
“Singkirkan tanganmu itu dari sana.” Perintah Franz dengan tatapan sengit. ‘Ini masih di sekolah, dan dia berani sekali menyentuhku seperti ini. Sebenarnya apa yang ada di dalam otaknya si? Aku sangat ingin sekali membelahnya.’
“Tidak.” Jawab Ovin singkat, lalu dia dengan jahilnya, memijat-mijat paha yang sedang dia pegang itu.
Franz yang sudah kehilangan kesabarannya karena di jahili oleh Istri nya sendiri, langsung mencengkram tangan kanannya.
Ovin yang masih dalam posisi tengkurap, karena dia sama sekali belum membenarkan posisinya tadi setelah jatuh karena tidak mendapatkan bahu sebagai sandaran, segera mengerahkan tangan kanannya untuk menangkap tangan Franz yang kebetulan sedang mencengkram tangan kanannya.
Sehingga, Franz pun jadi bingung, karena sekarang posisi tangannya itu jadi seperti mendapatkan permohonan oleh Ovin sendiri.
“Apa ka-”
“Ternyata kalian berdua memang benar-benar dekat.”
Dan suara milik Bella itu pun berhasil menarik perhatian sepasang suami Istri yang tidak tahu harus berbuat apa di perpustakaan dengan suasana sepi itu.
Awalnya ingin lebih menjaihili sekaligus mempermainkan Franz ini.
Tapi karena sekarang mereka berdua di datangi oleh Bella, maka Ovin segera melepaskan tangannya itu dari tangannya Franz yang tadi sempat mencengkram tangan kanannya.
‘Untung saja Ovin tidak terlalu banyak bicara, dan hanya bertindak seperlunya. Seharusnya Bella tidak menyadari apapun, kan?’ Tatap Franz kepada Bella dengan perasaan cemas, kalau sewaktu-waktu identitas dirinya dengan Ovin yang sebenarnya terbongkar oleh perempuan di depannya itu.
Akan tetapi, tidak seperti biasanya, dimana Bella akan terlihat sedikit manja dengan Franz, sekarang mereka berdua terlihat seperti dua orang asing.
Buktinya adalah Bella memperlihatkan wajah datarnya.
“Apa aku boleh gabung?”
“Itu kotor dan dingin.” beritahu Franz kepada Bella.
“Kalian berdua saja bisa duduk di lantai, kenapa aku tidak bisa?” Dengan percaya diri, Bella yang sedang memeluk buku tebal itu, duduk di sebelah kirinya Franz.
Seperti orang yang pura-pura tidak tahu, Bella menyandarkan tubuhnya ke belakang, meluruskan kedua kakinya ke depan, lalu bertanya : “Jadi apa yang kalian berdua tadi bahas? Melanjutkan apa kira-kira?”
JDERR…
Franz dan Ovin sendiri langsung bingung membuat alasan.
Sampai alasan paling simpel, keluar juga dari mulutnya Franz. “Dia hanya ingin melanjutkan permainan catur.”
“Oh, kau ternyata pintar main catur?” Tanya Bella kepada Ovin. Tidak adanya rasa bersalah dari Bella setelah kejadian hari itu, menjebak Ovin sampai dikira kalau Ovin mendorong Bella ke kolam dan membuatnya tenggelam, hingga yang disalahkan adalah Ovin sendiri.
‘Dasar wanita licik. Dia sama sekali tidak terlihat merasa bersalah, padahal rencana dia yang menjebakku sampai aku hampir saja mati tenggelam, sudah ketahuan oleh Franz. Bisa-bisanya dia masih punya wajah untuk mendekati Franz lagi.’ Tatap Ovin terhadap posisi Bella yang justru diperbolehkan untuk bersandar di bahu kiri milik Franz.
“Tidak juga. Aku hanya menyuruh melanjutkan permainannya dengan Franz, agar bisa melatihku main catur.” Jawabnya. ‘Kenapa Franz harus membuat alasan aku bermain catur? Aku sama sekali belum pernah bermain catur, apalagi menyentuh papannya saja aku belum pernah.’ Rutuk Ovin.
Satu barang yang belum pernah Ovin sentuh salah satunya adalah catur. Tapi karena kebetulan Franz membahas soal catur dengannya, maka Ovin pun membuat alasan yang lebih masuk akal, bahwa dia sadang di ajari bermain catur oleh Franz sendiri.
“Aku bisa bermain catur, jika ka-”
“Tidak.” Pungkas Ovin, saking tidak mau berhubungan dengan Bella lagi.
Sebab setiap kali berdekatan dengan Bella, Ovin merasa seperti menemui musuhnya sendiri.
__ADS_1
Bukan musuh dalam bidang memperebutkan Franz, tapi musuh dalam hal lain, yang kemungkinan besar juga di sembunyikan oleh Bella sendiri.
_______________
Bel tanda pulang sekolah pun berbunyi.
Seperti biasanya, Franz pulang akan menggunakan mobilnya.
Tapi karena kemarin sore, mobil miliknya yang satunya lagi dia gunakan untuk menabrak mobil milik Ovin, pemberian dari Chade, ia pun menggunakan mobil yang lain.
“Sudah jam tiga sore saja.” Franz bergumam seraya melihat ke arah jam tangannya. “Hahh~ Padahal aku sama sekali tidak belajar, tapi kenapa rasanya aku seperti baru saja menghadap ujian yang lebih sulit dari ujian materi?”
Franz mengurut pangkal hidungnya, dia sungguh merasa lelah.
Tidak hanya karena apa yang terjadi hari ini, tapi juga tentang kemarin malam.
‘Dia memang diam-diam menghanyutkan. ovin, dari mana kau mempelajari cara menggoda?’ Pikir Franz. Dia masih saja teringat dengan apa yang terjadi malam tadi.
Sampai dalam kurun waktu beberapa detik, nama yang baru saja Franz panggil di dalam hatinya itu, tiba-tiba terdengar dengan cukup keras.
“Ovin! Tunggu!” Suara yang cukup familiar itu tentu saja dari Jerry.
Franz yang sudah berada di dalam mobilnya, langsung melirik ke arah spion mobil. Terlihatlah Jerry sedang berlari menyusul Ovin yang baru saja berjalan melewati mobilnya.
“Ada apa?” Tanya Ovin. Ia merapikan rambutnya untuk di ikat ke belakang, dan membentuk ekor kuda yang cukup panjang, sampai angin lembut yang sempat berhembus itu membuat rambut panjang milik Ovin berkibar.
Franz yang hanya melihat hal itu, memicinngkan matanya dan berpikir : ‘Apa mataku bermasalah? Kenapa semakin di lihat perempuan itu jadi cantik saja.’
Merasa matanya sedikit bermasalah, Franz memejamkan matanya, menenangkan dirinya serta menata hatinya itu.
“Apa kau bisa temani aku?”
‘Temani?’ Franz sontak langsung membuka kelopak matanya lebar-lebar, lalu mencari keberadaan dari dua orang manusia yang kini sudah berjalan jauh di depan sana. ‘Apa yang mau dia lakukan, sampai meminta Ovin untuk menemaninya?’
Franz yang merasa penasaran, segera menghidupkan mesin mobilnya.
“Ke suatu tempat.”
“Iya, aku tahu pasti ke suatu tempat. Tapi tepatnya itu di mana dan mau apa.” Tuntut Ovin, sambil memperbaiki posisi tasnya.
“Aku ingin menghadiahkan kado ulang tahun untuk seseorang.”
“Oh~ Karena aku perempuan, apakah orang itu juga perempuan?”
“Iya. karena aku sama sekali belum mengenal banyak orang di sini, dan kau adalah satu-satunya yang aku kenal, makannya aku ingin memintamu untuk menemuaniku.” Jelas Jerry.
Meskipun wajahnya terlihat sedang mengarah ke depan, tapi tidak dengan sudut matanya yang diam-diam selalu mencuri-curi pandang Ovin.
“Kebetulan aku juga ingin jalan-jalan, kau menawarkan waktu yang tepat.” Jawabnya.
Ovin mencoba mengirim pesan kepada Franz, kalau ia akan pergi.
TING.
__ADS_1
[Aku akan pulang terlambat, mau menemani temanku belanja.]
Satu pesan sinngkat itu sudah di baca oleh Franz sendiri tanpa membalasnya sama sekali.
‘Dia hanya membacanya saja, sudahlah, dia kan memang seperti itu. Yang penting aku sudah memberitahunya kalau aku pulang lambat.’ Meskipun tidak memberitahu alasan paling spesifikny appa, sampai ia pulang terlambat karena apa kepada Franz, tapi sebab Ovin tahu sifat Franz yang suka cuek, walau kadang perhatian juga, namun Ovin tidak memperdulikan itu.
Sedangkan di dalam mobil, Franz tiba-tiba jadi punya keinginan untuk melakukan penguntita. ‘Belanja? Bersama teman? Dia menganggap anak itu teman? Padahal tatapan matanya saja mengartikan kalau dia suka denganmu.’ Pikirnya, merasa tersaingi dengan keberadaan Jerry yang mampu membujuk dengan mudah Ovin, padahal belum lama kenal?
Hal itu pun menjadi kecurigaan terbesar untuk Franz sendiri.
‘Tidak mungkin dia bisa sedekat itu dengan anak baru sampai dia bisa tersenyum semangat seperti itu. Jangan-jangan dia dan anak itu sebelum ini sudah lama saling mengenal.’ Merasa ada sesuatu yang tidak bisa di biarkan begitu saja, Franz pun memulai recananya untuk menyelidiki latar belakang Jerry.
*
*
*
Di ruang kelas 12-A.
Hari memang sudah mulai sore, dan perlahan semua anak sekolah pulang untuk mengiztirahatkan tubuh mereka.
Tapi tidak dengan Bella.
Ia masih berada di dalam kelas. Dan kini sedang duduk di meja yang posisinya berada di sebelah jendela.
Dengan posisinya itu, Bella sedang memandang semua murid sekolah yang sudah ada di halaman depan, menunggu, atau naik kendaraan yang mereka bawa untuk pulang.
Tapi dari sekian banyak orang yang bisa Bella lihat, dia hanya memfokuskan diri pada tiga objek yang dia kenal.
Yang pertama Jerry. ‘Dia anak baru, tapi terlihat sudah sangat dekat dengan Okktavin itu.’ Tatapan matanya beralih pada satu mobil berwarna hitam yang perlahan mengikuti mereka berdua dari belakang. ‘Franz, kau juga perlahan sudah berpaling dariku, karena rekaman cctv yang waktu itu. Aku sudah tidak bisa mendapatkannya, kecuali memanfaatkannya dalam keadaan tertentu.’
Dan di tengah-tengah dirinya sedang memperhatikan tiga objek itu, tiba-tiba handphone nya berdering.
Bella pun langsung mengangkatnya. “Waktu yang cukup tepat. Apa kau sudah mendapatkan identitas seperti yang kau janjikan itu?”
-”Ya.Ini cukup sulit, jadi memerlukan waktu yang lumayan, sampai aku begadang pula. Tapi aku sudah berhasil mendapatkannya.
Aku sudah mengirmnya lewat email mu. Buka saja, kau pasti akan terkejut.”-
“Jika memang bisa membuatku terjejut seperti yang kau katakan, aku akan mengirimkan bonusmu. Tapi aku perlu satu lagi, orang yang harus kau selidiki.”
-”Katakan saja. Selama saling menguntungkan, aku akan melakukannya.”-
“Akan aku kirimkan fotonya, dan cari identitasnya sampai dapat.” Perintah Bella.
-”Ok. Aku tunggu gajian dan bonusku lebih dulu.”-
TUT.
Setelah panggilan di antara mereka berdua terputus, Bella segera mengambil tab yang sering dia bawa.
Membuka Email sesuai dengan pesan yang ia dapatkan tadi, dan akhirnya dia melihat ada beberapa gambar serta identitas sebenarnya dari Ovin.
__ADS_1
“I-ini,” Bella sungguh terkejut, dan senyuman yang tersungging di bibirnya pun adalah senyuman mencibir. ‘Hebat juga dia, baru muncul tapi sudah membuat banyak perubahan seperti ini.’