
" Ka..kek ku? Aku betul punya kakek? Kalau nenek? " Tanya Ovin dengan ekspresi wajah penuh dengan rasa penasaran.
" Nenek sedang tidur, besok kakek antar ke nenekmu." Sahut sang kakek.
'Aku betulan masih ada sisa keluarga? Apa mereka dari keluarga ibuku?' Sejujurnya Ovin masih tidak percaya karena selama ini kedua orang tuanya tidak pernah srkalipun membahas keluarga dari pihak Ayah maupun Ibu nya Ovin. Karena itu Ovin pun benar-benar mengira kalau dirinya adalah satu-satunya orang malang yang tersisa untuk dijadikan bahan pelampiasan Ibu dan adik tiru yang menyebalkan itu.
Meskipun dimatanya dia tidak mampu melihat seperti apakah wajah Kakeknya, namun hatinya entah kenapa sedikit merasakan senang, karena setidaknya ada yang memperlakukannya dengan baik selepas dalam beberapa tahun ini dia hidup di bawah tekanan orang lain.
" Makan lagi, jangan sampai dingin." Kata sang Kakek memperingatkan.
Setelah Ovin menyelesaikan makanannya, dia pun berkeliling di dalam rumah besar dna mewah itu. Benar...rumah yang akan Ovij jadikan tempat tinggal benar-benar tiga kali lipat lebih besar ketimbang rumahnya yang dulu.
Dirumahnya yang dulu tidak ada kolam renang, tapi di rumah kakek ada besar!
Ovin yang sangat mengidam-idamkan kolam renang pun langsung berjalan cepat menghampiri kolam biru itu.
'Wah.....aku bahkan bisa bercemin.' Kagum dengan kolam renang berwarna biru dan terlihat adem dimata.
" Hei bocah, apa yang sedang kamu lakukan?"
Sampai satu suara yang tiba-tiba muncul dari belakangnya Ovin persis, sukses membuat Ovin terkejut dan berteriak.
" Hwahh....! " Karena terkejut, tubuhnya pun oleng ke menuju air yang berlimpah ruah itu.
" Hei, kam- " Di saat mengulurkan tangannya untuk menahan Ovin dari pada terjatuh ke kolam, justru dirinya malah ikut terbawa masuk ke dalam air berlimpah ruah itu...
'Wah.....kakak yang tampan. Eh....aku mengenali wajahnya?!.' Tepat sebelum tubuhnya benar-benar terjatuh, kwdua matanya pun untuk pertama kalinya ia bisa melihat ekspresi dari wajah seorang laki-laki lagi.
BYUUURRRR.....
Blupppp.....
Bluppp.....
Bluppp.....
" Phuah..... " rambut pendek coklat serserabai benar menawan hati itu pun lebih dulu keluar dan menaeik nafas sedalam-dalamnya.
" To...long. " Tapi lain hal dengan Ovin. Dia kesusahan untuk mengatur tubuhnya di dalam kolam renang yang cukup dalam itu. Kaki dan tangannya terus saja bergerak terus agar tidak tenggelam tadpi usahanya sia-sia.
" Jangan membohongiku, masa tidak bi- " Setelah menoleh kebelakang dan melihat tidak ada lagi teriakan minya tolong, laki-laki ini pun langsung kembali menyelam.
2 menit kemudian.
__ADS_1
" Sudah besar begitu tidak bisa berenang, payah sekali. " sindirannya ditunjukkan pada Ovin. " Atau dirumah tidak ada kolam renang jadi tidak bisa berenang?" Timpalnya.
JLEB....
Ucapannya tepat sasaran, rumahnya memang tidak memiliki kolam renang, karena ibu lebih suka berkebun dari pada lahannya di jadikan kolam renang.
" Betul sekali." Jawab Ovin dengan singkat.
" Oh ya...ngomong-ngomong kamu siapa? aku merasa pernah melihat wajah ini tapi siapa ya? " Mencoba berpikir keras, dan akhirnya ada satu petunjuk yaitu...
" Apa kamu anak dari kakak kedua? " tanyanya, lalu dirinya juga sadar kalau sedari tadi ada satu tatapan dan orang di sebelahnya.
" Hei.. "
"..........."
" Jangan-jangan kamu menyukai wajah tampanku? "
" Oh, iya " Jelas dan padat. Lalu teba-tiba Ovin mendekat pada anak itu, kedua tangannya memegang wajah yang masih basah karena air sebab tadi terjun ke kolam.
" A...apa yang mau kamu lakukan? " sepasang matanya terus menangkap sorotan mata Ovin yang terlihat bahagia? 'Ada apa dengannya?'
" Aku dari awal terus memikirkannya, ada bulu mata yang terjatuh. " jawab Ovin, kedua jarinya mengambil satu bulu mata yang menempel pada pipi mulus anak tersebut. 'Aku bisa melihat ekspresinya.'
'Untuk ukuran perempuan seperti dia, ternyata bisa membuat kalimat yang bisa membuat orang lain salah paham.' Dalam hatinya ia tersenyum tawar melihat keponakannya yang sedikit aneh karena mampu membuat alasan lain, padahal sangat jelas reaksi wajah dari gadis didepannya itu sangat terpesona dengan waah Chade. " Bisa lepaskan tanganmu? " pinta laki-laki ini.
" Paman? Dia pamanku? " Ovin bergantian antara memandang kakeknya lalu kakak ganteng yang ternyata adalah pamannya?!
" Ganti baju kalian, kita akan mengunjungi suatu tempat. " perintah sang kakek, setelah itu meninggalkan Ovin dan Chade berdua.
" Pfft....dibanding paman, justru seperti kakak." Melepaskan wajah Chade yang sedari tadi ia pegang.
Chade mengsuap pipinya, lalu berkata : " Panggil saja kakak, lebih enak didengar dari pada panggilan paman. Tapi, behentilah menatapku, anak kecil sepertimu ternyata bisa membuatku malu." Karena merasa senag aljirnya ada teman perempuan dirumahnya, Chade pun mengusap kepala Ovin dengan gemas.
" Maaf, aku hanya terkejut, karena....kakak satu-satunya orang yang bisa aku lihat." Kaya Ovin dengan senyuman kecut.
" Maksudmu? " Membantu Ovin berdiri dengan mengukurkan tangannya dengan tangan keponakannya yang ternyata jauh lebih kecil. Itu seperti tangannya sedang memegang tulang saja.
"Aku tidak bisa melihat wajah kalian, lebih tepatnya hanya kamu, kakek, pak sopir,....bla...bla...bla... " Ovin menghitungnya dengan jari.
"Sebentar! Itu terdengar seperti laki-laki semua?" Terkejut Chade.
Ovin hanya mengangguk iya.
__ADS_1
Chade sedikit terkesima, dirinya satu-satunya orang yang bisa terlihat oleh matanya?
Chade pun tertawa geli di dalam hati karena artinya dirinya akan jadi orang yang sepesial untuk keponakannya?
_________________
FlashBack Off.
" Tapi sekarang...... " Ovin sedikit mengeluh dengan situasinya saat ini. 'Hhhhh....aku harap bisa menjadi teman ketimbang jadi istrinya.' Entah kenapa menyebut kata Istri hawanya ingin muntah saja.
Satu persatu semuanya sudah beranjak pergi dari sekolah, ketika Franz menoleh ke arahnya yang masih berada di kelas, Ovin pun berpaling dan beranjak pergi dari situ.
Tapi baru beberapa meter keluar dari ruang kelas, tapi dia sudah dihadang oleh orang-orang yang menyebalkan.
" Ohh....lihat, si mata empat baru..... " melirik ke arah jendela dan melihat tuan muda Franz yang baru berjalan keluar dari gedung sekolah.
" Memperhatikan Tuan muda kita. " sambung Merli saat itu juga. "Kau tidak ada kapok-kapoknya ya. Padahal sudah dibully setiap hari."
" Kalian mau apa lagi? " ada 4 orang didepannya, geng yang diketuai Merli.
" Menemuimu dong. " Kode mata dari Merli mengkonfirmasikan teman-temannya untuk menjaga Ovin untuk tidak kabur.
Tapi sebelum ketangkap basah, Ovin lebih memutuskan untuk menjauhi mereka dengan cara kabur.
"Eh..?!"
"Ahw...!"
Mungkin karena tenanganya lebih kuat, ke tiga orang yang akan menghadang jalan lariannya, bisa dia tepis tubuh mereka dengan mudah. Dia pun berlari menyusuri lorong yang sepi dan terus berlari tanpa lelah demi keluar dari gedung sekolah secepatnya.
" Hahh...hah....hah.... " suara deru nafas yang memburu.
" Entah berapa kali, setiap melihatmu pasti sedang lari. " suaranya sangat familiar, yaitu Bryn.
" Biasa, mereka ingin bermain denganku."
" Hwo...detak jantungmu bisa langsung turun." puji Bryn pada Ovin setelah tidak sengaja melihat layar monitor yang ada di jam tangannya itu.
" Apa kamu setiap hari memakai jam itu? " Bryn merasa tertarik? Atau mungkin lebih bagusnya penasaran. Kebanyakan orang memakai jam bermerek dengan harga tinggi yang dihiasi dengan kemewahan, namun kali ini Ovin memakai jam digital yang bisa memonitor detak jantung dan kesehatan si pengguna.
" Iya, ini memudahkanku beraktivitas." Jawab singkay Ovin.
" Menarik "
__ADS_1
"................."
'Apa dia sedang memasang wajah menggodanya?' penasaran, namun tidak bisa apa-apa lagi karena Ovin tidak mampu melihay wajah laki-laki, terutama yang ada di depannya itu.