Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
31 : PUM : Perhatian


__ADS_3

'Tapi...tapi-' Franz yang merasa terjerat dengan semua hubungan yang dia miliki itu benar-benar tidak mampu membuat dirinya untuk tidak memperhatikannya. Hatinya entah kenapa terus berteriak untuk menutupi tubuh Istrinya dari pandangan orang lain? 'Jangan-jangan dia mengunakan Ilmu hitam agar membuatku jadi seperti ini.' Tuding Franz atas kegelisahan di hati miliknya itu.


Sampai suara itu kembali menyeruak masuk kedalam indera pendengarannya.


"Dia pasti akan jadi tontonan yang sangat menarik," Ucapnya lagi, yang lantas langsung membuat ekspresi Franz jadi semakin suram.


Tontonan menarik?


Ovin?


Istrinya jadi tontonan semua orang untuk jadi bahan tertawaan lagi?


'Kenapa aku jadi terus kepikiran seperti ini sih?!' Racau Franz.


Padahal dari sudut manapun, Ovin saat ini saja tidak terlihat melakukan apapun kepadanya. Tapi atas dasar apa, hatinya menuntut untuk melindungi perempuan itu?


Dari pandangan orang lain, termasuk laki-laki lain?


Merasa tertekan dengan situasi hatinya saat ini, Franz akhirnya angkat bicara, "Jangan dilihat lagi, nanti dia merusak matamu." Celetuk Franz mendorong tubuh temannya itu agar pergi dari sana dan tidak mencuri-curi pandang lagi tentang Ovin yang baru saja lewat dengan penampilannya yang berantakan itu.


_________


'Hahh...gara-gara aku fokus membaca, alhasil aku jadi basah kuyup seperti ini.' Ovin mengeluh di dalam hatinya.


Padahal dirinya bisa menghindari kejahilan dari Merli itu. Tapi karean dirinya sedang terlalu fokus dengan bukunya, serta...kacamatanya, sekarang tubuhnya pun benar-benar jadi basah kuyup. Apalagi di sebabkan karena dirinya tadi merasa gerah, maka Ovin meninggalkan blazer milik nya di dalam locker.


Dan sekarang?


Sambil berjalan, dirinya memejamkan matanya. Dia tahu, saat ini sedang jadi pusat perhatian lagi, gara-gara dia tidak memakai blazer, dan hasilnya apa yang Ovin pakai di dalammnya, jadi tercetak jelas.


'Anggap saja aku lagi pamer.' Celetuk Ovin dalam hati.


Karena sudah mendapatkan berbagai macam kondisi, hal sepele seperti ini, bagi Ovin tidak begiu masalah.


Artinya...


'Aku jadi terlihat sangat diperhatikan oleh mereka kan?' Karena pikiran yang muncul itu, Ovin pun tersenyum mencibir.


Dia mencibir pada dirinya sendiri yang harus menyesuaikan kondisi di sekolah barunya?

__ADS_1


Sebenarnya ini kali pertama Ovin bisa sekolah. Karena biasanya yang dia lakukan adalah belajar otodidak ataupun beajar bersama dengan teman-temannya yang ada dalam tim nya. Karena itu, bisa berangkat sekolah layaknya murid yang normal, Ovin hanya menganggap apa yang menimpanya di sekolah seperti saat ini adalah permainan anak kecil.


Dan karena berbagai hal, 'Untungnya aku selalu memiliki seragam cadangan.' lirik Ovin terhadap sekumpulan perempuan dan beberapa laki-laki yang diam di tempat untuk sekedang menontonnya?


'Mungkin karena masih masa remaja. Makannya mereka bisa kekanakan seperti itu,' CIbir Ovin kepada deretan anak-anak sekolah yang berdiri di sepanjang korior. Memberikan jalan untuknya seorang, itu adalah sebuah kehormatan karean kepopulerannya menjadi anak tertindas? 'Oh ayolah, kalau kalian lebih menindasku lagi, saat di luar sekolah aku pasti akan memberikan hadiah lebih untuk kalian.' Harap Ovin.


Karena dirinya terfokus dengan pikiran sambil melihat sederetan pada murid itu, secara tidak sengaja dia hampir saja menabrak seseorang. Karena itu, Ovin langsung menghentikan langkah kakinya terlebih dulu sebelum benar-benar menabrak satu orang yang tiba-tiba berdiri dan menghalangi jalannya.


"Apa yang terjadi kepadamu?"


Suara yang cukup familiar, sebab Ovin mendengarnya pagi tadi, akhirnya kembali menyapanya.


Ovin menatap ke arah depan, dan melihat Jerry lah orang yang berani menghalangi jalannya, sekaligus orang yang menanyakan keadaannya?


Untuk Ovin, saat berada di sekolah ini, orang yang menanyakan keadaannya untuk yang kedua kali ini setelah Bryan adalah dia, Jerry.


'Dia masih suka membaca buku juga,' Tatapan matanya terjaduh pada satu buku novel yang dibawa Jerry.


"Pegang ini," Jerry memberikan buku novel itu kepada Ovin.


".............?" Ovin mengernyitkan matanya, tiba-tiba di berikan satu buku novel? 'Apakah dia ingin menyuruhku membaca ini juga?' Pikirnya, saat dia menatap buku novel berwarna hitam dan memiliki tulisan berwarna merah layanya darah.


Tapi tatkala Ovin serius menatap satu buku yang diberikan oleh Jerry, tiba-tiba saja kedua bahunya mendapatkan satu beban yang tidak eberapa berat, tapi bisa dibilang cukup hangat, sekaligus langsung tercium aroma parfum yang digunakan oleh Jerry?


"Sini," Jerry merebut kembali buku novelnya


"Kenapa kamu melakukan ini?" Saat Ovin hendak melepaskan blazer sekolah pemberian Jerry yang di gunakan untuk menutup tubuhnya, tangannya langsung di tahan oleh tangan Jerry.


"Karena tidak ada yang melakukannya untukmu, bukannya lebih baik aku yang melakukannya? Jangan sampai sakit," Jelas Jerry, sebelum dia memutuskan untuk pergi dari sana.


Tapi sayangnya, ujung baju seragamnya tiba-tiba saja di tarik oleh Ovin.


"Tapi aku tidak membutuhkannya," Kata Ovin, menolak pemberian Jerry. Walaupun ingin beterima kasih karena mendapatkan perhatian lebih dari orang yang baru dia temui itu, tapi sayangnya dia tidak ingin menerima pemberian dari orang lain, selain dari suaminya itu.


Meskipun tidak mendapatkan perhatiannya, tapi karena dirinya sadar kalau sekarang sudah tidak lagi lajang, maka dia harus menolak itu.


Ovin melepaskan Blazer itu dari bahunya dan menyodorkannya kembali ke si pemiliknya.


"Dia ternyata sedang cari perhatian dengan anak baru itu."

__ADS_1


"Padahal sudah diberikan kebaikan, tapi dia menolaknya seperti itu. Ternyata Ovin bisa sok jual mahal ya?"


"Apakah dia bermaksud memberikan blazer yang sudah basah itu kepadanya? Ternyata dia memang benar-benar bodoh, harusnya kalau iya ingin mengembalikannya, kan setidaknya harus di cuci dulu sampai kering."


"Yah...kalau aku jadi aak baru itu, lebih baik aku buang saja blazer yang sudah kotor itu. Kalau sudah di pakai oleh si kutut, tetap saja akan banyak kutu yang menempel. Mau seberapa keras mencucinya sampai wangi dan bersih, di mataku tetap saja kotor."


'Ternyata Ovin diperlakukan seperti ini?' Batin Jerry. Setelah melirik orang-orang yang ada di sekitarnya itu benar-benar merendahkan Ovin, Jerry kembali menatap Ovin yang sudah diselimuti wajah berpikir. 'Kelihatannya dia baru sadar. Blazerku kan sudah basah, apakah dia mau mengembalikannya seperti itu kepadaku?'


Entah kenapa, hatinya tiba-tiba jadi terasa menggelitik karena perempuan yang ada di depannya ini salah strategi.


Karena itu, dalam diam Jeerry tersenyum, karena bisa melihat lelucin akan ekspresi yang cukup konyol itu.


"Aku akan kembali kan nanti." Ovin langsung menarik kembali tangannya, dengan artian balzer yang hendak dia berikan kepada pemiliknya saat itu juga, langsung dia tunda untuk dia cuci lalu dikeringkan.


"Lihat...lihat. Dia berjalan dengan tingkah bodohnya. Cukup menyenangkan juga, disini bisa ada bahan untuk hiburan." Ujar lagi salah satu muri dyang merasa senang dengan apa yang terjadi kepada Ovin.


Semua perkataannya penuh dengan hinaan, tapi dimata Jerry, Ovin seperti cuek saja dengan segala bulan kalimat yang terus menghakiminya itu.


Karena merasa urusannya sudah selesai, Jerry pun melanjutkan perjalanannya menuju ke kelasnya. Membuat mereka berdua pergi ke arah yang berlawanan.


Walaupun segala bisikan demi bisikan yang dibuat oleh para perempuan, terus saja datang menghampiri Jerry, Jerrry juga tidak memperdulikan hal itu.


"Wowww...aku tidak menyangka, anak baru itu punya tubuh sebagus itu." Seorang siswi perempuan langsung mengagumi postur tubuh Jerry.


"Iya. Lihat itu, padahal masih semuda itu, tapi sudah punya tangan yang kelihatan kuat. Akhh..aku jadi punya halu lagi!" Perempuan ini pun merasa kegiarangan dengan ssok Jerry yang terbilang jadi wajah baru untuk sekolah Claryt itu.


Pangeran baru?


Tentu saja.


___________


'Kenapa juga mereka selalu mengomentari apa yang aku lakukan.' Ovin lagi-lagi mengeluh. Dia berjalan sendirian di salah satu lorong sekolah yang kebetulan sedang sepi-sepinya.


Tapi secara tidak sengaja saat ada di tikungan persis, Ovin tiba-tiba saja dihampiri seseorang.


"Apa kabar Vino."


Secara, Ovin langsung berhenti melangkah setelah mendengar nama panggilannya yang lain. "Kenapa kamu ada disini?" Kermyit Ovin.

__ADS_1


__ADS_2