Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
57 : PUM : Klarifikasi


__ADS_3

'Jika mereka ribut lagi, masalahnya akan semakin runyam, apalagi jika ibuku tahu kalau dia ditindas murid lain.' tidak mau ambil pusing lagi, Franz terpaksa membantu permasalahan yang menimpa istrinya itu.


Dia pun memutuskan pergi untuk mencari bantuan.


" Franz, kamu mau kemana? " tanya Bella, dirinya berpura-pura khawatir akan Franz yang dibuat menjadi masalah gara-gara Ovin.


" Aku hanya ingin pergi beli minum." sahutnya, setelah itu, Franz pergi meninggalkan Bella.


KESMPATAN.


Bella juga sebenarnya ingin pergi untuk mengurus beberapa hal, karena itu selagi Franz pergi, maka dirinya juga akan pergi.


'Apa dia akan terpancing dengan jebakanku?' pikir Bella, dia juga memliki niat lain yang ini dia kerjakan saat ini juga.


Dan dikarenakan Franz pergi, maka dirinya pun pergi juga.


Sampai akhirnya Franz dan Bella berjalan ke arah berlawanan dan menuju ke tempat yang mereka tuju.


'Aku harus menghubungi Dve.' detik pikiran Franz saat dirinya sudah memisahkan diri dengan Bella. Setelah di rasa aman, alias tidak ada orang di sekitarnya, Franz pun pengeluarkan ponsel lalu menekan nomor yang hendak di hubungi itu.


TUTT....


-"Tidak biasanya menghubungiku seperti ini."- Cetus Dve orang yang ada di ujung telepon, yang berhasil Franz hubungi itu.


" Aku ada pekerjaan untukmu, hapus berita palsu yang menyangkut Ovin dan aku. Selidiki asal ip nya, aku mau tahu siapa orang yang berani menyangkut pautkan namaku di berita itu. " Perintah Franz kepada Dve itu.


-"Ovin? Siapa itu?"-


'Oh ya...aku lupa memberitahu siapa perempuan itu' Pikir Franz kala itu. Akan tetapi demi tetap merahasiakan rahasia besarnya itu dari Dve, dia pun berbohong. "Dia sepupu jauhku, lakukan saja pekerjaanmu itu, paham."


Takut ada banyak mata atau telinga yang sedang mendengar, Franz segera memutuskan panggilan itu secara sepihak.


Tut......tut......tut.......


Setelah menghubungi temannya yang bisa melakukan pekerjaan untuk menghapus segala berita yang merugikan dirinya itu, Franz pun harus mengurus satu hal lagi yang saat ini menjadi bahan bulan-bulanan semua perempuan di sekolah.


Ada hal lain lagi yang harus diurus selain berita palsu tadi, yaitu korban utamanya. Siapa lagi kalau bukan Ovin, yang menjadi target bully mereka lagi, dan lagi.


Kenapa dirinya mau turun tangan tapi ia lakukan secara diam-diam alasannya adalah karena tidak ingin rahasia mereka berdua terbongkar. Walau sekalipun jika ada yang bertanya maka.....


" Bagaimana dia bisa tahu kediaman tuan muda? Padahal dia anak baru? " Satu pertanyaan pun muncul juga di pikiran mereka.

__ADS_1


" Jangan bodoh, semua wanita disini menyukai Tuan muda, bisa saja dia sudah tahap gila hingga menguntit dan berdiri di gerbang villa milik tuan muda " Cetus perempuan lainnya.


Sampai satu suara itu tiba-tiba datang menyela pembicaraan dari mereka berdua.


" Eh.., bagaimana jika aku bilang dia sepupu jauh ku? " sela Franz di antara perdebatan beberapa orang yang tidak sengaja dilihatnya. " Jangan mempercayai dengan apa yang kalian lihat. " Imbuhnya.


ke enam orang yang sedang berkumpul itu pun tiba-tiba menoleh ke belakang secara serentak. Lalu apa yang mereka semua dapatkan adalah keberadaan dari Tuan muda yang sedang mereka semua bicarakan itu.


" Tu..tuan muda " All.


Mereka semua langsung terkejut dengan keberadaan Franz yang tiba-tiba saja ada di dalam perkumpulan mereka semua.


"K-kenapa T-tuan muda ada di sini?"


"Apakah...yang tadi Tuan katakan itu..benar?"


Satu persatu wajah dari reaksi gugup mereka pun menjadi pemandangan pas untuk Franz tonton.


Mereka semua memang suka jika membicarakan orang dari belakang, apalagi jika itu sudah menyangkut anak murid baru yang sudah terkenal kepenjuru sekolah. Tapi di saat Franz datang dan berdiri di antara mereka, nyali mereka semua langsung ciut.


"Apakah kalian tidak pernah menggunakan otak kalian? Jika tidak menanyakan kebenarannya pada orangnya secara langsung dan justru hanya langsung membuat spekulasi , kalian sama saja memfitnah dia dan secara tidak langsung menghinaku juga." Imbuh Franz. "Apakah kalian benar-benar paham dengan apa yang aku ucapkan ini?" Lirik Franz, seraya melihat satu per satu wajah mereka berenam.


" Ja..jadi, dia juga termasuk ikut keluarga besar tuan muda dong." bisik salah satu orang di antara mereka berenam.


" Bagaimana ini? Aku pernah menjahilinya. Apakah aku akan dihukum? "


" Aku tidak tahu, minta maaf saja sama tuan muda. Mungkin dia bisa memaafkan kita. " jawab beberapa orang lainnya.


" Asal kalian tidak menindasnya lagi dan bersikap biasa, aku akan mengampuni kalian. Tapi jika sebaliknya, kalian akan tahu konsekuensinya. Jadi sekalian saja, bantu aku mengklarifikasi gosip yang sudah tersebar itu, kalian mengerti kan? " tatap Franz sambil mengernyitkan matanya ke pada sekelompok perempuan itu.


" Ka...kami paham, terima kasih tuan muda." menunduk hormat dan berlalu pergi agar tidak di ceramahi lagi.


".............." Mendengar ucapannya benar-benar di dengarkan oleh mereka semua, Franz pun mengambil langkah pergi meninggalkan mereka semua. 'Aku harap bisa cepat berakhir.' detik hati Franz, sudah merasa lelah jika sudah menyangkut dengan keberadaan istrinya yang selalu saja membuat masalah.


Terlepas dari penjelasan tadi, Franz mengharapkan agar berita gosipnya juga bisa cepat menghilang sebelum sampai ke telinga ibunya.


Karena jika hal itu tidak terjadi secepatnya, yang ada Franz akan menjadi orang yang akan terkena imbas paling besar.


Tentu saja, karena ibunya itu lebih menyukai Ovin ketimbang Franz sendiri, itulah yang dia pikirkan jika melihat sang ibu yang selalu saja membela apa yang dilakukan maupun tidak di lakukan oleh Ovin itu.


Intinya jika berita kali ini menyebar, Franz sendiri tidak tahu lagi apa yang akan terjadi kepada dirinya.

__ADS_1


Jalan dan terus berjalan sampai akhirnya dia pun merasakan tenggorokannya yang kering dan merasakan haus, sampai kebetulan di ujung koridor ada mesin yang menjual minuman kaleng, hanya dengan memasukkan selembar uang maka ia bisa memilih minuman yang sudah tersedia di balik kaca tersebut.


KLIK.....


Tegukan demi tegukan itu akhirnya bisa membuat tenggorokannya kembali basah.


Selagi Franz minum, dia pun mengutarakan pikirannya lagi yang tiba-tiba muncul. 'Kenapa dia mau saja menuruti ibu pindah kesini, walaupun tinggal menunggu kelulusan tapi-' sudut matanya melirik ke satu orang yang berada di bawah.


Yah....dari balik jendela lantai 2 Franz, dia pun melihat seseorang sedang berlari dan berhenti tepat di sisi tembok kelas. Ia sengaja sedikit membuka jendela dan mengeluarkan kepalanya lalu menatap ke bawah untuk mengetahui siapa orang yang tadi di lihatnya.


" Hoshh......hosh.....hosh..... " Perempuan yang tidak lain adalah istrinya itu ternyata adalah orang yang baru saja berlari.


'Dia seperti baru dikejar-kejar setan.' umpat Franz, ketika melihat istrinya itu benar-benar bekerja keras demi pergi dari sekumpulan perempuan yang memiliki banyak kemungkinan untuk mengeroyoknya.


" Uh......uhuk...uhuk.....hahh...hah..." Saking lelahnya, Ovin jadi terbatuk karena tenggorokannya sudah cukup kering. 'Siapa yang ambil handphone ku?' Pikir Ovin.


Ovin pun sedikit menarik lengan baju kirinya keatas, dan memperlihatkan gelang pintar miliknya yang lain, lalu sedikit menggoyangkan lengannya secara cepat ke kiri dan kanan untuk beberapa detik, barulah ada cahaya muncul dan membentuk layar proyektor di atas kulit tangan.


Proyektor itu muncul dengan bentuk persegi panjang layaknya layar ponsel.


Jari telunjuk dari tangan kanannya menyentuh layar proyektor itu dan memunculkan sebuah peta dari GPS, ada tanda merah yang menunjukkan lokasi atau tempat dari ponsel miliknya.


'Dia ternyata punya jam itu?' Alis Franz langsung bertautan satu sama lain. 'Dari mana dia mendapatkan gelang itu? Itu bukan gelang biasa, apa Ibu lagi-lagi memberikan barang mewah kepada anak itu?' Perasaan iri pun jadi muncul di dalam benak hatinya itu.


masih memantau Ovin dari lantai dua, dan itu kebetulan tepat berada di bawahnya.


" Karena bukan orang yang sekaya dia, terpaksa mencarinya " gerutu Ovin dengan wajah lelahnya dan malas.


'Siapa orang yang kau maksud itu?' kata franz di dalam hatinya.


TRING......


Sampai suara notifikasi dari handphone Franz membuat dia memasukkan kepalanya kembali dan menutup balik jendelanya di saat bersamaan Ovin menengadah ke atas sebab mendengar suara notif Hp seseorang, tapi sayangnya sudah keburu pergi.


" Dia sudah menyelesaikan pekerjaannya? " tutur Franz sambil menaikkan sebelah alisnya, kemudian Franz berkata lagi, " Sekarang hanya tinggal tunggu gosip itu " yang dimaksudnya adalah hasil klarifikasi yang sudah Franz buat untuk menekan gosip dari berita palsu sebelumnya.


'Siapa tadi? Aku sepertinya baru merasakan ada orang yang ada di atasku. Tapi siapa? Semoga saja bukan sekumpulan lalat itu, aku benar-benar malas melayani lalat-lalat itu, taunya hanya berkelompok dan menindas orang lain'. Setelah berpikir demikian, Ovin kembali berlari pergi untuk mencari sesuatu yang hilang itu, yaitu handphone miliknya. 'Ahh! Sial, aku ceroboh, harusnya aku tadi tidak meletakkan handphoneku di laci meja. Handphone aku memang punya fitur keamanan yang tinggi, tapi mau bagaimanapun aku sedang sangat malas untuk pergi mencarinya.'


Akan tetapi demi tujuan yaitu handphone miliknya yang hilang, mau tidak mau, dia harus pergi mencarinya.


Akan tetapi karena kebetulan handphone miliknya itu sudah terpasang GPS, dan tersambung dengan gelang yang Ovin pakai itu, maka dia pun dengan cepat bisa mencari lokasinya.

__ADS_1


__ADS_2