
"Aku tinggal makan dulu, aku tidak akan mengganggumu lagi. Karena sebentar lagi aku juga akan pergi, jadi tidur saja." Kata Ainz sambil melihat jam tangannya, sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
"Hmm..." Ovin sendiri hanya berdehem pelan sebagai jawabannya.
KLEK...
Selepas Ainz pergi, Ovin beralih posisi untuk mirinng ke arah kiri sambil melihat pintu kamarnya yang baru saja tertutup itu.
'Dia....apakah orang itu? Jika saja aku tidak punya penyakit ini, aku pasti akan tahu kalau orang yang waktu itu melihatku sedang membereskan bandar narkoba. Hahh~ Jika memang iya, aku harus apa? Tidak ada yang salah dengan pekerjaan lamaku. Sekalipun dia mau membeberkannya, dia tentunya harusnya sudah melakukannya dari dulu.' Pikir Ovin.
Karena rasa sakit kepalanya kembali datang, Ovin pun mencoba untuk kembali tidur.
_________
Soreitu.
Setelah bisa tidur dengan nyenyak, Ovin akhirnya bisa merasakan perasaan yang begitu tenang dan damai.
Kepergian dari semua orang dari wilayahnya membuat dia pun keluar ke halaman menikmati pemandangan taman yang disiram air secara otomatis. Dari kejauhan ianya seperti air hujan dan nampak pelangi karena kebetulan hari juga masih bersinar cerah, padahal jam sudah menunjukkan jam empat sore.
Namun sekalipun Ovin sudah membuat aktivitas kecil untuk sekedar olahraga dan makan sore, sampai sore itu pun Franz belum pulang ke rumah.
" Aku ingin melihat wajahnya " bisik Ovin sambil menatap langit-langit rumah yang pencahayaannya sengaja dibiarkan remang dan memutar lagu klasik yang menenangkan agar pikirannya tidak stres selagi sakit kepalanya sudah berangsur membaik.
Ia tiduran di sofa di temani dengan si robot penyedot debu yang mampir ke sisinya untuk memberikan senyuman sesaat.
7 malam.
'Ibu....jangan...jangan tinggalkan aku, ayah....kenapa..kenapa kau mengkhianati ibu!'
Satu mimpi itu pun diwarnai tangis, karena cukup membuat hati Ovin yang sedang tidur cukup lelap itu sakit.
__ADS_1
" Hiks....hiks...hiks " tanpa sadar Ovin menangis dalam diam menghadap sisi sofa. Siapapun yang melihatnya, maka hanya punggungnya saja yang mereka lihat.
'Dia tidur sambil nangis?' Franz baru saja pulang tapi sudah disambut dengan seseorang yang terbaring di sofa dengan menghadap sisi sofa sehingga tidak akan ada orang tahu siapa yang tengah berbaring itu kecuali diri Franz sendiri, bahwa tangisan kecil yang terdengar itu adalah milik dari Ovin yang sedang bermimpi buruk.
".............." Merasakan adanya hembusan nafas yang menerpa kepalanya, Ovin pun langsung tersentak kaget karena merasakan ada seseorang sedang memperhatikannya dari dekat itu, jadi Ovin segera bangkit dari acara tidurnannya, yang sayangnya, akhir dari tidakannya itu menjadi sebuah perkara lain, sebab..
JEDUGGGHH.......
" Arghhh....... " Franz meringis sakit di dagunya sebab terkena kepalanya Ovin saat dirinya memandang Ovin dari atas kepalanya Ovin.
Siapa yang menyangka kalau akan ketahuan sedang memperhatikannya dari dekat.
" Aww...... " Ovin pun mengusap kepalanya yang sakit setelah menghantam dagu milik Franz, yang rupanya benar-benar orang yang brau saja memperhatikannya dari dekat? 'Kenapa dia ada di atasku? Ini juga cukup sakit.'
" Apa kepalamu dari batu?! Sakitnya " Tukas Franz, dia mengambil dua langkah ke belakang agar bisa sedikit menjauh istrinya yang berhasil membuat perkara dengannya.
'Itu kan kesalahannya sendiri, kenapa berdiri memandangiku dari atas?' Gerutu Ovin di dalam hati.
" Perasaan aku tidak mengundang orang untuk bertamu " gerutu Franz.
" Aku akan membukanya. " Ovin pergi untuk mengetahui siapa orang yang bertamu di malam begini, dan belum sempat setengah jalan pintunya sudah terbuka sendiri.
Franz menoleh ke arah kanan, wajahnya terkejut sebab tamu yang datang itu adalah....
" Hai nak. " Sapa wanita ini dengan senyuman yang kian mengembang.
" Ibu!? Kenapa datang kesini tanpa mengabariku dulu? " Franz berjalan menghampiri ibunya.
" Eh...kenapa ibu harus mengabarimu dulu? Jika memberitahumu dulu bukan kejutan namanya." Jawabna.
" Tapi ibu sudah membuatku terkejut, puas? " Franz kesal pada sang ibu sebab kedangannya itu seacara tiba-tiba, walaupun untungnya dirinya bisa berada di rumah terlebih dahulu, dan tidak ketahuan kalau sebenarnya dirinya baru saja keluar rumah hingga seharian penuh.
__ADS_1
" Kenapa anak ini marah? Bagaimana kabarmu nak? " pandangannya ia alihkan ke arah Ovin yang ada di belakang.
" Baik-baik saja bu. " Sahutnya, sudah tidak lagi menyentih dahinya yang sempat menjadi baku hantam untuk dagu Franz sesaat tadi.
" Baguslah, kamu habis dari mana?" tanya lagi kepada Franz.
'Aduh.....ibu, apa aku harus melapor kemana aku pergi?' Keluh Franz. "Rumah teman." terpaksa menjawab.
" Jam segini baru pulang? Kapan kamu bisa berubah?! Apa dia selalu merepotka- " Tiba-tiba matanya terpaku pada sesuatu yang menempel pada pungghng tangan Ovin. Ibunya Franz mendatangi Ovin dan langsung menarik tangan kirinya yang sempat di sembunyikan di belakang. " Ini apa? " telunjuknya menunjuk ke satu plester untuk luka.
" Ini bukan apa-apa." Ovin menarik kembali tangannya.
" Bukan apa-apanya apa? Apa terjadi sesuatu padamu? Hei...Franz, kamu tidak bisa menjaga istrimu sendiri? " serunya, pada anaknya sendiri. Omelan pun terjadi juga, setelah beberapa waktu ini tidak ada yang mengaturnya.
" Ibu, kenapa memarahiku, aku juga tidak tahu kenapa. Coba saja tanya ke dia." Emosinya Franz yang sudah sedikit memuncak memutuskan dirinya untuk pergi ke kamar dan tidak mempedulikan ibunya yang pasti ujung-ujungnya membela Ovin.
" Hanya luka tusuk jarum karena ingin di infus vitamin, kan beberapa bulan ini harus belajar keras jadi sedikit lelah." jawab Ovin sebwgai alasan sekaligus kenyataan yang sebenarnya.
" Ohh..., tapi dia tetap anak yang keras kepala. Jika dia buat salah jangan sungkan lapor pada ibu." Beber wanita ini.
"............." Ovin mengangguk paham, sekalipun dia tidak akan melakukannya, karean ujung-ujungnya yang akan di bela adalah dirinya, bukan Franz.
" Kamu terlihat sedikit kurusan, apa dia tidak memberimu makan? " Tengok kanan dan kiri, melihat bentuk tubuh Ovin yang tinggi namun juga kurus.
" Err......, aku memang seperti ini. Sekalipun makan 5 kali sehari, aku juga tetap segini."Ovin sedikit risih, karena dia benar-benar terlalu memperhatikannya.
" Pfftt.....jadi tidak perlu khawatir gendut dong. Kebetulan ibu bawakan makanan seafood, kita makan malam bersama. Bujuk anak itu turun juga ya." Menenteng bag paper ke depan, dan dari baunya juga sudah ketahuan itu adalah makanan laut.
" Baik bu." Ovin pergi ke lantai dua untuk memanggil Franz yang baru juga masuk kedalam kamar.
Sedangkan Franz di kamar sedang menggerutu sendiri. " Kenapa ibu selalunya membela perempuan itu? Sebenarnya anak kandungnya itu siapa sih? "
__ADS_1
Franz membebel sendiri di dalam kamar, tidak menerima karena perlakuannya itu sangat berbeda antara dirinya dengan Ovin. Ovin justru disayang seperti anaknya sendiri dan selalunya melampiaskan tududuhan pada dirinya. Itulah yang membuatnya kesal dan tudak suka akan keberadaan Ovin yang selalu datang dan selalu hadir apatah lagi selalu muncul di depannya juga bayangannya.