Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
47 : PUM : Dibawah suhu dingin ada kehangatan


__ADS_3

Di balik ciumannya yang Franz anggap sebagai balas dendam, tangan kirinya yang bebas itu pun akhirnya meraih sesuatu yang ada di area bawah sana.


"Umhphh..." Karena aksinya franz, Ovin yang sudah tidak kuat dengan ciuman yang ternyata begitu lama, membuat tangannya berusaha mendorong bahu Franz. 'I-ini diluar perkiraanku. Aku ingin bernafas!'


Tapi sayangnya, dorongan itu tidak berlaku untuk Franz yang dimana seluruh pusat dari tenaganya yang tiba-tiba terkumpul itu, mengiringi harta miliknya untuk makan sesuatu yang lebih enak ketimbang makanan yang dibeli dari restoran bintang lima.


Namun dikarenakan saat ini franz juga sudah mulai kehilangan seluruh oksigennya dari paru-parunya, dia menyempatkannya untuk beristirahat sejenak dari pergulatan dari bibir miliknya itu.


"Phah....hah....hah...." Kedua orang yang terlibat dalam asmara yang lebih int*m itu pun kembali dilanjutkan.


'Hah sialan, aku tidak ingin melakukannya. Tapi tubuh ini kenapa sangat menginginkannya?' benak hati Franz di tengah-tengah pergulatan fisiknya. 'Biarlah! Dia sendiri yang memprovkasiku.'


Mengabaikan kata hati yang terus bertengkar untuk tidak melakukan ini dan itu, tubuhnya pun terus saja melakukan pekerjaan yang bisa di lakukannya secara otomtis, seakan tubuhnya itu benar-benar sudah hafal apa dan bagaimana caranya untuk memuaskan keinginan dari tubuh miliknya itu.


Dan salah satu contohnya tentu saja adalah dimana di saat dirinya sedang menghujam bibir Ovin dengan ciumannya, maka tangan kirinya yang awalnya dia gunakan untuk menahan tangan kanan istrinya itu dari pada memukul dadanya sesaat tadi, maka sekarang tangannya tersebut dia gunakan untuk kembali membuka resleting celananya.


Setelah miliknya akhirnya bisa dia keluarkan dari tempatnya, Franz kemudian menindih tubuh istrinya tersebut.


Setelah tertindih, secara otomatis area kaki itu jadi semakin terbuka lebar dan membuat Franz untuk tidak memberi Ovin ruang untuk bergeser ke kanan maupun ke kiri, karena terkunci dengan pinggangnya yang sudah mendarat di antara dua kakinya Ovin.


Dan karena posisi dari mereka berdua yang sudah saling memeluk, hal selanjutnya pun dilakukannya.


Franz....


Dinding yang dia bangun untuk menghalangi Ovin masuk kedalam hatinya, semuanya perlahan runtuh gara-gara tingkah istrinya yang selalu menghantui pikirannya itu.


"Aku akan mulia," Lirih Franz. Dia pun mendaratkan ciumannya di leher Ovin untuk membuat tanda di sana.

__ADS_1


GRRTT....


Rasa dari sensasi geli itu muncul juga, sampai Ovin menggertakkan giginya karena menahan lenguhannya itu, dan di saat yang sama kedua tangannya jadi mencengkram rambut Franz karena rasa geli yang dibuat oleh Franz itu.


Tapi mau seberapa kuat ingin menahan desahannya itu, mulut yang berusaha untuk dia tutup secara rapat-rapat, tiba-tiba saja terbuka dan membuat suara aneh yang tidak ada di dalam pikirannya.


"Ah~"


Satu reaksi pertama yang dibuat oleh Ovin pun menjadi stimulan tambahan untuk Franz, dimana tangan kiri Franz saat ini akhirnya menepis dari celana da*am yang dipakai oleh istrinya tersebut. Tanpa membiarkan celah, ujung dari kepemilikannya itu berhasil menyentuh sesuatu yang barusan dia buka.


Dan hasilnya...


'Ini-' Franz kehilangan kata-kata yang ada di dalam pikirannya itu selepas ujung dari hartanya itu akhirnya bisa menyentuh sesuatu yang, 'Hangat, dan licin?'


Franz mengernyitkan dahinya.


Dua orang remaja yang belum sekalipun pernah mendapatkan pengetahuan tentang hubungan in*tim di lapangan, berhasil mereka dapatkan.


Apakah ini adalah salah satu keuntungan bisa mengetahui rasa dari lawannya main yang sama-sama memiliki rasa penasaran yang cukup tinggi juga?


'Tapi..yang seperti ini...aku ingin dia memasukkannya.' Tercetus juga, bahwa rasa penasaran itu harus mendapatkan jawaban yang memuaskan juga.


'Ah~ Ini lembut sekali, aku ingin memasukkannya.' Franz jadi tersenyum tawar dengan area bawahnya yang benar-benar menginginkan jatah makanan tepat di bawah hujan yang dingin ini.


Itu benar. Di saat dingin seperti ini, akan lebih enak jika bisa mendapatkan makanan yang masih panas, karena itulah satu-satunya waktu yang membuat si perasa mendapatkan rasa nikmat yang lebih.


'Lebih?' Detik hati Franz. Dia perlahan menggosok area milik istrinya dengan miliknya itu.

__ADS_1


GREPP...


Reaksi pertama yang Franz dapatkan itu, tentu saja adalah kedua kaki Ovin yang semakin menjepit pinggangnya, dan yang kedua adalah kedua tangan itu semakin memeluk tubuhnya Franz, hingga sesuatu yang kenyal itu ternyata dapat Franz rasakan di dada bidangnya.


Ya..


Meskipun Franz masih terbalut baju kemeja pendek miliknya, tapi karena posisinya bajunya sudah basah dan sudah melekat dengan kulit tubuhnya, maka dia tetap merasakan gundukan lembut yang kenyal dan sangat menekan di dadanya.


"Ah~ i-ini...F-franz...ini ah~" Ovin semakin mengeratkan cengkraman tangannya dari baju Franz.


'Ini gila, aku rasanya seperti dapat sesuatu yang hangat mulai keluar.' Walaupun Franz tahu apa yang keluar itu, disebabkan dirinya juga masih dangkal ilmu dalam pengetahuan yang dilakukan secara langsung seperti ini, Franz pun jadi semakin dibuat penasaran, dan saking penasarannya, tentu saja dia jadi ingin memasukkannya ke dalam sesuatu yang ternyata ada lubang lain yang terselip di antara dua itu.


Saking licinnya, tentu saja Franz bisa langsung memasukkannya.


Hanya saja, dia tiba-tiba saja memiliki keraguan lain. Dia sudah memiliki janji pada dirinya sendiri untuk tidak melakukannya.


Tapi apa yang sedang dilakukannya saat ini?


Sedikit lagi saja, Franz hanya tinggal membobol gawang itu.


'Kenapa lama...aku tidak tahan.' Hati Ovin sudah meronta menginginkan hal yang lebih. Semua itu demi mengubur kenangan buruknya dengan kesenangan ini. Meskipun sadar dengan keegoisannya itu, namun dia tidak ingin memikirkan ego itu lagi, selain kepuasan fisik yang lelah dengan segala hal yang harus dia hadapinya untuk setiap harinya.


Sayangnya, Ovin yang sudah tidak sabar lagi dengan keraguan yang dimiliki Franz, dengan sengaja Ovin pun semakin menjepit pinggang Franz, lalu kakinya langsung melingkar di pinggang pria ini dengan erat, agar tidak memberinya kelonggaran sedikitpun.


Hal itu tentu saja berefek pada ujung pusaka Franz yang ternyata kian menekan untuk memaksa liang kehangatan yang ternyata..


'Sempit!' Teriak Franz.

__ADS_1


__ADS_2