
'Sialan, aku malah akhirnya memakan semua masakan dia.' Seperti dikutuk, dinding yang ia bangun menahan goda rasa masakan Ovin pun runtuh. " Gluk....gluk.....gluk... " Meminum airnya dengan cepat.
Ketika Franz memutar tubuhnya, tiba-tiba saja dia menabrak seseorang.
DUK.....
Franz matanya melirik ke bawah, ada satu kepala menabrak dadanya, dan itu adalah kepala milik Ovin.
'Kenapa perempuan ini disini!? sengaja mencoba memelukku?!' Pikir Franz.
Tapi ketika ingin mendorong jauh Ovin darinya, yang dia lihat adalah tatapan kosong.
'Dia mau air?' Refleks tangannya memberikan Ovin air.
Ovin pun meminumnya dan menghabiskan sisa air dari gelas tersebut.
Baru airnya habis, Franz baru saja sadar kalau yang diberikannya itu adalah sisa air gelas miliknya.
'Cih...., ada apa dengan ku?' Perbuatannya lantas mengartikan ciuman secara tidak langsung. “ Tapi dia ini…. “ Franz mencoba berpikir apa yang sedang terjadi dengan Ovin.
Dia hanya melihat tatapan mata milik Ovin benar-benar seperti semakin jatuh dalam kegelapan.
Franz mengacak rambutnya karena frustasi. " Aku tidur saja lah "
Hanya saja ketika akan meninggalkan Ovin, dia tetap merasa terbebani dengan keberadaan Ovin yang masih diam berdiri.
Karena itu, dengan berat hati Franz yang awalnya ingin menyadarkan Ovin, karena terlihat menakutkan, membuat dirinya langsung tersadar dengan satu hal lain.
Yaitu, kalau perempuan di depannya itu sedang dalam kondisi tidur berjalan.
'Sepertinya aku pernah baca, jangan membangunkan orang yang tidur berjalan.' Dengan berat hati Franz menggandeng tangan kanan Ovin untuk menuntunnya ke kamar.
Dan disaat itulah, akhirnya Franz tanpa sengaja melihat sesuatu yang baru dia ketahui.
'Kapan dia punya luka di lengan?' Menatap ke satu tangan sebelah kanan Ovin yang dipegangnya, terdapat luka panjang yang dijahit dan juga sudah hampir menutup.
Kebetulan Ovin sengaja untuk tidak membalutnya dengan perban alasannya adalah agar lukanya cepat mengering dan nantinya satu per satu benang yang menembus kulit akan bisa dilepaskan jika sudah saatnya.
Tapi rahasia itu sudah tidak bisa ditutupi lagi dari Franz, karena sekarang laki-laki ini sudah mengetahuinya.
Franz masih menuntunnya hingga sampailah di satu kamar. Sekali lagi kamarnya ada samar-sama bau antiseptik yang menusuk ke hidungnya, dan lagi pun Franz memang kedua kalinya menginjak kamar yang ditempati Ovin.
" Akhirnya sampai. " Gumam Franz.
Ternyata hanya dengan gumamnya, Ovin langsung duduk dan berbaring di kasur.
BRUK.
"......…....." Franz menatap dingin perempuan itu. Sebenarnya dia ingin sekali menceraikan Ovin, tapi lagi-lagi semua itu akan berujung pada nasib Franz sendiri, dimana Ibunya sudah pasti akan turun tangan. 'Tapi kenapa yang Ibu pilih adalah perempuan macam dia? Jika saja itu Bella, pasti aku akan terus menyayanginya. Tapi ini?'
Franz menggeleng pelan untuk menepis semua pikirannya itu dan beralih untuk pergi meninggalkannya.
_______________________
Keesokan paginya Bella sudah pulang lebih awal.
Franz jadi tidak perlu mengusirnya atau lebih tepatnya membuat dia keluar dari rumah atau jika tidak, maka sedikit demi sedikit rahasianya akan terbongkar.
Tidak ada hal lain selain melewati ujian Try Out. Namun hari-hari dengan Ovin benar-benar tidak bisa dilewati dengan tenang juga.
Karena secara tidak sengaja Franz melihat sebuah kecelakaan.
BRUKKK.....
" Eh lihat, itu...kan Bella? " Semakin banyak orang mendekati tempat kejadian.
" Tunggu, apa yang terjadi? " Menghentikan salah satu orang dan sekaligus bertanya.
__ADS_1
" Katanya Bella jatuh dari tangga. " Jawab orang tersebut pada Franz.
Franz terkejut bukan main, jika orang lain maka tak masalah dan jika Ovin sendiri juga rupanya betulan tidak akan memperdulikannya.
Tapi ini yang ini adalah Bella?!
" Apa ini! Jelas-jelas aku melihatnya kalau dia menyenggol Bella dengan sengaja hingga terjatuh! " Salah satu orang teman Bella terus menuduh Ovin yang saat ini sedang menjadi seorang tersangka.
" Eh dia kan siswa baru itu? "
" Berani sekali melukai bunga sekolah kita! "
"Ayoyo, dia pasti langsung dikeluarkan dari sekolah. Tindakannya termasuk kekerasan jua." Ujar siswa yang lainnya.
Ada darah keluar dari kepalanya, cedera yang cukup serius dan akan berbahaya jika tidak pergi ke rumah sakit.
Itulah yang dipikirkan oleh banyak orang.
"Aku akan membawanya ke rumah sakit." Tutur Jordy pada semuanya.
"Kamu tunggu di ruang osis." Perintah Jordy yang menunjuk langsung ke arah Ovin.
Ovin hanya terdiam. 'Ini salah paham, sekalipun aku mencoba menyangkalnya karena aku benar-benar tidak melakukannya, pasti mereka tetap menyalahkanku.' Sudut matanya melirik jauh ke samping dimana Franz juga meliriknya, tapi dia betulan mengabaikan keberadaannya.
"Ovin, segera ke ruang osis!" Tutur kepala sekolah pada Ovin.
30 menit kemudian.
Ruang osis yang biasanya menjadi tempat berkumpul anak osis, kini ada kepala sekolah, wali kelasnya, ketua Osis, sekretaris, dan seksi keamanan yang juga turut andil dalam organisasi Osis.
"Apa kamu tahu siapa dia?" Tanya kepala sekolah pada Ovin untuk diinterogasi.
"Bella Linray, Putri pertama dari keluarga Lin yang juga berkontribusi dalam investasi untuk sekolah ini." Jawab Ovin dengan jelas.
"Kamu cukup tahu, tapi apa alasannya melukai Bella dengan cara seperti itu?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan! Cepat jawab! Tindakanmu sama saja mencoreng nama baik sekolah dan bisa membuat sekolah elit ini menjadi terpuruk jika beritanya benar-benar keluar dari lingkup sekolah!" Jelas pria paruh baya ini, yang merupakan seorang kepala sekolah dari sekolah Clarty.
Dan dengan kejadian ini, maka keadaan yang sangat rumit itu pastinya sangat mempengaruhi para siswanya juga karena sebentar lagi ujian kelulusan.
"Kamu mempermalukan kelas D!" Wali kelasnya pula malah juga sama tidak mendukungnya.
'Diskriminasi terhadap siswa lain karena asal sekolahnya?' Ovin tersenyum mencibir. " Tapi saya tidak melakukan apapun, tidak ada alasan bagi saya untuk melukai orang lain. Lalu apa alasan anda bersikukuh seperti agar saya menjawabnya dengan harapan mengiyakan kejadian ini?"
DEG…
Semua orang yang ada di sana langsung tercekat kaget dengan pernyataan dari Ovin yang terdengar mampu untuk mengembalikkan keadaan hanya dengan sebuah kata-kata.
"Kamu dari sekolah rendahan, perilaku kalian juga sama. Kamu masuk kesini hanya karena mendapatkan rekomendasi dari kepala sekolah kamu, apa kamu tahu itu?!“ Kita sang kepala sekolah lagi kepada Ovin.
"Tunggu, biarkan saksi menjelaskannya lebih dahulu." tutur Jordy." Nona Wille, silahkan bicara."
"Aku akan bertanya sebagai wali kelasnya Bella. Seperti apakah ringkas kejadian yang nona Wille lihat di tempat kejadian?"
"Saya awalnya hendak turun ke lantai dua dan itu tepat di belakang dia, saya juga tidak sengaja melihat nona Bella juga dan beberapa saat mereka berdua berbincang bersama. Tapi tepat ketika nona Bella hendak pergi ke atas, Ovin mencengkram lengan nona Bella dan mendorongnya, hingga akhirnya kejadian itu adalah nona Bella jatuh." Jelas Wille.
"Hanya mengandalkan saksi mata juga tidak bisa dijadikan bukti." Tutur siswa lain yang menjadi seksi keamanan sekolah.
Sebagai anggota osis yang teladan, anggota osis tidak akan berpihak pada satu orang yang bahkan belum mempunyai bukti yang kuat untuk menuduh orang lain, itulah mereka kenapa bisa di tempatkan di ruang rapat ini.
"Cctv." Sela Ovin, dengan percaya dirinya.
"Kamu coba periksa kamera pengawas!" Perintah Jordy pada temannya.
____________
"Apa kamu tidak apa-apa?" Tanya Franz yang khawatir akan luka di kepala Bella yang sekarang justru dibalut dengan perban.
__ADS_1
"Sudah mendingan, tapi kaki ku terkilir. Beberapa hari ini mungkin aku harus libur diri." Sahut Bella yang ada di atas ranjang pasien.
'Aku tidak tahu hubungan Franz dengan perempuan bernama Ovin itu.' Pikir Bella.
Bella sebenarnya tahu akan kejadian beberapa hari lepas dimana pembantu yang ada di rumah Franz adalah Ovin, kejadiannya hanya sederhana.
Sesaat setelah Franz keluar dari kamarnya setelah menemani dirinya tidur, secara tidak langsung ia sebenarnya tidak tidur sama sekali. Bella hanya mengendap mengikuti Franz kemana dia pergi dan rupanya ke dapur, setelah cukup lama menunggu datanglah Ovin yang langsung mendekati Franz seperti orang berpelukan, dan Franz sendiri tidak menolak Ovin mendekatinya.
Itulah serangkaian kejadian yang Bella lihat saat menginap di rumah Franz.
"Apa kamu bisa menemaniku selama di rumah sakit?"
"......... ....."
"Ah...maaf jika memang permintaanku merepotkan." Mencoba merayu Franz dengan acara merasa bersalah.
"Tidak, nanti malam aku datang lagi, aku harus kembali ke sekolah." Berdiri lalu mengambil kunci mobilnya dan berlalu pergi meninggalkan Bella di kamar rawat inap.
___________
"Sudah aku bilang bukan aku yang melakukannya!"
Tiba di rumah untuk pertama kalinya dia bertengkar dengan seseorang.
"Kalau bukan kamu siapa lagi? Untung cederanya tidak parah!" Marah Franz kepada Ovin sesaat sesampainya di rumah, karena perempuan ini lah yang menjadi tersangka atas kasusnya Bella tadi pagi.
"Siapa lagi? Tentu saja Bella sendiri! Rumor terasa lebih nyata ketimbang kenyataan yang sebenarnya? Apa kau yang merupakan siswa terpintar di sekolah hanya mengandalkan perasaan ketimbang otak? Benar begitu Franz?!" Teriak Ovin kepada Franz, karena merasa sama kesal. Baru pulang langsung dimarahi oleh suaminya sendiri
Ovin tertawa geli saat harus menerima kenyataan kalau pria di depannya itu sebenarnya adalah suaminya.
'Sampai tenggorokanku kering juga dia tidak akan pernah percaya padaku.' Pikir Ovin.
“Apa kau baru saja membentakku dan meneriaki namaku dengan mulut busukmu?“ Tanya Franz dengan penuh penekanan.
Dia langsung berjalan kedepan selangkah demi selangkah, membuat Ovin spontan berjalan mundur.
"Dan kau tidak ada hak menuduh dia apalagi dari mulutmu itu!" Seru Franz, baju sekolah juga belum ganti namun melihat orang yang sama setiap hari juga membuatnya tambah jengkel.
"Pernikahan ini sangat memuakkan, lebih baik kau minta ke orang tua ku cerai dengan begitu masalah kali ini aku anggap tidak ada, apa kau mengerti?!"
"Kenapa bukan kau saja?" Tanya Ovin balik. Hatinya sebenarnya sudah akit. Bahkan sebelum menikahi pria di depannya itu, hatinya sudah lebih dulu terluka.
Tapi apa?
Yang sekarang ternyata jauh lebih terluka, karena Franz benar-benar secara terang-terangan melindungi Bella.
Lebih memilih mempercayai orang lain ketimbang dirinya.
Bagi Ovin, sebenarnya di matanya, Franz juga sama-sama menyedihkan.
Karena Franz mencintai seseorang yang bahkan tidak tahu sifat asli Bella sebenarnya seperti apa.
Franz tidak mempercayainya, mempercayai hubungan yang sudah terikat dengan sumpah setia.
Sebuah kebohongan.
Ucapan janji yang hanya mudah diucapkan dengan mulut.
“...................” Ovin benar-benar merasa jengkel juga dengan dirinya sendiri.
"Jangan buat aku tambah emosi!" Teriak Franz lagi.
Sebenarnya Franz dan Ovin tahu, jika yang meminta cerai adalah Franz. maka tentu saja ibunya tidak akan setuju karena dari awal ibu dan ayahnya memilih perempuan ini untuk Franz nikahi.
Seperti inilah pernikahan jika tidak sesuai kehendak, cinta yang dipaksakan untuk tumbuh bersama.
Segala macam dari emosi yang masih labil, membuat mereka berdua dalam kekacauan.
__ADS_1