
Franz sebenarnya sudah merasa lelah. Hanya saja dia bukan lelah karena fisiknya, melainkan hati dan pikirannya.
Kenapa?
Karena yang dia hadapi sekarang wanita ini.
Meskipun sedang dalam keadaan duduk diam, tetapi tidak dengan setiap ikat tali yang melilit tubuh Ovin yang terlihat begitu menggodanya.
“ Franz~”
“...!“ Seketika Franz mematung sesaat setelah dirinya namanya dipanggil dengan nada yang begitu lembut.
“Kau masih disini kan?“ Tanya Ovin.
“A-apa lagi? Bukannya aku menyuruhmu untuk diam? Menurut saja kenapa?“ Franz langsung kembali ke akal sehatnya lagi.
Dia tidak mau terbuai dengan apa yang Ovin katakan dengan apa dan cara apa.
“Tapi a-aku,“
“Kenapa?. Franz masih sibuk melepas salah satu ikatan tali di bagian belakang kursinya Ovin.
“Bisakah kau lebih cepat lagi?“ Pinta Ovin, Kini dengan ekspresi wajah cemasnya.
“Jika hanya menggunakan ini saja, aku tidak bisa menuruti kemauanmu. Jangan salahkan aku jika lepasnya terlalu lama,“ Celetuk Franz, karena sekarang yang bisa dia lakukan untuk melepas ikatan yang mengikat tubuh Ovin, hanya dengan bermodalkan gunting kuku.
“T-tapi aku sudah tidak tahan lagi,“ Ucap Ovin lagi, dia sedang menuntut Franz agar cepat menyelesaikan pekerjaannya.
“Memangnya apa yang membuatmu ingin aku cepat-cepat melepaskan tali ini?" Franz benar-benar sudah tidak sabaran juga, karena dari tadi Ovin terus menuntut untuk cepat dan cepat.
“Aku harus ke toilet!“ Akhirnya Ovin mengatakannya dengan lantang, membuat Franz langsung memberhentikan tugasnya.
“Keluarkan saja disini," cetus Franz, dia membalas apa yang sudah Ovin ucapkan sebelum ini kepadanya.
“Masa begitu, nggak mau, dan nggak mungkin juga aku pipis disini!“ Pekik Ovin kepada Franz yang kebetulan sedang berdiri di sampingnya.
“Aghh…! Kau mau membuatku tuli?!“ Franz langsung menjauhkan dirinya saat telinganya baru saja diteriaki oleh wanita ini.
“Makannya cepat! Aku sudah nggak tahan lag!“ Ovin semakin menuntut Franz agar bergerak cepat.
“Kalau begitu lepaskan diri saja sendiri!“ Franz malas melakukannya lagi karena selain Ovin sudah berteriak kepadanya, Ovin juga sudah memerintahnya.
Seketika ucapan dari Franz membuat Ovin terdiam. Dia tidak lagi bicara, dan tidak akan bicara memerintahnya lagi.
Sekaligus tidak akan mengganggunya lagi, karena dari sekarang Ovin sadar kalau semuanya harus dilakukan serba sendiri.
Dan semua itu berasal dari ucapan Franz barusan.
“Baiklah...aku akan melakukannya sendiri!“ Kata Ovin, dan beberapa saat tubuhnya tiba-tiba menggelinjang. “Jerry bantu aku melepaskan tali ini, aku mau pipi-mpphh!
“Kau!“ Franz terkejut setengah mati saat pertama kalinya melihat Ovin berteriak dengan cukup lantang seperti itu. “Kenapa kau memanggil namanya?. “ Tanya Franz dengan penuh penekanan.
Ovin seketika membalas perbuatan Franz yang sedang membekap mulutnya dengan cara mengeluarkan lidahnya, dan menjilati telapak tangan Franz sekali lagi.
".…!“ gara-gara itu juga, Franz langsung menarik tangannya lagi, karena baru saja merasakan sensasi geli yang menggelitik tangannya lagi.
“Lah... Itu karena kau! Kau tahu artinya ingin pergi ke toilet kan?!“ Ovin yang mana ikatan di bagian tubuhnya mulai kendur langsung memberontak dengan sekuat tenaga.
PROK..PROK...PROK…
Lalu suara tepuk tangan yang datang itu, langsung membuat sebuah keheningan diantara mereka berdua.
“Walah-walah ide milikku ternyata hanya membuat kalian berdua berakhir dengan pertengkaran lagi ya?“ Pria bernama Aeon ini tiba-tiba sudah muncul di belakang persis mereka berdua. “Lalu Jerry yang kau teriakan tadi, orangnya sudah pergi dulu.“
"Apa?! J-jerry, anda menyuruh dia untuk melakukan apa?"
"Itu sudah bukan jadi urusanmu lagi," jawab Eon seraya mendelik ke arah Franz.
"T-tapi bisa lepaskan ini dulu? Aku sudah kebelet, aku nggak tahan lagi," sejujur Ovin bisa saja melepaskan ikatan tali di tubuhnya.
__ADS_1
Namun karena dia punya urusan untuk menahan kencingnya, dia pun jadi tidak punya kekuatan untuk mengurus ikatan talinya.
"Melihatmu seperti itu, kau membuat aku nggak enak saja ya? Nih," menjawab ucapannya Ovin, Eon pun melemparkan pisau lipat kepada Franz.
"Ahhh~ Cepat- aku nggak tahan lagi, ihh! Franz! Kenapa malah bengong?!" pekik Ovin, merasa kesal dengan reaksi Franz.
"Tapi berkatmu yang sudah teriak-teriak seperti itu, kelihatannya talinya sudah kendur semua tuh-" bahkan Franz sendiri tidak mau percaya, karena kekuatannya Ovin untuk melepaskan diri dari ikatan tali itu juga.
"Eh? Sudah toh," terjebak dalam emosinya sendiri yang antara malu dan kesal sendiri, Ovin pun langsung melepaskan tali itu dari tubuhnya.
Namun, belum sampai Ovin bisa beranjak dari tempat duduknya, tiba-tiba saja sesuatu yang merembes membasahi celananya.
"V-vin, k-kau ngompol tuh,"
"Kyaaa! Jangan lihat aku!" panik sendiri, Ovin yang sudah berhasil memalukan dirinya sendiri di depan dua orang itu, langsung teriak sambil berlari kencang.
"Vin, kau pergi kemana? Kamar mandinya bukan ke arah situ! Tapi di arah sebaliknya!" teriak Eon.
Dengan wajah malu, Ovin langsung mengubah arah tujuannya, sehingga dia pun berlari melewati dua orang itu sekali lagi.
____________
BYURR..
Suara deburan ombak itu menyahut Franz yang tadinya memejamkan matanya, akhirnya terbangun.
Langit berwarna biru gelap, membuat Franz sudah punya tebakan sendiri kalau dirinya ada di tempat lain.
'Tunggu, kenapa aku bisa melihat langit cerah seperti ini?' pikir Franz. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya.
BYURR...
Dan aroma asin pun tercium dengan jelas, membuktikan kalau dirinya sudah bukan lagi berada di dalam gudang yang gelap itu.
"Wah, pangeranku sudah bangun nih,"
'Pangeran?!' tercekat dengan suara manja milik seseorang yang sangat Franz kenal, sudut matanya pun akhirnya melihat wajah bahagia dari perempuan yang sudah jadi Istrinya itu. "Kenapa kau tersenyum bodoh seperti itu?"
Lihat bunga yang ada di sekitarmu ini, di tempatkan di dalam peti yang indah ini, siapapun itu juga akan menganggap kalau kau adalah pangeran yang tidur ribuan tahun.
Ah, tapi jika di lihat-lihat lagi, kau jadi seperti vampir ya?"
Sembari menjelaskan, Ovin pun meraih beberapa helai rambut milik Franz, dan menikmati halusnya rambut miliki pria yang sudah dia anggap sebagai suami itu.
"P-peti?!" terkejut, dia langsung bangun, dan benar saja, dirinya rupanya di tempatkan di dalam peti yang cukup mewah. "Sebentar, kenapa aku di tempatkan di dalam peti? Kita di mana?"
Suasana pantai yang terasa asing, sangat mengganggu pikirannya. Terlebih hari sudah mau menjelang malam, Franz pun jadi semakin panik.
Niatnya adalah membawa Ovin pulang, itu saja, tapi dia tidak pernah berpikir kalau dia akan di bawa pergi ke tempat asing, tanpa mengetahui dirinya sekarang ini berada di mana.
"Pulau,"
"Iya, maksudku itu pulau apa?!" Franz mulai kesal lagi, karena dia tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. "Siapa yang melakukan ini kepada kita? Aku itu seharusnya membawamu pulang, bukan bepergian ke tempat yang tidak di kenal seperti ini!"
"Entahlah, aku juga nggak tahu karena aku nggak begitu ingat, bagaimana jika kau tidur lagi, biar aku melihat wajahmu lagi saat jadi pangeran tidur lagi,"
"Ovin, aku serius, jangan membuat ak-" menyadari kalau cara bicaranya menggunakan nada yang tinggi, Franz pun seketika menghentikan ucapannya.
"Aku kan sudah bilang, aku sendiri juga ngga tahu, kenapa kau seperti ini terus?" rungut Ovin.
Karena dia kecewa, Ovin pun beranjak dari sana.
"T--tunggu, jangan pergi dulu, maafkan aku, aku tidak akan bicara kasar lagi,"
"Nggak, kau bahkan masih belum mengontrol emosimu sendiri, diam saja di situ, aku mau pergi," setelah itu, Ovin pun pergi dengan membawa peti mati miliknya sendiri.
"Vin, sebentar dulu, dengarkan aku,"
Namun karena Ovin yang sudah kesal duluan kepadanya, Franz pun tidak bisa menggapai tangan perempuan itu, dan akhirnya malah pergi meninggalkannya.
__ADS_1
“Dia tenaganya kuat sekalim“ Franz berbicara sendiri saat melihat Ovin sudah menyeret peti mati, yang sebenarnya tidak usah begitu di pedulikan. 'Ngomong-ngomong dia masih sangat sensitif, hah, seharusnya aku ini bisa mengontrol ucapanku, jadinya begini kan?!'
Menyesal, Franz jadi mengacak rambutnya sendiri.
'Aku harus berhati-hati, ya. Jangan sampai aku kecilongan dia kabur dari aku lagi.
Jika bukan karena syarat dari hak waris itu, aku juga tidak akan sampai seperti ini.' gerutu Franz dalam benaknya.
Jujur, awalnya dirinya memang tidak begitu tertarik dengan Ovin. Tapi begitu mereka berdua terus menghadapi semua kekacauan yang ada, sambil menyembunyikan rahasia besar mereka berdua, perlahan Franz ada ketertarikan sendiri yang tidak bisa dia ungkapkan dengan terang-terangan.
'Tapi sebenarnya aku penasaran, alasan kenapa dia mempunyai nilai ulangan separuh, tapi nilai ujian bisa sempurna semua. Kenapa dia melakukan itu?. “ Gumam Franz.
Sampai ketika Franz sedang fokus dalam pikirannya sendiri, tiba-tiba Ovin berteriak.
“ Kyaaa!“
Mendengar suara teriakan dari Ovin, Franz segera bangun dari peti matinya, dan berlari menuju sebuah pondok.
“Kenapa kau berteriak?! Apa ada yang mengganggumu?“ semua itu keluar tanpa sadar dari mulutnya sendiri.
Bahkan Ovin yang mendengar Franz bertanya dengan wajah khawatirnya, jadi diam membisu dalam sejenak.
“ Eh….maaf, aku tidak sengaja terkejut karena tiba-tiba ada ular lewat. “ Jawab Ovin.
'Dia bilang terkejut, kenapa reaksi wajahnya terlihat tenang seperti itu? Apa tadi hanyalah kebohongan untuk memancingku datang kesini?' Franz lagi-lagi kembali berpikir negatif pada Ovin.
“Kenapa peti mati milikmu tidak dibawa?“
“Apa itu pertanyaan yang harus aku jawab di situasi seperti ini?“ ketus Franz, dirinya jadi merasa di permainkan oleh Ovin. 'Tadi marah, takut, dan sekarang bertanya soal peti mati, seolah itu bukan apa-apa.'
“Tidak juga sih.“ Celetuk Ovin.
Dia terus menyeret kotak dari peti matinya sendiri untuk di bawa masuk ke dalam rumah pondok.
Setelah mencari-cari saklar lampu, dia akhirnya menemukannya.
Di dalam rumah pondok yang tidak seberapa besar itu hanya memiliki satu tempat tidur, satu kamar mandi, dapur, dan meja makan saja.
Tidak ada kursi seperti sofa, tapi anehnya ada kulkas di dalam sana.
Ovin membawa masuk peti matinya sendiri ke dalam rumah pondok. Dia meletakkannya di pojokan dinding kayu.
“Aku punya pertanyaan untukmu,“
“Pertanyaan apa?“ tanpa mengalihkan pandangannya dari ruangan yang tampak sangat kosong.
“Kenapa kau melakukan itu?“ Franz berjalan masuk mengekori istrinya itu.
Pertanyaan yang dilontarkan oleh Franz sukses menarik perhatian Ovin untuk menoleh ke belakang, dimana Franz kini duduk di atas kasur sambil bersilang tangan di depan dada.
“Memangnya aku melakukan apa?“ tanyanya, karena dia sendiri juga tidak begitu paham maksud dari pertanyaannya Franz tadi.
“Apa kau benar-benar tidak tahu apa yang sudah kau lakukan di sekolah selama ini?“ Franz semakin gemas karena perempuan di depannya itu terlihat seperti orang yang tidak tahu apa-apa, padahal sudah melakukan hal yang membuat banyak orang tercengang.
“...” Ovin memilih diam, karena tidak tahu maksud dari pertanyaan yang ditanyakan oleh Franz ini.
“Nilaimu. Apa kau sengaja memanipulasi nilaimu sendiri? Aku sudah mengetahuinya, semua nilai ulangan dan pelajaran yang kau ikuti selalu mendapatkan nilai separuh.
Tapi... Saat di ujian, kau mendapatkan nilai sempurna, sampai kau mendapatkan peringkat pertama di atasku. Apakah kau sengaja melakukannya?“
Ovin awalnya terdiam.
Dia awalnya ingin mengatakan hal yang sebenarnya, tapi dia hanya mengatupkan mulut nya saja dan menjawabnya dengan singkat. “Kenapa penasaran dengan itu?“
DEG…
Seketika Franz masuk ke dalam akal sehatnya lagi.
__ADS_1
'Benar juga. Kenapa aku jadi penasaran soal alasan kenapa dia melakukannya? Apa yang terjadi denganku? Kenapa juga aku repot-repot penasaran soal dia?' Franz langsung diam setelah mendengar jawaban dan pikirannya sendiri yang berusaha menolak untuk menemukan jawaban dari rasa penasarannya sendiri.