
"Akhirnya aku menemukanmu."
Suara berat khas milik laki-laki akhirnya membuat Ovin langsung berhadapan pada orang yang akhirnya Ovin kenal.
JDERR....
Dentuman petir yang terus menggelegar sukses membuat cahaya dari kilatan petir yang tadi datang itu, berhasil membuat sosok pria tinggi layaknya beruang grizzly ini terlihat juga.
Ovin hanya melihat penampilan dari laki-laki ini saja, tanpa melihat seperti apa kira-kira wajah yang di miliki pria ini.
Tapi dari suara dan aroma yang Ovin kenali, maka Ovin sudah menebak kalau pria ini adalah orang yang waktu itu terus menerus mengejar dirinya saat pulang sekolah.
Bos dari beberapa anak buahnya yang berhasil Ovin penjara.
"Jadi kau mau apa, setelah menemukanku?" Tanya Ovin. Dia tahu kalau laki-laki ini tidaklah sendirian.
"Apa kau tahu, kau sedang berhadapan dengan siapa? Bocah?" Seringai pria ini. Dia memang akhirnya bisa menemukan gadis sekolah yang berhasil membuat beberapa teman-temannya di penjara.
Tapi ada satu hal yang harus di perhatikan, kalau ia memang sedang tidak sendirian.
Tapi juga bukan bersama dengan teman-temannya.
"Kau dapat tamu spesial yang ingin bertemu denganmu. Harusnya kau bangga, karena jika itu aku, aku akan melumatmu sampai habis saat ini juga." Ancam pria ini dengan lidah menjulur dan menjilati bibirnya sendiri seakan dia menemukan makanan yang enak.
TAP...TAP...TAP.....
Mendengar adanya langkah kaki yang datang dari belakang, Ovin langsung menoleh ke belakang, tapi dengan tangan kanan sudah bersiap dengan senjatanya.
"Akhirnya bisa bertemu juga-"
CTAK ....
Suara yang cukup familiar itu membuat Ovin langsung mengeluarkan senjata tongkatnya, yang mana ketika dia hentakkan tongkat sepanjang lima belas centimeter, berubah jadi lima puluh centimeter.
Ovin melepaskan tas nya, berlari ke depan dan mengayunkan tongkatnya itu dari depan, lalu naik ke samping kiri atas.
Setelah tinggal menyisakan jarak satu meter, Ovin pun langsung mengeluarkan tenaganya untuk mengayunkan tongkat tersebut dengan keras.
"Apa kau yakin bisa menyerangku?" Satu pertanyaan itu sukses membuat sepasang mata milik Ovin terbuka lebar.
Serangan yang dia layangkan itu langsung di cegat dengan sebuah pelukan, membuat tubuhnya langsung terkunci ketika pinggangnya di tangkap dan tangan kanannya pun di cengkram.
BRUK....
"Aku mendapatkanmu." Senyuman tipisnya itu menyiratkan semua makna yang ada.
"Lepaskan," Ovin yang tidak mau membiarkan tubuhnya tertangkap seperti itu, menggerakkan kaki kanannya, untuk menjegal kaki milik laki-laki ini.
Kaki kanannya itu di arahkan ke depan, lalu langsung melipat kakinya untuk menangkap lutut pria ini dari arah belakang, setelah itu dengan menumpukan semua kekuatannya di kedua kakinya itu Ovin mencondongkan tubuhnya ke samping kanan, menarik kaki yang sudah berhasil menjepit kaki laki-laki tersebut, akhirnya mereka berdua langsung terjatuh.
BRUK...
__ADS_1
"Bos,"
'Bos? Aku tidak yakin dia ini Bos nya. Tapi aku tetap harus melumpuhkannya.' Detik hati Ovin.
Karena gelap, Ovin benar-benar tidak mampu untuk bisa melihatnya dengan jelas, baik itu memang wajahnya, maupun penampilannya.
Tapi demi menghindari adanya serangan lanjutan dari Ovin ini, pria ini pun langsung mengurungnya di bawah tubuhnya.
"Jadi kau suka bermain kasar ya?" Godanya.
"Kasar? Tentu saja, aku selalu menggunakan cara kasar, karena itu lebih menantang." Setelah mengatakan itu, Ovin justru dengan berani, meludah wajah pria yang ada di atasnya itu. "Phuih!"
"Kau-"
"Bos, sebaiknya bawa saja dia dulu, baru bisa dilanjut nanti." Laki-laki ini memberikan saran pada pria yang menjadi Bos nya itu, yang kini sedang mengunci pergerakan dari Ovin.
"Kau benar juga, kalau disini terus bisa-bisa ketahuan oleh anak itu."
'Apakah maksudnya Franz?' Pikir Ovin.
"Tapi, setidaknya aku harus memberi hadiah lebih dulu pada anak ini." Kata itu di akhiri sebuah bisikan yang menyapu telinga Ovin sebelah kanan persis.
Sampai mereka berdua akhirnya berbagi nafas, gara-gara wajah mereka berdua yang cukup dekat.
Ovin yang merasa tidak tahan untuk menghajar laki-laki ini, Ovin mencoba membenturkan kepalanya.
Tapi kepala yang hampir saling di pertemukan itu langsung diberi jarak yang cukup jauh. "Ohhh~ itu hampir saja, kepalaku yang berharga berbenturan denganmu."
Tapi tidak seperti yang di harapkan kalau Ovin akan tinggal diam begitu saja di tempatnya dengan posisi yang cukup memalukan, karena membuat kedua kakinya berbuka lebar seperti apa yang akan ia lakukan dengan Franz semalam, hal itu justru dijadikan kesempatan emas untuk Ovin sendiri agar bisa lepas dari cengkraman pria ini.
Ovin langsung melengkungkan tubuhnya ke depan, sampai kedua kakinya itu justru menjepit leher laki-laki tersebut.
GREP.
"Bos!" Anak buah dari lak-laki yang sedang Ovin serang itu pun berlari ke arahnya.
Sebelum itu terjadi, Ovin segera mendorong tubuh bagian bawahnya yang sudah menjepit leher laki-laki itu dengan kuat, sehingga dengan keahlian dan kekuatan yang dia miliki itu, Ovin berhasil membanting tubuh berat itu dengan keras.
BRUK.
"Ahww ..., itu cukup hebat, sampai aku mencium aroma wangi." Kata laki-laki ini, setelah keadaannya sudah jadi berbalik.
'Laki-laki memang sama saja.' Batin Ovin, dia kembali mengambil tongkatnya itu sebelum serangan datang menghampirinya dari belakang. 'Dan dia mesum.' Agak jengkel, karena yang menerima aroma dari pangkal pahanya adalah laki-laki lain, bukannya Franz.
'Dia memang bukan anak sekolah sembarangan. Jangan salahkan aku jika melakukan hal kasar.' Lantas laki-laki ini segera mengeluarkan pisau belati yang dia simpan di sarung belati yang terikat di ikat pinggangnya.
Ia berlari dan menyerang Ovin yang masih berjongkok di atas wajah Bos nya itu.
Mengulurkan belatinya ke depan, Ovin berdiri dan mengayunkan tongkat yang sudah berhasil dia raih itu.
CTANG...
__ADS_1
Dan tentu saja pisau belati itu langsung terlepas dari cengkraman tangannya dan terlempar jauh ke sisi dari ruang tamu yang terlampau luas itu.
Entah jatuh ke mana, yang pastinya tidak akan mudah untuk mencarinya, di saat ia harus menangkap Ovin sekarang juga.
'Tidak ada pilihan lain, aku harus menggunakan tangan kosong.' Dengan tubuh fisiknya yang besar, pria ini pun percaya diri untuk menghajar Ovin.
'Apa dia idiot, padahal ada cara mudah untuk membawa gadis itu sekarang juga.' Pria yang masih terbaring ini merogoh saku celananya, dikeluarkannya satu botol kecil seperti sebuah minyak wangi.
Dia mencoba berdiri setelah di berikan serangan balik yang cukup kasar tapi juga memberikan stimulan yang cukup, karena wajahnya tadi sempat berhadapan langsung dengan pangkal paha Ovin.
BHUAK....
KLANG....
Hasil pukulan itu berhasil mengenai perut pria tersebut, sekaligus menyingkirkan belati kedua yang akan di gunakan untuk menyerangnya.
Ovin yang mengetahui pria tadi sudah bangun, buru-buru memberikan tandangan di perut laki-laki dari anak buah Bos itu.
BUKH...
Satu tendangan berhasil membuat anak buah bos itu langsung terdorong ke belakang.
DRAP ....DRAP......DRAP ......
Mendengar langkah kaki dari arah belakang, Ovin segera memutar tubuhnya ke belakang dengan posisi sedikit membungkuk, lalu tangan kanannya yang sedang memegang tongkat besi yang panjang itu, dia sodokan ke depan.
CTANG.....
"Memangnya hanya kau saja yang punya itu?"
Serangan milik Ovin berhasil di tahan dengan senjata yang sama dengan apa yang Ovin gunakan itu.
Alhasil, serangannya gagal untuk membuat perut lawannya itu terkena hantaman besi miliknya.
'Dari mana dia mendapatkan itu juga?' Ovin yang tidak mau berhenti di situ saja, menarik kembali tongkatnya, lalu mundur ke belakang.
Tapi saat dia mundur, dia langsung menabrak tubuh seseorang.
BRUK.
Ovin yang penasaran siapa, langsung mendapatkan serangan tidak terduga.
PSSHH....
Botol kecil yang di arahkan ke ovin, langsung menyemprotkan cairan bening yang membasahi wajahnya.
'Cairan ap- Obat tidur!' Ovin membuka matanya lebar-lebar, rasa kantuk yang ia dapat adalah hasil dari efek obat tidur yang baru saja Ovin dapatkan.
"Itu mudah kan? Hanya tinggal menunggunya tidur saja, kita tidak perlu bersusah payah untuk menyerangnya." Kata pria yang berperan dari Bos ini, setelah sesaat sebelum dirinya mendapatkan serangan seperti tadi dari Ovin, dia sempat melempar botol berisi obat bius itu kepada anak buahnya yang beberapa waktu lalu sempat di tendang oleh kaki Ovin.
"Kan beda strategi Bos. Aku suka menggunakan kekerasan," Menyeringai puas, laki-laki ini melayangkan tinjunya.
__ADS_1