Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
88 : PUM : Ruby


__ADS_3

Setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit sampai satu hari penuh, esok paginya Ovin sudah di perbolehkan untuk pulang.


Tapi ada satu hal yang membuat Ovin semakin penasaran, karena selama beberapa hari ini, dia sama sekali tidak memegang kelereng tercintanya itu.


Karena itu, saat Ovin sudah sampai di depan rumah, Ovin lebih dulu keluar dari mobil yang di kendarai oleh Franz.


BRAK.


Tanpa sepatah kata pun, Ovin keluar dari mobil meninggalkan Franz yang sedang mempergatikan kepergian Ovin dengan segala pertanyaannya.


Dan suara pintu yang terbuka sebelum Ovin meraih gagang pintu itu segera menghadrikan sambutan dari seorang Fardan.


"Selamat pulang, No-" Sayangnya sambutan hangat dari Fardan langsung di abaikan oleh Ovin yang sudah lebih dulu masuk dengan serta merta tanpa membuat salam sedikitpun. "Apakah kalian berdua bertengkar lagi?'


Fradan bertanya kepada Franz yang baru saja keluar dari mobil.


"Siapa yang bilang aku dan dia bertengkar?"


"Lalu apa-apaan dengan reaksi Istrimu? Dia terlihat cemas, khawatir, gelisah, seperti menandakan sesuatu yang cukup darurat loh."


Berkerut-kerut dahi Franz mendengar pernyataan Fardan yang cukup lengkap, sampai menyebut kata Istri unutk Franz yang sejujurnya belum lama ini baru saja menginjak usia delapan belas tahun.


Umur yang masih muda, tapi diam-diam sebagai pelajar SMA, Franz sudah memilik seorang Istri lebih dulu ketimbang teman-temannya.


Tapi kira-kira apa yang membuat Ovin terlihat panik sampai lari terburu-buru masuk kedalam rumah?


Fardan dan Franz juga penasaran.


'Dimana aku menyimpannya? Ah ya, aku terakhir kali menyimpan kelereng itu di dalam saku rok seragamku.' awalnya dia mencarinya dari satu baju ke baju lain, baju yang ada sakunya ia rogoh juga tidak ada maka mencari baju yang lainnya. Tapi karena dia sempat teringat dengan rok seragamnya, maka Ovin pergi menuju satu keranjang yang berisi pakaian kotornya. Tapi, tidak ada juga.


Hanya karena kelereng Ruby, Ovin sebenarnya ingin sekali menggeledah kamarnya.


Tapi dia tidak memiliki waktu sebanyak itu untuk sekedar mencari kelereng berharga miliknya.


'Walaupun imitasi, tapi aku menyukainya. Apa aku pesan satu tapi dengan bentuk yang lain?' Pikirnya. 'Tapi- untuk memesan kelereng dengan bentuk sempurna dan komposisi warna serta kejernihan seperti itu, itu cukup lama. Sedangkan aku menyukainya'


Demi agar tidak mendapatkan kerugian, jika Ovin membawa barang yang asli, Ovin memilih untuk membuat salinannya. Tapi karen abutuh waktu yang lama untuk sekedar membuat satu batu kelereng sesempurna seperti yang Ovin hilangkan, dia pun jadi sedikit sedih.


Sebab Ovin memang menyukai kebiasaan anehnya itu, dan kebiasaannya jadi terhenti karena kelereng yang sering dia gunakan untuk mengamati, sudah hilang.


Hilang dimana Ovin tidak tahu. Apakah saat di pemakaman, di rumah Jenifa, atau saat dirinya berlari dari kejaran para preman itu.


Ovin sama sekali tidak tahu dimana benda miliknya hilang.


" Sudahlah, lebih baik aku tidak mengharapkan bisa menemukannya." Rutuk Ovin.

__ADS_1


Karena sudah mulai menunjukkan pukul 06:00 maka dia menyudahi acara memberantakin kamanya.


Dia harus pergi berangkat sekolah, memang sih tidak ada kegiatan balajar mengajar, tapi sedikit disayangkan juga jika tidak masuk, lagi!


Ovin kemudian bersiap untuk berangkat sekolah setelah 1 hari izin sakit.


Dia keluar lebih awal dari biasanya, dan berjalan keluar gerbang untuk menunggu....


Tin.....Tin....!


Suara klakson itu datang tepat di depannya gerbang. Mobil yang sangat dikenalinya membuat Ovin tersadar, gerangan apa yang terjadi pada Chade?


Baru pertama kali orang ini datang sepagi ini untuk....


"Cepat masuk, aku antar kamu." Dan Chade tentu saja ingin mengantar keponakannya sekolah.


Padahal sudah ada kejadian kemarin, tapi tidak terlihat adanya wajah kapok dari pamannya itu.


"Masih tidak kapok?" tanpa ragu lagi Ovin masuk ke dalam mobil, lalu kedua orang ini pun pergi menyusuri jalanan sepi yang indah akan pepohonan yang tumbuh rimbun di pinggir jalan.


Sedangkan beberapa saat tadi ketika dia masuk kedalam mobil Chade, ternyata di pintu rumah yang terbuka ada Franz yang baru saja keluar dan hendak berangkat sekolah juga.


Dia melihat ISTRI nya dibawa orang!


'Orang itu! Kenapa dia bisa masuk kedalam wilayahku dan membawa ovin pergi!' Teriakan hati Franz saat melihat Istrinya di bawa pergi orang, dan orang itu adalah Chade, yang kemarin baru saja mendapatkan ganjaran dari Ovin.


Franz tahu tadi itu adalah mobil milik Chade, harusnya ada perasaan biasa-biasa saja karena akan ada orang yang mengantarnya sekolah tanpa melibatkan dirinya, tetapi diluar ekspetasi hatinya terasa gelisah.


Dari pada mikiran kegelisahan di dalam hatinya, Franz pun mencoba dengan hal lain.


Dia sedang berusaha mengalihkan perhatiannya sendiri dari pikiran yang membayanginya sejak kemarin, Franz berjalan menuju ke garasinya sendiri, pintu juga otomatis terbuka dan lampu dari satu ujung ke ujung lain secara berurutan menyala, terlihat indah melihat barisan mobil yang mengkilap dimana kap mobilnya itu alias setiap bagian body mobil tersebut sempat memantulkan cahaya lampu yang sedang bersinar di atasnya.


Dia berjalan diantara barisan mobil tersebut dan memilih mobil mana yang akan digunakannya hari ini.


Selagi memilih mobil, Franz memikirkan soal yang tadi.


Sebenarnya sebelum Ovin berangkat sekolah, Ovin sempat memasak, dan tidak membiarkan Fardan membantunya.


Tentu saja seperti biasa, Ovin akan memasak lebih, karena tujuannya memang untuk di makan untuk mereka berdua


Dan karena rasa gengsinya, Franz pun sarapan saat Ovin pergi lebih dulu. Dia sebenarnya memiliki rasa penasaran setelah waktu itu pernah diam-diam mencuri makanannya Ovin, dan sejak itulah Franz jadi suka dengan masakannya.


'Padahal dia sembarangan masak, sayur campur aduk begitu tapi kenapa dimakan tetep enak?' tangannya membuka pintu mobil lalu duduk dan mulai menyalakan mesin mobil. 'Aku melihat cara dia memasak berbeda dengan Ainz, tapi aku kenapa aku jadi suka makanannya!'


Tapi setelah itu...

__ADS_1


TINNNNNNNNNNN..............!


Suara klakson yang cukup panjang itu pun langsung membuat kebisingan gara-gara Franz tiba-tiba mendaratkan dahinya di atas stir mobil.


'Sial, apa hatiku mulai lembek? Dia cuma perempuan murahan dari keluarga biasa, trik apa yang dia gunakan pada ibuku? Sampai memberinya jet pribadi. Gara-gara dia yang menyelamatkan orang tuaku, ibuku sekarang jadi pilih kasih, beri penghargaan apa gitu..rumah atau uang, kenapa justru seolah-olah beli satu gratis satu?' Pikiran Franz pun jadi tidak karuan.


Di satu sisi, hatinya perlahan mulai memperhatikan Ovin, sehingga saat melihat Istrinya tadi di bawa pergi oleh Chade, Franz pun jadi merasakan perasaan cemburu yang teramat sangat.


Tapi di satu sisi lain, Franz harus menghadapi kenyataan lain, soal Ovin yang masuk kedalam kehidupannya.


Ovin masuk ke dalam hidup Franz dengan waktu yang tiba-tiba, sehingga Franz pun jadinya tetap memiliki kecurigaan yang besar terhadap Ovin itu.


Memang, jika dulu Ovin lah yang menyelamatkan orang tua Franz meskipun ayahnya sekarang sudah tiada.


Tetapi dari sudut pandangannya, Franz berpikir seperti sebuah barang yang sedang ada diskon, jika beli satu maka gratis satu dan artinya menyelamatkan orang tua Franz maka dapat anaknya.


"Tch..." Decih Franz. Dia sungguh dalam keadaan dilema yang sangat berat.


Tok......Tok.......Tok.......


Ketukan pintu kaca memyadarkan Franz dari dunianya sendiri. Fardan lah yang tadi mengetuk pintu kaca, dia menunjuk ke satu jam tangan yang dipakainya dengan maksud kalau tidak berangkat maka terlambat. Itu sebuah kode yang diberikan Fardan karena sebenarnya...


"Pagi-pagi sudah berisik!" umpat Fardan, dalihnya karena merasa terganggu dengan suara klakson yang terus menerus bunyi.


Meskipun tempat tinggalnya jauh dari keramaian tapi yang namanya berisik tetap saja mengganggu orang lain.


Diarasa Franz sedang banyak pikiran, jadi Fradan sebagai pamannya pun bertanya. " Sepertinya ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan sebelum berangkat "


" Uhm.....apa Chade beneran pacarnya? " Satu pertanyaan yang cukup polos jadinya terlontar dari mulutnya, padahal di dalam hatinya terus memiliki gejolak ingin menendang wajah Chade yang bagi Franz sendiri Chade sok kegantengan, dan merayu Istrinya Franz terus menerus.


" Hahhhh....aku akan sedikit memberikan saran padamu, apa yang terlihat oleh mata dan telingamu belum tentu menjadi bukti jika mereka berdua itu pacar atau mantan pacar? Sekalipun Chade entah tahu atau tidak tahu Ovin menikah denganmu, tapi dia bisa datang langsung kerumah ini berarti dia juga kenal dekat dengan Ovin. Pasti dia memberitahukan alamat rumah ini padanya.


Jika masih penasaran kenapa tidak tanya saja langsung pada Ovin? Apa yang diucapkan satu orang dengan orang lain itu belum tentu sama." Jelas Fradan kepada Franz panjang lebar.


Karena jika tidak di jelaskan secara rinci begitu, yang ada anak di depannya itu akan kembali menanyakan hal yang menurut Fardan sendiri tidaklah berguna.


Karena apa jadinya tidak berguna?


'Jika memang merasa tersaingi, Franz seharusnya lebih aktif lagi dalam mendekati Istrinya sendiri, bukan malah bertanya pada orang lain seperti aku.' pikir Fardan, melihat kepolosan Franz saat ini karena dalam keadaan frustasi.


"..................." apa yang dikatan pamannya memang ada betulnya juga, hal paling penting di dunia ini adalah jangan hanya mendengarkan perkataan dari satu orang.


Masalah seperti ini seharusnya tidak ia pikirkan terlalu dalam, awal hubungannya hanyalah sebuah keterpaksaan yang dibuat oleh kedua orang tuanya, seharusnya tidak masalah jika ada orang lain yang lebih perhatian pada Ovin. Dia yang selalu menjadi bahan gosip orang-orang disekolah jika ada orang yang lebih baik untuk melindunginya dari pada Franz?


'Tidak...tidak. Kenapa aku selalu gelisah jika memikirkan dia dekat dengan pria lain sih. Waktu itu Jerry, sekarang Chade. Apakah aku harus operasi hati dan jantung agar di ganti?' Delik Franz melihat Fardan terus mengetuk jam tangannya sendiri sebagai penanda untuk Franz kalau ini sudah akan telat.

__ADS_1


Namun akhir-akhir ini hatinya selalu berkata lain, sekalipun ucapannya terkadang kasar sebenarnya tidak ada rasa benci pada Ovin.


Ia hanya merasa tidak tahu harus melampiaskannya pada apa dan siapa karena hubungan mendadak yang dibuat ayah dan ibu, maka dari itu Franz terkadang cuek dan tidak peduli, ataupun terkadang menyuruh Ovin melakukan sesuatu untuk melampiaskan kekesalannya itu.


__ADS_2