
Sebuah kelembutan yang dia rasakan itu mencapai titik di mana Franz tiba-tiba jadi merasa melayang di udara.
Deru nafas yang begitu cepat, sama sekali tidak mengganggu keinginannya untuk mendapatkan lebih dan lebih.
Semua itu, juga demi keinginan untuk mencapai sebuah kemenangan yang hanya bisa di nikmati oleh dua orang yang menggila dalam galian kasar dan kasar.
"F-franz, apa yang ka-mph.." Ovin selalu saja di bungkam ketika ia ingin berbicara dengan laki-laki yang ada di atasnya itu. 'Ternyata orang yang di kendalikan oleh mabuknya, busa sekasar ini. Aku malam ini pasti akan habis, ukh~'
Setelah beberapa saat, pautan di kedua bibir mereka berdua pun terlepas.
Dua wajah yang kini saling memandang itu menghanyutkan Franz untuk memuji Ovin yang sudah sangat lelah karena sempat kehabisan nafas dalam sensasi ciuman tadi untuk mengatakan, "Kenapa malam ini kau nampak cantik?"
"Hahh...hh...., memangnya dimatamu aku cantik?" Ovin sendiri malah jadi kena tipu daya dari rayuannya Franz, karena baru pertama kali mendengarnya secara langsung dari mulutnya Franz.
"Ya, kau cantik dalam artian sampai pintar menggoda laki-laki lain." Dan raut wajah Franz yang mulanya begitu datar tapi juga seperti sedang kalem-kalemnya, berubah menjadi orang yang terlihat kesal.
"Menggoda apa? Mereka sendiri yang dekat-dekat denganku." Balasnya.
"Bagiku itu sama saja, dan aku tidak suka itu."
"Oh~ Apa kau cemburu?" Seringai Ovin, mengulurkan kedua tangannya ke depan, ia pun melingkarkannya di belakang leher Franz, dan menariknya agar lebih dekat.
Saat wajah dan mata mereka berdua saling berhadapan dengan jarak yang cukup dekat, Franz menjawab : "Siapa yang tidak cemburu, jika kau yang merupakan Istriku, malah jalan dengan laki-laki lain."
'A-apa? Aku tadi tidak salah dengar kan? Dia barusan menyebutku Istri? Dan apa-apaan dengan ekspresi wajahnya yang berubah seperti anak-anak yang mau menangis ini?' Ovin jadi bingung, ia pikir Franz akan mengganas seperti orang kesetanan, karena yang Ovin pernah lihat, orang yang mabuk itu akan jadi lebih ganas. "Jadi kau maunya apa?" Tawar Ovin sambil memperbaiki raut mukannya.
Dan ekspresi wajah yang tadinya seperti anak kecil yang terlihat merungut ingin sesuatu, langsung menyunggingkan senyuman licik. Karena di saat itu juga, Franz langsung menekan tubuhnya Ovin dan melemparkan satu kecupan yang mendarat di leher sebelah kanannya Ovin.
Kecupan singkat yang membawa Ovin sendiri langsung mendapatkan sensasi aneh.
"Ah~" Serta lenguhan karena mendapatkan sensasi geli yang cukup liar.
Setelah mengecupnya singkat, Franz sesaat menghentikan aksinya, lalu berkata : "Aku ingin malam ini kau jadi milikku, sebagai tebusan kau sudah membuatku merasakan cemburu seperti ini."
__ADS_1
Ovin diam sesaat untuk mencerna ucapannya Franz, yang terdengar seperti mengutarakan sebuah pengakuan paling jelas, kalau laki-laki yang ada di atasnya itu baru saja mengucapkan pengakuannya sendiri, sudah jatuh cinta kepadanya.
Walaupun masih belum tahu kapan laki-laki ini akhirnya jatuh cinta kepadanya, tapi Ovin yang merasa senang bisa merebut hatinya Franz, Ovin pun jadi tersenyum cerah.
Dia melirik ke arah samping kanannya, dimana wajah dari suaminya itu sungguh sangat dekat dan sedang menatap ke arah lehernya terus. Yang artinya Franz memang sedang menunggu sebuah Izin?
Hanya dengan melihatnya saja hatinya jadi terasa senang, karena Franz malah membuat Izin dengan ekspresinya yang cukup lucu itu, Ovin pun akhirnya langsung menarik diri Franz untuk masuk kedalam pelukannya.
BRUK...
Sampai tubuh berat milik Franz akhirnya menindih tubuhnya Ovin, ia pun berbisik dengan nada yang cukup lirih tepat di telinga kanannya Franz. "Kalau begitu lakukan saja."
"Kau sendiri yang sudah mengizinkanku, jadi jangan salahkan aku, kalau aku tidak akan membiarkanmu tidur sampai semalaman." Ancam Franz secara tiba-tiba.
"Silahkan saja," Tantang Ovin.
Dan akhirnya dengan rakusnya, Franz mendaratkan kembali bibirnya di atas permukaan kulit putih milik Ovin.
Luar biasa, itu cukuplah lembut, hingga Franz yang merasa gemas karena merasakan aroma tubuh yang sering ia jumpai tapi coba ia tahan, akhirnya bisa gigit.
Ovin menggertakkan giginya, menahan rasa sakit tapi geli di saat yang bersamaan.
Sampai Franz yang merasa tubuh nya sudah merasakan apa itu yang namanya gerah, ia langsung melepaskan seragam terakhirnya, karena sebelumnya ia sudah menanggalkan blazer nya.
Hingga peraduan kulit tubuh yang terasa keras itu, menyambut kembali perut Ovin yang pakaiannya sendiri sudah separuh terbuka serta area bawah yang sudah mulai basah sendiri.
"Apa? Kenapa memandangiku? Apa sekarang aku sudah memenuhi syarat untuk terlihat seperti pe*acur seperti apa yang pernah kau katakan kepadaku?"
Franz yang menghiraukan apa reaksi dari wajahnya Ovin sekaran ini hanya menjawab pertanyaannya itu dengan singkat, "Ya, kau hanya jadi pa*acur untukku."
CUP.
Bibir yang kembali mendarat di lehernya Ovin, serta di padukan dengan tangannya Franz yang akhirnya menelusup masuk kedalam pakaian da*amnya, membuat Ovin akhirnya mend*esah kuat.
__ADS_1
"Anghh~ I-iu geli. Ahw..." Merasakan pijatan yang keras, Ovin jadi merasa kesakitan juga.
"Teruslah mend*sah," Perintah Franz, di sela-sela aktivitasnya itu.
Dan akhirnya malam yang dingin itu pun di isi dengan pergulatan panas oleh dua orang yang menjalin kasih untuk pertama kalinya.
_______________
Cip......Cip......Cip......
Walaupun matahari belum sepenuhnya menyingsing, tapi suara burung itu sudah menyambut pagi yang indah itu.
Indah?
Ya, karena bisa merasakan keindahan dari surga untuk melewati malam yang panjang dengan olahraga malam, mereka berdua pun tertidur cukup lelap.
'Apa ini? Kenapa aku merasakan adanya sesuatu yang hangat di depan tubuhku? Tanganku juga merasa kebas.' Satu pikiran pertama saat ia akhirnya mendapatkan siksa aneh antara menyakitkan dan menyenangkan.
Pergerakan lembut yang bukan berasal dari miliknya membuat Franz kembali mendapatkan sensasi yang cukup aneh lainnya, yaitu seperti adanya jepitan yang merangsang khusus untuk adiknya kecilnya yang selalu Franz bawa kemanapun dia pergi.
'Hangat, lembut, dan tangan kananku ini, apa yang sedang aku pegang ini? Kenapa rasanya lembut, dan kenya? Setiap aku memijatnya, pasti kembali ke bentuk semula. Balon kah?' Franz yang masih memejamkan matanya, tangannya dengan ganas memijat benda kenyal yang terasa hidup itu.
Dan Franz cukup menikmatinya, seolah itu adalah mainan baru, jadi tidak boleh di lepaskan begitu saja .
Parahnya lagi, Franz yang begitu asik karena di area bawahnya di jepit, karena Franz merasa ia dalam mimpi yang cukup menyenangkan, Franz pun sedikit menggerakkan pinggulnya itu.
'Ini cukup menyenangkan, dan punyaku jadi terasa enak, ah~ Kenapa aku bisa punya mimpi seperti ini? Ini sangat enak. Hangat, lembut, dan terasa basah? Apa aku sedang mimpi basah? Tapi kenapa seperti ini? A-ah...aku rasanya akan keluar.' Franz menghentikan tangannya untuk memijat sesuatu yang lembut itu, sedangkan pinggulnya terus bergerak untuk menggesek kartu As nya.
Dan tidak lama kemudian, Franz yang merasa sudah tidak tahan lagi, mengeluarkan milyaran umat makhluk hidup.
"Ahh~ F-franz," suara miliki seorang perempuan yang begitu lirih itu sontak membangunkan Franz dari tidur mes*mnya.
Apalagi saat lengan kekarnya yang tiba-tiba saja di cengkram kuat itu, maka hal itu pun menambah reaksi terkejut milik Franz untuk membuka matanya lebar-lebar.
__ADS_1
".........!"