
ZRASHHH.....
Hujan itu semakin lebat. Meskipun begit, tidak membuat kedua orang yang ada di dalam mobil itu tidak lagi memperdulikan hal itu, selain apa yang sedang mereka berdua lakukan.
Sebuah kegiatan yang menyita nafas mereka menjadi kegiatan yang mengisi suasana yang berbalut ketegangan bersama dengan sensasi yang kian memanas.
Lembut, hangat, dua perasaan itu saling menyatu dalam kedua bibir yang saling bertautan satu dengan yang lain.
Franz yang biasanya menolak untuk segala hal yang dilakukan oleh Istrinya, tiba-tiba saja menerima ciuman yang di pimpin oleh sang Istri itu.
Cukup mengejutkan, sebab cara Ovin menciumnya, bisa di bilang cukup handal.
Apakah Ovin pernah berciuman dengan orang lain sebelum dirinya? Franz?
"............" Franz kadang kala membuka matanya untuk melihat ekspresi apa yang sedang Ovin perlihatkan itu ketika bibir mereka berdua saling beradu? 'Kenapa dia menangis?' Detik hati Franz, ketika dia tidak sengaja melihat adanya air mata yang mulai menggenang di sudut matanya, hingga akhirnya air mata yang terlihat tadi sedang di bendung, pada akhirnya tumpah juga.
JDERR.....
Petir yang kembali datang, ternyata berhasil untuk Ovin agar berhenti melakukan kegiatannya itu?
"............" Ovin sesaat melepas tautan dari bibir mereka berdua.
"Apakah kau sudah puas?" Tanya Franz seraya menyeka bibirnya yang terkena air liur istrinya itu dengan lengan seragamnya.
Ditanya seperti itu oleh sang suami, Ovin mana mungkin bisa puas hanya dengan tautan dari kedua bibir mereka?
Untuk Franz, tindakan Ovin yang tiba-tiba saja berhenti menciumnya, sebagai pertanda kalau permainan itu sudah selesai.
Namun sayangnya, di pikiran Ovin sendiri, yang ada justru adalah..
__ADS_1
Ovin belum merasakan kepuasan untuk menikmati apa yang dimiliki oleh Franz itu.
Maka dari itu, Franz yang saat itu hendak kembali memegang stir mobil untuk melanjutkan perjalanan mereka yang tertunda itu, tiba-tiba saja Franz langsung di kejutkan dengan hal lain.
BRUK..
"...........!" Franz segera mengangkat kedua tangannya ketika Ovin tiba-tiba saja saat ini sudah duduk di atas pangkuannya! "Minggir!" Franz mencoba mendorong Ovin agar pergi dari atas pangkuannya.
"Tidak!" Ovin yang sudah gila karena hanya Franz lah satu-satunya orang yang bisa dia dekati, dan satu-satunya orang yang ekspresi wajahnya mampu Ovin lihat dengan suka hatinya, buru-buru meraih leher Franz, melingkarkan kedua tangan itu ke leher belakang Franz, dan berakhir dengan memeluknya.
'Sebenarnya ada apa sih dengan dia?! Sampai-sampai sekarang dia malah duduk di pangkuanku. Bagaimana ini...' Franz mengernyit, dan berusaha untuk melepaskan pelukan yang diperbuat oleh istrinya yang tiba-tiba menggila itu.
'Aku tidak mau mengingat itu. Walaupun aku tidak jadi di perkosa, tapi tetap saja....tangannya...tangan laki-laki itu sudah menyentuh milikku. Tidak...aku tidak mau mengingat itu lagi. Aku lelah jika kembali di ingatkan itu.' Dan karena Franz mencoba berusaha untuk melepaskan pelukannya itu, maka hal itu, justru membuat Ovin semakin mengeratkan pelukannya itu.
Gara-gara indera penciumannya memang cukup tajam sehingga itu menjadikan Ovin masih mampu seperti apakah aroma dari kedua orang laki-laki yang waktu itu hendak melecehkannya lebih dari sekedar membuka pakaiannya, maka alasan Ovin jadi seperti ini, juga karena gara-gara Franz lah yang bisa dia pergunakan untuk memendam ingatan masa kelamnya itu dengan ingatan yang baru.
Dimana aroma tubuh Franz, itu cukup menyenangkan.
"Kalau mau puku, pukul saja aku." Kata Ovin, masih suka dengan posisinya, sebab saat ini, di saat yang sama area pribadi milik Franz benar-benar penuh dan mendesak ingin keluar dari tempatnya, sampai saat ini saja akibat yang sedang Ovin lakukan, dia jadi mendapatkan desakan juga yang menekan dari bawah sana. "Pukul saja aku, mungkin dengan begitu kegilaan yang sedang aku rasakan ini bisa hilang, setelah kau pukul aku." Tambahnya.
"Kau!" Franz sudah lebih dulu kehilangan kata-katanya sebab tepat di waktu yang sama, akal sehatnya menghilang sudah.
Karena di satu titik yang sama juga, Ovin merasakan gatal di bawah sana, sehingga dia sedikit menggerakkan pinggulnya.
SREK....
"............!" Franz yang terdiam itu menjadi awal lain dari yang lain. Diam-diam salah satu tangannya menekan tombol yang ada di samping kursi yang sedang dia duduki, sampai dimana kursi tersebut tiba-tiba bergerak k belakang.
BRUKK..
__ADS_1
Secara, saat ini posisi Ovin pun sudah ada di atas tubuhnya Franz persis. Dalam keterdiaman itu, Franz melakukan hal lain, yaitu langsung menarik tangan Ovin dengan kuat, hingga dalam waktu yang singkat itu, posisi dari mereka berdua pun berubah total, dimana Franz saat ini ada di atasnya Istrinya itu.
Ovin yang awalnya kalap itu, berakhir seperti sedang menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Kau benar-benar sangat menginginkannya?! Iya?!" Tanpa memberikan jeda sedikitpun dalam sekali tarik nafas itu, Franz yang akal sehatnya sudah di kendalikan oleh keinginan drai na*sunya itu membawa Franz untuk berbuat lebih.
Melihat Ovin diam saja, Franz menurunkan kepalanya dan berbisik di telinganya Ovin persis.
"Jika itu yang kau inginkan, aku akan melakukannya. Tapi ingat saja, aku akan tetap menganggap hal seperti ini tidak pernah ada." Tekan Franz dalam sebuah bisikan iblisnya.
"Aku...tidak akan mempermasalahkannya." Balas Ovin.
Mereka berdua pun saling menatap satu sama lain. Setelah puas menatap mata istrinya penuh harap itu, dengan kasar Franz segera melonggarkan dasi miliknya sendiri, melepas blazer miliknya juga dan langsung dia buang ke bangku belakang mobil.
BRUK....
Sampai akhirnya, saat ini, Franz pun hanya berbalut dengan baju kemeja putih saja. Dimana kemeja miliknya itu sudah melekat persis sesuai dengan postur tubuhnya Franz yang ternyata cukup atletis.
Sesuatu yang cukup menarik minat semua mata miliki perempuan. Akan tetapi, yang akan mendapatkannya lebih dulu adalah Ovin.
SRAKK..
Tanpa menunggu waktu yang lama, Franz yang saat ini berada di bawah kendali atas naf*su nya sendiri, segera menarik kedua sisi seragam Ovin hingga semua kancing yang mengaitkan kedua sisi bajunya itu, langsung putus dan hilang entah kemana.
Dan dalam sekali aksi itu, akhirnya Franz benar-benar di perlihatkan dengan sesuatu yang selalu menghantui Franz ketika beberapa hari yang lalu, saat di sekolah, dia terus terbayang akan apa yang ada di balik seragam, putih polos yang berhasil mencetak bra yang dipakai istrinya itu saat dimana Merli waktu itu mengguyur istrinya tersebut dengan air.
Dan akhirnya, saat ini rasa penasaran itu memang bisa menghilang, tetapi rasa penasaran lain yang dimiliki Franz pun muncul juga, yaitu di bawah sana.
"............." Menahan banyak kata yang ingin Franz lontarkan pada perempuan dibawahnya itu, Franz pun mendaratkan bibirnya di atas bibir istrnya, layaknya sebuah pembalasan karena tadi Istrinya lebih dulu menciumnya, yang artinya baru aja mengambil ciumannya.
__ADS_1
Oleh karena itu, demi merebut apa yang istrinya itu ambil, Franz pun mencium bibir itu sebagai bentuk pembalasan.