Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
69 : PUM : Rasa sakit


__ADS_3

"Cepat...cepat..! Pasien mengalami pendarahan. Cepat bawa semua kantong darah nya." Teriak seorang dokter, bergegas untuk menyelamatkan seorang pasien yang baru saja mengalami tabrak lari.


"Ibu! Ibu! Jangan tinggalkan aku Ibu!" Dan seorang gadis kecil terus menangis dengan teriakan memanggil sang Ibu yang baru saja dibawa pergi oleh seorang dokter dan beberapa perawat lainnya untuk segera di tangani.


"Nona, anda jangan masuk kesana. Biar para dokter dan perawat yang menangni Ibu anda." Bujuk suster ini kepada gadis kecil yang tidak rela di pisahkan oleh sebuah ruang operasi.


"Tapi Ibu berdarah hebat seperti itu! Aku ingin pergi masuk! Aku ingin melihat Ibuku langsung!" Ronta gadis ini, mencoba lepas dari pelukan yang dilakukan oleh suster itu.


"Nona. Saya mohon tenanglah. Yang harusnya Nona lakukan saat ini adalah berdoa."


"Diam! Lepaskan aku! Aku ingin masuk kesana!" Dengan sekuat tenaga, gadis kecil ini terus saja meronta, menangis dan ingin lepas dari cengkraman dalam pelukan wanita asing itu.


"Nona...jangan seperti ini. Saya tahu anda sangat ingin bertemu, tapi biarkan Dokter yang menangani Ibu anda." Merasa tak kuasa menahan kesedihannya juga melihat anak kecil ini terus saja berteriak menangis ingin bertemu dengan Ibunya yang saat ini sedang dalam kondisi kritis, wanita ini pun langsung memeluk lebih erat dalam dekapan agar anak ini bisa lebih tenang.


Memang...


Dirinya bukanlah siapa-siapa. Tapi siapa yang tega membiarkan anak ini sendirian menangis di depan pintu dari ruang operasi tanpa keluarganya?


Siapa yang tega untuk tidak mempedulikannya?


Karena itulah, suster ini pun menghabiskan waktu istirahat dengan separuh jam kerja miliknya demi menemani anak perempuan ini.


"Tapi ibu...dia kena tabrak. Aku melihatnya sendiri. Huwaaa....! Aku tidak mau Ibu meninggalkanku!" Dan akhirnya tangisannya pun kian keras, mengisi hiruk pikuk dari rumah sakit itu.


Satu jam kemudian, pintu antara hidup dan mati dari nyawa seorang pasien yang masuk kedalam ruang operasi itu akhirnya terbuka.


Suster itu serta anak perempuan tersebut pun berlari mendatangi dokter itu.


"Mana Ibuku!" Tuntut anak perempuan ini.


Sayangnya tatapan mata penuh kesedihan itu cukup jelas untuk menjadi jawaban dari mereka berdua. Apalagi dengan sbeuah gelengan pelan, maka itu menjadi titik awal dari perubahan yang dimiliki oleh anak perempuan tersebut bahwa...


KLEK...


Kedua pintu itu langsung terbuka dan menghadirkan satu ranjang pasien yang digunakan sebagai tempat berbaring seseorang yang saat ini tubuhnya sudah di tutupi oleh selimut putih?!

__ADS_1


Sepasang mata dari anak kecil itu langsung membulat lebar, ketika tangan kanan yang tadinya tertutup kain itu, tiba-tiba saja muncul dan memperlihatkan sebuah gelang mainan yang anak perempuan itu kenal, karena gelag itu adalah hasil buatannya yang dia berikan kepada sang Ibu sebagai kado ulang tahun Ibunya.


Dan apa ini?


Tangan dengan dari gelang hadiah pemberiannya, keluar dengan keadaan tangan yang dipenuhi dengan noda darah!


Sontak saja anak perempuan itu langsung berteriak histeris memanggilnya,...


"IBU!"


______________


Mata yang awalnya terpejam itu tiba-tiba langsung terbuka lebar, dan melayangkan tangan kirinya untuk menangkap sesautu yang hendak mendekatinya.


GREP...


"...............!" Ovin langsung mendelik tajam pada satu tangan milik seseorang yang saat ini sudah memegang jarum suntik.


"O-oh! Mengagetkan saja, kau langsung cepat sadar dari jadwal seharusnya. Tapi ini...kenapa aku jadi seperti penjahat yang sedang ketahuan ya?" Kata pria ini, dialah Ainz, dokter pribadinya Franz, yang Franz panggil untuk menangani satu pasien di rumahnya, yang rupanya adalah pasien yang belum lama ini juga baru saja keluar dari rumah sakit.


"Bukan apa-apa." Jawab Ains singkat. 'Kenapa aku merasa merinding melihat tatapan matanya ya?'


"............!" Sadar memberikan kesan waspada kepada Ainz, Ovin memejamkan matanya dan melepaskan cengkraman tangannya dari tangan Ainz, lalu berkata : "Lakukan saja."


"Ya?" Bingung Ainz atas ucapannya ovin.


"Mau mengbatiku kan? Lakukan saja apa yang harusnya dilakukan." Jelasnya.


Mendengar hal itu, ekspresi wajah Ainz berubah menjadi sedikit lebih serius.


"Tapi ini suntikan ynag harus di suntik di salah satu pantatmu."


"............" Ovin kembali membuka matanya dan menatap pria itu. Setelah memperhatikannya sesaat, Ovin kembali memejamkan matanya, lalu beralih posisi untuk miring ke arah kanan. Setelah itu, Ovin langsung menepis ujung dari handuk kimono yang ternyata masih dia pakai.


Tapi tidak seperti sebelumnya, karena terakhir kali yang Ovin ingat adalah dia hanya memakainya sembarangan dan belum mengikat kedua isi dari handuk kimononya, saat ini dia sudah memakainya dengan benar.

__ADS_1


Oleh karena itu, Ovin yang berani menarik diri untuk menepis sisi kiri dari kain handuk yang sempat menutupi pan*t*atnya, sekarang dia jadi memperilhatkannya kepada dokter itu.


"...........!" Ainz sesaat terkesiap, karena pasiennya ini ternyata masih belum memakai apapun di balik handuk itu. Tapi kembali lagi sebagai profesinya untuk memberikan kesembuhan pada sang pasien, Ainz pun mulai membuka tutup dari jarum suntik itu.


Barulah, selepas di tes sedkit kalau cairan dari suntikan itu keluar dengan sempurna, maka dia tanpa sungkan menyentuh salah satu pan*a*tnya Ovin.


"Ini tidak akan sakit, hanya seperti di gigit semut."


"Aku tidak mengharapkan ucapan yang terdengar aku ini seperti anak kecil." Ucap Ovin di detik itu juga.


Lalu tanpa sungkan lagi, AInz pun benar-benar memposisikan kedua jarinya di atas kulit tipis yang cukup mempesona itu, untuk mempertahankan posisi saat jarum sunitk itu menembus masuk kedalam daging.


"............." Ovin memang merasakan sakit yang cukup ngilu dan pegal. Tapi sakit itu rasanya tidak seberapa dibandingkan rasa sakit hati yang dia alami dari mimpi yang berasal dari kenanangan masa lalunya itu.


Dengan dosis penuh, maka cairan yang ada di dalam tabung suntik itu perlahan terdorong keluar sekaligus masuk kedalam daging segar itu.


Bagaimana tidak segar, jika si pemilik dari bantalan empuk itu memang orang yang baru saja mandi, sampai Ainz sendiri sempat merasakan aroma itu.


Hanya saja ditengah-tengah suasana yang terlihat cukup aneh itu, tiba-tiba saja pintu kamar itu terbuka.


'A-apa?' dan memperlihatkan Franz yang langsung melongo saat dia berada di posisinya itu, dia benar-benar melihat sesuatu yang cukup menggugah selera dari jiwa serigala kelaparan, karena harta tesembunyi itu kini di mata Franz terlihat cukup jelas.


Tapi...


Melihat Ainz sedang menyuntik pan*t*at milik Ovin, jauh di lubuk terdalam dari hatinya itu, terasa ada perasaan tidak suka.


'Kenapa aku sebodoh ini, harusnya saat dia pingsan tadi, lebih baik aku langsun memakaikan dia baju, kalau seperti ini...'


Franz sempat melirik lagi barang tersembunyi yang terlihat terpelosok itu. Tapi lagi-lagi dirinya harus sadar, bahwa dia tidak boleh tergoda dengan hal semacam itu?


Dengan kedua tangan sedang memegang nampan, dia langsung meletakkannya id atas meja dekat pintu dan segera pergi dari sana.


BRAK..


"Dia kenapa?" Lirih Ovin, sempat melihat kepergian dari suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2