
Di malam itu, Ovin pun tidur berdua bersama dengan Kelvin untuk pertama kalinya.
Dan dia pun jadinya tertidur dengan mendekap anak itu tanpa dia sadari.
Di luar kamar, Ethan yang merupakan ayah dari Kelvin, mengintipnya sebentar untuk melihat keadaan dari mereka berdua.
Begitu melihat dua orang anak itu tidur dengan cukup lelap, Ethan pun merasa bersyukur karena setidaknya kekurangan mereka sebagai orang yang sudah tidak memiliki seorang Ibu, bisa saling melengkapi seperti itu.
"Semoga mimpi yang indah." gumam Ethan, dan ia pun berbalik dan pergi dari kamarnya Ovin.
KLEK...
"Apa mereka berdua sudah tidur?" tanya Chade, dia adik kandung Ethan.
Maka dari itu, dua bersaudara kandung itu pun jadi paman untuk Ovin.
Sedangkan hubungan antara Kelvin dengan Ovin, adalah saudara sepupu.
"Iya, dia mereka berdua sudah tidur. Lagian, kenapa kau pelihara ular ha? Jelas-jelas Kelvin dan Ovin takut dengan ular, tapi kau malah begitu,"
"Namanya juga hobi, memangnya aku nggak boleh punya hewan peliharaan?" rungut Chade.
Ethan menggeleng-gelengkan kepalanya, karena dia sudah cukup pusing dengan keadaan mereka semua, karena terada di lingkungan yang cukup aneh.
"Kalau iya, setidaknya jaga peliharaanmu jangan sampai pergi keluar. Untung Kelvin minum susu pakai gelas plastik, apa kau mau tanggung jawab jika yang dia jatuhkan itu gelas kaca?" omel Ethan, menuntut penuh dengan perhatian penuh kepada adiknya itu.
"Iya, maaf-maaf, aku akan menguncinya di dalam kamarku," jawab Chade, agak tidak puas hati dengan omelan yang di berikan oleh Ethan kepadanya.
"Oh ya, aku dengar kau sedang menyelidiki sesuatu?" tanya Ethan, dia akhirnya mengalihkan topik pembicaraannya .
"Memangnya kenapa?"
"Aku hanya ingin tahu, memangnya aku sebagai kakakmu, aku tidak punya hak untuk tahu apa yang sedang kau kerjakan itu?" balas Ethan, disini posisi Chade pun seolah serba sala dari segala sudut Ethan.
"Kau- aku itu cuman kerja untuk mencari tahu keberadaan kalung milik seseorang. Itu saja," jelas Chade dengan nada sedikit ketus.
"Kalung? Apakah maksudmu kalung ini?" memperlihatkan sebuah kalung kristal berwarna merah ruby yang begitu mencolok dari sebuah foto yang dia punya.
Chade pun mencoba melihatnya lebih dekat, dan saat itulah, Chade pun langsung menatap wajah kakaknya itu dengan sangat serius.
__________
"Ayah, Ibu, aku berangkat sekolah dulu!" seru gadis ini, dia berteriak sambil pergi keluar rumah.
Seorang perempuan berambut coklat panjang dengan rambut terurai, dan memiliki hiasan rambut sebuah jepit rambut di atas dahinya sebagai alat untuk menyingkirkan poninya yang sudah mulai panjang, berjalan keluar rumah dan masuk kedalam sebuah mobil sedan berwarna putih.
"Hati-hati di jalan." Kata sang Ibu dari gadis tadi.
__ADS_1
Dan tidak lama setelah itu, gadis tersebut pun pergi berangkat sekolah.
"Nona Jessica, apa anda mau mampir ke cafe itu lagi setelah pulang sekolah?" Tanya sang supir.
Sibuk berhias diri dengan memakai lip balm di bibirnya dan sedikit menambahkan bedak pada wajahnya agar terlihat lebih putih dan nampak cantik, gadis ini pun menjawab : "Iya. Tentu saja, seperti biasa. Kau sudah tahu jadwalku, jadi aku harap kau tidak banyak tanya," katanya.
"Maaf, jika saya banyak tanya. Lagi pula, anda juga biasanya selalu mengubah jadwal secara mendadak, kan?"
Jessica pun diam sejenak, "Iya, aku tahu. Janan banyak bicara lagi, cepat berangkat, aku tidak mau telat,"
BRRMMM.....
Dan begitu mobil tersebut pergi dari kawasan halaman rumah, kedua orang tua dari Jessica tadi akhirnya masuk kedalam rumah.
"Sayang, sebentar lagi Jessica akan ulang tahun yang ke delapan belas, apa kita mau mengadakan pesta juga seperti tahun kemarin?" Tanya wanita ini, istri dari pria yang hendak pergi bekerja tersebut.
Lantas laki-laki berpakaian jas kelabu ini langsung mengigit sandwich dan menjawab : "Lebih baik tunda dulu pesta ulang tahun Jessica. Kita rayakan tahun depan saja." Jawabnya dengan begitu enggan.
"Kenapa? Apa ada yang salah dengan permintaan dari jessica? Padahal dari tahun-tahun kemarin saja ok, ok saja. Tapi kenapa sekarang malah di tunda?" Protes wanita ini. Sebagai Ibu Jessica yang merasa tidak adil dengan keputusan dari suaminya itu.
"Kenapa?" tanya balik pria ini.
Satu jelingan yang cukup tajam itu pun langsung menghunus ke arah Istrinya itu.
"Selama aku pergi, lantas kalian berdua bisanya apa? Hanya mengoceh ingin ini dan itu, bukannya jadi Istri yang bisa membantuku, tapi malah foya-foya.
"Loh, kenapa tiba-tiba membanding-bandingkan istrimu yang sudah meninggal itu? Toh itu kan sudah jadi tugasmu jadi suami, jika memang kau tidak suka dengan sikap kami, kenapa kau dulu mau menikahi kami?" akhirnya dia pun jadi ikut terprovokasi dengan cara bicara suaminya itu.
BRAKK...
Satu pukulan itu langsung mendarat di permukaan meja makan dan berhasil membuat suara itu langsung membuat suasana semakin memanas.
"Apa kau akhirnya mau menyalahkanku? Lagi pula aku itu memungutmu agar kau bisa menjaga Ovin, tapi karena kau bahkan tidak bisa menjaganya dan mengingkari janjimu sendiri sampai akhirnya Ovin sudah tidak ada di sini, apa kau yakin masih punya hak untuk bicara seperti itu kepadaku?"
"Apa? M-memungut?!" Terkejut wanita ini, tiba-tiba mendapatkan bentakan sekaligus hinaan besar dari laki-laki yang sudah menjadi suaminya selama sembilan tahun ini. "Apa kau bahkan tidak memiliki hati nurani un-"
"Jangan mengatakan hati nurani padaku, aku itu tahu apa yang sudah kau lakukan kepada anakku Ovin, jika saja aku waktu itu tidak gegabah menikah denganmu, dia tidak mungkin menghilang seperti ini!
Kau menyiksanya, menganggapnya sebagai halangan, dan sebagai Ibu tiri, ternyata kau memang sesuai dengan cerita di novel, yang suka jahat pada anak tirinya juga." Bentak pria ini, dan tanpa sepatah kata lagi, pria ini segera bergegas pergi melewati Istrinya begitu saja.
BRAK....
Pintu itu pun jadi bahan pelampiasan dari pria tersebut, meninggalkan wanita yang kini sudah memasang ekspresi wajah marah .
"Bahkan sudah selama ini, dia masih saja memikirkan Istri pertamanya itu.
Huh, padahal sudah meninggal juga, kenapa wanita itu terus saja mengganggu, dan apalagi anak mereka itu, Ovin- semoga saja anak itu juga sudah menyusul Ibunya itu. Huh, setiap hari terus saja bertengkar.
__ADS_1
Jessica, mau bagaimanapun dia harus mengadakan pesta ulang tahunnya dengan mewah dan meriah seperti tahun lalu.
Tapi kira-kira bagaimana aku bisa mendapatkan uang tanpa aku harus berurusan dengan bank atau rentenir?" Menyingkirkan perasaan nya yang sudah kacau karena pertengkaran tadi, dia pun pergi menuju kamar dan bersiap untuk pergi juga, dan tujuannya adalah mendapatkan uang tambahan agar bisa mengadakan pesta yang mewah.
______________
"Uh.., kebas." Gumam Ovin, saat merasakan tangan kanannya yang kini cukup kebas, dan sekalinya bergerak, tangannya pun terasa sudah mati rasa.
Begitu dia membuka matanya, Ovin akhirnya melihat wajah mungil, imut milik dari anak laki-laki bernama Kelvin ini.
"Ma- mama...., ma, aku ingin lihat wajah mama. Balik dong." Gumam Kelvin dalam buaian mimpinya.
'Mama-' Ovin yang mendengar panggilan mama sebagai sosok yang ingin Kelvin temui, membuat Ovin juga sama-sama merasakan perasaan yang sama persis.
Dia juga merindukannya, ingin sekali melihat wajahnya lagi.
Tapi, untuk beberapa alasan, Ovin kini sulit melihat wajah dari wanita yang sudah melahirkannya.
'Kenapa aku bisa sampai lupa wajahnya?' Jika bukan karena liontin yang dia miliki di kotak perhiasan, dia bahkan benar-benar akan melupakan wajah dari Ibu nya sendiri.
Benar, liontin yang ia simpan memiliki foto kenangan yang paling berharga, yaitu sebuah foto kecil, foto keluarga yang sengaja di sematkan di dalam liontin untuk membuat dia bisa mengingatnya selama yang dia mau.
Tujuannya memang itu, tapi sayang nya, karena setiap kali melihat foto itu, Ovin akan merasakan rasanya sakit saat ia di tinggal Ibu nya waktu itu, Ovin pun sama sekali tidak pernah lagi melihat isi liontin itu.
TOK...TOK...TOK....
Setelah mengetuk pintu, Ethan tiba-tiba masuk.
"Aku akan memindahkan Kelvin, kau bisa mandi dan sarapan." Ucap Ethan.
'Jika saja dia bukan pamanku, aku mungkin benar-benar akan menyukainya dengan sepenuh hati.
Dia sangat dewasa, bahkan sangat pengertian. Dia sangat mirip dengan sikap Ibuku.' pikir Ovin.
Setelah melihat Ethan menggendong tubuh Kelvin yang masih nyenyak tidur, Ovin tanpa sengaja terus saja menatap ke arah mereka berdua.
Ethan yang menyadari keponakannya terus menatap ke arahnya, Ethan pun bertanya : "Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan?"
"Tidak, walaupun aku ingin mengatakannya, itu bukan sesuatu yang bisa aku katakan sesuka hatiku. Karena aku sadar, itu tidak mungkin." jawab Ovin.
Dia justru memilih untuk mengalihkan pandangannya dari wajah Ethan untuk berguling memeluk bantal guling dan kembali tidur.
'Apa maksudnya?' Ethan pun terdiam sejenak seraya melihat wajah Ovin yang terlihat lebih baik dari pada beberapa hari sebelumnya.
Walau, meskipun raut wajahnya membaik, jelas kalau hatinya pasti masih berada di posisi untuk masih merasa sedih.
'Jangan-jangan- apa dia mau mengatakan sesuatu yang sempat aku pikirkan saat ini?' Ethan sudah sempat menemukan jawaban dari apa yang barusan di ucapkan oleh Ovin tadi.
__ADS_1
Tapi, karena masalahnya posisi mereka berdua bukan di posisi untuk saling melengkapi dengan status itu, Ethan pun hanya memilih diam dan pergi dari kamar keponakannya itu.