Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
PUM : Pertemuan Sejoli


__ADS_3

“Kenapa kau mengajakku bertemu?” Tanya Chade kepada seorang pria yang sedang berdiri di depan sebuah air mancur yang mempunyai diameter lima puluh meter, dan merupakan tempat untuk memanjakan mata.


Karena di setiap menitnya air mancur itu menunjukan atraksinya bersamaan dengan cahaya lampu warna-warni.


Jerry melirik ke samping kanan.


Dia akhirnya melihat pria ini lebih dekat. Yaitu Chade, yang tidak lain adalah paman dari Ovin.


“Apa kamu tahu tuan Aeon?”


“Sebelum itu jawab pertanyaanku saat di telepon. Darimana kau mendapatkan nomorku?”


“Aku mendapatkannya dari tuan Aeon sendiri.” Jawab Jerry, masih menatap air mancur iru.


“................” Chade kembali menatap air mancur di depannya yang sedang memperlihatkan atraksinya lagi. “Apa kau menerima permintaan dari nya? Dan membuatmu bekerja sama denganku untuk menemukan kalung itu?” 


“...............!” Jerry sejujurnya terkejut, karena Chade sudah tahu dengan tujuan dari Jerry yang bahkan Jerry sendiri belum mengatakan apapun kecuali bertanya soal tuan Aeon tadi.


Tapi Jerry langsung tersenyum simpul dengan semua ucapan Chade tadi.


“Ya. Itu memang tujuan dari pertemuan ini. Sekaligus ingin melihatmu lebih dekat.“


Chade akhirnya sedikit menundukkan tubuhnya agar sedikit menyamai ketinggian Jerry ini.


“Ho~” Chade tersenyum miring saat mendengar pernyataan dari anak SMA di sebelahnya itu. “Ternyata aku juga bisa menarik perhatian dari bocah sepertimu ya?” Tanya Chade dengan nada berbisik tepat di telinga kanan Jerry.


“...........!” Jerry sedikit menjauhkan wajahnya dari pria ini, karena suara yang Jerry dengar terasa seperti sebuah godaan untuknya.


Chade langsung tersenyum lebar saat melihat reaksi wajah terkejut Jerry yang lucu itu. “Jadi Jerry...katakan dimana gadis kesayanganku berada?” 


“Gadis?” Jerry langsung bingung soal yang ditanyakan oleh pria ini terhadapnya.


“Hm...apa kau tidak mengerti juga apa yang aku maksud? Hmm? Jerry? Si kucing pemburu?” Kata Chade lagi dengan senyuman ramah yang dipaksakan.


Dan Chade juga semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Jerry yang merasa terpojok, karena berisi kalimat sindiran juga.


[Gadis?] Jerry langsung memaksa otaknya untuk berpikir. [Dia bukannya tidak memiliki perempuan di sampingnya saat ini? Gadis siapa yang dia maksud? Gadis kesayangan?]


“Ck…” Chade berdecih kesal karena Jerry yang tidak kunjung menjawab pertanyaannya. “Ternyata meskipun kau punya tubuh setinggi itu, otakmu lama untuk diproses.”


“.................”Jerry sudah memalingkan wajahnya ke tempat lain, karena wajah Chade benar-benar ada di depan wajahnya. 


“Apa kau masih tidak mengerti siapa satu-satunya perempuan yang aku sayangi? Padahal kau ada di kelas sebelahnya.” Jelas Chade. sedikit memberikan kode.


“Maksudnya Ovin?” Lirik Jerry kepada Chade yang sudah berdiri normal lagi.


“Yap! Dialah satu-satunya perempuan didunia ini yang aku sayangi, dia akan tetap berada di nomor pertama yang aku cintai, sekalipun aku sudah punya pacar.” Ucap Chade, menambahkan kesan dari rasa sayangnya terhadap Ovin kepada Jerry ini.


[Dia...orang yang seperti ini?] Jerry akhirnya tahu, alasan kenapa pria di sampingnya itu terkadang bersikap seperti pria yang mesra kepada Ovin, adalah karena Chade adalah pamannya.


“Aku tahu kau pasti tahu dia ada dimana.”


“Jika menurutmu begitu, aku hanya bisa menjawab tidak tahu. Yang lebih tahu adalah tuan Eon sendiri, jadi tanyakan saja pada dia.” Jawab Jerry, sambil merapikan pakaiannya lagi.

__ADS_1


“Lagi?!”


“Apa yang lagi?” Tanya Jerry penasaran dengan Chade yang tiba-tiba mengerutkan keningnya, saat sudah menatap layar handphone nya sendiri.


“Orang itu ternyata juga punya rencana untuk mereka berdua. Dasar….kenapa dia juga malah ikut-ikutan masuk ke dalam daftar skenario mereka?”


“Hah?” Jerry sepenuhnya tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Chade ini.


_____


CIP…..CIP…..CIP……


BYURR…..


Suara kicauan burung disertai deburan ombak yang menyapu pesisir pantai, membuat mata yang awalnya terpejam itu, akhirnya menampilkan siluet dari mata berwarna coklat nya. 


“Ah...silau?” Gumam Franz saat mendapatkan wajahnya disapa oleh mentari pagi. [Ternyata sudah pagi.] Batinnya.


Franz bangun dari tidurnya, dan menguap lebar karena lelah yang dia dapatkan sebenarnya masih terasa di tubuhnya.


Tapi semua itu tidak berarti untuk Franz lagi, karena sekarang waktunya untuk bangun dan kalau bisa adalah makan.


“Vi-” Hendak memanggil namanya, Franz sudah mendapati peti mati di sebelahnya itu kosong, dengan meninggalkan mantel coat nya saja. “Dia pergi kemana?”


Penasaran dengan keberadaan perempuan yang tidur lebih awal tapi bangun lebih awal juga, Franz memutusan untuk keluar dari rumah.


BYURR…..


Suara yang terus menggulung itu akhirnya menyita perhatian Franz yang melihat Ovin, justru terlihat sedang berlarian kesana kemari seperti setrika.


TAP……...TAP…...TAP…….


Franz berjalan dengan telanjang kaki, dan saat sudah menginjak pasir panta, kakinya ternyata merasakan kehangatan.


Yah…..


Meskipun hari memang masih pagi, tapi tidak pagi yang Franz pikirkan.


Sebenarnya hari sudah menunjukkan pukul delapan pagi, dan matahari sudah berhasil menghangatkan semua pasir pantai yang ada. 


DRAP…….DRAP……..DRAP……..


Dengan sepasang kaki kecil dan ramping itu, Ovin berhasil berlarian kesana kemari tanpa masalah yang berarti.


Tapi…


Salah satu alisnya Franz terangkat. [Dia sedang mengejar apa?] Pikir Franz di detik itu juga.


“Hah..! Hah…! Hah…!” Ovin sudah berhenti dengan mengangkat sebuah jaring di tangannya.


“Apa yang sedang kau lakukan?”


“Mengejar kepiting yang kabur.” 

__ADS_1


[Dia sampai mengejar kepiting yang larinya lebih cepat ketimbang dia?] Hati Franz sebenarnya sedikit tergelitik saat mendengar pernyataan dari gadis ini.


“Apa kau bisa memasak?” 


“Kenapa kau menanyakan itu padaku?” Franz mengernyit, karena selama ini dia memang tidak pernah memasak, jadi dia sedikit emosi saat Ovin bertanya soal itu kepadanya.


“Jika lapar kan harus bisa memasak.”


“Tapi aku tidak pernah masak.”


“Kalau begitu soal laparmu, menjadi urusanmu sendiri.”


“Apa maksudmu?!” Pagi-pagi sudah mulai terpancing emosi dengan ucapannya.


“Kemarin…….” Ovin kemudian menoleh ke belakang, tepatnya menatap Franz. “Bukannya kau bilang padaku untuk melakukan sendiri? Dengan kata lain, kau juga harus melakukan sendiri apa yang bisa kau lakukan untuk mengurus perutmu sendiri.” Ucap Ovin dengan wajah tanpa ekspresinya.


“.................!”


Ovin terus melanjutkan pekerjaannya untuk mencari makanan.


Kepiting yang sudah Ovin dapatkan, dia ikat semua kaki itu dan menaruhnya ke dalam ember.


[Apa dia mau membuatku mengurus diriku sendiri?] Franz langsung memutar tubuhnya ke belakang, melihat Ovin sudah pergi meninggalkannya, melewatinya begitu saja.


‘Buat Franz mandiri, itulah yang ibunya katakan kepadaku. Dan saat dia dalam kondisi di luar kemampuannya, dia akan mengerti soal dirimu. Dia akan menyadari bahwa dia tidak bisa hidup sendiri.’


[Maafkan aku. Aku akan melakukan apa yang bisa aku lakukan agar kau tidak terus menerus bergantung pada sesuatu. Kau harus bisa merasakan saat tidak ada yang bisa membantumu.] Pikir Ovin, saat dia mencoba mengingat apa yang dikatakan oleh tuan Eon kepadanya kemarin. 


Setelah kepergian Ovin, Franz termenung sendirian di pantai.


“Baiklah! Awas saja jika kau butuh bantuanku, aku tidak akan membantumu.” Ucap Franz pada dirinya sendiri.


“.........................” Ovin hanya menatap Franz dari kejauhan.


Seperti yang Ovin janjikan semalam, khusus untuk pagi ini dia akan membuat sarapan untuk Franz.


Tapi itu hanya untuk sarapan paginya saja. Tidak dengan makan siang ataupun malam. Untuk waktu seterusnya, dia hanya akan mengawasinya.


Setelah beberapa waktu termenung sendirian di pantai, Franz memilih kembali ke pondok, untuk mandi dan ganti pakaian dengan pakaian yang lebih cocok di situasinya yang semakin panas ini.


“ ………………..” Berjalan sampai ke rumah pondok, Franz benar-benar tidak bisa memikirkan apa pun.


Sampai saat di dalam rumah, dia sudah disuguhi aroma yang cukup enak.


[Apa dia memasak untukku?] Batin Franz saat menemukan piring berisi dua ikan bakar. 


Karena rumah pondok ini didukung dengan listrik dari tenaga matahari, maka alat masak yang sebenarnya ada banyak, bisa digunakan untuk memasak di dapur itu juga.


Hanya saja, tidak dengan bahan makanan, yang harus dicari sendiri.


Untuk air, ada bak penampungan yang digunakan untuk menampung air bersih yang didapat dari air sungai.


Dengan artian, sebenarnya mereka berdua tidak begitu kekurangan apapun, kecuali makanan yang harus dicari sendiri. 

__ADS_1


Setelah Franz memakan ikan bakar yang begitu sederhana itu, dia pergi untuk mandi. 


Hanya saja yang menjadi pertanyaan adalah dimana Ovin berada?


__ADS_2