
“Disini, satu keluarga akan mendapatkan semua warisan sama rata. Tapi tidak dengan Tuan muda Franz.” Tatapan matanya pun tertuju pada laki-laki remaja yang sedang membalas tatapannya juga.
Dan itu adalah ekspresi dari wajah terkejut, yang menandakan kalau Franz dari awal memang sudah cukup lama menunggu bagiannya.
“Apa kau bilang tadi? Aku tidak akan mendapatkannya? Apa maksudnya?” Franz yang penasaran itu langsung beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri pengacara Admes dan buru-buru merebut surat wasiat itu.
Dengan cara membacanya yang terlihat langsung memahami isinya dengan cukup cepat, Franz langsung melempar keras itu ke wajah pengacara Admes dengan cukup kasar.
“Apa-apaan itu? Semuanya ternyata berakhir sama saja.” Kutuk Franz sambil berjalan dengan langkah yang cukup lebar dan langsung kembali duduk di tempatnya dengan ekspresi yang sudah jelas sedang sangat kesal, tapi rasa kesal itu tidak bisa di lampiaskan dengan baik.
‘Dia kenapa? Apakah karena tidak sesuai dengan harapannya, dia jadi tidak mendapatkan warisannya?’ Pikir Ovin.
Bahkan Ibu nya Franz yang melihat anaknya sendiri terlihat marah seperti itu karena salah satu dari kesimpulan yang di katakan oleh pengacaranya memang cukup membuat terkejut juga memberikan reaksi yang sama.
Ya..dia sendiri juga tidak tahu apa isi wasiat dari mendiang suaminya kepada mereka semua, maka dari itu Ny. Jean pun menuntut penjelasan singkat namun padat khusus milik Franz itu dengan tatapan sengit miliknya itu kepada pengacara itu.
“M-maaf, maksud saya bukan berarti Tuan muda Franz tidak mendapatkan warisan milik mendiang Tuan besar, tapi di balik semua ini ada persyaratan yang harus di penuhi oleh Tuan muda agar bisa mendapatkan warisan beliau.” Jelas Admes. Dia membuat semua kalimat di dalam kertas itu menjadi sebuah kalimat yang langsung di pahami oleh mereka semua, termasuk orang yang bersangkutan itu sendiri.
“Jadi apa syaratnya?” tanya Ovin, dia pun juga penasaran juga.
Admes menoleh ke arah gadis belia yang terlihat seperti perempuan yang butuh simpati itu dan menjawabnya pertanyaannya, “Syaratnya antara sederhana juga termasuk sulit juga. Anda dan Tuan muda harus mempertahankan rumah tangga anda berdua selama lima tahun lebih dulu. Dan jika satu syarat itu terpenuhi, maka Tuan muda akan mendapatkan warisan beliau.”
____________
__ADS_1
Flashback Off.
Itulah alasan kenapa Franz saat ini tidak lagi mengatakan perceraian lagi dan lagi, seperti sebelum-sebelumnya.
Walaupun memang terdengar peraturan yang cukup memaksakan hati mereka berdua, tapi demi itu terlihat kalau Franz tetap akan menjalaninya.
Dan Ovin sendiri? Karena dia memang butuh anak di depannya itu, mak Ovin akan berusaha untuk mempertahankannya.
‘Kau memang benar-benar butuh harta ya?’ Kata hati Ovin saat dia akhirnya melepaskan cengkraman tangan miliknya dari kerah seragam milik Franz. ‘Sebenarnya ada satu cara lagi agar kau bisa mendapatkan warisannya, jika kau memang butuh warisan Ayahmu itu dengan cepat. Dan caranya-'
Ovin kemudian memperhatikan Franz dari ujung kepala hingga ujung kaki.
'Caranya cukup sederhana sekali. Aku hanya perlu mengandung anakmu. Jika aku bisa mengandung anakmu, maka setelah aku melahirkannya, kau bisa mendapatkan warisanmu.
Franz, setidaknya kau bisa merasakan bagaimana rasanya tersiksa ingin mendapatkan sesuatu tapi harus terhalang sesuatu juga.
Seperti aku, waktu kecil aku padahal ingin sekali mendapatkan kado dari Ibuku, tapi demi kau aku jadi tidak mendapatkannya. Hari ulang tahunku waktu itu adalah yang paling buruk. Dan itu karena kau.'
Kembali di ingatkan pengalaman buruk yang menyita hati kecilnya, di saat yang sama juga sosok pria di depannya itu juga sangat menyita sepasang matanya untuk terus menatapnya.
Jika di satu sisi fakta yang harus Ovin hadapi adalah Franz adalah orang yang menjadi penyebab Ibu nya Ovin meninggal, tapi di satu sisi lagi Franz adalah salah satu dari dua orang yang wajahnya bisa Ovin lihat.
Makannya, hatinya selalu saja mendapatkan perdebatan.
__ADS_1
perdebatan antar batin yang cukup menguras emosi dan pikirannya untuk memilih.
Memilih mencintai atau membenci?
'Aku memang masih benci dengannya, tapi-' Ovin yang masih berdiri menggunakan lututnya di atas tempat tidur Franz kini membungkuk dan menumpukan kedua tangannya itu untuk menahan tubuhnya yang kini sedang berada di atas tubuh Franz yang ternyata secara refleks Franz jadi menurunkan tubuhnya ke belakang. 'Tapi sayangnya hati untuk menyukai anak ini bisa lebih besar dari rasa benciku.' Imbuhnya.
Ovin sedikit menundukkan kepalanya.
Yang ada di dalam pikirannya saat ini, dia sangat di landa dilema karena dia mendapatkan posisi hati yang sedang saling bertolak belakang.
Maka dari itu, Ovin jadi merasa bersalah, karena dia pada akhirnya menyukai pada sang pembunuh.
Ovin menganggapnya seperti itu karena jika bukan karena Franz, maka mana mungkin akan ada kejadian dimana sang Ibu yang Ovin sayangi itu kini sudah tinggal di alam lain tanpa membawa bersamanya.
'Apalagi yang mau dia lakukan? Kenapa aku tanpa sadar jadi menurunkan tubuhku? Harusnya kan aku mendorongnya!' Sadar dengan posisi mereka berdua yang terbalik karena Ovin terlihat sedang ingin melakukan suatu kepadanya, maka Franz pun mendorong bahu Ovin dari atasnya.
Tapi di saat itu, Ovin justru membuat hal itu jadi sebuah kesempatan, yang mana Ovin langsung menangkap tangan kanan Franz digunakan untuk menyentuh pipinya Ovin.
Membuat kedua mata Franz membulat lebar.
"Bisa tidak sehari kau tidak berdebat denganku?" Layaknya kucing yang ingin di manja dengan sebuah usapan lembut di wajahnya, Ovin melakukan itu dengan menggunakan tangannya Franz.
"Memangnya segampang itu ha? Apapun itu, jika karena bukan salahmu sendiri selalu mengusikku, baik itu kau atau aku, mana mungkin terus berdebat seperti ini." Tangan Franz yang sedang Ovin pakai untuk mengusap wajahnya itu pun kian menegang, sebab Franz ingin melepas cengkraman tangannya dari Ovin, tapi sayangnya Ovin rupanya memang punya kekuatan untuk menahan tangannya Franz.
__ADS_1
"Padahal kau sendiri yang terus saja egois, aku hanya membawa pulang hadiahku, tapi kau menabraknya. Jika saja kau tidak menabraknya, aku mana mungkin tadi menuntutmu. Hanya saja-" Ovin masih berada di atas kakinya Franz. Dia menghentikan aksinya untuk membuat tangan Franz mengelus wajahnya, dan beralih dengan menatap wajah Franz. "Apa kau tidak pernah berpikir dari pada kau terus menganggap aku sebagai-"