Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
79 : PUM : Di tengah hujan yang dingin


__ADS_3

"Jika seperti itu, maka hanya waktu yang tahu." Jawab Franz atas ucapan Ovin yang terdengar cukup menuntut itu.


'Waktu. Hmm...Waktu memang bisa berubah, hati juag bisa berubah. Dan nasib~ Juga bsia berubah kapanpun tanpa ada yang tahu.; Ovin pun mengerti akan maksud dari apa yang Franz katakan tadi itu.


"Karena perpisahan yang tidak kau inginkan itu, bisa terjadi kapanpun dan dimanapun. Jadi aku sendiri tidak bisa memastikannya." Ungkap Franz.


Tapi mendengar jawaban yang satu itu, Ovin jadi semakin mengeratkan pelukannya.


"Ukhh...." Perut yang lapar itu pun jadi bertambah sakit akibat ulah Ovin yang mengeratkan pelukan, tepat di sekitar area perutnya.


"Jangan pernah mengatakan itu di depanku." Dan suara yang cukup dingin itu pun menjadi sebuah peringatan untuk Franz. Kalau yang dikatakan oleh Franz tadi itu terdengar seperti sebuah perpisahan yang berujung selamanya, karena maut.


'Dia- marah?' detik hatinya. Malas berlama-lama dalam posisi anehnya itu, Franz berusaha untuk melepaskan pelukan Ovin ini. 'Ini perempuan, tenaga besarnya dari mana sih? Dia cukup kuat, sampai aku saja lewalahan.' Rutuk Franz, merasa susah sendiri untuk melepaskan pelukannya Revina dari tubuhnya itu.


"Sebentar saja." Ucap Ovin singkat.


Alasan tidak mau melepaskan pelukannya, karena Ovin sendiri masih belum puas untuk memeluk suaminya itu.


Walaupun suhunya dingin, udara cukup lembab, lalu suasana petang yang cukup mencekam, semua itu jadi membuat Ovin perlahan tidak merasakannya lagi, karena saat ini ada kehangatan yang hadir di depannya.


Karena merasa itu adalah sebuah permintaan kecil, maka Franz pun jadi terdiam dan menunggu perempuan yag ada di belakangnya melepaskan pelukan basah itu.


*


*


*


Tiga menit kemudian.


" Sudah." Melepaskan pelukannya dari Franz.


"Kalau sudah, cepat masuk mobil, sekalipun kau cukup menjengkelkan, tapi aku tidak bisa meninggalkan perempuan sepertimu di sini, apa lagi pemakaman." Franz menutup payungnya setelah membuka pintu mobil dan kemudian ia pun masuk.


"................" Akan tetapi Ovin jadi terlamun sendiri, sebab dia tiba-tiba saja seperti meraskan hal yang kurang berkenan di belakang sana. 'Apa itu tadi? Aku merasakan bulu kudukku merinding hebat.'


" Tunggu apa lagi? Jangan membuatku mengulangi untuk yang kedua kalinya." Seru Franz, tidak sabar dengan Ovin yang justru terlihat mematung saja di tempatny.


" Iya." Sahutnya. Ovin buru-buru berlari menuju satu sisi lain dari pintu mobil. Masuk ke dalam mobil, lalu melepaskan mantel yang Ovin pakai itu.


Dengan berakhirnya pencariannya, kedua orang ini pun naik mobil pulang.


Di dalam mobil terasa hening dalam balutan suasana canggung.


Mungkin sebab sama-sama kedinginan, Franz sengaja tidak menyalakan AC mobil.


Di perjalanan keduanya hanya saling memandang jalan dan terbuai dengan pikirannya masing-masing.


Tetapi ada satu hal yang membuat Franz kesal sendiri, sebab tiba-tiba saja mobilnya berhenti dan mesin pun mati. " Sial! " memukul stir mobil dengan kasar.


"................"


'Sampai bensin nya habis? Apakah dia mencariku sampai lupa mengisinya lagi?' sedikit melirik ke arah indikator status bahan bakar sudah menunjukkan kalau bensin sudah habis.


Padahal jalannya masih jauh, dan kebetulan berhenti di pinggiran tebing.


'Kenapa pakai berhenti di saat begini? Bodoh sekali aku tidak mengisi bahan bakarnya lagi. Kalau seperti ini aku harus memanggil mobil derek kesini.' Franz mencoba meneleon bantuan, tapi tidak bisa karena sinyal disitu lebih susah dari yang dibayangkan.


JDERRRR..........


PLTAKKK .......( Handphone nya Franz pun tak sengaja terjatuh )


" Jangan bengong saja, coba cari ide. " memerintah pada Ovin untuk melakukan sesuatu.


" Jalan kaki? "


" Mana ada yang mau jalan kaki sampai Tujuh KM!? Kalau mau sana kamu sendiri." Cetus Franz, tidak mau berjalan kaki sejauh itu.

__ADS_1


Sebagai tuan muda mana mau jalan sebegitu jauh, tapi keadaan mendesak dan hari mulai malam lantas apa yang harus dilakukan karena jalanan juga sepi.


Ovin mencoba menunggu di mobil sampai satu jam lamanya tapi sesuai dengan kondisi serta prediksi, tidak ada perkembangan apapun, seperti adanya kendaraan lain, semua itu tidak ada sama sekali, dan semakin membuat Ovin yang bosan menunggu itu segera mengambil jas hujan kemudian ia pakai dan keluar dari mobil.


" Kau...mau jalan kaki? "tanya Franz, penasaran.


" Iya, mau ikut? Berbahaya jika terlalu lama disini." jawabnya.


"................"


Franz termenung sebentar, tapi Ovin yang tidak ingin menunggu lebih lama lagi segera membuka pintu mobil dan keluar.


Sama hal nya dengan apa yang dipikirannya, jika tidak mau jalan kaki dan duduk diam saja di mobil bisa saja dirinya akan mati kedinginan. Dari pada tidak melakukan perubahan, akhirnya Franz memutuskan ikut berjalan menyusuri jalan sepi bersama drngan perempuan ini.


Hanya dengan bermodalkan senter ponsel dan payung serta kunci mobil, Franz berani untuk jalan kaki demi kepentingan sendiri.


" Selagi jalan bisa sekalian mencari sinyal. " ucap Ovin sembari menggulung lengan jas hujan sebelah kanan.


Franz ikutan memainkan handphonevnya agar bisa membuat pesan untuk bantuan.


Jadi sekarang keduanya berjalan bersama, tidak....mereka berjalan dengan menggunakan jarak, Ovin di depan dan Franz di belakang.


10 menit berjalan akhirnya keduanya bisa mendapatkan si....


JDERRRR.........


"Akhh....!" Ovin tiba-tiba berteriak terkejut dan berjalan mundur dengan cepat, sehingga sempat menabrak orang yang ada di belakangnya.


'I..tu dekat sekali.' tubuhnya menggigil ketakutan.


"............." Franz yang sama-sama terkejut tidak sengaja menjatuhkan handphone nya namun akhirnya benda miliknya itu terinjak dengan menggenaskan oleh Ovin yang ketakutan.


'Perempuan ini, hanya gadis kecil yang pura-pura kuat. Dan handphoneku.' Pupus sudah harapan untuk mencari bantuan, karena handphone nya sudah jadi remahan karena tidak sengaja terinjak oleh salah satu kaki istinya itu.


Kedua tangannya langsung mendarat ke pundak Ovin, lalu wajahnya sengaja di dekatkan ke telinga Ovin dan sambil berkata. " Kamu menginjak handphone ku ."


Lalu dalam kepalanya teringat akan kejadian yang pernah di alaminya sebelum ini.


______


Flashbakc On.


"Kamu yang dibelakang, jalannya lebih cepat lagi!"  perintah Ovin sambil membawa satu penjahat di tangannya. Ketika di bawah langit hitam di turunkan lah hujan yang mengguyur wilayah pedesaan, tepat sebelah gudang terbengkalai.


Disitu dirinya bersama 5 orang temannya dapat menemukan tersangka jaringan ******* dan setelah beberapa waktu akhirnya bisa menangkap mereka semua dan berusaha untuk membawa mereka ke dalam mobil khusus.


"Sebentar, dia.....kakinya ngga mau jalan  menjawab." dengan perasaan kesal, dimana dirinya harus membawa orang yang pingsan ini masuk ke dalam mobil.


"Jeon, bantu dia  Ovin menyuruh temannya yang lain membantu orang yang ada di belakang."


Ketika hendak berjalan mendekat untuk membantu agen yang tertinggal di belakang, tiba-tiba saja ada satu petir langsung menyambar gudang dan membuat bangunan tua tersebut meledak dan habis terbakar, di saat yang sama agen terakhir yang berada di belakang ikut menjadi korban sambaran petir juga hingga hanya tersisa tubuh yang gosong.


Flashback Off.


_______


Kembali ke waktu sekarang, Ovin masih diam jongkok dengan wajah pucat pasi dan ekspresi ketakutan yang jarang diperlihatkan.


Dibandingkan banyak orang yang menganggap hanya sebuah ketakutan belaka yang ringan yang pastinya dirasakan orang lain ketika melihat petir atau mendengar dentuman keras itu, maka berbeda dengan ketakutan yang dialaminya ini. Ketakutannya ini adalah sebuah trauma yang terjadi pada temannya, yang mengakibatkan temannya mati tepat di depan matanya secara langsung.


Franz merasa tidak enak hati sendiri alias iba melihat perempuan yang ada di depannya ini bisa memperlihatkan ketakutan untuk pertama kalinya.


Padahal hampir dua setengah bulan ini, Franz juga sadar kalau Ovin sudah berusaha untuk tidak membuat susah diri Franz. Dia mencoba mengulurkan tangannya, awalnya ragu tetapi di dalam hatinya ada tekad kecil untuk menenangkannya.


"Kau harus menggantinya." Ujar Franz sambil mengelus-elus kepala Ovin.


Ovin tau-tau menikmati elusan itu, sekalipun hanya tindakan kecil seperti ini, tapi maksud dalam belaian itu juga tersampaikan padanya untuk jangan takut lagi.

__ADS_1


Rasa tegangnya kemudian perlahan menghilang, hingga tiba saatnya...


TIN......TIN.......


Ada satu mobil berhenti tepat di belakang mereka berdua, membuat Franz menoleh ke belakang dan di ikuti Ovin.


Lalu seorang sopir pun turun dan mendekat ke arah mereka berdua.


"Tuan, Nona, Nona muda saya menyuruh anda masuk mobil." Beritahu sang sopir.


"Kebetulan kami butuh tumpangan sampai ke kota." jawab Franz.


"Uhm.....apa Nona yang disitu baik-baik saja?" kepalanya miring sedikit dan mengamati Ovin yang masih berjongkok.


"Dia hanya lelah." mencoba memberikan alasan yang terbaik.


"Hari juga sudah malam, jadi mari ikut saya masuk ke mobil." Beranjak pergi kembali ke mobil.


" Kaki mu masih bisa berdiri tidak? " mengulurkan tangannya ke Ovin, lalu ulurannya di terima sehingga keduanya saling berpegangan tangan.


Pada akhirnya kedua orang ini masuk ke dalam mobil orang yang bersedia membantunya untuk menumpang sampai di kota.


" Jadi mobil yang parkir disana itu punya tuan muda? " terdengar suara wanita dari kursi depan.


" Ya....begitulah, tapi terima kasih sudah memberikan tumpangan kami. " Franz lagi yang menjawab.


" Tidak masalah, anggap sebagai balas budi kecil ku." ucapnya lagi.


"Balas budi? " franz bingung denga yang dikatakan oleh wanita di depannya itu.


" Iya.....tapi bukan untukmu, tapi... " Wanita ini kemudian menoleh ke belakang sehingga terlihatlah wajah siapa yang sudah menolong Franz dan Ovin dari ketidakberdayaan mereka tadi.


" Anda." menunjuk ke arah Ovin.


"Aku? " Akhirnya Ovin menunjukkan wajahnya sendiri setelah tadi termenung.


" Jangan bilang kamu melupakanku lagi? Saya Jenifa. "


Franz melirik ke satu perempuan bernama Jenifa lalu melirik lagi ke arah Ovin secara bergantian.


" Kalian saling kenal? " tanya Franz.


" Iya, tapi kenapa tuan muda Franz ini bisa berada di tempat seperti tadi? " Tanya Jenifa.


" Oh......aku hanya menemaninya mengunjungi makam ibunya. " Lagi-lagi alasan dengan bumbu kebohongan.


'Bagaimana dia tahu? Apa paman yang menceritakannya?' fikir Ovin.


'Dia kelihatan lebih lelah dari Tuan muda ini?' Jenifa kemudian balik memposisikan duduknya lagi dengan benar.


Jalanan gelap dan sunyi itu pecah saat mobilnya lewat, di depan sana kebetulan ada persimpangan dua arah, yang satu menuju jalan kota dan satu lagi ke tempat lain yang Franz sendiri tidak tahu.


Dia tidak tahu kenapa justru arah laju mobilnya malah belok ke kiri bukannya ke kanan.


" Kamu - "


Sela jenifa dengan cepat


" Aku tidak mengatakan akan pergi ke arah yang sama dengan Tuan muda, tapi setidaknya biarkan temanli itu istirahat dulu di rumah saya lebih dulu. "


Franz tidak bisa berkata apa lagi, jika memang Jenifa adalah temannya perempuan ini( Ovin) pastinya tidak masalah juga. Antara ego dan tubuhnya juga sudah bertolak belakang, dimana didalam otaknya inginya pulang langsung kerumah, tapi apa boleh buat toh sekarang sedang numpang di mobil orang lain dan di saat yang sama tubuhnya juga sudah dingin.


"Aku akan berbicara pada kak Fardan, jika kalian berdua akan beristirahat semalam dirumahku." Lirik Jenifa lagi pada kedua pemuda yang sangat kebetulan sekali masih sama-sama memakai seragam yang sama juga.


"Kau kenal dia? " Franz merasa tidak menyangka juga akan bisa sekebetulan ini.


Jenifa tertawa dan menjawab, " karena dia rekan pulang ku, beberapa hari lalu kami berdua bertemu di pesawat yang sama. " Jelas Jenifa lagi, asal muasal dirinya bisa kenal Frardan adalah pamannya Franz.

__ADS_1


__ADS_2