja, seakan dia sedang bicara dengan pintu.


' Apa dia sedang mandi? Jadi tidak dengar?' batin Ovin merasa aneh karena tidak ada sahutan sama sekali.


KLEK.....


Sedikit penasaran, Ovin memutuskan untuk masuk kedalam kamar dan perlahan dia mengintip sebentar dengan memasukkan kepalanya lebih dulu.


Kamar yang gelap, tapi pandangannya masih bagus, buktinya karena pintunya sedikit terbuka dan cahaya lampu dari koridor pun masuk ke kamar karena celah yang diberikannya maka terlihat orang sedang tertidur.


'Apa dia masih tertidur? Alarm juga pasti sudah bunyi berkali-ka... ' Belum juga menuntaskan kalimat yang ada di dalam pikirannya, suara alarm pun berbunyi.


KRIIINGGG..........KRINGGG........


Meskipun Alram terus berdering, sayangnya tidak ada tanda-tanda pergerakan dari pemilik kamar.


'Dia tidur mati apa?' Detik hati Ovin. Dengan terpaksa dia masuk lebih dalam ke dalam kamar yang dihuni oleh suaminya? 'Rasanya masih canggung saja. Tapi dia sudah jadi suamiku?' Ovin pun tiba-tiba mengulum senyum simpul.


Dia benar-benar masih merasa aneh dengan status miliknya yang sebenarnya adalah Istri dari Tuan Muda Franz yang bayak di gandrungi oleh banyak perempuan di luar sana. Bukan hanya di luar saja, bahkan di sekolah pun, masih saja banyak yang menyukai Tuan muda sombong ini.


Namun dari sekian banyaknya perempuan yang tergila-gila pada pria ini, sayangnya tidak ada yang tahu kalau pria yang mereka dambakan sebenarnya sudah di ambil oleh Ovin terlebih dahulu.


Benar...


Sekarang Franz sudah menjadi miliknya seutuhnya.


Mau seberapa banyak penolakan yang keluar dari mulut itu, Ovin akan tetap membuat Franz menjadi miliknya.


" Ughh..... " tangannya Franz tiba-tiba saja keluar dari selimut lalu mencari-cari jam yang sangat memberisikkan itu.


TLAK...


Setelah mematikan Alarm dari jam beker, si empu kembali masuk ke dalam selimut.


'Dia kembali tidur!?' Matanya mengernyit, dengan tindakan Franz yang tidak seperti biasanya. " Hei, sudah setengah tujuh~ "Kata Ovin sambil menekan-nekan pipi Franz.


Sayangnya Franz benar-benar tidak menyahutnya sama sekali akan peringatannya dan colekan yang Ovin lakukan beberapa saat tadi.


Tapi ketika itu pula, saat Ovin enyentuh pipi Franz yang lembut itu, secara kebetulan dia meraskaan ujung jarinya yang sedikit panas.


'Demam? Tidak hujan-hujanan ternyata bisa demam. Lihat wajahnya, terlihat sangat menyedihkan jika sudah sakit.' Ovin pun menatap wajah Franz yang pucat pasi. Di hatinya sedikit geli hati lepas melihat wajahnya yang biasanya segar dan tampan tapi kini seperti orang gelandangan yang belum mandi selama berhari-hari karena rambutnya yang biasanya rapi, kini justru sedikit berantakan. 'Aku akan minta Izin saja lah. Lagipun.....selama ini aku belum pernah sekalipun bisa istirahat dengan benar.'


Karena Bibi sedang keluar, maka mau tidak mau Ovin yang awalnya sudah memakai seragamnya, terpaksa dia lepas.


Karena dia akan mengurus bayi besar dengan tangannya sendiri.

__ADS_1


********


Dari pagi menjadi siang, lalu siang menjadi sore dan mata hari pun terbenam menampilkan langit jingga yang akan berubah menjadi gelap tapi juga akan diwarnai dengan kelap-kelip bintang yang bertaburan di angkasa.


" Ughh......... " suara keluhan itu akhirnya muncul setelah beberapa jam ini kamar itu hanya ada dalam keheningan. 'Sebentar, kenapa tubuhku rasanya panas dan berat?' pikir Franz saat di wajahnya saat ini saja dia sudah berkeringat cukup banyak.


Sepasang matanya yang awalnya menutup, kini perlahan terbuka dam berusaha menyesuaikan cahaya lampu redup yang masuk ke retinanya.


Tubuhnya terasa berkeringat namun juga berat, dan ketika menyelidiki apa yang membuatnya terasa berat, sepasang manik matanya melihat tumpukan selimut di atas tubuhnya. Itu bukan sekedar dua atau tiga, melainkan lima!


'Ha? Siaap yang berani memberikanku setumpuk selimut ini? Apakah dia mau membuatku mati kepanasan?' Kutuk Franz. Tubuhnya benar-benar merasakan panas layaknya sedang di panggal di dalam oven.


Karena itulah, dia pun menyingkirkan selimut itu semua dari atas tubuhnya.


Sampai akhirnya dia tiba-tiba saja menyadari satu hal. Tepat saat kepalanya menoleh ke kanan, tepat di atas nakas, dia melihat ada termometer, obat, air minum, dan di dahinya ada..


'Plester penurun demam?. Apa aku baru saja demam?' Menyentuh dahinya yang masih tertempel sebuah plester untuk meurunkan orang yang sedang demam? 'Tunggu, kenapa aku pakai ini? Apakah aku demam? Tapi bagaimana bisa? Kenapa aku tidak merasa kalau aku demam?' Dan ketika dia melirik ke arah jam yang ada di ponsel, rupanya waktu sudah juga sudah menunjukkan pukul enam sore?! " Jam 6 sore!, berarti dari pagi aku tertidur dan bahkan bau masam ini berasal dariku?" Tekan Franz sambil mencoba mengendus-endus bau tubuhnya sendiri, yang ternyata keringatnya itu adalah asal dari tadi dia merasakan bau masam aneh itu.


Karena dirasa mengganggu, Franz pun turun dari tempat tidur dan berjalan masuk kedalam kamar mandi.


Ya..


Dia akan menghilangkan bau tak sedap itu dari tubuhnya dan di gantikan aroa wangi yang dapat memikat hati banyak orang, terutama wanita.


Lima belas menit kemudian.


" Hahh....segarnya." Rambutnya yang basah Franz keringkan dengan handuk kecil, dia keluar dengan bertelanjang dada dan hanya memakai handuk yang di balut menutupi ke sekitar pinggang hingga kebawah sampai atas lutut. "Ngomong-ngomong, apakah Bibi yang meraatku? Padahal aku pikir Bibi sedang pergi ke rumah Ibu." Gumam Franz sambil mengeringkan rambut miliknya dengan menggunakan handuk.


Sampai di saat Franz medapatkan sebuah keheningan lagi di dalam kamarnya itu, secarra tiba-tiba dia ternyata mendengar sebuah dengkuran halus dari dalam kamarnya?


'Apakah dikamarku ada orang lain selain aku?' Batin Franz.


" Fyuh......Fyuh.....Fyuhh.... "


Srakkk.....Srakkk.....Srakk....


Yang ternyata suara aneh itu berasal dari bawah? Franz mencoba mencari tahu itu apa, tapi yang ia ketahui sekarang dia ternyata melihat satu orang lain lagi sedang tetidur di kamarya! 'Sebenar-sebentar, kenapa dia tidur disitu? Masih memakai seragam seko- '


Selimut, obat,termometer, plester penurun demam, lalu dia, yaitu Ovin yang tertidur di atas karpet dengan seragam sekolah masih melekat di tubuhnya?!


'Jangan-jangan dia yang merawatku? Tapi kenapa? Bukankah dia tipe orang yang tidak suka absen dari sekolah? Kenapa dia disini untuk merawatku?' Benak hati Franz. Jadi terungkaplah dengan jelas siapa yang merawatnya ketika dia demam seharian itu, sampai Franz sendiri lupa alasan kenapa dirinya bisa demam hingga tidak ingat waktu.


DRRTT.......DRRTT.....


Tapi semua pikiran akan alasan kenapa ovin mau membolos sekolah dan memilih merawatnya, suara dering dari ponsel milik Ovin pun berhasil menyita semua perhatian Franz yang awalnya tertuju pada gadis itu, jadi ke arah ponsel yang tergeletak di atas kasurnya.


Karena tidak kunjung dijawab, maka..


TRING......TRING......TRING......


Suara notifikasi yang masuk dari ponsel Ovin menjadi pengganti akan panggilan tidak terjawab tadi.


Franz mengintip sebentar, pesan apa yang masuk ke handphone Ovin yang tergeletak di atas kasurnya. Ia duduk dan melihat secara seksama.


'Sms, chat, telfon, email, app komik, komentar dari salah satu app novel.....apa dia begitu sibuk karena ini?' terkadang di beberapa waktu, Franz tidak sengaja melihat Ovin tersenyum sendiri saat matanya terpejam, setelahnya mengambil handphone dan mengetik begitu lama dengan wajah terkadang serius lalu berubah tersenyum sorang-sorang, terus berubah lagi dengan senyuman membunuh sambil memaki handphonenya sendiri. 'Apa perempuan ini hanya bisa berekspresi ketika di depan handphone nya sendiri?'


DRRRTTTT.......DRRTTT.......


Ada seseorang menelfon ke hanphonenya Ovin lagi dan di layar tertera nama.


'P.Chade? ' Panggilan pretama dan kedua di biarkan, lalu handphone menyala lagi, dan orang yang menelfon adalah orang yang sama.


Spontan karena dirasa mengganggu, Franz pun menerima panggilan itu.


" Hallo,.... "


'Suara laki-laki?' Mata Franz langsung mengernyit saat satu suara yang dia dengar untuk pertama kalinya adalah seorang pria?

__ADS_1


" Vin, kamu bisa datang sekarang? Akan aku sms alamatnya, 1 jam harus sudah sampai. " Ucap pria di ujunng telepon itu.


Selepas sudah menyampaikan pesan yang pria itu ingin katakan kepada Ovin, panggilan itu langsung berakhir begitu saja, tanpa membuat Franz harus mengungkapkan suaranya kepada pria di balik telepon itu.


Tut....tut....tut...


TRING......


Tak perlu waktu lama, Franz mendapatkan notifikasi dari pesan singkat dari nomor yang tadi menelepon Ovin. Dan ketika di baca, Franz sedikit memicingkan matanya lagi, karena dia tahu alamat yang di kirimkan oleh pria itu kepada Ovin.


'Ini kan alamat Bar Sparkle' Bar Sparkel adalah salah satu bar yang biasanya Franz kunjungi di hari-hari tertentu. Tapi yang jadi pemicu rasa penasaran di dalam diri Franz adalah, 'Apa hubungan Ovin dengan orang ini? Dia juga memintanya untuk menemuinya di bar itu.'


Tepat setelah berpikir seperti itu, Franz langsung memejamkan matanya.


'Tidak. Kenapa aku jadi penasaran dengan apa yang akan dia lakukan di bar itu dengan pria yang akan ditemuinya?' Pikir Franz. Dia pun segera membuang jauh-jauh rasa penasaran itu dari lubuh hatinya.


Sampai suara dari pertanyaan Ovin segera menyadarkan Franz.


" Ehmmm....... Sudah cukup melihatnya? " Tanya Ovin, dengan mata sayu, sebab dia masih dlam kondisi separuh sadar.


Franz menjeling kearah perempuan itu dan membatin, 'Sejak kapan dia bangun?' Franz segera menyodorkan ponsel ynag ada di tangannya itu kepada si pemilik. " Ini, tadi ada yang menelfonmu." Beritahu Franz, seolah tidak ada apapun yang terjadi. Namun melihat Ovin langsung berdiri dan merapikan seragamnya, lantas Franz pun bertanya, "Apa kamu mau pergi? "


"Iya" Setelah pakaiannya terasa sudah rapi, Ovin pun merapikan rambutnya. Tapi di saat yang sama pula, dia mencium aroma yang menyita perhatian matanya, 'Dia habis mandi ya? Aroma tubuhnya menusuk ke hidungku.' Pikri Ovin dan langsung sambil menepuk kedua pipinya sendiri untuk menyadarkan kepala serta matanya agar dia tidak terbuai dengan pesona yang sedang Franz perlihatkan kepadanya seorang saja.


Ya..itu memang menggoda. Lihat saja, ketika matanya sekarang ini justru disuguhkan body tubuh Franz yang diam-diam punya roti sobek. Padahal jika menggunakan seragam ataupun pakaian, Franz terlihat seperti laki-laki jangkung saja. Tapi kenyataan yang ada di depan matanya itu tidak bisa di ganggu gugat dengan persepsi yang lain.


"Kenapa melihatku seperti itu?" Tekan Franz, dengan anda yang sedikit rendah.


'Apa dia berencana menggoda orang lain dengan penampilannya seperti itu? Aku tidak ak-' Tapi belum sampai 3 langkah Ovin pakai untuk membuatnya pergi dari sana, langkah ke tiganya itu justru membuatnya terpleset karena menginjak buku yang sempat di bacanya.


BRUAKK......


Bukunya bergeser pindah ke belakang, dan Ovin lah yang maju ke depan menubruk Franz yang ada didepannya.


Alhasil Ovin berada di atas Franz. Dan sekarang suasana aneh di dalam kamar dengan lampu yang redup itu akhirnya menampilkan dua orang yang sedang saling tumpang tindih di atas kasur. Dimana salah satu kaki mereka saling berada di tengah ************ lawannya.


'Ini sangat dekat.' Benak hatinya megacu pada


perasaan dan aroma sabun yang masih menempel dari tubuh laki-laki yang baru saja mandi itu, benar-benar langsung menyapa indera penciumannya.


Sampai di saat yang sama pula, Franz sendiri juga merasakan aroma manis dari rambut perempuan ini. 'Aneh, kenapa aroma rambutnya terasa lembut di hidungku? Padahal sangat jelas dia hanya memakai produk yang biasa-biasa saja. Tapi sayangnya.....kenapa aku merasa aromanya sungguh wangi sih? Sebenarnya apa yang sedang terjadi deganku?'


" Aku tidak sengaja! Maaf." Ucap Ovin lebih dulu. Karena semua tragedi yang membuat suasana di antara mereka berdua jadi aneh, adalah Ovin sendiri.


"Terserah, pasti banyak alasannya." Jawab Franz singkat. " Cepat menyingkir " perintah Franz dengan cepat, agar aroma yang sedang Franz rasakan itu tidak membuat kepalanya jadi gila, gara-gara Ovin ada di atasnya.


"Tapi lenganmu menindih ujung rambutku." Beritahu Ovin pada rambut panjang miliknya itu, sduah tertindih oleh lengannya Franz.


Sadar dengan kenyataan itu, Franz segara mengangkat lengan kirinya, sedangkan Ovin buru-buru menopang tubuhnya dengan kedua tangan. Hanya saja tapi di saat yang bersamaan, kaki Ovin yang bergerak itu, sesaat pahanya menggesek adik kecil Franz dan....


'Oh...tidak, aku akan....' Dengan kasar Franz turun tangan sendiri dengan mencengkram kedua bahu perempuan ini dan menyingkirkannya ke samping. "Cepat keluar " Seru Franz, karena jika tidak menyingkirkannya tadi pasti dirinya yang itu akan keluar dan harus mandi lagi.


" Ya..ya....maaf untuk yang tadi." Tidak peduli dengan perlakuan Franz yang sedikit kasar tadi, dia segera mengambil handphone lalu berlalu pergi keluar dari kamar Franz dengan segera.


Setelah melihat Ovin benar-benar sudah keluar dari kamarnya, Franz pun segera bangun dari tempat tidurnya dan menilik apa yang terjadi di dalam handuk yang sedari tadi melingkar di pinggangnya.


"............!" Matanya membulat sempurna. Dia tidak menyangka kalau menaranya sudah mulai menegang. 'Padahal hanya tersenggol lutunya saja, kenapa bisa sampai seperti ini?' Franz pun memejamkan matanya.


Dia merasa tidak mengerti apa yang sedang terjadi padanya hari ini. Karena saat ini adiknya yang biasa tertidur lelap itu, tiba-tiba bangun begitu saja karena tersenggol oleh lututnya Ovin.


Yang sebenarnya saat Franz ingat-ingat dengan serius, entah kenapa tercetus kalai rok pendek dari seragam yang masih Ovin pakai tadi, ternyata benar-benar menampilkan pahanya yang cukup membuat hati sebagai prianya, tiba-tiba terbesit ingin menyingkap itu rok.


Terpegun dengan imajinasi liarnya tadi, Franz langsung memegang kepalanya dengan kedua tangannya, hingga handuk yang menutupi kakinya itu kini sudah terjatuh di lantai, lalu dia pun meracau dalam diamnya. 'Hah?! Apa yang barusan aku bayangkan sih! Aku gila! Kenapa aku jadi kepikiran dengan rasa penasaran di balik pahanya?! Kenapa aku jadi puya pikiran itu?!'


Merasa adik kecilnya sudah panas, Franz langsung menyambar handuk yang ada di lantai dengan kasar, dan dia pun bergegas masuk kedalam kamar mandi.


BRAKK.

__ADS_1


__ADS_2