
" Apa? " Bella pula terkejut dengan nama yang di dengarnya menjadi pihak pertama yang mendapatkan nilai tinggi dan sekarang nama itu menjadi buah bibir para murid yang sedang duduk di kursi penonton.
Bella pun langsung celingukan untuk mencari Ovin, apakah perempuan itu ada di sini atau tidak.
"Dia-" dan ayatnya Franz langsung lenyap saat ia juga sama-sama terkejut mendengar nama yang sedang Franz cari karena sedang kabur darinya, ternyata adalah orang yang menepati posisi pertama.
'Tapi, bukannya kata Sean, dia pernah bilang kalau Ovin selalu saja mendapatkan nilai setengah di setiap ulangan, tapi apa yang terjadi dengan sekarang? Dia mendapatkan peringkat teratas, dan bahkan melampauiku.
Si bod-bukan,... karena dia bahkan punya kesempatan untuk menghabisiku seperti ini, akan aku akui dia ternyata cukup pintar. ' pikir Franz lagi.
Tidak hanya mereka berdua saja, semua orang yang ada di sana langsung pada heboh semua.
Pasalnya, Ovin, dia adalah murid yang terkenal.
Bukan karena kebodohan atau kepintarannya, melainkan karena sering di rendahkan dan di bully oleh teman-temannya sendiri.
Tapi, ketika orang yang sering mereka hina itu masih satu keluarga dengan Franz, maka Ovin sudah tidak di usik lagi.
Namun hal yang paling mengejutkan mereka semua tentu saja terletak pada posisi Ovin di sekolah.
Dia di kabarkan sebagai pemilik nilai yang selalu saja rendah. Namun, begitu rupanya hasil dari ujian itu berhasil melampaui pangeran dan bunga sekolah mereka, siapa yang tidak akan terkejut?
Mereka semua berharap bisa bertemu dengan sosok perempuan yang sering mereka remehkan itu.
" Oktavin, harap naik ke panggung. " perintah Bu Nindy. Dia mencoba untuk memanggil stau-satunya orang yang selalu saja membuat kejutan untuk mereka semua.
Hanya saja, panggilan itu sama sekali tidak di tanggapi oleh si pemilik nama.
Tidak ada yang berdiri atau datang, semua orang celingukan apakah perempuan itu tidak datang?
"Oktavin? Harap maju ke panggung." panggil Bu Nindy lagi, tapi tidak ada keberadaan dari orang yang ia panggil itu.
Tapi tak lama, ada pesan dari salah satu guru yang berdiri di bawah panggung dengan memberikan sebuah kode kepada Bu Nindy, dan Bu nindy hanya mengangguk paham apa yang di sampaikan oleh rekan kerjanya itu bahwa Ovin benar-benar tidak berangkat sekolah.
"Maaf, dengan ini saya ingin menyampaikan, karena alasan tertentu, dia tidak bisa menghadiri acara ini.
Kalau begitu, kepada bapak kepala sekolah agar naik ke atas panggung untuk memberikan piagam penghargaan kepada dua murid hebat ini," ucap Bu Nindy, dia pun mencoba untuk meneruskan acara yang sudah di laksanakan jauh-jauh hari itu.
Lalu seorang pria paruh baya itu datang dengan di temani dua guru lainnya, membawakan piagam dan medali sebagai kenang-kenangan serta tak lupa dengan buket bunga yang besar juga cantik, sebab bunga itu adalah bunga asli.
Ke duanya menerima hadiah tersebut, namun sayangnya tinggal satu yang belum di serahkan pada anak yang harusnya mendapatkannya, tapi Ovin benar-benar tidak datang.
Padahal banyak sekali orang yang penasaran dengan sosok dari gadis tersebut.
Bahkan Bu Nindy pun, dia berharap kalau Ovin juga datang, dan ingin menanyai di balik alasan strategi yang Ovin lakukan untuk memberikan pukulan telak kepada dua orang ini, yaitu Franz dan Bella.
Tapi, semuanya harus mereka tahan, bagaimanapun orang yang menjadi bintang utama hari ini benar-benar tidak datang sama sekali.
" Apa tidak ada yang mau mewa-.. " ayatnya seketika menghilang ketika ada satu suara dari seorang pria yang terdengar di bawah panggung.
"Apa aku bisa mewakilinya?" satu suara itu pun terdengar jelas di telinga mereka semua, dan berhasil membuat mereka menaruh perhatian pada sosok yang baru saja muncul dengan cara yang cukup mengejutkan juga.
TAP.......
TAP.....
__ADS_1
TAP......
Langkah sepatu itu juga menjadi pusat perhatian untuk menemukan siapa pemilik langkah itu.
Dari pintu masuk, terlihat ada satu pria dengan mengenakan pakaian jas berwarna hitam, rambut yang terlihat rapi juga terpancar dari pakaian formalnya itu, serta jam yang dipakainya juga sepatu kulit hitam yang terlihat berkualitas.
" Eh...pria itu, dia kan yang waktu itu bermain voli bersama kita?" bisik salah satu perempuan lepas melihat pria tinggi dengan pakaian formal itu ternyata pria yang sama saat di pantai untuk bermain Voli.
" Bukannya dia sangat tampan? Dan... Tubuhnya, apa dia pangeran dari negeri dongeng? Aku baru menyadari sosoknya yang sangat sempurna itu!" puji yang lainnya, melihat sosok sempurna pria tampan ala novel.
" Namanya... siapa yah? Eth... E-ethan?" ucap seorang perempuan seraya berusaha berpikir, sebab belum lama ini mereka juga bertemu dan bermain bersama di pantai ketika tour waktu itu.
"Ya, ampun, kenapa dia tampan sekali sih. Tapi sebenarnya kenapa dia datang kesini?"
Banyak dari mereka yang langsung terlena dengan keberadaan dari Ethan.
"Ok, maaf mengganggu acara kalian semua. Perkenalkan, saya Ethan Shearston." tutur Ethan lepas naik ke atas panggung dan memberikan jabatan tangan kepada kepala sekolah.
Itu adalah nama dengan marga berbeda, karena ia memang mencoba untuk memilih marga dari mendiang Istrinya Ethan, agar tidak ada yang mengetahui bahwa dia sebenarnya bermarga Abelson.
"Apa saya bisa mewakili Oktavin?"
'Ethan siapanya gadis itu?' semua di mata para perempuan, karena lagi-lagi Ovin memiliki banyak sisi tersembunyi dan diantaranya itu Ethan kenal dengan Oktavin, dan sekarang orang tampan ini datang mewakili gadis berkacamata itu.
'Bagaimana bisa pria ini dekat dengan Ovin?' Bu Nindy pula tidak mau mengalihkan pandangannya pada pria yang satu ini dan di hujani rasa heran yang besar sekaligus karena merasa terpesona dengan sosok dari Ethan ini.
Di karenakan memakai pakaian formal, maka sisi dari kejantanannya pun jadi kelihatan lebih jelas, sampai banyak yang tidak menyadarinya kalau mulut mereka sudah meneteskan air liurnya.
"Wah... jadi anda Ethan CEO dari perusahaan Arston? Terima kasih sudah datang. Saya baru tahu kalau anda ternyata masih muda. " ucap Bu Nindy, dia tahu perusahaan Arston itu adalah perusaan yang terkenal karena berpacu pada bidang teknologi, dan salah satunya adalah handphone.
Tapi harus ia lakukan demi keponakannya.
"Karena ada masalah dengan Ovin, saya yang datang mewakilinya bisa kan?" tanya Ethan dengan senyumannya, sekaligus memberikan kode peringatan untuk tidak menanyakan apa hubungannya.
Bu Nindy yang mengetahui sekilas senyuman dan cara Ethan menatap ke arahnya, membuat Bu Nindy sesaat menelan saliva nya sendiri.
" Bisa...bisa, kami justru merasa sangat beruntung anda datang menghadiri acara kami. " jawab Bu Nindy dengan terpaksa, sekaligus memperlihatkan kembali senyuman yang palsu itu.
'Maksudnya, lebih baik aku yang datang ketimbang anak muridnya?' lain ucapan lain makna yang terkandung di dalamnya, Ethan hanya berharap kedatangannya itu tidak lama-lama.
_________
Selepas menerima piagam itu, dan melakukan sesi foto bersama, Ethan langsung pergi bergegas pulang, berjalan menuju tempat parkiran, saat sudah masuk ke dalam mobil dan hendak menutup pintu, ada satu tangan menahan pintu mobilnya.
"Tunggu!" kata Franz, orang yang menghalangi Ethan pergi. "Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan." ucap Franz.
"Sampai mau menungguku keluar, pasti pembicaraan yang sangat penting. " ucap Ethan.
Maka dari itu, Ethan jadi ingin menahan niatnya untuk pergi dan dengan setia meladeni pertanyaan yang akan di lontarkan dari mulut pemuda ini.
"Jadi apa yang ingin kau tanyakan?"
" Dimana Ovin?"
" Dari sekian banyak pertanyaan, hanya itu yang kami tanyakan?" tanya Ethan.
__ADS_1
Salah satu alis sedikit terangkat. Dia sungguh menatap tidak percaya pada sang tuan muda yang satu ini hanya menanyakan hal itu saja.
'Padahal dari pada pertanyaan yang satu itu, harusnya yang ditanyakan pertama kali itu adalah. Bagaimana keadaannya Ovin.
Tapi dengan tidak sopan, dia malah langsung tanya dimana Ovin.
Kalau saja waktu bisa di putar kembali, aku tidak akan membiarkan ada hubungan diantara dia dengan anak ini.' kata hati Ethan.
Dia sangat menolak hubungan yang dia anggap benar-benar terlalu dini untuk menciptakan sebuah julukan sebagai suami Istri antara anak berumur 18 tahun ini.
Setidaknya itulah yang diharapkan Ethan sendiri.
Hanya saja, karena nasi saja sudah jadi bubur, apa yang bisa Ethan lakukan adalah untuk melindungi Ovin dari berandal di depannya itu.
" Dia sedang liburan. " ketusnya, sambil mengenakan kacamata hitam, lalu mengedarkan pandangannya ke jam tangan yang dipakainya. " Jika tidak ada pertanyaan lagi, aku pergi. "
Ethan membuka pintu mobilnya lagi, namun langsung terhenti ketika Franz tiba-tiba menekan pintu yang hampir terbuka itu.
"Aku...mohon. pertemukan aku dengannya. " memohon pada Ethan.
"Apa? Mohon?" Ethan kembali memutar tubuhnya untuk menghadap Franz.
Senyuman mencibir, terbit setelah raut muka yang sellau terlihat lebih dingin dari es di kutub itu.
"Apa semudah itu memohon padaku?
Kau sudah membuatnya jadi seperti pembantu di rumahmu untuk ke dua kalinya, padahal dia lumayan trauma dengan perlakukan seseorang karena intimidasi dan siksaannya setiap hari.
Sikapmu yang sombong, bisa aku patahkan dengan mudah, tapi aku bukan orang yang suka bermain dengan anak bau kencur sepertimu.
Anggap saja kau sedang menikmati masa galau mu." setelah menyelesaikan ucapannya, Ethan pergi meninggalkan Franz lagi.
" Aku harus menemuinya, bagaimanapun juga aku- aku harus menemuinya.
Dan semua yang kau katakan, aku akui, kalau aku memang serba salah.
Tapi mulai hari ini, aku ingin meperbaiki peranku ini terhadapnya, jadi aku mohon, pertemukan aku dengannya," ucap Franz mencoba untuk membujuk.
Selain itu, karena dia sama sekali tidak mau tinggal diam, kesempatan emas tadi dia gunakan untuk menaruh alat pelacak di mobilnya Ethan.
Sekarang hanya menunggu, kemana tujuan dari pria itu? Franz meminta bantuan Jeni untuk memonitornya.
"Tidak bisa, hanya berisi kata-kata yang bisa jadi basi, aku tidak akan pernah mengizinkanmu bertemu dengannya.
Karena bagiku, dia lebih berharga dari apapun di dunia ini.
Dia bahkan lebih berharga ketimbang jatah dari kekayaan yang keluargamu miliki.
Dengan Franz, kau itu sama sekali tidak layak untuk berada si sisinya, karena akulah yang berhak menempati posisi itu."
Mendengar cara bicara Ethan yang terdengar cukup menantang, Franz pun langsung melotot.
"Apa maksudmu? Lebih layak dari aku? Memangnya kau ini siapanya Ovin?"
"Apa orang luar sepertimu itu, berhak tahu apa hubungan aku dengan Ovinku?" tersenyum mencibir, Ethan langsung mendorong bahunya Franz untuk menyingkir dari depan pintu mobilnya.
__ADS_1
Setelah itu, Ethan pun pergi dari sana, meninggalkan kesan jengkel pada diri Franz yang mulai terprovokasi dengan kata-katanya Ethan barusan.