Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
19 : PUM : Kelelahan


__ADS_3

Tepatnya di supermarket, sebelum pulang Ovin menyempatkan dirinya untuk membeli kebutuhannya.


Troli nya ia isi dengan sayuran serba hijau, udang, ikan tuna, wortel, tomat, buah, untuk membuat salad buah.


'Ehhmmm....salad buah.' satu mangkuk penuh juga masih kurang tentunya.


Teh, air karena ingin minum sebab tekaknya sudah kering. Setelah mengunjungi tempat bahan dapur, ia pergi ke tempat dimana disitu ada banyak alat tulis dan termasuk CAT!.


'Cat yang itu dimana ya?' Ovin masih mencarinya dan harus dapat karena sudah tertarik dari dulu.


1 jam kemudian.


Ovin sampai di rumah pukul 5 lebih 15 menit, barang belanjaannya terbilang cukup banyak dan dua tangan saja tidak akan membantu, maka dari itu ia selalu meletakkan gerobak mainan di pinggir tembok.


Dia ambil lalu meletakkan kesemua barangnya dan dengan mudahnya ia tarik sekalipun itu sedikit berat.


GREDEK....


GREDEK.....


GREDEK.....


Sesampainya di depan, ia hanya sedikit mengangkat gerobak itu ke atas lantai, barulah ia tarik lagi.


'Belanjaannya banyak juga.' Tatap Franz yang barus saja turun dari lantai dua.


Belum sampai di dapur, Ovin malah berlari dan membaringkan tubuhnya ke sofa lalu lengan tangan kirinya digunakan untuk menutup matanya padahal seragam sekolah masih dipakai.


1 jam kemudian,


lalu dalam keadaan tengkurap namun masih mengkekalkan dirinya terbaring di sofa, Franz sedikit mencolek-colek punggung Ovin dengan jari telunjuk.


" Kamu kenapa? Sudah jam 6 lebih. Bangun dari sofaku. " tutur Franz antara kesal karena mengganggu pemandangan, juga khawatir?


" Tidak, aku tidak mau berjalan, atau nanti malah merepotkanmu."


'Siapapun yang mendengarnya mungkin bisa jadi salah paham.' Batin Franz, lalu secara tak sengaja dia melirik ke arah rok sekolah yang dipakai oleh Ovin. " Tapi kenapa dengan rok mu? " tanya Franz.


'Ada apa dengan rok ku?' Ovin meraba, dan merasakan sesuatu yang sudah mengering disitu.


" Apa saudaramu baru datang? " tanya Franz lagi.


Pertanyaan yang ambigu tapi..


Seketika Ovin tahu apa yang terjadi dengan roknya, lalu dia cepat-cepat berdiri tapi.....dirinya lupa kalau kepalanya dari tadi memang sedang seperti berputar-putar.


'Sial, aku tadi terbawa suasana.' keluh Ovin dan pandangannya menggelap.


Franz yang ada tepat di depan sofa langsung menerima tubuh Ovin yang terhuyung ke depan dan menangkapnya sebelum membentur sudut sofa.


BRUK.


'Apa yang terjadi dengannya?!' Matanya membulat lebar, sesaat pandangannya hanya lurus ke depan kemudian perlahan barulah ia memandang sosok yang sedang ia peluk dengan terpaksa. "Vin..bangun!" panggilnya.


Tidak bangun juga walau Franz sudah menggoyang-goyangkan tubuh Ovin dengan nada kesal Franz berdecih, " Merepotkan. "

__ADS_1


Kemudian Franz mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan menelfon seseorang untuk datang.


' Tidak, aku tidak mau berjalan, atau nanti malah merepotkanmu. '


Baru teringat beberapa waktu lalu Ovin sendiri sudah memperingatkannya, jadi jika tadi tidak mengatai tentang rok itu, tidak mungkin akan terjadi hal begini dengan Ovin pakai acara pingsan segala.


" Hallo "


" Ahh....tumben telfon aku. " jawab seseorang yang Franz hubungi.


" Kau datang kemari dan titip beli....bla...bla...bla..... "


" What? Sejak kap- "


" Aku beri waktu 10 menit " potongnya, lalu langsung menutup panggilannya.


Tut.....Tut.....Tut.....


" Sejak kapan temanku punya perempuan simpanan di rumahnya? " gumam orang yang barusan di telepon oleh Franz.


" Hachoom...... " Bersin itu langsung menhisi keheningan di rumah besar itu untuk sesaat. 'Siapa yang sedang membicarakanku? Apa dia?' menggosok hidungnya dengan jari telunjuknya.


Sampai akhirnya Franz mengangkat tubuh Ovin dan menggendongnya ala bridal stayle.


____________


" 10 menit? Waktuku tinggal sedikit lagi. " Pria yang beberala waktu ditelepon oleh Ftanz pun melajukan mobilnya dengan lebih kencang.


Tapi timer yang dia buat sudah menunjukkan angka 00:00.


" Aku telat. " decih pada dirinya sendiri karena gagal sampai dengan tepat waktu sekalipun sudah ada di depan gerbang rumah temannya.


" Maaf terlambat." kata pertama yang keluar dari mulutnya.


" Tidak apa, masuk. Kau periksa dia." Timpal Franz menunjuk ke satu kamar yang pintunya sudah terbuka.


Ainz, dokter magang yang sudah di akui Franz sebagai dokter pribadi.


Sekalipun umurnya lebih tua satu tahun dari Franz, Ainz ini sudah menjadi dokter muda namun karena masih di bawah 20 tahun maka masih dalam proses magang.


Ainz pun masuk ke dalam kamar, dan menemukan...


" Kau......dia siapanya kamu? " Ainz menunjuk pada satu orang perempuan yang terbaring di atas tempat tidur.


" Aku kira prinsip seorang dokter itu tangani pasien dulu baru bertanya pertanyaan pribadi." sindir Franz.


Ainz memeriksa keadaan Ovin, dari denyut na...


" Oh...dia pakai jam ini. " Ainz menemukan Ovjn menggunakan jam yang kebetulan dipakai di pergelangan tangan kanan.


" Dia orang terlihat orang yang suka teknologi." tebak Ainz saat melihat jam tangan yang dipakai oleh Ovin adalah jam tangan bermerk yang harganya mahal, sekaligus tidak dijual dipasaran.


2 menit kemudian.


" Ngomong-ngomong apa kamu baru bermain permainan anak kecil? " sindir Ainz kepada Franz.

__ADS_1


" Apa? "


" Gerobak mainanmu, tidak biasanya ada barang seperti itu di rumahmu." Ainz menatap satu gerobak berwarna merah yang biasanya dipakai oleh anak-anak untuk membawa segudang mainan.


Franz menghela nafas kasar dan menjawab.


" Bukan aku, dia yang memakainya untuk membawa barang belanjaan. Bagaimana keadaannya? "


" Pandai-pandai. " puji Ainz pada kepandaian dan ke efektifan Ovin yang membawa barang belanjaan dengan hal sederhana seperti gerobak mainan.


" Dia............, hanya terkena anemia? Ehmm...tidak...selain kekuarangan darah dia juga pingsan karena kelelahan berlebih, apa kau menyiksa dia sampai berbuat kerja bagai kuda? "


" Mana mungkin, aku menyuruh melakukan pekerjaan rumah seminggu lalu, dan beberapa hari ini dia... " Kalimatnya tiba-tiba saja terhenti, 'Tidak.....dia melakukannya setiap ada waktu.' Franz terlihat masih berpikir dan mencari mana yang salah dengan Ovin, karena perasaan dirinya tidak menyuruhnya untuk melakukan hal keras.


" Sama saja bego. Tapi dia kekurangan darah karena.....rupanya tiap bulan dia mendonorkan darahnya ke satu rumah sakit di kota ini. " menunjukkan data yang ia dapat dari beberapa temannya yang bekerja di rumah sakit yang sama dengan tempat yang Ovin kunjungi.


" Dia rutin mendonorkan darahnya setiap tanggal 5." jelas Ainz lagi untuk memperjelas masalah kenapa Ovin bisa kekurangan darah.


" Makan obat ini, dan ini pesananmu. " menyerahkan sekantung kresek berisi barang yang Franz minta, isinya tentu saja pembalut.


Barang yang baru pertama kali dipegangnya seumur dirinya hidup ini.


" Pfftt.....bagaimana kamu melakukannya? "


" Melakukan apa? " Kesal dengan pertanyaan ambigu dari Ainz.


" Hhhhh........jika pasal bergaul dengan perempuan kamu memang jagonya, tapi....pasal itu dia harus mengganti dan memakainya, tidak baik untuk kesehatan jika di biarkan. Kamu jangan berpikiran aku sebagai orang mesum, aku hanya menjelaskan ini sebagai seorang dokter. "


" Itu urusanku, jika sudah selesai pulanglah. " Celetuk Franz, tidak mau berdebat dengan Ainz pasal Ovin lagi, lagi, dan lagi.


" Anak durhaka, aku ini belum sampai 10 menit disini tapi sudah main usir saja. " Serasa di rumah sendiri, Ainz pergi ke dapur dan membuka kulkas lalu mengambil air dingin untuk menyegarkan tenggorokannya.


" Pertanyaan awalku belum kamu jawab, dia siapanya kamu? Bukan adik, juga bukan saudara, aku kenal seluruh anggota keluargamu jadi jangan menipuku. " setelah berkata seperti itu, Ainz meminum air itu dengan cepat.


Glek....glek....glek...


" Jangan beritahu siapapun.Hanya kamu satu orang yang akan mengetahuinya, kalau dia...adalah.. "


Sudut matanya melirik ke arah Tuan muda disana dengan perasaan sebuah harapan siapakahnya dia?


" Istriku. "


"...........? " Sekwtika matanya membulat sempurna. 'Istri?!'


PRUTTTZZ.......


" Uhuk....uhuk....uhuk..... " Ainz segera mengelap bibirnya dengan punggung tangannya dan bertanya," Apa aku tidak salah dengar, dia Istrimu?! " Sambil tersenyum tawar.


Tanpa perlu menjawab lagi, tatapan datar Franz sudah menjadi jawaban ulang untuk Ainz.


BRAK......( Ainz meletakkan botol mineralnya dengan kasar ke atas meja )


" Bagaimana bisa! Aku yang lebih tua satu tahun darimu saja belum punya pacar tapi kamu sudah menikah?! " Ekspresinya sama seperti Franz sewaktu itu juga sama dikejutkan oleh kalimat ayahnya yang mengharuskan Franz menikah. " Atau kamu sudah melakukannya dengan dia jadi di paksa menikah sebagai pertanggungjawaban?! " Tebak Ainz, hanya saja tebakannya meleset besar.


TEPLAK.........

__ADS_1


" AWWwww....... " mengaduh sakit di kepalanya yang di pukul oleh Franz. " Jangan memukul kepalaku yang berharga " sambung Ainz.


" Jangan sembarangan bicara, mana mungkin aku sampai ke tahap itu! "


__ADS_2