Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
130 : PUM : Kamar


__ADS_3

Tepat di sore hari, pukul setengah enam sore.


Satu pria muda masih tertidur di atas ranjang dengan selimut sudah berada di bawah dan kaos yang dikenakan sedikit terangkat ke atas membuat tubuh atletisnya separuh terlihat.


Lengan tangan kanannya dia letakkan di atas matanya untuk menutupi cahaya silau yang tersorot langsung mengenai wajahnya.


Tiba-tiba saja ada satu bayangan gelap muncul dan membuat penghalang cahaya bagi Franz yang masih terlena di atas kasur empuknya.


"Kebetulan aku ada urusan dengan temanku di sini, besok kita jalan-jalan malamnya baru pulang. Jaga bocah itu," Kata Chade sambil merayapkan tangannya di wajah Ovin, mengusap pipinya dengan lembut dan memberikan senyuman lembut kepada keponakannya yang akan ia tinggal pergi lebih dahulu.


Chade memutuskan untuk pergi menemui rekannya, dan mau tidak mau meninggalkan Ovin bersama dengan Franz yang masih terlelap tidur.


Ovin pun pada akhirnya di tinggal pergi pamannya yang akan keluar sampai larut malam, pastinya.


KLEK.


Setelah pintu tertutup, Ovin berbalik. 'Kenapa mereka mengincar orang ini?' pikir Ovin, lalu pandangannya memicing ke arah satu orang yang sedang tertidur mati.


Untuk beberapa waktu Ovin mengeluarkan dua benda yang berada di sakunya, yang satu kacamata hitam dan yang satunya lagi adalah ponsel.


CKREK...


"Bagus," hasil gambar yang didapatkannya adalah pemandangan menara Eifel yang indah, karena ada taburan cahaya orange akibat biasan dari cahaya matahari.


Beberapa gambar dia ambil sebagai kenangan tak terkecuali gambar Franz tengah tidur molor.


'Wah.....tidur pun dia cukup seksi,' memujinya secara tidak langsung.


Kebetulan balkonnya di batasi oleh pagar batu, jadi ia duduk di kursi lalu meletakkan kepalanya ke atas pagar sambil di miringkan kesamping dan masih memakai kacamata hitamnya.


"Hari yang hangat," gumam Ovin.


Tidak ada hal yang lebih mengasyikan kecuali bersantai sembari menikmati pemandangan luar biasa dari balkonnya.


10 menit berlalu, dia tertidur sendiri karena terbuai udara yang awalnya hangat menjadi sejuk.


'Siapa yang memberikanku obat tidur?!' Matanya langsung terbelak, dan segera bangun dari kasur.


Melihat ke samping kanan, kakinya menarik untuk pergi ke balkon sebab ada satu hal yang ingin ia tanyakan pada orang itu.


" Bangun," Perintah Franz, setelah dia bangun dia langsung mengusik Ovin yang sedang tertidur itu untuk segera bangun, tapi tidak ada respon yang terjadi.


TOEL....


Menekan pipi Ovin dan membuat kacamata hitamnya itu turun.


'Dia beneran tidur?! 'salah satu alisnya terangkat, heran dengan perempuan itu sampai bisa tertidur dimanapun sekalipun itu pagar.


Lalu matanya melihat sesuatu lebih tepatnya adalah rambut.

__ADS_1


" Hei...rambutmu ma- " saat mau menegur dengan menepuk pundaknya...


Tangan kanan Franz di tarik ke depan lalu dibuat..


BRUKKK......


Ovin mengunci pergerakkan Franz dengan tangan di kunci di belakang punggung dan di tekan menggunakan lutut agar tidak bergerak.


"Siapa?!" tanya Ovin dengan tegas dan penuh waspada.


"Siapa? Apa kau sama sekali tidak sadar kalau ini aku?!" Protes Franz saat dia baru saja mendapatkan serangan kejutan yang membuat tubuhnya jadi menghantam meja. "Lepaskan, apa kau mau mematahkan tulangku?! " Imbuhnya dengan nada tegas.


Tes.....Tes.....Tes....


Air dari rambut Ovin yang basah menetesi pipi Franz yang sekarang ada di bawah.


" Eh...maaf " segera berdiri dan melepaskan kunciannya.


Franz memutar-mutar sendiri di bagian lengan kanannya agar menjadi rileks karena perbuatan perempuan tak di duga itu.


" Apa aku orang asing bagimu?! " tanya Franz dengan perasaan masih tidak puas hati.


" A..aku kira orang jahat," Ovin jadi malu, karena dia aru saja menyerang suaminya sendiri. Untung saja Franz berbicara dengan sedikit keras, kalau tidak wajahnya akan babak belur lebih dulu. Padahal itu wajah adalah aset penting untuk Ovin sebagai sempel kalau laki-laki di depannya itu adalah orang harus dia pandang sampai puas.


"Siapa yang mau menjahatimu? Walau kau menggunakan itu di depanku atau di depan orang lain, mereka tidak akan menjahatimu dengan penampilan menggodamu." Ledek Franz, sambil memindai tubuh Istrinya dari atas sampai bawah.


Bahkan aroma manis yang terasa menyeruak dari tubuhnya Ovin, masih saja sampai ke hidungnya, padahal jarak diantara mereka berdua saja sedikit jauh.


" Siapa yang mau mengg- " Ayatnya terhenti, lalu melepaskan handuknya.


" Aku memakai bajuku "


tuturnya secara terang terangan membuka handuk dan memperlihatkan kalau dirinya memakai baju kemeja putih namun kebesaran karena bajunya belum datang, sehingga sekarang Ovin seperti terlihat hanya memakai baju luar dan memperlihatkan paha nya.


'Perempuan sialan.' Franz menepuk dahinya sendiri. Dengan polosnya, Ovin justru membuka handuknya dan memperlihatkan penampilan yang sempat di tampilkan pagi hari tadi. "Baju siapa yang kau gunakan itu?"


Franz tentu saja masih memasang tatapan menyelidik. Karena Ovin selalu sembarangan dekat dengan laki-laki, makannya Franz jadi menanyainya, sebab jika tidak di tanyai, yang ada Franz akan dilema sendiri karena tidak tahu.


'Bisa-bisanya dia memakai baju pria didepanku.' detik hatinya lagi.


"Aku pakai punyamu." Dan dengan sengaja, Ovin sedikit mengulurkan tangannya ke depan, untuk memperlihatkan kemeja putih kebesaran itu sampai membuat lengan tangannya berayun ke bawah, karena saking panjangnya, sebab bukan ukuranya.


'Apa dia mau pamer? Dia menggunakan bajuku lagi? Dia-' Ya, Franz sadar kalau perempuan ini sedang menggodanya.


Tok......tok........tok.....


"Pesanan," tutur pelayan hotel.


"Sudah datang " Ovin bergegas ke arah pintu tapi dia langsung dicegat oleh Franz untuk tidak pergi keluar.

__ADS_1


"Kamu mau keluar dengan pakaian seperti itu? Biar aku saja," Kata Franz memberitahu.


"Sejak kapan dia peduli penampilanku?" Ovin bergumam kecil.


Padahal selama ini perlakuannya buruk dan tidak peduli apa yang akan dilakukannya, namun entah sejak kapan Franz terlihat berbeda itu seperti sejak kadatangan pamannya beberapa kali ini.


Tapi memang itulah tujuannya, menggunakan pamannya sebagai alat untuk memprovokasi Franz.


Franz menerima kotak biru tersebut dan sang pelayan pun pergi.


"Kotak biru lagi," gerutunya. 'Dua orang ini maniak warna biru?!' tanpa tahu malu Franz membuka kado tersebut tapi isinya..


"Jangan!" Dirinya baru ingat selain ada baju ada. 'Pakaian da lam ku.' Makannya, Ovin pun berlari ke arah Franz untuk merebut kotak itu sebelum benar-benar terbuka.


Tetapi sesuatu akhirnya menimpa mereka berdua, karena ovin tanpa sengaja tersandung oleh kakinya sendiri, semuanya berakhir dengan cukup keras.


GEDUBRAKKK.......


Dan Ovin pun akhirnya menindih tubuh Franz dengan serta merta, sampai ada satu benda yang mendarat di wajahnya Franz.


"A-adududuh...." Rintih ovin saat lututnya cukup sakit karena harus berbentur dengan lantai, dan secara kebetulan wajahnya itu langsung menjumpai perutnya Franz yang keras, hangat, juga ada aroma feromon milik Franz karena sempat berkeringat.


Tapi dari pada itu semua apa yang ada di wajahnya Franz, adalah hal yang paling memalukan yang pernah ada.


"Apa ini?" Kedua mata yang tertimpa dengan barang ringan terbuat dari kain tapi punya aroma yang cukup wangi, lantas tangannya itu pun langsung memungut barang itu dari atas wajahnya.


Dan betapa mengejutkannya, ketika di angkat, sebuah kacamata dalam bentuk besar dan dengan bentuk cembung menjadi barang eksotis yang Franz pernah lihat sekaligus Franz pegang dengan tangannya sendiri.


"Kau mesum, menatapnya seperti itu," Ovin langsung merebut pakaian da lam itu dari tangannya Franz dengan cepat.


Tapi respon wajah Franz justru adalah seringaian, dia melihat ke arah bawah saat Ovin ternyata sedang menahan tubuhnya dengan satu tangan setelah sesaat tadi menindihnya, alhasil Ovin yang sedang dalam kondisi merangkak seperti itu, memperlihatkan buah kembar yang menggantung.


"Bukannya kau yang justru lebih mesum ketimbang aku?"


Mendengar kata-kata itu, lantas Ovin pun menundukkan kepalanya ke bawah, dan ia melihatnya sendiri, di balik kemeja besar yang ia pakai, kerah baju yang longgar itu sungguh memperlihatkan asetnya.


"Apa kau mau?" Dengan jahilnya, Ovin langsung merangkak lebih ke depan, lalu meraih kepala Franz untuk Ovin peluk, dan akhirya.


BRUKK..


"L-lepas, ini sesak!" Ronta Franz saat wajahnya merasa penuh dengan banyak tekanan, sehingga ia pun merasa kesulitan untuk bernafas.


"Sesak apanya? Bukannya melihat ini karena menginginkannya?" Balas Ovin dengan begitu jahilnya.


Bahkan untuk ukuran tubuh Franz yang lebih besar ketimbang Ovin, tak kuasa untuk menyingkirkan tubuhnya Ovin.


"Kaulah yang menginginkannya. Hahh..lepas, hei...!" Namun apa daya, seperti koala yang sedang hinggap di batang dan memeluknya agar tidak jatuh, maka Ovin pun melakukannya kepada kepalanya Franz. 'Dia gila! Mentang-mentang aku sudah lebih baik kepadanya, dia malah memelukku seperti ini. Ini ..cukup sesak. Ok, ini kenyal, lembut, tapi aku tidak bisa bernafas. Ovin!'


__ADS_1


__ADS_2