Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
36 : PUM : Pengungkapan perasaan lagi


__ADS_3

Setelah kejadian itu, hasilnya mereka berdua tidak saling bertegur sapa?


Kenyataannya dari awal juga sudah tidak punya hubungan yang baik, jadi memang, tidak ada satu patah kata untuk saling menyapa satu sama lain, ketika mereka berdua bertemu untuk sarapan pagi.


'Padahal Tuan dan Nona muda, hubungannya memang kurang akur, tapi kenapa rasanya kali ini Tuan dan Nona sedang bertengkar dalam porsi besar ya?' Batin wanita ini, sang pembantu rumah tangga yang dipekerjakan oleh Ibunya Franz untuk melayani kedua anak yang masih sekolah itu, sekaligus memantau perkembangan dari sepasang suami istri muda itu.


Seperti hari-hari biasanya, ketika Franz pergi menggunakan mobil mewahnya, maka Ovin dengan cukup bangga diri bisa memakai sepeda listriknya.


Tanpa ketinggalan pula, Blazer milik Jerry yang harus dia kembalikan saat ini juga. Oleh karena itu, Ovin pun sempat menyuruh Bibi, untuk menggosoknya.


"Ini Nona," Memberikan pakaian yang sudah di bungkus rapi di dalam paper bag.


"Terima kasih Bi. Oh ya, ini uang yang waktu itu." Setelah menerima paper bag dari pembantunya itu, Ovin pun tidak lupa mengembalikan uang yang pernah dia pinjam kepada wanita paruh baya ini.


"Eh Non, hanya uang sekecil itu, lagi pula anda kan majikan saya, jadi tidak perlu mengembalikan uangnya." Tokal bibi Ani ini dengan sopan.


"Mau apapun alasannya, karena aku merasa punya hutang, ya harus di kembalikan pada yang punya kan? Ini," Tetapi Ovin justru menyodorkan sejumlah uang sebesar lima ratus ribu rupiah.


"Tapi ini terlalu banyak, kan hanya tujuh puluh lima ribu saja." Menolaknya lagi.


"Yang tujuh puluh lima ribu itu memang uang bibi yang harus aku kembalikan, tapi...sisanya ini untuk belanja bulanannya."


Bibi Ani langsung terpegun. Bukan Tuan muda yang memberikan uang belanja bulanan, tapi Nona muda?


"Tidak perlu Non, Nyonya besar kebetulan sudah memberikan biaya bulanan untuk anda berdua. Jadi Nona simpan saja uang itu." Bibi Ani kembali mendorong sejumlah uang yang sudah di sodorkan oleh Nona muda nya itu.


"Begitu ya," Tidak mau membuang waktu lagi karena waktu adalah hal yang berharga, Ovin pun menyimpan kembali uang miliknya kedalam tas. "Kalau begitu jika kurang, Bibi tinggal katakan saja padaku."


"Baik non," Sahut bIbi Ani.


Setelah perbincangan sesaat itu, Ovin pun pergi dari rumah dengan membawa sepeda listrik kesayangannya.


 ______________


'Hmm......' Franz menatap tangan kanannya sendiri, yang kemarin baru saja dia gunakan unttuk menampar wajah Istrinya. 'Haih! Kenapa aku memikirkan hal yang aku lakukan kemarin? Kan salah dia, membuatku jijik dengan tindakannya itu.' Franz langsung mengepalkan tangan kanannya, kemudian dia menutup mata untuk mencoba mengalihkan pikiran dari rasa bersalahnya itu.


Hanya saja, walaupun hatinya terus meneriaki untuk tidak merasa bersalah, tapi melihat tangannya sendiri bukannya untuk menyentuh pipi itu dengan lembut, tapi justru menampar pipi Istrinya, hal itu pun berhasil membuat Franz merasa frustasi sendiri.


'Baiklah, aku itu tidak salah. Yang salah itu adalah dia, dia yang salah. Lagi pula...kenapa dia menciumku seperti itu? Aku itu sudah lelah, karena aku ternyata sudah menikah, padahal aku sendiri masih ingin bermain bebas. Dan dia...seenaknya sendiri padaku, dia pikir selama aku jadi suaminya, dia bisa melakukan ini dan itu denganku? Hah! Yang benar saja, mulai saat ini, aku tidak akan membiarkan dia menyentuhku, ataupun sebaliknya.' Batin Franz. Mencoba memantapkan hati serta dirinya sendiri, kalau yang pantas menyentuhnya itu adalah Bella saja.


Tepat di saat dirinya memikirkan Bella, Franz yang saat ini memang sedang bersandar di dinding di sebuah koridor, tanpa sengaja melihat Bella sedang berdiri di tepi jendela.


Terlihat perempuan yang dijuluki sebagai bunga sekolah itu sedang memandang keluar jendela. Bahkan tanpa di sengaja Franz melihat Bella tersenyum bahagia.


Karena penasaran dengan apa yang sedang Bella lihat, Franz pun mencoba berbalik dan melihat apa yang ada di luar jendela, sampai pujaan hatinya itu terlihat bahagia?


".................!" Namun apa yang sedang Franz lihat saat ini adalah...


Lagi-lagi Istrinya sedang di bully.

__ADS_1


*


*


*


"Apa kamu jalan tidak pakai mata? Lihat ini, pakaianku jadi kotor!" Tidak seperti biasanya, yang memarahi dan membully nya adalah Merli, sekarang yang sedang membuat perkara itu adalah anak pindahan dari luar negeri, yaitu Rose.


"Aku pakai mata." Sahut Ovin, dimana saat ini pakaiannya pun turut kotor lagi?


Karena keadaan di kantin sedang penuh, dan semua orang ribut ingin di dahulukan, Ovin dan Rose yang kebetulan sudah mendapatkan jatah makanannya, saling menabrak satu sama lain.


Di satu sisi, Ovin bisa menabrak Rose adalah karena ada orang yang dibelakangnya, entah sengaja atau tidak sengaja, membuat tubuhnya terdorong ke depan, lalu menabrak Rose.


Sedangkan Rose sendiri, yang hendak mencari tempat duduk, dari arah sampinng kiri, ada yang menyenggolnya, sehingga Rose pun secara otomatis bergeser ke kanan, dan hasilnya dua orang tersebut saling bertabrakan satu sama lain.


"Seragam seperti ini, mana mungkin bisa aku pakai lagi. Mengingat yang membuat perkara ini adalah kamu, aku minta ganti rugi." Rose langsung menuntut Ovin untuk mengganti biaya rugi gara-gara menabraknya.


"Bukankah kamu orang kaya? Kenapa minta ganti rugi pada orang sepertiku?" Tukas Ovin tanpa memperdulikan segala pandangan dari mereka semua kepadanya, karena berani menyangkal perbuatannya? 'Padahal aku juga tidak sengaja menbaraknya, lalu dari pada dia yang hanya terkena tumpahan sup, aku? Ovin melirik pada seragamnya sendiri yang sudah terkena tumpahan saus dan kuah ikan.


Rose yang sudah geram sendiri karena perempuan miskin di depannya itu pandai menjawab ucapannya, Rose pun mengambil minuman dari salah satu anak yang sedang makan, lalu secarra terang-terangan langsung menyiram Ovin.


"Rasakan ini!" Kata Rose.


Tapi karena Ovin menyadari apa yang akan di lakukan oleh Rose, Ovin buru-buru berjongkok, dan...


"Kyaa...!" Salah satu perempuan sedikit berteriak histeris, karena..


'A-apa?' Rose langsung gelapan melihat air yang mau dia siram pada Ovin, justru jadi salah sasaran.


"R-rose...dia malah menyiram anak baru itu." Satu ucapan langsung terlontar dari salah satu mulut para penonton.


"Kira-kira sekarang bagaimana nasibnya Rose?"


"Waduh...bisa gawat ini. Pakaian Jerry jadi basah kan?"


'Jerry?' Ovin yang tidak tahu siapa orang yang baru saja mendapatkan sasaran amuk dari Rose, langsung menoleh ke belakang.


Dan ternyata oh ternyata, orang yang ada di belakangnya persis dengan penampilan berantakan, karena baru saja di siram air jus oleh Rose, betulan adalah jerry!


"Yah~ Jadi sekolah ini adalah tempat untuk anak baru seperti kami untuk di bully?" Tanya Jerry, dimana, satu pertanyaan itu sukses membuat mereka semua menajdi bungkam.


Jerry menyeka wajahnya dalam sekali usap dengan punggung tangannya, dimana hal itu sontak membuat sebagian besar perempuan langsung terpesona dengan gaya Jerry yang cukup keren.


'Akkhh! Memang benar, apa yang dikatakannya tadi, siapa. Tapi, melihat Jerry menyeka wajahnya dengan cara seperti itu, kenapa dia jadi tambah menggoda?' Pekik perempuan ini di dalam hati.


Tidak hanya satu atau dua orang saja yang bertingkah demikian, tapi banyak, bahkan Ovin sendiri yang tidak menyangka kalau Jerry ada di belakangnya persis, sama-sama sedikit terpana dengan penampilan dari Jerry?


Rasa senang akan bangga diri untuk melihat wajah Jerry yang terkena siraman jus oleh Rose pun pudar, karena ...

__ADS_1


'Aku tidak bisa melihatnya,' Ovin jadi murung, karena tidak bisa melihat keindahan dari wajah Jerry yang sama-sama di kagumi oleh banyak perempuan di seluruh sekolah selain dari suaminya itu. 'Sudahlah, tidak masalah, asal ada Franz, aku sudah senang.' Setelah berpikir seperti itu, Ovin pun sedikit mendongak ke atas. Di seberang gedung, Ovin secara tidak langsung melihat sosok Franz yang sedang menatap ke arahnya.


Tapi...


Di sisi lain, ternyata tidak hanya Franz saja yang sedang menatap kearahnya, melainkan Bella pun sama-sama sedang melihat ke arahnya.


'Apakah perasaanku saja? Aku pikir aku tadi melihat dia sedang tersenyum ke arahku.' Satu prasangka buruk pun terjadi.


"Vin~" panggil Jerry. Dimana namanya yang dipanggil oleh laki-laki itu berhasil menyapu bersih pikiran dari prasangka buruk milik Ovin terhadap Bella yang saat ini sudah pergi bersama dengan Franz.


Karena tidak ada gunanya memikirkan kedua orang itu, Ovin menyahut panggilan dari Jerry. " Ya?" Kembali berdiri setelah berjongkok selama beberapa waktu.


"Dari pada disini terus, kita pergi saja." Tawar Jerry kepada perempuan yang masih saja membuat Jerry jadi ikut sakit hati karena kali inilah dia melihat Ovin ternyata di bully di depan matanya langsung seperti itu.


Dan Jerry pun mengulurkan tangannya kepada Ovin.


Ovin yang hanya mampu melihat jerry tanpa wajah, hanya menatap tangan yang terulur kearahnya itu.


"Jerry, kenapa kamu membantu perempuan seperti dia?" Satu orang perempuan mulai menghasutnya.


"Ya, dia itu perempuan miskin, jika tanganmu menyentuh tangan dia, pasti dia akan membawa penyakit padamu."


"Benar itu, tinggalkan saja dia, jangan terlalu mengurus perempuan udik seperti dia." Satu per satu perempuan mengajak Jerry agar pergi dari sana tanpa perlu mengajak Ovin.


Namun, Jerry yang melihat perempuan yang disukainya di perlakukan sampai seperti itu oleh mereka, justru membuat Jerry semakin tidak rela untuk meninggalkannya begitu saja.


"Kalau tidak suka dia, jangan membawa-bawa aku. Karena aku suka padanya." Jawab Jerry dengan terus terang, sampai akhirnya mereka semua langsung terdiam.


"'Jerry! Kenapa kamu mengatakan itu pada mereka langsung!' Teriakan tanpa suara itu langsung tertangkap oleh Jerry sendiri yang mengerti akan ekspresi dari Ovin yang sedang mengungkapkan rasa protesnya.


"Ayo." Tanpa memperdulikan apa yang sedang di pikirkan oleh Ovin, Jerry langsung meraih tangan Ovin yang terlihat ragu untuk menerima tawaran dari tangannya itu.


Dan tanpa separah katapun, Ovin dibawa pergi oleh Jerry begitu saja, meninggalkan semua orang yang sedang menatap mereka berdua dengan tatapan terkejut.


Bagaimana tidak terkejut jika Jerry, anak baru, laki-laki yang mereka sukai sudah memberikan pernyataan tegas kepada merekam kalau Jerry menyukai gadis miskin dan jelek itu?


"Apakah telingaku rusak ya?" Salah satu orang mencoba membersihkan lubang telinganya sendiri karena merasa ada yang salah dengan pendengarannya.


"Kamu tidak salah dengar, Jerry barusan berkata dia menyukai perempuan udik itu." Seseorang kembali mengkonfirmasi informasi yang mereka dengar.


"Apa?! Jadi tadi kita benar-benar tidak salah dengar, kalau Jerry menyukai perempuan dekil itu?!"


Mereka semua mengangguk tanda iya.


Sampai Rose sendiri, sama-sama dibuat terpegun, karena laki-laki tampan yang merupakan anak baru juga, ternyata punya hubungan dengan Ovin, yang mereka semua kira adalah perempuan miskin.


"Rose, untung saja yang terkena Jerry. Jika yang kamu siram itu Tuan muda Franz, bisa-bisa kamu di usir dari sini loh." Ujar salah satu teman Rose, memperingatkan Rose yang baru saja membuat kesalahan besar.


'Dia benar. Walaupun disayangkan karena aku tidak sengaja menyiram wajah Jerry, tapi karena jerry orang yang baik, dia tidak akan memperpanjang masalahku. Tapi jika yang aku usik adalah Franz itu, bisa-bisa aku bukan sekedar di keluarkan.' Batin Rose. Dia merasa antara bersyukur juga tidak, karena buntu masalah dari apa yang terjadi hari ini, hanya barakhir pada Jerry saja.

__ADS_1


__ADS_2