Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
93 : PUM : Misiku?


__ADS_3

Ovin pun mengeluarkan permen lolipopnya dari mulutnya, dan menjawab, "Ok lah, aku sudah rekam riwayat pembicaraan kita, kalau kau inginkar janji, aku tidak akan segan memasukkanmu ke dalam tempat gelap dan dingin, hingga yang bisa kau dengar adalah suara hatimu sendiri."


"Ya, aku tahu." Linda ini pun menjawab ucapannya Ovin dengan kepala masih menunduk.


Setelah itu panggilan diantara mereka berdua langsung di putus oleh Ovin secara sepihak.


Sudah menyelesaikan pembicaraan singkat dengan Linda itu, Ovin pun kembali mengerjakan ke sepuluh jarinya itu untuk menekan semua tombol keyboard.


"Hah..padahal aku ingin sekali bisa adu balap dengan mereka. Tapi sayangnya-" Ovin pun melirik ke arah samping kanan, dimana di sampingnya itu bberdiri pagar pembatas yang terbuat dari kawat berduri dan menjulang cukup tinggi. 'Sayangnya aku harus pakai cara lain.'


Ovin pun menghela nafas dengan kasar, saat dirinya tidak mampu bertanding dengan mereka, sebab mobil yang dia bawa saat ini memang tidak bisa di gunakan untuk balapan, sebab mobil yang dipakainya itu sudah di tanamkan sebauh sirkuit untuk membatasi kecepatan mobil yang seharusnya bisa di gunakan sampai kecepatan yang tinggi.


Karena rencana awalnya terhalang oleh batasan dari mobil miliknya itu, Ovin pun terpaksa menggunakan cara lain.


"Ngomong-ngomong, ini-" Tidak seperti hadiah pada umumnya, jika berasal dari pria yang cukup sayang dengan wanita yang di sayanginya maka hadiahnya adalah barang yang cukup mahal dengan harga selangit, maka tidak dengan dirinya.


Dia selalu menerima barang yang sering berkaitan dengan senjata, karena Ovin memang gemar menggunakan senjata.


Dan kali ini, hadiah yang Ovin terima dari pamannya yang tercinta selain mobil dan PC itu, di sebelahnya persis sebenarnya ada sebuah kotak berbentuk persegi panjang berukuran sedang, dan kebetulan kotak itu berwarna biru Navy.


"........." Tentu saja ketika Ovin membukanya, maka dia mendapatkan satu pistol versi terbaru yang di rancang khusus oleh Chade sendiri. Dan pistol itu berwarna silver. "Hmmm....."


Dan karena itulah, kini Ovin pun menenung senjata itu dengan cukup lama, karena dia sedang mencoba memikirkan cara yang lebih mudah tanpa perlu terlibat banyak hal juga waktu.


"Ah..begitu." Ovin yang baru saja menemukan ide yang cukup memuaskan, hanya mengangguk setuju. "Padaha lini cukup mudah, kenapa aku harus repot-repot kesana dan kesini?" Gumamnya.


Selepas bergumam seperti itu, Ovin kembali mengemut permen lolipop miliknya. Tapi tidak seperti sebelumnya, dimana dia mengemut permenya saja, Pvin justru langsung mengunyahnya sampai pecah menjadi kepingan kecil dan membuang stik permennya ke sembarang tempat.


Barualah, setelah Ovin membuangnya, dia menutup PC dan tas itu lalu meletakkannya kmebali ke bawah kursi.


Setelah itu, Ovin membuka magazine dari pistol pmberian pamannya itu, mengeluarkan enam butir peluru dan mennggantinya dengan peluru lain.

__ADS_1


KLAK...


Ovin memasukkan embali magazine nya, menarik pelatuknya agar peluru yang sudah dia ganti itu bisa langsung terangkat ke dalam selongsong pistol.


'Padahal aku baru saja mendapatkan kebebasan dari rumah sakit, tapi aku langsung menghadapi pekerjaan ini.' Rutuk Ovin seraya memakai sarung tangannya yang berwarna hitam.


__________


"Eldo! Lepaskan aku ! Atau aku tidak akan pernah memaafkanmu!" Teriak Linda agar terlihat lebih dramatis lagi.


Lalu Eldo kembali melirik ke arah Linda yang sudah memperlihatkan ekspresi marahnya.


"Silahkan saja. Aku juga tidak peduli jika kau tidak memafkanmu, karena..memangnya kau dan aku akan bertemu lagi setelah ini, hm?" Sahut Eldo.


Eldo sudah tidak peduli lagi dengan kesan dan tanggapan dari Linda kepadanya, karena saat ini dia sudah punya wanita lain yang lebih tinggi dari Linda serta lebih seksi tentunya, hingga Eldo pun menikmati pelukan yang di berikan pacarnya itu kepada tangan kanannya, sebab dengan cara memeluknya yang seperti itu, Eldo jadi merasakan betapa berisinya sepasang aset milik pacarnya itu.


Linda yang mendengar jawaban Eldo yang sungguh tidak punya perasaan lagi kepadanya, akhirnya diam dan menatap Eldo dan pacar barunya itu dengan tatapan penuh amarah.


Eldo yang meilhat kembali tatapan mata Lina yang cukup sengit itu, terpaksa melepaskan dasi sekolah miliknya.


Eldo kemudian melepaskan pelukan dari pacarnya itu, dan berjalan kearah Linda yang masih menatap mereka berdua dengan tatapan mata yang tdak suka itu.


"Linda, kalau saja wajahmu ini tidak cantik, mungkin saja aku sudah merusak matamu itu, karena dengan lancang menatap pacarku. Tapi karena kebetulan penampilan dan wajahmu juga sesuai selera dengan mereka berempat, aku hanya bisa menutup matamu ini dengan dasiku." Jelas Eldo, seraya menutup sepasang mata Linda dengan dasi sekolah miliknya.


Linda yang marah, sebenarnya dia sudah bersiap dengan mulutnya untuk mengigit tangan Eldo. "Hakkh.."


Tapi Eldo dengan cekatan langsung menarik tangannya lagi, menghindari gigitan ganas dari Linda.


"Jangan ganas seperti itu." Kata Eldo, lalu dia pun membungkukkan tubuh ke depan dan membisikkan sesuatu kepada Linda tepat di samping telinga sebelah kiri Linda. "Atau aku bisa lebih ganas dari ini. Apa kau mau melihatnya?"


Dan sudut matanya pun melirik kearah kiri, untuk melihat ekspresi wajah dari Linda yang terlihat sedang mendahan amarahnya dengan rahang yang kian menengang.

__ADS_1


"Begitu dong, diam dan nikmati pertunjukan yang aku buat khusus untukmu.Imbuh Eldo lagi dengan merentangkan tangan kirinya ke depan dan memperlihatkan ada empat pria yang sudah siap dengan kemampuan dan mobilnya masing-masing untuk meraih kemenangan dan mendapatkan Linda, sebagai bahan taruhannya.


Setelah mengatakan itu, Eldo pun dengan mudah membuat membalut sepasang matanya untuk di tutup.


Deru suara knalpot masing-masing mobil pun terdengar dan mencoba di adu dengan yang lainnya, manakah yang terdengar lebih keren?


Itulah yang dilakukan oleh mereka berempat yang sudah bersiap untuk adu balap di lintasan yang sudah di siapkan untuk mereka yang menginginkan adrenalin mereka di pacu dalam kecepatan.


"Pasti akulah yang akan mendapatkannya." Kata pria pertama.


"Mulai saja belum, sudah berkhayal." Ejek pria kedua ini kepada orang di sebelah kanannya itu.


"Dari pada bicara hal yang belum pasti, fokus saja pada apa yang ada di depan." Beritahu pria ke tiga ini.


Sedangakn yang ke empat, hanya diam dan fokus dengan tujuannya, yaitu bisa mendapatkan Linda sebelum mereka bertiga.


Lalu tidak lama kemudian, rambu-rambu yang ada di atas mereka mulai memperlihatkan empat warna yang sama, yaitu merah.


Satu detik demi satu detik, warna merah itu berganti menjadi kuning, dan tepat di lampu terakhir, semua lampu yang sudah berwarna kuning itu pun berubah menjadi warna hijau, yang artinya.


TETT....


Keempat mobil itu langsung tancap gas sedalam-dalamnya, menciptakan derit ban mobil yang sempar bergesek kasar dengan permukaan aspal berwarna hitam, dan di saat sudah berada di waktu yang tepat, mereka langsung melepas pedal rem mereka, hingga mereka berempat akhirnya melesat pergi dengan kecepatan tinggi melewati Linda yang duduk di tengah jalur mereka.


WUSH...


Angin hasil ciptaan dari kecepatan mobil mereka berempat yang sudah pergi dengan kecepatan tinggi itu membawa Linda mulai merasakan angin yang kian panas saja.


'Kali ini aku hanya bisa berharap padamu datang padaku, Vino.' Benak hati Linda.


Dengan wajah yang terlihat bingung, karena dia harus menggunakan indera pendengarannya, Linda pun samar-sama mendengar suara knalpot lain yang berasal dari luar dan terus kian mendekat.

__ADS_1


__ADS_2