Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
87 : PUM : Gagal total


__ADS_3

Melihat ada dua orang pria di samping kanan dan kirinya saat ini sedang mulai melakukan pertengkaran di depan matanya persis, Ovin yang tidak tahan lagi itu langsung.


"Apa-apaan sebenarnya kau ini, kau telah melakukan pelecehan kepadanya." Tegas Franz seraya menghntikan tangan Chade yang dengan sembarangan, dengan dalih sedang membantu mengeringkan pakaian yang di gunakan oleh Ovin, sebenarnya di saat yang sama juga Chade seperti ingin meraih kesempatan juga.


Maka dari it, Franz yang notabene nya adalah suami sah dari Ovin sontak saja langsung kesal dengan tindakan dari Chade ini.


"Pelecehan apa, yang aku lak-"


BRAKK...!


Satu gebrakan meja yang cukup keras itu langsung membuat semua piring yang ada di atas meja sempat melayang dan bergeser, serta berhasil membuat kedua orang ini bungkam dengan tindakan yang di lakuan oleh seorang pasien yang belum lama ini mendapatkan demam tinggi, dan menjadi pasien di sini selama satu hari.


"Apa kalian bisa diam?" Tanya Ovin dengan kepala menunduk. Dan pertanyaan itu di iringi dengan nada suara yang cukup rendah, hingga bulu kuduk mereka berdua, terutama Franz, langsung berdiri.


'A-apa..apa yang barusan dia lakukan? Itu tangan atau besi? Kenapa di kondisinya itu, dia bisa memukul meja sekeras itu?' Panik Franz melihat tangan kanan istrinya itu benar-benar sudah mengepal dengan cukup erat, mengisyaratkan kalau tangan itu bisa kembali melakukan pekerjan keras untuk memberikan peringatan kedua, baik untuk Franz sendiri maupun untuk chade, jika mereka berdua kembali berdebat di depan Ovin lagi, maka Franz pun memilih untuk diam saja.


"Ovin, tenang-tenang, simpan tenagamu untuk pulang. Jangan terba-" Chade yang mencoba menenangkan keponakannya itu, langsung di mencengkram kerah baju Chade. "O-ovin, tunggu, jangan seperti ini."


Chade langsung panik saat kerah bajunya di tarik oleh keponakannya itu.


"Jangan seperti ini? Harusnya itu yang aku katakan kan? Kenapa menyentuhku-" Ovin segera mengernyitkan matanya saat menatap mata Chade secara berani.


Sebuah isyarat yang cepat-cepat Chade ketahui. "Itu bukan sesuatu yang bisa paman sentuh kepada keponakannya sendiri. Aku ini sudah menikah, jadi yang pantas menyentuhku adalah dia."


Mengerti akan maksud dari tatapan mata, banyak kata tanpa suara, Chade pun tersenyum tawar. "M-maafkan paman, paman tidak senga-"


Belum juga menyelesaikan kalimatanya dalam sebuah tatapan mata yang bisa dia berikan itu, Ovin langsung menariknya lagi lebih kuat dan melemparnya ke rah depn.


PRANKK.....


Semua makanan yang ada atas meja itu langsung terjatuh setelah di terjang oleh tubuh Chade yang terseret ke meja sepanjang lima meter.


Membuat sebuah kekacauan besar dalam sekali lempar.


'Dia bisa melakukan itu?' Franz masih tercengan dengan apa yang dia lihat saat ini. Apalagi soal Istrinya yang bisa melempar tubuh pria gede seperti itu?!


Franz yang tidak bisa berkata-kata apa pun memandangi dua orang itu secara bergantian. Namun ketika Ovin memberikannya Franz sebuah lirikan, sontak saja Franz segera menghentikan matanya yang jelalatan itu.


Melihat reaksi Franz yang terkejut itu, tentu saja Ovin jadi langsung menyadari perbuatannya sendiri. 'Alamak, apa yang aku lakukan? Kenapa aku melempar paman di depan Franz persis? Kalau seperti ini, aku pasti jadi semakin di selidiki, karena aku ku-'


"Acara jamuan makannya selesai sampai disini. Kau harus di menemui dokter." Tiba-tiba Franz menyeret Ovin pergi dari sana meninggalkan Chade yang masih terkapar di atas meja.


"Eh. Untuk apa?" Ovin bertanya dalam wajah yang kebingungan. Di satu sisi dirinya baru saja melakukan hal kasar kepada pamannya sendiri di depan Franz, tapi di satu sisi, Franz justru terlhat panik sampai menyeret Ovin untuk pergi bersamanya.


Franz yang saat ini berjalan memimpin itu tidak mengalihkan pandangannya dari depan, tapi dia masih tetap mau menjawab. "Apalagi? Apa kau tidak merasakan sakit di tangan kirimu?" Beritahu Franz.


Membuat sebuah peringatan kecil untuk Ovin, Ovin pun mencoba melihat memangnya apa yang terjadi kepada tangan kirinya?


Setelah di telusuri, rupanya jarum infus yang memang masih menusuk dan bersemayam di dalam kulit tipisnya itu, bukannya memasukkan cairan infusnya, yang ada berhasil menyedot darahnya, hingga ada yang keluar, karena luka tusukan yang sedikit melebar?


'Sakit.' barulah Ovin bisa merasakan sakitnya setelah sadar dengan kondisi dari punggung tangannya itu.

__ADS_1


KLEK.


Tepat setelah membuka pintu, Franz segera di pertemukan dengan Ainz yang memang hendak masuk juga.


"Ada apa? Kenapa kalian berdua keluar? Bukannya ini terlalu cepat?" Tanya Ainz saat itu juga tanpa memperhatikan alasan di balik Franz membawa Ovin keluar bersamanya.


"Acaranya sudah selesai." sahut Franz detik itu juga.


"Tapi aku kan belum makan, masa kalian sudah saling makan da-" Ainz jadinya meralat ucapannya itu. "Maksudku kenapa kalian keluar, padahal aku belum makan sama sekali bersama kalian."


"Karena kamu sudah selesai makan, maka dari itu kami berdua keluar, dan kebetulan dia yang akan memakan semua sisa makanan kami." Tunjuk Franz pada satu orang yang kini sudah dalam posisi duduk sambil menggosok pant*at nya sendiri setelah mendapatkan serangan yang cukup memuaskan si penyerang itu sendiri.


'Chade?! Kenapa dia ada di atas meja? Dan kenapa ruangannya jadi berantakan seperti tu? ' Terkejut Ainz. 'Apa ini? Padahal sudah rapi dan cantik, tapi kenapa jadi seperti kapal pecah?' Wajahnya pun jadi tercegang melihat keadaan yang ada di dalam kamar itu.


"Hei, daripada tercengang dengan apa yang ada di dalam, lakukan sesuatu pada ini." Franz menunjuk tangan kiri Ovin yang tadi sempat masih memegang tiang infus.


Ainz pun menoleh dan menatap apa yang di tunjuk oleh Franz ini kepadanya, dan betapa terkejutnya dia melihat darah sudah mulai tersedot masuk kedalam selang.


"Ayo kembali ke kamar." Pinta Ainz, agar mereka berdua kembali ke dalam kamar inap milik Ovin.


KLEK.


Seperginya kedua orang itu, Chade yang masih merasakan sakit di punggung serta pan*tatnya, hanya dia sambil memperhatian pintu yang sempat tertutup tadi.


'Dia keras kepala, kenapa sangat melindungi laki-laki seperti dia? Padahal anak itu hanyalah sampah.' Rutuk Chade, sambil turun dari meja makan.


Pakaiannya pun kotor, dan apalagi semuanya, baik itu meja, kursi, maupun lantai serta karpet, semuanya akan jadi pekerjaan besar untuk membersihkannya.


'Kenapa hari ini Ovin tidak berangkat sekolah?' Batin Jordy kepada dirinya sendiri.


Dia kini sedang duduk di kursi kebesarannya, karena dia memiliki jabatan sebagai ketua Osis.


Dan di tempat kerjanya itu, Jordy sedang duduk sambil menyangga kepalanya dengan tangan kananya, sedangkan tangan kirinya sedang memperhatikan dengan seksama benda berwarna merah yang sedang dia pegang itu.


Benda yang tidak sengaja tertinggal oleh sang pemilik, dan pemiliknya tentu saja adalah seorang perempuan yang dua hari lalu itu kondisinya cukuplah mengenaskan, karena tenggelam di kolam renang karen air yang sedang di kuras untuk di ganti dengan yang baru.


'Lalu menurut apa yang aku dengar dari murid lain, Franz juga tidak berangkat ke sekolah.


Franz memang sempat mengkonfirmasi kalau Ovin adalah sepupu jauhnya. Tapi kenapa selama beberapa bulan ini, Franz mengabaikan Ovin yang di bully jika memang mereka berdua adalah sepupu jauh?


Kelihatannya mereka berdua memiliki satu hubungan yang tidak bisa di jelaskan hanya dengan mengumumkan hubungannya dengan membeberkannya seperti rumor.


Tapi-' Kelereng yang Jordy pegang itu pun dia genggam dengan erat, dan mencoba mengingat awal pertama kali Ovin pindah ke sekolah.


Jordy sangat menyayangkan karena Ovin di bully seperti itu, dan Franz hanya membiarkan Ovin mengaami segala insiden yang tidak mengenakkan itu.


Dan lamunan milik Jordy pun segera menghilang dari tempatnya setelah ada anak buahnya yang tiba-tiba saja mengetuk pintu kantornya.


TOK...TOK....TOK....


"Masuk." Jordy buru-buru menyimpan kembali kelereng berwarna ruby itu ke dalam kotak perhiasan yang dia sengaja bawa karena takut kalau hanya di letakkan begitu saja, kelereng berwarna ruby yang terlihat istimewa itu hilang.

__ADS_1


"Ketua, ini laporan yang sudah saya siapkan soal study tour tahun ini." Ucap wanita berkacamata ini kepada Jordy.


Jordy memperbaiki posisi duduknya dengan posisi yang lebih baik dan penuh wibawa. Meneriman beberapa berkas dan tab yang di bawa oleh sekretaris pribadinya.


"Jadi study tour kita kali ini tidak ke luar negeri?" Tanya Jordy. Kini dia memperhatikan Tab yang sedang dia pigang itu dan menggeset satu demi satu sebuah Resort mewah yang ada di suatu tempat yang Jordy sendiri tidak tahu itu letaknya ada di mana.


"Benar ketua."


"Dan alasannya? Apa kamu mau menjelaskannya? Aku sedang malas baca." Pinta Jordy kepada sekretarisnya, karena dia lebih menyukai untuk melihat semua foto yang ada di dalam tab yang di pegangnya itu.


Dan perempuan yang menjabat sebagai skretaris ini pun mengiyakan permintaan dari ketua Osis.


"Sebenarnya kepala sekolah sudah menyiapkan rencana untuk tour ke luar negeri. Tapi karena tahun ini adalah tahun terakhir dimana Tuan muda Franz sekolah disini, Nyonya Jean mengajukan dirinya agar semua murid kelas tiga untuk pergi ke resort yang belum lama ini selesai di bangun di sebuah pulau pribadi milik Nyonya Jean. Dan lagi, semua biaya perjalanan pun di tanggung oleh Nyonya Jean, makannya kepala sekolah mengiyakan perubahan rencana ini.


Jadi bagaimana menurut anda ketua?"


Setelah menerima penjelasan yang lumayan singkat tapi padat, Jordy pun mengangguk setuju. "Itu lebih baik, ketimbang harus mengeluarkan biaya mahal untuk sekedar keluar Negeri, padahal mereka bisa pergi keluar negeri sendiri."


Jawaban yang cukup bagus.


Tentu saja. Sebagai ketua Osis, dia memilih untk menggunakan kesempaan yang ada agar bisa mendapatkan hal yang maksimal.


Seperti yang baru saja Jordy lihat, nama pulau yang terpampang jelas di dalam foto yang menampilkan sebuah pulau adalah bernama pulau Farzon, sebuah pulau yang letaknya lumayan jauh di ujung selatan, dimana untuk sampai di pulau itu, perjalan yang paling menyenangkan adalah dengan menggunakan kapal pesiar.


Dan Nyonya Jean, sudah menyiapkan satu kapal pesian mewah untuk mereka semua.


"Ambil kesempatan ini dengan sebaik mungkin. Jadi katakan kepada kepala sekolah, aku sebagai ketua Osis, mengiyakan perubahan rencana itu." Lalu Jordy pun menyerahkan kembali tab itu kepada anak buahnya.


"Kalau begitu saya permisi." Ucapnya, sebelum akhirnya dia pergi dan meninggalkan sang ketua Osis sendirian lagi.


Setelah pintu terutup, Jordy melihat kembali semua foto yang sempat dikirim ke komputernya. Dan dia meliat dengan seksama pemandangan yang ada di sana.


Sungguh memanjakan matanya. "Apakah Ovin senang bisa datang ke tempat seperti ini?" Gumam Jordy. Tapi gumaman tadi langsung sirna setelah dia ingat dengan satu hal, 'Tapi kira-kira siapa pria yang waktu itu membawa Ovin pergi? Apalagi dia membawa helikopter. Dia ternyata juga punya hubungan dengan laki-laki lain selain Jerry. Ternyata...Ovin, sebenarnya banyak yang menyukaimu, tapi kamu sendiri tidak peka dengan perasaan mereka kepadamu.'


Jordy pun jadinya kembali menyangga dagunya seraya memperhatikan layar komputnya yang memperlihatkan satu gambar, dimana Ovin sedang memandangi pemandangan di luar jendela dari tempat duduknya saat berada di kantin.


"Dia punya aura yang berbeda. Tapi memang, sepertinya ada sesuatu dengan Franz, itu seperti lebih dari sekedar sepupu jauh." Gumam Jordy sambil menyentuh layar komputernya itu.


Jordy hanya terkesan saja, melihat ada anak baru yang bisa melewati hari demi hari di sekolah dari pembully an sampai beberapa bulan.


'Sebenarnya aku ingin sekali membantunya. Tapi jika aku melakukannya, aku akan di anggap memihak? Bukan itu sih, tapi karena aku ingin lihat akhir dari semua ini.


Karena mereka yang terlibat di dalam pembully an ini, akan terkena dampaknya saat hari kelulusan nanti.' Jordy pun menekan tombol mouse pada salah satu file Video yang sempat Jordy dapatkan dari seseorang yang tidak di kenal.


Dimana video yang Jordy dapat itu memperlihatkan para murid, teruta,a siswi perempuan yang membuat onar dengan membully murid baru di sekolah.


Makannya saat ini mereka bisa tenang-tenang saja, karena Jordy belum membeberkannya.


Tapi apa yang terjadi jika nanti di hari kelulusan, semua nama yang terlibat di berikan sanksi tepat di depan semua orang?


'Ini akan menarik. Aku jadi tidak sabar menunggunya.' Pikir Jordy.

__ADS_1


__ADS_2