Pernikahan Usia Muda

Pernikahan Usia Muda
44 : PUM : Debatan Rangsang


__ADS_3

Tidak menggubris panggilan Franz yang disertai nada nada yang sedikit tinggi, Ovin kembali melakukan aksinya yang gila, karena dia saat ini membuka pengait celana Franz dan dia segera mengeluarkan senjata itu?!


CKITT….


Mobil berwarna putih yang dinaiki oleh dua orang remaja itu langsung berhenti di tengah jalan, dimana jalan itu adalah jalan sepi yang membelah hutan. Jadi tidak ada kendaraan lain yang lewat, sebab mereka sebenarnya sudah masuk kedalam kawasan dari tanah miliknya Franz. 


Mau melakukan apapun di sana, tidak akan ada yang protes juga. Tapi jelas, Franz sedang protes dengan tindakan yang dilakukan oleh istrinya yang benar-benar punya nyali yang cukup tinggi. 


Mata Ovin tentu saja membulat sempurna, sebab untuk pertama kalinya dia bisa melihat sesuatu yang cukup menakjubkan seperti itu. 


Senjata yang bisa masuk kedalam miliknya?


‘What? Kenapa aku jadi berpikiran mengarah kesana?’ Tetapi demi misinya untuk membuat Tuan muda Franz ini merasakan nikmat, maka Ovin benar-benar memegangnya dengan menggunakan tangannya secara langsung. 


“...........” Melihat hal tersebut, Franz langsung menepis tangan Ovin dengan kasar. 


PLAK..


“Aku tidak menyuruhmu sampai seperti ini.” Sungut Franz. 


Tanpa peduli apapun, Ovin justru kembali memegang kepemilikannya Franz. 


GREP…


“Ashh….” Franz langsung mengernyitkan matanya, ketika area pribadinya benar-benar di pegang dengan sedikit kasar oleh Ovin. 


“Jika di tahan terus, dirimu sendiri yang akan menderita.” Ungkap Ovin. Padahal Ovin sendiri, sebenarnya di pangkal pahanya pun sudah mulai berkedut. Tapi dia sendiri juga sedang menahannya. 


“T-tapi..ahh~ Vin! Kamu ini-” merasakan hasr*t miliknya semakin naik seiring tangan mungil itu memegang dan meremasnya dengan perlahan dalam nuansa penuh perasaan, sesuatu yang ada pada dirinya pun segera bangun.


Tangan Franz langsung mencengkram pergelangan tangan Ovin dan mendorongnya ke belakang. 


BRUKK….

__ADS_1


“..........!” Ovin membelalakkan matanya ketika mata mereka berdua saat ini benar-benar saling bertemu dalam jarak yang cukup dekat. 


Saat ini Ovin sudah dalam posisi terpojok dengan pintu mobil yang ada di belakangnya, sedangkan tubuhnya sendiri sudah saling berhadapan persis dengan tubuh Franz. 


Sampai deru nafas mereka masing-masing saling terdengar. 


“Padahal aku tidak memintanya, tapi kenapa sampai melakukan itu? Mau membuatku ingin menyentuhmu? Yang ini?” Tanpa memberikan kesempatan untuk Ovin menjawab, Franz yang kebetulan sudah dalam posisi masuk ke dalam kungkungan, segera mendaratkan bibirnya di leher Ovin. 


“...........!” Ovin mencoba menahan sentuhan itu. Memang cukup menggelikan, tapi dia benar-benar tidak ingin membuat suara aneh yang dikira dirinya akan menikmati sentuhan itu. 


“Sialan kamu, kenapa tidak mau mendesah?”


“Memangnya aku harus mendesah?” Ketus Ovin, saat ciuman yang diberikan Franz tepat di lehernya sudah di lepaskan. “Atau karena tadi, kamu mendesah, makannya ing-”


Kesal dengan balas dendamnya yang tidak membuahkan hasil yang spesifik, dengan tanpa mengulur waktu, agar perempuan di depannya itu merasakan apa yang tadi dirasakannya, Franz langsung pada intinya, justru menggunakan tangan kirinya untuk menarik apa yang dipakai oleh Ovin di dalam rok itu. 


“Jangan!” Ovin melotot kepada Franz agar tidak di lepas.


“Kalau jijik kenapa mencium leherku?”


“Karena aku ingin membalas dendam, karena tadi, kamu membuatku mendesah.” Lontar Franz. 


“Berarti kamu kalah dong,”


Alisnya pun bertautan mendengar ledekan Ovin yang cukup menantang itu. “Kalah atau menang, kita saja belum mulai.” 


“Mau mulai apa? Kan kamu tadi bilang jijik denganku, tidak suka padaku, giliran aku mau membantu masalahmu karena punyamu sudah gemuk, aku lagi yang salah. Apakah aku serba salah di matamu? Apa ka-”


Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Ovin langsung menggantungkan kalimatnya dan menggantinya dengan sebuah *******.


“Ngh~” Sambil menggertakkan giginya, sebab Franz tiba-tiba saja mendaratkan telapak tangannya secara terang-terangan di permukaan celana d*l*a*mnya. 


“...........?!” Franz langsung terpegun saat telapak tangannya merasakan basah di pangkal paha yang kebetulan sedang Franz sentuh. “Hah~ Ternyata sudah sebasah ini? Ternyata seperti itu ya? Disamping kamu membantuku tadi, milikmu ternyata sudah becek.”

__ADS_1


BHUAK!


“Diam!” Tekan Ovin. 


JDERR….


“............!” Suara petir yang kembali datang itu sukses membuat mereka berdua diam. 


Secara mereka berdua jadi kembali disadarkan dengan situasi aneh yang tiba-tiba muncul itu. 


‘Kenapa aku jadi mengatakan itu kepadanya? Kan jadi terdengar kalau aku menggodanya, dan pasti jadi terlihat seperti sedang menantikannya.’ Franz yang kembali sadar pada akal sehatnya setelah diberikan peringatan keras oleh tuhan, bahwa disana bukanlah tempat yang tepat untuk bermain kuda-kudaan, eh ralat…bukan situasi yang pas untuk saling menggoda untuk saling mempermaikan satu sama lain, melepaskan cengkraman tangannya dari kedua tangan Ovin yang beberapa saat tadi dia cengkram. ‘Hah~ Mengurus satu perempuan saja se susah ini?’ batin Franz sembari mencoba memasukkan kembali miliknya kedalam celananya, dan selagi itu pula dia mencoba melirik ke arah Ovin.


Dimana Ovin justru masih diam mematung dalam posisinya yang masih sama. 


‘Dia kenapa?’ Tapi lagi-lagi saat matanya melirik ke bawah bawah, dia memang melihat celana d*l*am yang dipakai oleh Ovin itu. 


Tapi tidak seperti awal yang dirinya hampir saja tergoda untuk memasukkan miliknya ke dalam area sana, sekarang dirinya masih mencoba mengontrol kembali agar tidak kelewat batas. 


“Hei, Vin! Kau kenapa?” Tanyanya. Karena merasa khawatir, dia kembali sedikit membungkukkan ke depan Ovin, dan melambaikan tangannya di depan wajah Ovin. Tapi apa yang terjadi, dia tidak memberikan reaksi apapun. ‘Dia kenapa? Kenapa tidak merespon? Apa dia takut petir?’ 


Tidak kunjung ada perubahan, Franz akhirnya menggunakan tangannya untuk menyentuh bahunya Ovin. 


“Vin! Hei! Sadar! Aku tidak akan melakukan apapun kepadamu!” Kata Franz. 


Tapi tidak sesuai dengan ekspektasinya, Ovin tetap tidak mendapatkan respon yang bagus. 


Hal itu semakin membuat Franz jadi bingung sendiri apa yang harus dia lakukan pada Istrinya yang tiba-tiba saja terdiam seperti itu?


Diam…


Seperti…


Seseorang yang kembali mengingat sebuah trauma masa lalunya yang buruk.

__ADS_1


__ADS_2