
"Kenapa paman sampai pelihara ular? Sejak kapan dia memelihara ular?" gerutu Ovin, dia sebenarnya lebih ke merasa jijik, karena bentuknya yang memanjang.
Jika diberi pilihan antara ular dengan kalajengking, tentu Ovin memilih kalajengking.
Terlepas dari apa yang baru saja terjadi, Ovin akhirnya kembali ke kamar miliknya yang sudah cukup lama tidak dia tempati.
Padahal sampai beberapa bulan yang lalu, dia pernah duduk bersama dengan kakeknya, tapi sekarang, itu hanya tinggal kenangan saja.
"Ternyata, menikah tidak seenak yang aku bayangkan. Apakah Ibu juga pernah merasakan apa yang aku rasakan?
Semenjak Ayah kembali menikah di saat tanah kuburan Ibu masih basah, saat itu juga, aku sudah tidak menganggapnya sebagai Ayah lagi.
Tanpa persetujuan aku dan memikirkan aku, memutuskan pilihannya sendiri, sejak saat itulah aku kecewa berat dengan Ayah.
Entah apa yang sudah terjadi dengan Ayah sekarang, aku tdiak akan peduli lagi.
Memikirkannya saja, membuat isi kepalaku jadi mengingat perlakukan dari Ibu tiri itu."
Ada banyak masalah dari pada yang terlihat, namun Ovin sama sekali tidak membiarkan masalah itu keluar dari mulutnya sendiri.
Dia hanya membiarkan apa yang sudah terjadi begitu saja, tanpa memperdulikan apa yang sudah terjadi dengan masa lalu.
Karena sekarang, dia sudah bukan lagi seorang singel lagi, yang Ovin pikirkan adalah soal Franz.
Cinta pertama nya, serta satu-satunya orang yang terus saja membuatnya emosi.
"Semoga saja, dengan kejadian ini anak itu bisa sadar. Kalau semua yang keluar dari mulutnya, bisa membuat orang lain tersakiti.
Apa kau tahu seberapa sakitnya hatiku saat kau mengatakan itu?" dumel Ovin, seraya melepaskan semua pakaiannya, kemudian dia pun masuk ke dalam kamar mandi.
Namun, ketika dia baru masuk, dia pun diperlihatkan sebuah bekas jahitan yang sedikit besar di bahu kanannya.
"Sudah berapa lama?" bisik Ovin, menyentuh bekas luka yang ada di bahunya. "Bahkan aku sampai lupa, sudah berapa lama aku mendapatkan bekas luka ini, gara-gara menyelamatkan Franz, yang dulunya sangat cengeng itu.
Aku tidak mengharapkan dia untuk berterima kasih padaku, tapi setidaknya, aku ingin dia bisa berubah. Aku ingin dia bisa memperbaiki kebiasaannya dalam bicaranya yang selalu menusuk hati lawan bicaranya itu.
Dan aku ingin-- aku tidak merasa lelah menghadapi tingkah dia.
Aku harus bertanggung jawab dengan apa yang aku putuskan, jadi setidaknya aku berharap, kalau dia bisa jatuh cinta kepadaku."
Sampai bicara sendiri dengan segala harapan yang dimilikinya, Ovin pun jadi tertawa getir dengan semua perasaannya yang kembali bercampur aduk.
Sampai tawa itu, berakhir dengan senyuman kecut sampai akhirnya tergantikan dengan tangisan miliknya.
_____________
Flashback On.
Di bawah langit malam, gadis itu pun menurunkan sebuah koper, dan tidak lama setelah itu, sebuah pelukan langsung dia dapatkan oleh seorang laki-laki yang sempat menyamar jadi staf karyawan rumah sakit yang bertugas sebagai pengawas di sana.
"Kalau kau mau menangis, menangis saja." Lirih pria ini dengan sebuah bisikan bujukan kecil untuk sang gadis.
Dan sang gadis yang awalnya diam sambil menikmati kehangatan yang dia jumpai di belakang punggungnya, akhirnya langsung meluahkan air matanya.
Langit malam yang cerah, tidak menghentikan adanya air yang membasahi wajahnya untuk menjadi sebuah tangisan yang kian menjadi keras.
Dia adalah Ovin.
Begitu dia sudah membuat ketiga orang yang ia bawa bersama di bawa pergi dua orang perawat, kini hanya tinggal mereka berdua.
Sang paman, dia yang menyamar itu akhirnya memberikan pelukan hangatnya kepada Ovin sebagai bentuk rasa simpati serta kasih sayangnya pada satu-satunya keponakan, anak dari kakaknya Ethan.
"Hiks...hiks.., paman, angghh...." Suara tangis itu pecah, dan Ovin pun akhirnya memutar tubuhnya ke belakang, memeluk tubuh sang paman Ethan untuk ia gunakan sebagai tempat untuk meluahkan perasaannya yang sangat sakit.
Ketika ia memikirkan kembali sang Ibu yang sudah tiada karena menyelamatkan Franz dari mobil yang hampir menabraknya, rasa sakit yang pernah ia rasakan saat dulu, jadi kembali dia rasakan.
Padahal Ibu nya sampai rela menyelamatkannya, tapi Franz sendiri, pria itu terus saja menjadi orang yang terus saja menyalahkannya dengan berbagai alasan yang hanya di simpulkan sendiri.
"Jangan ragu, nangis saja sesukamu, tidak akan ada yang mendengarnya." ucap Ethan, dia pun memeluk sang keponakannya dengan lebih erat, berharap bahwa kehangatan miliknya bisa mencapai hatinya dan menyembuhkan rasa sakit itu.
Dan benar saja, setelah Ethan membujuk agar Ovin menangis sampai puas, perempuan itu pun benar-benar menangis sampai sesenggukan.
"Sekarang kau tidak sendirian, apa kau mengerti? Ada aku, Chade, Kelvin, kami ada untukmu, walaupun kami sama-sama tidak punya keluarga lengkap, tapi aku harap kau tahu kalau kita tidak akan pernah membuatmu sendirian." Ucap Ethan.
Dia terus mencoba untuk menenangkan Ovin, bahwa meskipun mereka berempat sudah tidak memiliki keluarga lengkap yang namanya orang tua, tapi mereka bisa saling melengkapi satu sama lain.
Makannya, Ethan pun berharap kalau Ovin harus bisa lebih bersabar dan menerima kondisi yang ada, bahwa setiap sisi dari setiap manusia itu tidaklah sama, dan karena Ovin sendiri yang memutuskan untuk hidup bersama dengan Franz, maka konsekuensi itu pun sudah seharusnya di ketahui oleh Ovin sendiri.
__ADS_1
"Apa kau mau pulang? Atau pergi kemana dulu?" Tanya Ethan, dia masih saja belum melepaskan pelukannya kepada Ovin, karena Ovin sendiri terlihat masih ingin di peluk terus.
Melihat posisinya sendiri yang seperti itu, Ethan pun jadi merasa kalau ia punya satu anak lagi yang harus ia urus untuk kedepannya.
Dan begitu waktu kian berlalu, Ovin pun akhirnya lelah untuk menangis, dan melepaskan pelukannya. "Aku ingin pergi jalan-jalan dulu." Ucap Ovin dengan wajah masih sembab.
Ethan pun menyodorkan saputangan miliknya agar Ovin menyeka air mata serta ingusnya itu. "Kalau begitu lap dulu wajahmu, lihat air liur, mata, dan ingusmu, sudah jadi satu di pakaianku."
Ovin sedikit tersentak kaget karena rupanya pakaian penyamaran milik sang paman sudah basah.
"Kalau mau jalan-jalan, setidaknya aku harus pergi beli baju dulu." Ucap Ethan dengan senyuman lembutnya itu.
Dengan separuh wajah masih tertutupi dengan saputangan milik sang paman, Ovin pun sempat mendongak ke atas, dan membayangkan kira-kira ekspresi wajah seperti apakah yang sedang pamannya buat itu?
'Kalau saja aku bisa melihatnya, aku pasti bisa merasa senang dengan melihat wajahnya itu. Pasti tidak beda jauh dengan paman Chade, ya kan?' Tatap Ovin.
Ethan yang terus menyadari adanya tatapan ke arahnya, langsung melirik ke bawah. "Apa kau ingin operasi mata?"
"Pasti sakit." Ovin langsung mengalihkan pandangannya itu dari Ethan, karena ia tidak bisa lagi membayangkan jika dirinya operasi mata untuk menyembuhkan matanya yang memang bermasalah itu.
"Itu terserah pada keputusanmu, jika kau mau aku operasi, matamu itu, setidaknya kau bisa melihat wajah orang lain." Tawar Ethan.
Karena dia memang sudah tahu permasalahan dari keponakannya itu, ia pun sudah berniat ingin membantu Ovin untuk melakukan operasi mata.
Jadi setidaknya hari ini dia hanya menawarinya sebuah kesempatan, dan tidak akan memaksa dia terlebih dahulu, karena bagaimanapun keputusan memang ada padanya.
"Aku masih belum siap. Rasanya takut, jadi aku masih belum begitu ingin." jawab Ovin.
Pada akhirnya, tawaran pertama pun benar-benar di tolak, meskipun pada akhirnya Ovin akan terus menjalani kesehariannya itu dengan keterbatasannya.
Ethan hanya merespon ucapan keponakannya itu dengan senyuman yang tidak pernah pudar.
Memang, sangat di sayangkan kalau kakaknya meninggal, dan hanya meninggalkan Ovin sebagai kenangan yang berharga.
Namun, Ethan tetap bersyukur, karena dia diberikan seorang keponakan yang pintar.
Benar, sekalipun di sekolah Ovin selalu saja mendapatkan nilai yang cukup rendah dari kebanyakan teman-teman sebayanya, akan tetapi itu semua adalah cara khas yang Ovin buat.
Dia hanya ingin dirinya tidak terlalu menonjol di pelajaran di hari-hari biasa, namun ketika itu adalah ujian paling penting, maka Ovin akan mengerahkan semua kemampuannya.
"Vin, apa kau masih aktif di organisasi itu?" tanya Ethan, dia tahu soal Ovin yang ikut masuk dalam kelompok rahasia yang di dirikan oleh kakek mereka.
Ethan tersenyum tawar, lalu mengusap ujung kepalanya Ovin dengan perasaan gemas.
"'Jika kau sudah merasa puas dengan kehidupanmu sebagai orang biasa, apakah kau akan kembali ke pasukanmu?" tanyanya lagi.
Diam sejenak, Ovin pun mendongak ke atas.
Tampak langit yang cerah, samar-samar hanya bisa memperlihatkan kerlipan bintang yang bertabur di angkasa sana, karena ada banyak polusi cahaya di kota.
Setelah memikirkan pertanyaan dari pamannya itu, lantas Ovin pun akhirnya menjawab, "Jika kehidupan pernikahanku akan terus berujung seperti ini, aku akan kembali ke kelompokku.
Setidaknya, aku ingin memberikan pelajaran pada anak itu, saat aku akhirnya mencoba seperti orang yang menyerah dengan situasi yang dia buat itu." jelas Ovin dengan panjang lebar.
"Lagian, padahal kau masih muda, kenapa kau berani sekali memilih untuk menikah? Banyak konsekuensi yang harus kau hadapi, dan sekarang saja, kau sedang menjalani sisi keras dari pernikahanmu sendiri, ya kan?"
Ovin menundukkan kepalanya.
Jujur saja, dia terlalu ceroboh, untuk buru-buru bisa membuat Franz menjadi miliknya, hanya karena obsesinya.
Yang pertama, obsesi karena Franz lah orang yang membuat diri Ovin di tinggal Ibu, lalu obsesi ketika dia ternyata bisa melihat wajah anak itu, setelah paman Chade.
"Lagi pula nasi sudah jadi bubur. Aku tidak bisa mengembalikan waktu yang sudah berlalu, jadi aku akan mencoba untuk menjalani apa yang aku pilih ini.
Makannya paman, apakah kau mau membantu masalahku?"
"Tentu saja, Ovin. Kan aku sudah bilang, kita ini keluarga. Apapun masalah yang kau miliki, kau bisa konsultasikan kepadaku.
Setidaknya aku bisa membantumu sebagai paman, setelah sekian lama aku tidak tahu keberadaanmu." jawab Ethan. "Kita bisa selesaikan setiap masalah yang kau hadapi bersama-sama." imbuhnya.
Ovin yang benar-benar membutuhkan kehangatan dari seseorang, dia pun akhirnya kembali memeluk pria tersebut.
"'Terima kasih, terima kasih paman. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, jika waktu itu aku tidak pernah bertemu dengan kakek, aku pasti hidup dengan lebih menyedihkan, selain fakta kalau Ayahku menikah lagi dengan wanita lain." beber Ovin, meluahkan semua perasaan dan rahasia miliknya kepada paman Ethan.
Ethan sejenak terkejut, akan tetapi dia akhirnya berusaha untuk menerima berita yang keluar dari mulutnya Ovin sendiri.
"Iya, yang penting kau haru sehat terus, itulah kunci utama saat kau memang ingin menghadapi masalahmu, paham?" mendorong pelan bahu Ovin, mereka berdua pun saling memandang wajah mereka satu sama lain.
__ADS_1
____________
Flashback Off.
Dan seperti itulah, Ovin pun masih sedikit ragu dengan tawaran yang terus saja terngiang di benak hatinya.
Memang, kesempatan bisa melihat adalah hal yang di dambakan oleh Ovin sendiri setelah ia terus melawan keterbatasan miliknya.
Akan tetapi, dirinya masih cukup takut kalau yang di operasi adalah matanya.
Itulah permasalahannya saat ini.
"Vin, apa kau masih ingin terus menatap wajahku?" Dan suara milik Ethan yang sedang bertanya kepadanya itu pun berhasil memecah lamunan milik Ovin itu sendiri. "Atau kau sekarang sedang berpikir megenai tawaranku waktu itu?" Tanya Ethan sekali lagi.
Dam Ovin yang kembali di tanyai dengan mengungkit masala operasi mata yang di tawarinya beberapa hari yang lalu, membuat Ovin akhirnya segera menjauhkan tangannya dari wajah sang paman pertama.
"Mama, aku ingin tidur bareng, ya..ya?" Dan satu pelukan tiba-tiba saja menerjang tubuh Alinda dari belakang. Dan itu adalah ulah dari Kelvin yang diam-diam mendekatinya dan langsung menerjangnya.
Karena Ovin saat ini memang ada di tepi kolam, dia pun sempat khawatir akan jatuh, tapi sebelum dia jatuh, pinggangnya langsung ditahan oleh Ethan.
"Kelvin, apa kau mau dia jatuh ke kolam malam-malam seperti ini?" Tegur Ethan terhadap satu-satunya anak yang di tinggal oleh mendiang Istrinya tersebut. "Dan jangan panggil kak Ovin mama lagi, dia kakak bukan mama, kau paham?" Imbuhnya lagi.
Kelvin yang tidak ingin melihat ekspresi wajah serius dari sang Ayah, tiba-tiba saja wajahnya mendesak ingin masuk dalam pelukan yang akhirnya membuat wajah bulat, kecil dan menggemaskan itu langsung mendarat di depan dadanya persis.
'G-geli.' Ovin yang terjerumus dengan keimutan tapi juga sensasi geli yang ia miliki dari Kelvin ini, berhasil membuat telinganya akhirnya memerah. "Kelvin, bisa lepas dulu? Aku merasa geli." Pinta Ovin.
"Tapi aku mau tidur denganmu." Ucap Kelvin.
"Iya- nanti tidur bareng." Tidak bisa menolak tingkah menggemaskan dari sang sepupu. Dia akan menganggpnya sebagai keponakan kecilnya.
"Ovin, sebaiknya jangan manjain dia. Kalau kebiasaan di manja, lama-lama jadi kebiasaan." Ucap Ethan sambil menuntun posisi tubuh Ovin agar tidak condong ke belakang.
"Iya nih anak, kau seharusnya sudah tidur sendiri." Ucap Chade, dia menarik tubuh Kelvin untuk melepaskan pelukannya.
Tapi Kelvin sendiri semakin mencengkram kedua sisi dari baju yang di gunakan Ovin.
"Tidak mau, aku ingin tidur dengannya, jangan halangi kebahagiaan anak kecil dong, kalian itu kan besar, seharusnya mengerti penderitaanku yang tidak punya Ibu." Jelas Kelvin, akhirnya semua ucapan yang keluar dari mulut mungilnya itu langsung membuat mereka berdua diam membisu.
Ovin yang merasa punya takdir yang sama dengan yang di rasakan oleh Kelvin ini, langsung membalas pelukannya dan akhirnya dengan senyuman lemah nya itu, dia menggendong tubuh Kelvin. "Sudah-sudah, biarkan hari ini dia tidur denganku."
"Ovin, dia itu kalau tidur akan terus menendangmu, dia inginnya menguasai satu tempat tidur, makannya selama ini aku terus membuat dia tidur sendirian di kamarnya sendiri." Ucap Ethan, berusaha memberitahu kelakuan buruk Kelvin saat tidur itu, Kelvin lebih banyak bergerak, dimana dia akan tidur berputar seperti kipas, dan menendang apapun yang menghalangi wilayah kekuasaannya.
Bahkan, jika saat tidur ada banyak bantal, serta bantal guling, maka keesokan paginya, yang tersisa di atas tempat tidur hanya sprei kasur dan Kelvin itu sendiri.
Semuanya berhasil di hempaskan, seolah tempat tidur adalah medan perang sebenarnya.
"Nanti aku coba lihat, jika tidur Kelvin menendangku, maka tidak akan ada yang kedua kalinya." Ancam Ovin.
Dan hal tersebut pun membuat Kelvin langsung berekspresi buruk, karena kenyataan yang di katakan oleh ayah nya itu, benar-benar apa adanya.
"Aku janji, aku tidak akan menendangmu." Jawab Kelvin, lalu dia pun langsung memeluk leher Ovin dan menyembunyikan wajah mungilnya itu di atas bahunya Ovin.
Dan lagi-lagi Ovin jadi merasa geli sendiri.
Dia memang cukup sensitif dengan sentuhan seperti itu, makannya, dia pun bisa langsung cepat memerah, jika ada bagain tubuhnya yang di sentuh oleh seseorang.
"Tapi jika terbukti kau menendangnya, aku akan memaksamu memindahkanmu." Tukas Ethan.
"Aku jadi iri, bagaiman kalau kit-"
PLAK...
"Akhh..." Chade seketika mengaduh kesakitan setelah belakang kepalanya di sentil dengan cukup keras.
"Kau ini pria normal, jangan melakukan sesuatu yang melanggar norma." Tegas Ethan, mengatur adiknya yang hampir mengucapkan keinginan ingin tidur bersama dengan Ovin juga.
Karena pembicaraan mereka semua sudah selesai, dan hari juga sudah mulai malam, mereka berempat pun tidur.
_______________
"Apa aku boleh memanggilmu mama?" tanya Kelvin kepada Ovin. Padahal hubungan mereka berdua adalah sepupu.
"Kakak, jangan melanggar aturan." Jawab Ovin dengan cepat. Dia berusaha untuk membersihkan tempat tidurnya dengan alat vacum cleaner khusus, karena alat yang ia gunakan juga di gunakan untuk menghilangkan tungau di tempat tidurnya, jadi setidaknya ia merasa aman juga nyaman karena merasa bersih. "Sudah, kau bisa naik sendiri kan?" Lirik Ovin melihat Kelvin sudah ada di seberang kasur.
"Ya."
Tapi dengan sedikit susah payah, karena tempat tidurnya sedikit tinggi, ia pun harus naik tanpa ada anggun nya sama sekali, membuat Ovin jadi merasa gemas melihat betapa Kelvin bisa mandiri untuk melakukan banyak kegiatan di usianya yang masih belia itu.
__ADS_1
'Apa nanti kalau aku dan Franz bisa punya anak, apakah anakku bisa jadi seperti dia?' Tiba-tiba terlintas pikiran aneh miliknya itu.
Karena itu pikiran yang kurang berguna untuk sekarang ini, Ovin pun segera membuang pikiran itu jauh-jauh dan segera tidur.