
" Apa yang terjadi dengan marmot kecilmu itu? Dia lebih pendiam atau memang pendiam?" Tanya Ainz penasaran sambil mengganti Chanel tv untuk melihat tontonan yang menarik.
Karena saat ini kebetulan yang pas di luar sedang hujan, dan Franz juga akan menginap di rumahnya, maka Ainz jadi punya teman untuk di ajak mengobrol.
Tapi sayangnya topik pembahasan yang dipilih Ainz adalah Ovin sendiri.
"Mungkin saja karena apa yang baru saja terjadi tadi." Sahut Franz, tanpa sadar jadi membicarakan istrinya kepada Ainz ang notabene nya tetaplah orang lain.
"Ngomong-ngomong sampai Jenifa membawa kalian berdua kesini, pasti ada sesuatu yang baru saja terjadi kan? Apakah itu ada hubungannya juga dengan kejadian yang kau maksud itu?"
"Hmm. Sebenarnya hari ini hari kematian Ibunya. Aku pergi ke pemakaman untuk menyusulnya, gara-gara dia menghilang tanpa bisa di beri kabar."
"Lalu darimana kau tahu dia ada di pemakaman, jika memang tidak bisa di beri kabar?"
"Karena ada seseorang yang memberitahuku hal itu, dia orang yang lebih dekat dan lebih mengenalnya dari pada aku." Beber Franz, yang saat ini sedang berada di dalam kamar mandi melakukan ritualnya sendiri.
'Dari suaranya saat mengatakan itu, dia terdengar seperti orang yang cemburu.' Batin Ainz. "Jadi apakah karena itu, dia jadi lebih pendiam? Raut wajahnya juga terlihat tidak baik."
"Kalau itu, sebenarnya tadi kami hampir tersambar petir."
"Uhukk!" Ainz yang sedang minum itu langsung tersedak sendiri. 'Uhukk...uhukkk, h-hampir tersambar petir?" Ainz langsung menyeka sudut bibirnya dengan punggung tangannya. "Pantas saja wajahnya terlihat seperti orang antara ketakutan dan semacam trauma? Tunggu Franz, dia..apakah dia pernah mengalami hal yang hampir serupa? Wajahnya tadi itu loh...aku sangat yakin dia bisa tegang seperti itu, itu menandaan kalau dia sedang mendapatkan ulasan memori lamanya." Jelas Ainz.
KLEK..
Setelah beberapa waktu, Franz pun keluar dari kamar mandi.
"Hah seg-"
Belum juga mengutarakan perasaannya untuk mengatakan segar, karena tubuhnya jadi lebih enakan selepas mandi dengan air hangat, tiba-tiba saja tangan Franz di tarik dengan kasar oleh Ainz?
"Hai, apa-apaan kau? Lepaskan tanganku." Protes Franz seraya memegangi handuk yang melingkar di pinggangnya agar tidak melorot, karena tiba-tiba saja tangannya di tarik dengan kasar oleh Ainz ini.
"Tidak, ini bukan waktunya kau santai-santai saja."
"Apa maksudmu? Aku sudah lelah seharian ini, gara-gara mencari-cari satu perempuan yang suka keluyuran itu. Jadi aku ya ingin santai." Mencoba menarik tangannyad agar bisa lepas dari cengkraman tangannya Ainz ini.
"Apa kau masih tidak mengerti juga, di saat-saat seperti ini dia sedang sangat membutuhkanmu." Jelas Ainz, sampai Ainz malah menarik Franz keluar dari kamar.
"Kau tahu, aku ini maj-"
"Disini tempatku, jadi akulah yang menentukan apa yang ingin aku lakukan, kau hanyalah sekedar tamu disini, jadi tidak ada kata majikan lagi." Pungkas Ainz, lalu dengan serta merta Ainz membawa Franz pergi masuk kedalam kamar yang di tinggali oleh Ovin yang ternyata pintu kamarnya tidak di kunci.
"Lepaskan." Tekan Franz, dia berusaha untuk leas dari cengkraman tangan Ainz, tapi tenaga Ainz sendiri ternyata bisa lebih besar ketimbang diri Franz?
"Tidak, kau harus melakukan tugasmu."
__ADS_1
"Tug-" belum juga menanyakannya, Franz langsung di dorong kasar agar masuk kedalam kamarnya Ovin.
"Tugas sebagai, su.a.mi." Kata Ainz dengan kalimat terakhir tanpa adanya suara, karena dia tidak ingin ada orang lain yang mendengarnya.
Dan setelah berhasil membuat Franz masuk ke dalam kamar, Ainz langsung menutup pintunya dari luar, bahkan sampai menguncinya.
Sayangnya Franz yang benar-benar tidak mau membuat keributan besar dengan menggedor-gedor pintu, hanya bisa diam saja.
'Dia ternyata merencanakan ini. Apa jangan-jangan dia melakuan ini kepadaku karena perintah dari Ibuku?' pikir Franz, mulai berburuk sangka pada Ainz.
Padahal sebenarnya Ainz melakukannya karena inisiatifnya sendiri, sebab dia merasa bersimpati dengan nasibnya Ovin. Mengingat Ainz tahu, siapa orang yang memberitahu Franz soal kematian Ibunya Ovin, yaitu Chade sendirilah yang mengatakan itu.
Karena secara kebetulan yang sama, waktu kecil, Ainz sendiri mengingat kejadian di rumah sakit di mana ayahnya dulu pernah menangani kasus kecelakaan dari seorang wanita, dimana ketika pihak keluarga sama sekali belum ada yang datang, di lorong rumah sakit tepat di depan ruang operasi, Ainz terus diperdengarkan tangisan yang terjadi selama satu jam lebih.
Karena itulah, Ainz yang jadinya teringat kembali dengan ingatan masa lalunya yang sebenarnya di miliki Ovin sendiri, membuat Ainz jadi merasa kasihan.
Apalagi jika memikirkan Ovin rupanya sudah menikah, dan orang yang di nikahinya itu adalah Franz yang bagi Ainz sendiri, Franz ini memiliki segala gudang masalah yang tidak terlihat, dan diantaranya adalah sifatnya yang cukup buruk itu.
'Hah...anak ini memang terkenal susah di atur, dan Ovin malah menikah dengan anak seperti ini. Sebaiknya besok aku mengunjungi makam ibunya.' Benak hati Ainz, lalu meninggalkan Franz yang saat ini sudah terkurung di dalam kamar.
*
*
*
Tapi Franz yang celingukan ke arah kanan dan kiri saja, tidak melihat adanya keberadaan dari Ovin.
'Apa dia sedang mandi?' Franz yang tidak mau berpikir yang bukan-bukan lagi, mencoba mencari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk menutupi tubuhnya itu, karena jika hanya menggunakan handuk yang hanya menutupi area bawahnya saja maka itu akan membuatnya bisa mati kedinginan.
Akan tetapi, Franz yang hendak membuka lemari pakaian untuk menemukan handuk kmono, tiba-tiba saja langsung di kejutkan dengan pintu kamar mandi yang terbuka dengan cukup kasar.
BRAK...
'Kenapa dia keluar belum memakai baju?' Fraz pun jadi membelalakkan matanya saat melihat Ovin keluar hanya dengan handuk yang meliit di tubuhnya saja.
Tapi dari pada melihat penampilan luar Ovin yang terlihat menggoda itu, Franz justru melihat gaun berwarna pink yang di berikan kepada Ovin itu justru di cengkram erat di tangannya Ovin.
SRAK...
Ovin tiba-tiba saja membuka segala laci yang ada, seperti sedan mencari sesuatu.
Apa itu, Franz sendiri juga tidak begitu tahu apa itu.
'Apa lagi yang akan dia lakukan itu?' Penasaran, tapi karena Franz saat ini hanya memikirkan dirinya sendiri untuk menemukan pakaian yang bisa dia pakai, maka Franz pun tidak memperdulikan apa yang sedang Ovin lakukan.
__ADS_1
Jadi Franz pun saat ini membuka lemari pakaian yang ada di sana, dan setelah di buka, rupanya dia akhirnnya benar-benar bisa mendapatkan apa yang dia mau itu, yaitu handuk kimono yang sedang di carinya. Tapi di saat yang sama juga, dia pun mendengar suara Ovin yang berkata,
"Ketemu." Dengan senyuman lemah, Ovin pun menemukan sebuah gunting?
Mau di apakan gunting yang sudah Ovin dapatkan itu?
Ketika Franz hendak mengambil handuk komono itu, tiba-tiba saja Franz langsung di kejutkan dengan Ovin yang justru menggunakan gunting itu untuk..
KRESHH...
Gunting tajam itu justru di gunakan untuk menggunting gaun itu dengan serta merta?!
"Begini, iya. Ini lebih baik. Kalau di bakar sampai habis, nanti ini bisa sampai kesana." Gumam Ovin dengan tangan yang terus menggunting dan merobek gaun mahal itu dengan cukup kasar.
Melihat hal itu, Franz yang geram karena melihat Ovin justru merusak gaun pemberian dari Jenifa itu, membuat Franz langsung turun tangan.
GREP.
" Apa yang kau lakukan?! " tanya Franz dengan nada tegas.
"Mengguntingnya." Tanpa mengalihkan pandangannya dari gaun yang sudah separuh rusak itu, dengan kekuatan yang Ovin miliki, dia berusaha untuk menggerakkan tangannya lagi untuk menggunting gaun indah itu menajdi potongan yang lebih kecil
"Aku juga mengerti, tapi jika mereka tahu kau merobek pakaian ini, sama saja kau mencoreng wajahku. Apa kau tidak mengerti dengan itu ha?" Kata Franz dengan nada penuh penekanan dan sengaja direndahkan agar tidak ada orang yang mendengarkan, lalu franz melanjutkan lagi. " Apa alasanmu membakar baju itu? Apalagi tepat di dalam rumah orang yang memberimu baju?"
Ovin kemudian tetibe berdiri dan menghadap Franz, karena lebih pendek 15 cm dari Franz, Ovin hanya menatap datar dada bidang milik Franz, sekalipun sekarang wajahnya tengah memerah.
"Salah dia, memberikan baju pink." Jawab Ovin dengan tatapan mata sudah kosong.
"Kalau tidak mau warna pink, kan tinggal di tukar, apa kau sebod-"
"Kau ternyata memang tidak pernah mengerti. Ini adalah baju yang terakhir kali di pakai Ibuku dan sekarang akan dipakai olehku?" Sela Ovin di detik itu juga.
Saat menatap mata Franz, Franz pun dapat melihat dengan jelas tatapan mata kosong milik Ovin ini benar-benar seperti orang yang terlihat kehilangan harapan, sama seperti..
'Akhh..' Franz yang tiba-tiba merasakan sakit di kepalanya, refleks jadi melepaskan cengkraman tangannya karena dia merasa ada sesuatu kilatan memori yang aneh yang tiba-tiba muncul, tepat di saat dirinya itu melihat sorotan mata kosong yang di miliki oleh Ovin saat ini. 'Apa itu tadi?' Detik hatinya.
Franz merasa bingung dengan apa yang di lihatnya beberapa saat tadi.
"Jadi dari pada di pakai olehku, lebih baik gaun ini....aku berikan kepada ibuku sebagai ganti." Imbuh Ovin lagi, menambah suasana di dalam kamar itu semakin runyam.
Di satu sisi Ovin kembali memotong gaun itu menjadi potongan tak beraturan yang lebih kecil, di satu sisi Franz yang termenung dengan kepalanya yang tiba-tiba kembali di landa sakit, dengan sebuah suara..
BRAKK...
"IBUUUU....!"
__ADS_1