
'Cemburu?' Ovin menggelengkan kepalanya, dia sama sekali sedang tidak memperdulikan Franz sedang cemburu atau tidak, pasalnya Ovin membutuhkan handphone nya sekarang juga.
Ovin melompat bagai katak, demi meraih sesuatu yang sedang di pegang tinggi-tinggi itu, Ovin sungguh ingin mendapatkan barangnya.
"Franz, berikan itu, aku harus menelepon seseorang." Pinta Ovin, sudah mulai tersengal-sengal karena ia sama sekali belum bisa mendapatkannya.
"Franz, berikan handphone nya, jangan kekan- Iya...iya..iya, aku tidak akan ikut campur." Sean menutup matanya dan pergi dari sana, karena ia tidak mau mendapatkan hukuman tambahan, karena baginya dua minggu saja sudah cukup lama sekali.
"Kau ingin menelepon siapa?"
Merasa ucapannya terbujuk, Ovin pun memberitahu namanya, "Kuman tinggi,"
Kedua alis Franz naik. "Kau sedang mempermainkanku?"
"Untuk apa? Jika kau mau aku tidak memegang handphone punyaku, telepon saja dia dulu." Ovin berdiri dengan posisi normal, tidak lagi berusaha untuk merebut handphone nya lagi.
Dengan sorotan mata ragu, Franz mengunci Ovin yang masih setia berdiri di tempatnya, sedangkan jari tangannya sedang mengetik nama kuman tinggi.
"Katakan saja apa yang ingin kau katakan sekarang, aku ingin mendengarnya."
Hanya menyodorkan handphone milik Ovin tanpa memberikan handphone tersebut kepadanya.
TUUUTT......
Setelah tersambung, satu suara muncul.
"OVIN! KENAPA KAU TIDAK MEMBERITAHUKU DARI AWAL SOAL DIA?! APA YANG SUDAH DIA LAKUKAN?! COBA KATAKAN! JAWAB SEKARANG! HEI BOCAH!"
Franz yang terkejut setengah mati itu tanpa sadar langsung mematikan telepon tersebut secara sepihak. "Siapa dia?! Apa kau memberitahu hubungan kita kepada kuman ini?!" Sentak Franz, mendengar suara keras yang luar biasa menggelegar, seakan di depannya ada orang yang sedang membentaknya secara langsung.
"Mana mungkin, ka-"
"OVIN! BERANINYA KAU MEMUTUS PANGGILAN, PADAHAL KAU SENDIRI YANG MENGHUBUNGIKU LEBIH DULU!"
"O-oh, itu bukan aku yang memutuskan panggilannya tapi ada orang yang merebut handphoneku dan aku tidak boleh memintanya!" Teriak Ovin, saat itu juga.
Teriakan yang menyatakan butuh pertolongan, membuat Franz geram, tangannya semakin mengepal dan giginya merapat, dia melirik ke arah handphone yang ternyata otomatis bisa menerima panggilan yang datang, karena geram sendiri ternyata banyak laki-laki yang mengelilingi perempuan di hadapannya itu, Franz kembali membanting handphone itu sangat kuat dan jauh ke arah depan, sampai handphone itu menabrak pintu?
KLEK.
Di waktu yang tepat, pintunya tiba-tiba terbuka dan handphone yang sedikit lagi kembali di banting dengan sangat kasar, langsung di tangkap oleh Chade.
__ADS_1
"Jika aku tidak datang, kau pasti akan berbuat kasar dengan kekasihku," kata Chade, mengawali perdebatan diantara mereka berdua.
'Paman! Katanya kau hanya ingin mengambil mobilku! Kenapa malah jadi ikut memanasi suasana?!' Delik Ovin melihat paman nya itu malah datang diwaktu yang cukup tepat untuk memulai sebuah perdebatan lagi seperti yang terjadi ketika di rumah sakit.
"KEKASIH? CHADE? KAU KEKASIH CALON MENANTUKU?"
Ovin jadi menepuk jidatnya, karena suasananya bertambah runyam.
'Perempuan ini, dia ternyata sangat ahli menggoda, sudah punya aku, Jerry, Chade, Sean, dan sekarang siapa lagi di sana? Calon menantu?! Ternyata dia hebat sekali ya, hebat, bahkan sekalipun sudah menikah denganku, dia masih bisa menarik perhatian laki-laki lain? Sebenarnya maunya dia apa? Ha~' Franz sebenarnya memang kesal, karena ternyata yang Ovin tarik untuk menjadi miliknya itu bukan hanya Franz saja, tapi ada laki-laki lain juga.
Di saat di sekolah kebanyakan wanita tidak begitu menyukainya, maka itu bertolak belakang dengan di luar, sebab Ovin rupanya di sukai oleh beberapa laki-laki sekaligus.
Hanya dengan mendengar deretan suara yang memanggil nama Istrinya saja emosinya kian membumbung tinggi, sudah di tambah dengan sore tadi melihat Ovin jalan-jalan ke mall dengan Jerry, sekarang ia harus menghadapi kenyataan lain, bahwa Sean, Chade dan satu orang lain yang ada di ujung telepon itu.
JDERR.....
Terdengar suara petir yang menggelegar, kemudian hujan yang tadinya mulai sedikit reda, kembali menjadi lebat.
Dua orang ini saat ini sedang saling melemparkan tatapan tajam mereka, seakan pertarungan yang sebenarnya akan terjadi, untuk memperebutkan satu hadiah utama yaitu piala kemenangan berupa sosok perempuan yang kini masih memakai seragam sekolahnya.
Kembali dimana Chade baru saja mengucapkan pendapatnya, Franz akhirnya menyahutnya dengan cara yang sudah dia pikirkan sendiri.
Dia berjalan dua langkah ke depan, meraih kedua bahu Ovin dari belakang dan membuat perempuan yang ada di depannya itu untuk menghadap ke arah Chade.
Tidak seperti biasanya, jika Franz bisa saja berteriak sampai memekakkan telinganya Ovin, kini Franz seperti bukan Franz.
Bukan, tapi lebih seperti ke ada sisi lain yang di miliki Franz, sampai bisa menghadapi pancingan milik Chade itu dengan cara yang cukup masuk akal juga berpikiran dingin.
Ya.
Tidak seperti berteriak sampai menyeret Ovin dengan keras ketika ketahuan Franz tengah cemburu, sekarang ia malah seakan sedang mengumumkan penerimaan hatinya atas hubungan yang sudah Franz jalin dengan Ovin kepada Chade.
Sungguh pernyataan yang cukup luar biasa, sampai Chade yang awalnya memandang mereka berdua dengan cukup terkejut, langsung menyunggingkan senyuman miringnya.
"Aku memang sangat paham, tapi karena kau terlihat sedang membuat larangan kepadaku, aku jadi semakin ingin melanggar larangan itu." Balas Chade, berjalan untuk menemui kedua orang yang dilanda kasmaran itu.
Sungguh, Chade sebenarnya iri karena ia sama sekali belum memiliki masa depan yang namanya menjalin cinta dengan serius seperti keponakannya itu.
Dia hanya terlena, mengurus keponakannya yang baginya itu imut dan mudah di atur, tapi karena faktanya sekarang anak perempuan yang selama ini ia jaga selama enam tahun lebih dengan tangannya sendiri seolah sudah di rebut oleh laki-laki lain, Chade hanya masih belum menerimanya saja.
"HEI APA YANG KAL-"
__ADS_1
TUT.
Chade langsung mematikan panggilan tersebut dan memblokir nomor itu untuk sementara waktu, setidaknya agar tidak ada yang mengganggu pembicaraan diantara mereka berdua.
Hanya dengan mendengar itu, Franz sedikit tersentak, dia melihat adanya kegigihan pada laki-laki yang Franz pikir adalah kekasih Ovin yang masih tidak mau merelakannya bersama dengannya, dengan Franz yang sudah menjadi kekasihnya secara resmi.
"Vin, apa kau bisa kesini sebentar?"
Franz yang merasa alkoholnya kembali naik, pikirannya pun perlahan jadi seperti tidak jernih. Di matanya, Ovin seperti sedang di tawari oleh Chade untuk memilih antara pergi bersama Chade itu atau tidak.
"Vin, apa kau mau ikut bersamaku? Aku bisa lebih membahagiakanmu," Ucapan yang di barengi dengan senyuman lembut. Senyuman yang cukup di gunakan sebagai kesan pertama untuk membujuk seorang perempuan yang di sukainya karena perempuan cenderung lebih suka dengan kelembutan, sesuai dengan hati yang lebih sensitif jika sudah menyangkut soal sebuah perasaan.
'Dia mau mengajaknya pergi?' Franz pun menjeling ke arah wajah ovin yang kebetulan memang ada di sampingnya itu. 'Tidak bisa- aku tidak bisa membiarkan dia pergi dengannya.' Satu perasaan untuk tidak membiarkan Ovin bersama dengan laki-laki itu pun datang juga.
"Aku m-"
Franz yang sama sekali tidak mau mendengar jawaban yang lebih merusak suasana hatinya yang bisa semakin kacau itu, langsung menarik Istrinya itu pergi ke atas.
"He? Franz?" Panggil Ovin saat tangannya tiba di cengkram dan membawanya naik ke lantai dua.
Franz hanya terdiam saja mendengar nama panggilan yang di akhiri tanda tanya itu, karena ia sama sekali tidak mau menjawab apapun dari rasa penasaran milik Ovin.
Tidak mendengar sahutan dari si empu itu sendiri, Ovin hanya bisa melihat apa yang ada pada wajah yang terlihat memerah itu, sebuah ekspresi wajah yang memperlihatkan perubahan sikap yang cukup berkontradiksi dengan yang terakhir kali.
Itu adalah sebuah keanehan dari laki-laki yang terasa seperti lampu suis, waktu itu hanya di provokasi sedikit langsung bereaksi berlebih saat itu juga, tapi sekarang? Franz terlihat seperti sedang menahan perasaan kesal yang akan meletus saat mereka berdua sampai di kamarnya Franz.
Itu jauh berbeda dari perkiraannya!
"Vin~ Kau mau pergi kemana? Kamarmu itu disana, bukan di sana." Peringat Chade dengan sedikit berteriak, karena melihat keponakan kesayangannya di bawa pergi ke atas oleh laki-laki lain.
"Ke kamarnya." Jawab Ovin dengan begitu entengnya.
Chade yang merasa Ovin dalam bahaya karena akan bersama dengan laki-laki dalam satu kamar, Chade yang masih tidak bisa merelakan fakta Ovin sudah punya suami itu, akhirnya buru-buru berlari menyusul kedua anak muda itu.
Sayangnya langkah dari Chade yang sudah separuh berlari itu, tetap saja terlambat untuk mencegat Ovin masuk.
"Vin! Keluar! Aku tidak ingin kau di terkam! Kesepakatannya kan kau tidak akan melakukan itu sebelum umurmu dua puluh dua tahun!" Teriak Chade,
"Tapi sepertinya sudah ti mphh...!"
BRUK.
__ADS_1
"............!" Chade seketika mematung, mendengar adanya bunyi sesuatu yang terdengar cukup familiar ketika ada dua lawan jenis sedang di dalam kamar yang sama.